Terpaksa Menikahi Janda Kaya

Terpaksa Menikahi Janda Kaya
Wasiat Aneh Ayah Clara


__ADS_3

"Maksudnya gimana om?"


Clara yang tak mengerti bertanya pada salah satu orang kepercayaan mendiang ayahnya. Mengenai mengapa ada anak perusahan yang sampai saat ini masih di pegang oleh sang mantan suami.


"Jadi dulu, sebelum mendiang ayah kamu menjodohkan kamu dengan Nando. Ayah kamu dan ayahnya Nando terlibat sebuah perjanjian. Saat itu ayah kamu ingin menjalin kerjasama sepenuhnya dengan perusahaan ayah Nando.


"Ayah Nando menyanggupi, asalkan ada perkawinan diantara kalian. Plus, adanya jaminan salah satu anak perusahaan yang harus di pegang oleh Nando."


"Jadi?"


"Ayahmu cukup pintar. Dia tidak secara serta merta mewariskan anak perusahaan itu terhadap Nando. Dalam surat tersebut anak perusahan hanya boleh di pegang oleh suami kamu. Dan jika kalian bercerai, tampuk kekuasaan di anak perusahaan itu akan dipindahtangankan kepada suami kamu yang baru. Sebelum kamu menikah lagi, maka tetap Nando yang akan mengurusnya."


Clara terkejut mendengar semua itu. Ia tidak pernah diberitahu perihal perjanjian aneh tersebut. Saat itu dirinya hanya diminta sang ayah menikah dengan Nando. Kebetulan Nando cukup tampan untuk ukuran kala itu.


Clara yang tak pernah jatuh cinta sebelumnya itu pun menyanggupi permintaan sang ayah. Ia tidak pernah mengira jika pernikahan mereka dilatarbelakangi oleh perjanjian bisnis. Clara masih usia belasan tahun saat itu dan ia hanya menurut saja.


"Jadi satu-satunya cara agar kamu bisa kembali menguasai anak perusahaan itu, kamu harus menikah lagi."


Orang kepercayaan ayah Clara itu kembali berujar. Sementara Clara mendadak bingung, sikap seperti apa yang harus ia tunjukan. Sampai saat ini ia belum terpikir untuk menikah lagi.


Tawaran dari calon menantu Adrian tempo lalu saja belum ia penuhi. Padahal itu untuk sekedar permintaan berkenalan dengan salah satu teman terdekatnya.


Clara merasa ada hal seperti perasaan yang enggan terburu-buru. Apalagi dirinya pernah gagal dan sampai saat ini hubungan dengan sang mantan suami, belum lagi membaik.


Clara takut salah melangkah dan gagal lagi untuk yang kedua kalinya. Ia saat ini hanya memikirkan kondisi ketiga anak yang ia miliki, dan hanya berfokus pada kehidupan serta pendidikan mereka.


***


"Kalau kata gue, lo cari aja dulu siapa kek. Nikah pake perjanjian. Ajakin kongkalikong bila perlu."


Friska sang sahabat memberi pendapat, saat dirinya di curhati oleh Clara. Hal ini terjadi beberapa saat setelah pulang kerja.


"Maksudnya gue bayar orang gitu, buat pura-pura menikah sama gue?" tanya Clara pada sahabatnya itu.


Sementara Valerie, sahabat yang satu lagi kini mendengar dan memperhatikan secara seksama.


"Iya, dan buat perjanjian dengan orang itu. Kalau kekuasaan atas anak perusahaan itu udah di dapat, dia harus menyerahkannya sama lo dan lo akan bayar dia. Buat perjanjian di depan kuasa hukum bila perlu. Untuk menghindari hal-hal yang nggak diinginkan." ucap Friska lagi.


Clara tampak berpikir kali ini.


"Siapa tapi?. Masa salah satu dari karyawan di kantor?"


"Ya nggak apa-apa." ujar Friska.

__ADS_1


"Menurut lo gimana, Val?"


Clara meminta pendapat Valerie.


"Kalau gue sih setuju-setuju aja sama pendapatnya Friska. Selagi itu bisa membuat anak perusahaan lo balik ya, why not?. Dari pada di kuasai sama mantan laki lo dan istri keduanya yang OKB itu."


Valerie dan Friska kini kompak menatap Clara. Sepertinya Clara memang harus segera membuat keputusan. Sebab ia tak ingin membiarkan sang mantan suami dengan istri barunya menikmati uang perusahaan. Itu adalah hak dirinya dan anak-anak.


***


"Apa sudah tidak bisa diperbaiki?"


Jeffri bertanya pada Adrian sore itu.


"Nggak bisa, Jeff. Lima investor sudah akan berhenti menyuntikan dana mereka ke kita. Kita sudah berada di ujung tanduk saat ini. Kita mesti segera menjalin kerjasama lagi dengan orang yang nggak tau kalau kita sudah hampir tumbang."


Jeffri menghela nafas. Belum lagi kondisinya pulih 100%, ia harus kembali memikirkan hal yang demikian.


Sakit sekali kepala rasanya. Namun mau tidak mau ia harus mencari jalan keluar, sebab ia adalah seorang pemimpin. Ada ratusan karyawan yang bergantung padanya.


"Tolong urus soal Ferdi dan Clara. Secepatnya perjodohan ini harus segera di wujudkan. Apapun caranya gue serahkan sama lo. Lo yang atur skenarionya dan harus berhasil." ucap Jeffri kemudian.


"Oke, kalau emang itu yang lo mau. Gue akan laksanakan." jawab Adrian.


***


Clara, Friska, dan Valerie berpisah di parkiran. Ketika sudah lebih dari dua jam mereka ngobrol, minum, dan juga makan bersama. Ketiga sahabat itu kini sama-sama menuju mobil masing-masing.


Clara ingin segera sampai dirumah, sebab sudah ada janji untuk menemani si bungsu belajar bersama.


"Braaak."


Pintu mobil tertutup lalu terkunci. Clara segera menghidupkan mesin mobil dan tancap gas meninggalkan tempat itu.


"Mom, where are you?"


Si bungsu mengirim pesan singkat pada Clara melalui WhatsApp. Karena tidak mungkin mengetik pesan sambil mengemudi. Clara pun melakukan panggilan telpon terhadap anaknya itu dan mengaktifkan loud speaker.


"Hallo, mom."


"Hei, sayang. I'm on my way." ujar Clara.


"Oh, masih lama ya?" tanya anak itu pada Clara.

__ADS_1


"Ya, kira-kira lima belas menit lagi lah. Mama ngebut koq."


"Pelan-pelan aja, nanti ada apa-apa kalau ngebut. I don't want anything bad to happen to you."


Clara tersenyum penuh haru. Anak-anaknya memang selalu menjadi penguat dalam setiap keadaan.


"Oke, kalau gitu tunggu mama dirumah."


"Oke."


"Bye honey."


"Bye mom."


Clara menyudahi telpon tersebut, kemudian ia terus melaju melewati jalan demi jalan. Semua tampak baik-baik saja, sampai akhirnya mobil yang ia kendarai berhenti mendadak. Clara terkejut, namun kemudian wanita itu mencoba menghidupkan kembali mesin mobil.


"Ini mobil kenapa sih?" ujarnya masih terus berusaha. Tetapi lagi-lagi ia tak berhasil.


Clara keluar dari dalam mobil dan membuka kap mesin. Ia mencoba memeriksa meski sama sekali tak mengerti mengenai bagian tersebut.


Ia hanya ingin tau apakah ada bagian yang berasap atau tidak. Sebab itu bisa menjadi indikator penyebab mogok yang ia alami.


"Duh, kenapa sih ini?"


Clara mulai gusar.


"Ada apa mbak?"


Seseorang yang baru keluar dari dalam mobilnya pun mendekat. Ia tadi hampir menabrak mobil Clara, sebab mobil Clara berada tepat di sebuah tikungan. Dan Ia tak memberikan tanda di bagian belakang jika ada mobil yang berhenti.


"Eh mas."


Clara terdiam, begitupula dengan orang tersebut.


"Ferdi?"


"Mbak?"


"Aduh untung ada kamu Fer. Ini mobil mbak tiba-tiba mogok. Mbak nggak ngerti mesin, nggak ngerti otomotif."


"Oke, oke. Kita dorong dulu aja mobilnya agak maju, sebab ini di tikungan mbak. Saya tadi berhenti karena hampir nabrak mobil mbak."


"Oh, oke." jawab Clara.

__ADS_1


Maka Ferdi pun lalu mendorong mobil wanita itu.


__ADS_2