
"Nad sebenernya Ferdi sama si Clara itu udah saling mengenal berapa lama sih?"
Jessica menelpon Nadia untuk mempertanyakan hal tersebut.
"Mmm, setahu gue ya. Ini Frans, cowok gue yang cerita." ujar Nadia.
"Oke."
"Katanya, Ferdi sama Clara itu udah ada hubungan pas Ferdi masih sama lo. Tapi kayak temenan dulu atau apa gitu, baru jadian."
"Yakin?" tanya Jessica lagi.
"Maksudnya?" Nadia tak mengerti.
"Yakin kalau mereka saling mengenal nggak lebih lama dari itu" Untuk kesekian kali Jessica bertanya.
"Bisa aja kan setengah tahun atau setahun sebelum itu udah ada hubungan. Soalnya mereka akrab banget, kayak orang yang udah kenal lama." ujar Jessica.
"Aduh, kalau soal itu gue nggak tau Jess." tukas Nadia.
"Bukan gue nutup-nutupin, tapi gue beneran nggak tau sama sekali. Karena kan gue nggak terlalu sering juga ke rumah cowok gue. Nggak sering juga ketemu Ferdi." lanjut perempuan itu.
"Iya sih, soalnya gue heran aja. Gue tadi tuh ketemu Ferdi sama istrinya di swalayan."
"Oh ya?"
"Iya, dan mereka akrab banget. Kayak full of love. Penuh cinta gitu, kayak orang yang udah lama saling mengenal satu sama lain. Nggak ada kaku-kakunya sama sekali." ujar Jessica.
Nadia diam, namun terus mendengarkan.
"Logika aja, Nad. Misalkan nih, lo baru kenal sama cowok. Tiba-tiba lo nikah sama dia, lo pasti butuh waktu dong buat penyesuaian. Sampai lo bisa akrab sama dia." lanjut Jessica panjang lebar.
"Iya sih." Nadia setuju dengan pendapat tersebut.
"Gue yakin banget, Ferdi tuh udah mengkhianati gue sejak lama. Bahkan mungkin, jauh sebelum gue selingkuh dari dia. Cowok mah dimana-mana sama aja, munafik." ujar Jessica.
"Gue bener-bener nggak tau, Jess. Pokoknya gue nggak ada kaitannya dengan semua ini. Kalau lo mau cerita sama gue, silahkan. Gue siap mendengarkan. Tapi kalau di tanya kapan persisnya Ferdi kenal Clara dan kapan mereka selingkuh, gue beneran nggak tau." ucap Nadia lagi.
***
"Fer, kita koq bisa akrab banget kayak gini ya?"
Clara bertanya pada Ferdi ketika mereka melipir ke sebuah pantai dan duduk di pinggiran tempat itu.
Mereka berencana pulang agak sore, sebab ingin menjemput Axel dari latihan karate terlebih dahulu. Kebetulan anak itu selesai masih beberapa saat lagi.
__ADS_1
"Ya akrab, kan suami-istri. Kalau nggak akrab, itu namanya suami dan istri orang." celetuk Ferdi.
"Koq suami dan istri orang?" tanya Clara heran.
"Coba aja suami orang dan istri orang jadi akrab. Kalau nggak pasangan masing-masing mereka mencak-mencak."
"Iya juga ya." ujar Clara sambil tertawa. Ia bahkan baru terpikir sampai kesana.
"Aku nih, akrab sama istri orang misalnya." ujar Ferdi.
"Ya aku lempar panci." seloroh Clara.
"Tuh kan." Ferdi tertawa.
"Makanya kita akrab, karena kita suami-istri." ujarnya lagi.
Clara tersenyum, namun jawaban Ferdi terasa masih ada yang mengganjal.
"Maksud aku tuh gini loh, Fer. Kita ini kan baru saling mengenal, baru juga berhubungan, baru menikah. Tapi koq chemistry diantara kita tuh, aku ngerasanya kayak kita udah kenal lama." Clara menjelaskan apa yang ada dalam pikirannya.
Ferdi sejatinya telah mengerti sejak awal, namun ia memang ingin mengajak sang istri untuk bercanda.
"Mungkin karena kita saling cinta kali ya." jawab Ferdi.
"Koq bisa menjauhkan?" tanya Clara heran.
"Ya kalau cintanya sama istri orang atau suami orang, harus menjauh dong. Kalau maksa mendekat nanti viral." seloroh Ferdi.
Lagi-lagi Clara tertawa.
"Kamu mah analoginya balik ke situ lagi, situ lagi." ujar wanita itu sambil memukul lengan Ferdi, namun tidak kuat.
"Bener dong aku bilang?"
"Ya bener, tapi kan..."
Clara menarik nafas sambil tertawa dan menggaruk-garuk kepalanya sendiri. Ferdi memang kadang lebih pantas di getok pakai palu sampai menjadi paku bumi.
Tiba-tiba angin pantai berhembus. Ferdi melepaskan jaketnya dan memakaikan itu pada Clara. Clara sempat tertegun, sebab di pernikahannya terdahulu ia tak pernah mendapat perlakuan yang demikian.
"Kalau udah nggak betah, kita pulang ya." ujar Ferdi.
"Aku masih betah koq, Fer."
Clara menempelkan kepalanya di dada sang suami. Sementara tangan Ferdi merangkul tubuh perempuan itu.
__ADS_1
"Aku takut aja, kamu masuk angin, kalau terlalu lama disini." ujar Ferdi.
"Nggak apa-apa, aku senang. Dulu aku nggak pernah diajak jalan sama bapaknya anak-anak."
Seketika Clara tersadar atas ucapannya.
"Aaa, sorry Fer." ujarnya kemudian.
"It's oke. Cerita aja kalau kamu merasa nyaman untuk cerita sama aku. Aku siap mendengarkan." ujar Ferdi.
Clara melempar pandanganya ke lepas pantai.
"Dulu mah boro-boro begini, Fer. Dia selalu nggak punya waktu. Tapi kalau nongkrong sama teman-temannya di sempat-sempatkan banget. Kalau untuk aku dan anak-anak kayaknya berat banget." ujar wanita itu.
Ferdi terus mendengarkan, sambil tangannya tetap merangkul tubuh sang istri.
"Aku tuh nggak minta banyak, Ferdi. Bisa berdua kayak gini aja selama lima sampai sepuluh menit, aku udah seneng."
Mata Clara mulai berkaca-kaca. Terlihat jelas ia menyimpan banyak beban selama ini.
"Mau cuma di temenin ke minimarket aja, beli detergen. Aku pasti udah kayak dapat berlian. Aku tau dia sibuk, aku juga kerja dan paham gimana kerasnya dunia kerja. Tapi kasihlah aku waktu sedikit aja. Aku nggak minta tiap hari. Sekali dalam seminggu pun, aku udah bersyukur. Atau minimal ajak anak-anak, jalin kedekatan dengan mereka. Ini nggak ada kayak gitu sama sekali."
Ferdi mencium kening Clara, dan mencoba menyeka air mata yang membasahi kedua sudut mata wanita itu.
"Sekarang semuanya udah berlalu. Ibarat suatu wilayah dengan suhu yang ekstrim. Kamu udah nggak ada di wilayah itu lagi." ujar Ferdi.
Clara mengangguk.
"Aku senang akhirnya aku ketemu kamu." ucap wanita itu.
"Aku nggak tau dari mana kamu berasal. Bagian tanah yang mana, yang pencipta pakai untuk menciptakan kamu. Sampai kamu sebaik ini jadi orang."
Ferdi tersenyum.
"Aku juga banyak kekurangannya koq. Dan kamu akan menemukan itu seiring dengan berjalannya waktu." ujarnya kemudian.
"Aku juga sama, Fer. Dan yang kita butuhkan hanyalah saling menerima dan pengertian."
Ferdi mengangguk-anggukan kepalanya. Sementara angin kian kencang berhembus. Membuat ombak yang tadinya biasa saja, kini menjadi semakin kuat menghantam bibir pantai.
Setelah beberapa saat, keduanya memutuskan untuk pulang. Clara tertidur di sisi Ferdi, dan Ferdi hanya tersenyum menyaksikan semua itu.
Kini ia juga terpikir atas pertanyaan yang tadi sempat di lontarkan oleh Clara. Mengenai mengapa mereka begitu cepat akrab, padahal baru mengenal satu sama lain dan baru saja menikah.
Entahlah, Ferdi juga tak tau persis apa jawabannya. Yang jelas, ia merasa nyaman dengan Clara.
__ADS_1