
"Menurut lo bisnis apa yang enak?"
Ferdi bertanya pada Jordan dan juga Sean. Saat ini mereka tengah berada di kamar Jordan, tepatnya di rumah orang tua dari pemuda itu.
"Jual beli tuyul." seloroh Sean seraya memakan makaroni pedas.
"Mending jenglot." ujar Ferdi sambil meminum es teh manis yang ia pesan tadi.
"Nggak kebayang gue, kita jual beli demit di online marketplace." Jordan berpikir sampai jauh, membuat Ferdi dan Sean kini jadi turut berkhayal.
"Anjir, hahaha." Mereka tertawa serentak di beberapa detik kemudian.
"Nggak kebayang gue, posting foto kuyang. Spesifikasi grade A." ujar Sean.
"Koq grade A?" tanya Ferdi dan Jordan di waktu yang nyaris bersamaan.
"Iya, soalnya organ dalamnya masih bagus, bebas penyakit dan layak pakai."
"Hahahaha."
Mereka semua tertawa.
"Tuyul king copy KW 1." ujar Ferdi.
"KW HDC celetuk Jordan."
"Hahaha." Lagi-lagi mereka tertawa.
"Wewe gombel dari cup 32 sampai 36B." Ferdi kembali berujar.
"Hahahaha."
"Hahahaha."
Semuanya seakan tak henti untuk terus terbahak.
"Eh, Fer. By the way lo kenapa mau bisnis segala?. Mau muterin duit yang dari Nath kemaren?" Kali ini Jordan serius bertanya.
"Iya, dan bukan itu aja sih sebenarnya." jawab Ferdi.
Kini pemuda itu melemparkan pandangan ke suatu sudut.
"Gue itu udah mulai ragu sama keinginan bokap gue." lanjutnya kemudian.
"Yang perkara soal minta duit ke Clara?" Sean langsung menebak ke arah sana.
Ferdi mengangguk.
"Gue ragu, gue bisa apa nggak memenuhi semua itu. Masalahnya gue cinta bro, sama Clara." ucap pria itu lagi.
Jordan dan Sean sama-sama diam.
"Gue ngerti perasaan lo gimana, Fer. Gue juga kalau ada diposisi lo pasti berat." ujar Sean.
"Tapi masalahnya, apa lo sanggup ngeliat bokap lo hancur. Lo kan sayang banget sama dia." Jordan berkata diikuti tatapan Sean.
"Iya, bro. Letak pertanyaannya disitu. Lo bisa nggak kasih pengertian ke bokap lo. Dan bokap lo bisa nggak menerima kenyataan." Sean menimpali.
Ferdi makin diam dan membiarkan pandangannya terus terlempar ke suatu sudut. Ia juga bingung dan pikirannya berkecamuk.
Satu sisi adalah ayahnya, disisi lain merupakan istri yang sangat dicintainya. Dan lagi ia juga memiliki tiga anak tiri, yang bisa saja hilang rasa hormat terhadap dirinya. Apabila mereka tau jika Ferdi ternyata menginginkan bantuan ibu mereka berupa uang yang banyak.
__ADS_1
"Lo bisnis makanan aja, Fer." Jordan memberi saran.
"Tapi nggak usah lo yang nunggu, kan bisa cari karyawan." lanjutnya lagi.
"Bisnis makanan itu nggak perlu modal gede banget, tapi untungnya bisa berkali-kali lipat. Apalagi sekarang bisa gabung ke platform ojek online. Bakalan rame kalau makanan yang lo jual enak."
"Bener, Fer. Gue setuju apa yang dibilang Jordan." Sean menimpali.
"Ntar kita yang bantu." ujarnya lagi.
"Yup, gue siap membantu." timpal Jordan.
Ferdi menarik nafas lalu berkata.
"Oke deh, gue mau pikirin dulu nanti di rumah."
"Ya udah, untuk sekarang kita mikirin janda dulu nih." seloroh Jordan.
Ferdi terkekeh dan refleks menoyor kepala temannya itu.
"Lo berdua serius soal itu?" tanya nya kemudian.
"Ya serius lah, masa iya main-main." Sean menimpali.
"Ya udah, download aja tuh aplikasi yang isinya banyak janda." ujar Ferdi.
"Emang ada?. Aplikasi apaan?" tanya Jordan dan Sean diwaktu yang nyaris bersamaan.
"Free dating." ujar Ferdi.
"Emang disitu banyak jandanya?" Jordan kembali melemparkan pertanyaan.
"Koq lo tau?. Berarti lo pernah download dong?" tanya Sean.
Ferdi diam, kemudian ia tertawa.
"Geblek." ujar Jordan.
"Mana gue tau, gue pikir online dating biasa." Ferdi membela diri.
Jordan dan Sean melemparnya dengan bantal.
"Pantes aja bini lo janda, fantasi lo janda ternyata selama ini."
"Hahahaha." Ferdi tertawa.
Jordan dan Sean hanya menggeleng-gelengkan kepala sambil ikut tertawa.
***
"Fer."
Clara menghampiri Ferdi yang kini tengah mengerjakan tugas kantor melalui laptop. Ia duduk di balkon kamar, yang kebetulan memang berada dilantai dua.
"Iya, kenapa sayang?" tanya Ferdi pada Clara.
"Ini kopinya."
"Kamu bikinin aku?" tanya Ferdi. Sebab ia merasa tak ada meminta dibuatkan kopi.
"Iya, biar kamu nggak ngantuk ngerjainnya." ujar Clara.
__ADS_1
Ferdi tersenyum.
"Makasih ya." tukasnya kemudian.
"Sama-sama." jawab Clara.
"Kamu belum laper?" tanya wanita itu pada Ferdi.
"Belum, kamu aja makan duluan kalau udah laper." ucap Ferdi.
"Aku mah udah tadi, waktu kamu bilang bakal pulang agak malem. Aku udah makan sama anak-anak."
"Makan lagi dong." seloroh Ferdi sambil tersenyum.
"Nggak ah, udah kenyang. Oh ya Fer, ini apa perasaan aku aja ya." ujar Clara.
Ferdi memperhatikan istrinya itu karena merasa tak mengerti.
"Kamu dua hari ini aku liat murung terus, kayak lagi banyak pikiran." lanjut wanita itu.
"Ah, masa sih?" tanya Ferdi seraya tertawa.
"Iya Fer, aku kadang tuh ngeliat kamu kalau lagi bener-bener sendiri. Kamu kayak ada beban pikiran gitu. Cerita sama aku kalau emang berat."
Ferdi tertawa kali ini. Ia mengabaikan laptopnya lalu fokus memperhatikan Clara.
"Aku tuh cuma lagi mikir, pengen bisnis apa."
Ferdi menjawab jujur soal itu. Namun dibalik semuanya ada lagi permasalahan yang lebih serius. Yakni soal keinginan Jeffri yang mungkin tak akan bisa ia penuhi.
"Emangnya kamu mau membuka bisnis?" Clara balik bertanya.
"Iya, pengennya aku sih gitu. Aku ini kan kepala keluarga, aku harus punya penghasilan lebih." jawab Ferdi.
"Tapi kan aku nggak nuntut banyak."
"Iya aku tau. Tapi aku mau melakukan hal itu bukan karena tuntutan siapapun. Tapi karena kemauan aku sendiri." ujar Ferdi.
Clara menarik nafas panjang.
"Banyak kalau kamu mau, ada bisnis makanan, minuman, dan lain-lain. Atau bisnis jasa ekspedisi juga bisa."
Clara memberi saran yang lebih kompleks. Ferdi lalu mengangguk-anggukan kepalanya.
"Boleh juga ide kamu." ujarnya kemudian.
"Makanya cerita-cerita sama aku, jangan di pendam sendiri. Siapa tau bisa tukar pikiran. Lagian kan aku ini istri kamu, apa salahnya kalau kita berdiskusi."
Ferdi yang menarik nafas kali ini.
"Selama aku berhubungan dengan Jessica. Aku nggak pernah bisa cerita apapun. Pasti udah dibantah duluan atau dia ribut masalah yang nggak ada hubungannya sama sekali. Makanya aku males buat cerita masalah apapun yang lagi aku pikirkan. Takut malah jadi ribut dan bikin sakit kepala." ujar pria itu panjang lebar.
"Kan aku bukan Jessica."
Clara membuat Ferdi sedikit terdiam. Ia sadar telah memukul rata semua orang.
"Sorry." ujar Ferdi pada istrinya itu.
"It's ok. Yang penting sekarang kamu udah tau, kalau aku orangnya bisa bebas berdiskusi soal apapun. Aku nggak akan bersikap sok tau ataupun sok hebat di depan kamu. Kamu bisa pastikan kalau aku adalah pendengar yang baik." ucap Clara.
Ferdi tersenyum, ia lalu menggenggam tangan istrinya itu dengan erat.
__ADS_1