Terpaksa Menikahi Janda Kaya

Terpaksa Menikahi Janda Kaya
Mulai Sedikit Protektif


__ADS_3

Mobil yang dikemudikan Ferdi mendarat di depan rumah. Arvel keluar duluan dan membukakan pintu masuk. Sementara Ferdi kini membuka pintu mobil untuk Clara.


Anzel dan Axel tampak berjaga di belakang ibu mereka tersebut. Dan ketika Clara melangkah ke arah tangga teras.


"Hati-hati."


Ferdi dan triple A berucap di waktu yang nyaris bersamaan. Clara kaget dan merasa aneh, namun kemudian ia menahan senyuman.


"Gaes, ini anak tangganya cuma tiga." ujarnya.


"Ya tetap aja mama harus hati-hati. Kalau jatuh terus dedeknya kenapa-kenapa gimana?"


Axel memarahi sang ibu, namun terdengar gemas di telinga.


"O, okey." jawab Clara sambil tertawa.


Ferdi mendekat dan menggandeng tangan istrinya itu. Seumur hidup Clara belum pernah di perlakukan bak ratu seperti ini. Dulu saat hamil Anzel dan Axel, Nando cuek saja dan terkesan seperti tak begitu mempedulikan.


Arvel menunggu sampai ibu, ayah tiri, beserta kedua adiknya masuk, kemudian ia baru menutup dan mengunci pintu.


"Ma, kalau perlu bantuan abang panggil aja." ujar Arvel pada Clara.


"Iya sayang, abang istirahat dulu. Abang tuh masih sakit." tukas Clara kemudian.


"Anzel, ajak abang Ar istirahat." lanjutnya lagi.


"Iya ma, kalau ada apa-apa panggil Anzel aja."


"Iya sayang, sana istirahat!"


Arvel dan Anzel naik ke atas. Clara dan Ferdi kini menoleh pada Axel yang tampak duduk di meja makan, sambil fokus bermain handphone.


"Dek nggak ke atas?" tanya Clara.


"Panggilnya abang dong, masa adek terus." tukas Axel sambil menatap ke arah ibunya.


"Cie yang naik tingkat jadi abang."


Arvel dan Anzel kompak meledek Axel dari tangga. Pipi Axel pun mendadak bersemu merah.


"Jadi sekarang mau dipanggil abang?" tanya Ferdi.


"Oh, iya dong. Kan Axel bentar lagi punya adek." jawabnya.


Ferdi dan Clara saling bersitatap sambil tersenyum.


"Ya udah, abang Axel sekarang istirahat dulu ya." ujar Clara.


"Ntar dulu ma, ini Axel lagi liat online shop." tukas anak itu.


"Emang kamu nyari apa?" tanya Clara.


"Baju bayi." jawab Axel dengan polosnya.


Clara dan Ferdi pun kembali bersitatap dan kali ini mereka tertawa.


"Masih lama, Axel." ujar Ferdi kemudian.


"Ya nggak apa-apa, om. Axel masukin dulu aja ke keranjang. Nanti pas dedek mau lahir, baru Axel check out."


Lagi-lagi Ferdi tertawa.


"Lagian belum tau adeknya cowok apa cewek." ucap Clara.


"Kan bisa beli yang unisex, mama."

__ADS_1


Axel bersikukuh. Clara menggeleng-gelengkan kepalanya.


"Ya sudah, mama pamit istirahat dulu ya." lanjutnya lagi.


"Iya."


"Axel, om temani mama dulu ya." ucap Ferdi.


"Iya om." jawab Axel.


Kemudian Ferdi menemani Clara ke kamar, sementara Axel terus berkutat dengan baju bayi di online shop.


***


Di kamar.


"Kamu istirahat, sayang."


Ferdi sedikit memaksa Clara untuk segera berbaring. Sebab sejak tadi ia tampak mondar-mandir dari depan lemari ke kamar mandi, lalu kembali lagi ke depan lemari dan ke kamar mandi.


"Iya, bentar. Ini udah selesai ganti baju koq." ujarnya.


Ferdi berdiri di hadapan istrinya itu, dan menatap matanya dalam-dalam.


"Oke." ujar Clara.


Wanita itu kemudian berbaring di atas tempat tidur.


"Aku bikinkan susu dulu ya." ucap Ferdi.


"Iya, makasih ya sayang."


"Sama-sama."


Ferdi beranjak menuju dapur. Ia lalu membuka lemari kitchen set, dan menemukan satu kaleng susu hamil yang sejak tempo hari ia berikan pada Clara.


"Om Ferdi bikin apa om?"


Axel tiba-tiba muncul dan mempertanyakan kegiatan Ferdi.


"Ini bikin susu buat mama." jawab Ferdi.


Axel memperhatikan gambar di kaleng susu tersebut.


"Ini buat ibu hamil ya, om?" tanya nya kemudian.


"Iya." jawab Ferdi seraya menuangkan air hangat ke dalam gelas, kemudian mengaduknya.


"Berarti kita kalau minum ini, ikutan hamil gitu?" tanya Axel.


Ferdi nyaris tersedak karena menahan tawa, padahal ia sedang tidak makan.


"Tau, iya kali. Abis minum ini langsung buncit perutnya." ujar pria itu.


"Om penasaran kan apa rasanya?" goda Axel kemudian.


Ferdi diam lalu menatap remaja itu. Jujur dari dulu ia selalu penasaran apa rasanya susu untuk ibu hamil, atau makanan dan minuman apapun yang dikhususkan tidak untuk laki-laki.


"Lumayan sih." jawab Ferdi.


"Gimana kalau kita minum aja?" ajak Axel.


Ferdi berpikir dan tampak ragu-ragu.


"Nggak usah takut, om. Axel aja pernah koq minum pereda nyeri haid, punya temannya abang An yang cewek."

__ADS_1


Kali ini Ferdi benar-benar terkekeh. Itu merupakan salah satu minuman yang juga membuat dirinya penasaran. Mengenai apa dan bagaimana rasanya ketika diminum.


"Serius?" tanya nya kemudian.


"Serius, om. Axel penasaran soalnya. Kebetulan temen abang An itu kesini dan bawa itu. Katanya dia lagi dapet, tau deh dapet apaan."


"Terus kamu minta nyoba gitu?" tanya Ferdi lagi.


"Iya dan di kasih." jawab Axel.


"Rasanya?" lagi-lagi Ferdi melontarkan pertanyaan.


"Om Ferdi pernah minum jamu beras kencur dan kunyit asem yang di mix nggak?" tanya Axel.


"Mmm, kalau beras kencur sama kunyit asem om pernah minum. Tapi kalau di mix nggak pernah." jawab Ferdi.


"Nah, rasanya tuh kayak empat-empatnya itu dicampur." jawab Axel.


"Ditambah ada pahit-pahitnya dikit." lanjutnya kemudian.


"Oh gitu rasanya." tukas Ferdi.


"Eh tapi by the way, koq kamu tau rasa jamu. Emang kamu pernah minum jamu?" tanya Ferdi.


"Pernah." jawab Axel.


"Sama mama ya?" tanya Ferdi lagi.


"Nggak, bukan om. Jadi waktu kecil itu, Axel pulang sekolah dan mama telat jemput. Nggak lama ada tukang jamu lewat, naik motor. Terus tukang jamunya berhenti di suatu titik. Axel pikir itu jualan es. Pas Axel dekati, dia tanya mau apa."


"Terus?"


"Sebelum Axel jawab, dia nanya lagi. Campur?. Beras kencur kunyit asem?. Terus Axel ngangguk dan dikasih deh tuh minuman."


Ferdi tertawa.


"Pas kamu minum pertama kali itu gimana?" tanya nya kemudian.


"Ya, aneh." jawab Axel sambil tertawa.


"Ya udah nih, kamu mau om bikinin susu ini?" tanya Ferdi lagi.


"Tapi om juga minum."


"Oke, om bawa susu ini dulu ke mama." ucap Ferdi.


"Ya udah, Axel tunggu disini."


Ferdi kemudian pergi ke kamar dan memberikan segelas susu hamil pada istrinya itu.


"Sayang, minum susu dulu." ujarnya.


"Baik banget, papa." ucap Clara seraya meraih dan menerima susu tersebut.


"Makasih ya." ujarnya kemudian.


"Sama-sama sayang."


Clara mulai meminum susu tersebut sambil ditemani oleh Ferdi. Sebanyak tiga kali ia meminum hingga akhirnya susu tersebut habis.


"Sini gelasnya."


Ferdi mengambil kembali gelas yang ada di tangan sang istri, kemudian mencium keningnya dengan lembut.


"Sehat terus ya sayang." ujarnya.

__ADS_1


"Makasih." ucap Clara.


Ferdi kemudian kembali keluar dan kembali pada Axel untuk menuntaskan rasa penasaran mereka.


__ADS_2