
"Cla, tadi ada ibu-ibu nelpon. Namanya bi Tini, dia nanyain kamu sama anak-anak. Terus katanya nanti mau nelpon lagi." ujar Ferdi.
"Oh bi Tini. Tumben dia nelpon ke telpon rumah, bukan ke aku." ucap Clara.
"Itu siapa?" tanya Ferdi.
"Dia itu asisten rumah tangga yang udah kerja sama kami dari aku TK. Sampe ke saat aku nikah dan anak-anak masih kecil, dia yang bantu ngurus. Tapi sekarang dia udah pulang kampung, katanya mau ngabisin masa tuanya disana sama keluarga." Clara menjelaskan.
Kini Ferdi paham mengapa ia tak pernah melihat adanya asisten rumah tangga di rumah ini. Ternyata asisten rumah tangganya sudah berhenti bekerja.
"Kenapa kamu nggak nyari asisten rumah tangga baru?" Lagi-lagi Ferdi bertanya.
"Buat apa juga, Fer. Anak-anak udah gede, mereka udah bisa urus diri sendiri, beresin kamar, nyuci baju kan ada mesin. Lagian bi Tini itu baru berhentinya. Pas Arvel sama Anzel SMP kelas 1 dan dua. Axel masih SD waktu itu."
"Oh." Ferdi mengangguk-anggukan kepalanya.
"Pernah waktu itu setelah bi Tini berhenti, waktu aku masih nikah sama bapaknya anak-anak. Kita nyari asisten rumah tangga, dapatnya masih muda. Kerjanya telponan mulu. Terus kalau weekend gini dia minta libur, jalan nggak tau kemana dan sama siapa. Kalau di tegur dan dinasehati cemberut, asem banget mukanya. Abis itu kerja asal-asalan. Nyuci piring kayak sengaja di banting-banting gitu. Tiba-tiba dia hamil, cowoknya kabur."
"Hamil?" tanya Ferdi.
"Iya, yang disalahkan orang tuanya kami Fer. Dibilang nggak menjaga anak mereka dengan baik. Padahal anaknya sendiri yang bandel." lanjut Clara kemudian.
"Sejak itu aku pikir, ah ya udalah. Mending nggak usah punya asisten rumah tangga dulu dari pada nambah-nambahin masalah. Kalaupun ada, aku maunya tuh yang udah ibu-ibu. Soalnya ibu-ibu apalagi agak tua gitu, kerjanya rata-rata bener dan biasanya bisa masak."
"Bener sih." ucap Ferdi.
"Cuma kan asisten rumah tangga sekarang, apalagi dari yayasan. Rata-rata pasti muda, usia dibawah 20 tahunan gitu. Kadang di yayasan udah di training, pas praktek kerjanya malah nggak bener." ujar Clara.
"Ada yang tiktokan mulu, kerja ogah-ogahan. Ada yang jadi selingkuhan suami majikannya. Kayak rumah sebelah nih dulu, selingkuh sama pembantunya sendiri. Sampe cerai dan rumah itu dijual." lanjutnya kemudian.
Ferdi tertawa kecil. Antara miris dan juga kaget mendengar cerita sang istri. Saat ini Clara tengah sibuk mencuci buah yang mereka beli di mall tadi, sambil ditemani oleh Ferdi.
"Aku tuh dari awal mau nanya, kenapa di rumah ini nggak ada asisten rumah tangga. Padahal kamu kan orang kaya, ternyata ini alasannya." ucap Ferdi.
"Ya, gitu deh. Lagian anak-anak juga lebih suka order makanan dari aplikasi ojek online. Jadi ya punya asisten rumah tangga pun buat apa. Kerjaan disini juga nggak banyak." tukas Clara.
"Kalau sekuriti kan aku emang perlu, buat jaga rumah. Apalagi kalau kita lagi keluar kota atau ke luar negri, aman aja ninggalin rumah. Masalah halaman, aku bayar orang tiap seminggu sekali buat bersihin sama ngerawat taman."
Clara menatap Ferdi dan kini mereka sama-sama tersenyum. Tak lama pekerjaan Clara pun selesai. Ia memasukkan sebagian buah ke dalam kulkas dan sebagian lain yang tidak bisa disimpan disana, ia letakkan di atas meja makan.
"Mau minum susu nggak kamu?" tanya Clara pada Ferdi kemudian.
"Nggak ada kopi emangnya?" Ferdi balik bertanya.
__ADS_1
"Jangan kopi mulu, udah tau asam lambung. Masih aja."
Ferdi terkekeh, ternyata Clara bisa split dengan cepat. Dari yang tadinya bercerita dengan ramah, lalu berubah menjadi emak-emak tukang marah.
"Ya udah terserah kamu deh, mau ngasih minum langsung dari sumbernya juga boleh." seloroh Ferdi.
"Nih!" Clara seakan hendak menurunkan dressnya yang bagian atas.
"Clara, ntar ada anak-anak loh."
Ferdi mendadak jadi takut. Ia melihat ke arah tangga dan kembali menatap kepada Clara.
"Katanya mau langsung dari sumbernya." ujar Clara.
Ferdi menggeleng-gelengkan kepalanya sambil menahan senyuman dan menarik nafas.
"Ya udah bikinin apa aja terserah kamu." ujarnya kemudian.
Clara tertawa lalu membuatkan susu sapi hangat untuk suaminya tersebut.
***
"@jessicajess mengikuti anda.
Clara membaca notifikasi dari Instagram. Sejatinya ia tidak terlalu peduli siapa saja yang mengikuti akunnya tersebut. Tapi kali ini entah mengapa ia pernah dan ingin membuka itu semua.
Sebagai wanita dewasa, sejatinya ia tak begitu ambil pusing mengenal hal ini. Tapi sebagai seorang istri yang baru menikah dan sedang mesra-mesranya, kepala Clara tiba-tiba bertanduk.
"Kenapa ngikutin gue?. Kepo?" ujarnya kemudian.
"Kenapa, Cla?"
Ferdi yang baru keluar dari toilet, bertanya pada sang istri.
"Aaa, nggak apa-apa sayang." ucap Clara sambil nyengir.
Ferdi lalu duduk disisi istrinya itu karena ini memang sudah malam, dan mereka bersiap untuk tidur.
"Sayang, foto dulu yuk. Boleh nggak?" tanya Clara.
Ferdi menatap istrinya itu. Dimana-mana mau umur berapapun, perempuan selalu sama. Hobi berfoto.
"Oke." ujarnya kemudian.
__ADS_1
"Sini dong deketan." ujar Clara.
Ferdi lalu mendekat ke arah istrinya tersebut dan mereka kemudian berfoto bersama.
"Cekrek."
Untung saja hasil dari foto tersebut di sukai oleh Clara, hingga mereka tak perlu mengulang dua hingga tiga kali atau bahkan berkali-kali.
Ferdi ingat saat berpacaran dengan Jessica dulu. Kadang untuk mendapatkan satu foto saja yang dianggap sempurna oleh Jessica. Mereka harus mengambil gambar hingga puluhan bahkan ratusan capture. Sampai terkadang leher Ferdi sudah pegal setengah mati rasanya.
"Klik."
Clara memposting fotonya dengan Ferdi tadi di insta story. Ia lalu tersenyum jahat, karena sudah pasti Jessica akan melihat semua itu.
Untuk apa ia memfollow akun Clara jika bukan karena kepo dan cemburu. Maka Clara pun memanfaatkan hal tersebut dengan sebaik mungkin.
Ia akan membuat Jessica kebakaran bulu ketek. Sebab seindah apapun masa lalu Ferdi dengan mantannya itu. Ferdi sekarang adalah suaminya.
Dan lagi Jessica sepertinya belum rela melepas Ferdi. Untuk itulah Clara akan melawan semua itu. Ia masih bisa bertengkar dengan perempuan lain jika itu memang di butuhkan.
"Kamu kenapa sih?" tanya Ferdi pada Clara.
"Kenapa apanya?" Clara balik bertanya.
"Tadi senyum, terus kayak orang gregetan. Kamu lagi nggak butuh ke psikiater kan?" ujar Ferdi.
"Enak aja, emang aku kena mental health isu." ucap.Clara.
Ferdi tertawa lalu mencium pipi istrinya itu.
"Ini mantan kamu follow aku." ujar Clara lagi.
"Siapa, Jessica?" tanya Ferdi.
"Siapa lagi."
"Sama, Nando juga follow aku." Ferdi akhirnya membocorkan hal tersebut.
"Oh ya?"
"Nih."
Ferdi memperlihatkan salah satu pengikutnya yakni Nando.
__ADS_1
"Lah iya ya." ujar Clara.
"Dasar mantan-mantan gagal move on." ujarnya kemudian.