Terpaksa Menikahi Janda Kaya

Terpaksa Menikahi Janda Kaya
Trik Yang Gagal


__ADS_3

Sesuai permintaan Nadia, Ferdi pun kini menyambangi apartemen Jessica. Kebetulan ia masih menyimpan kunci cadangan, karena selama berpacaran ia sering datang kesana.


"Jes."


Ferdi muncul di kamar Jessica dan saat itu Jessica tampak tengah terbaring lemah. Seperti habis meminum obat yang banyak, entah itu obat apa. Yang jelas wajahnya terlihat cukup pucat.


"Ferdi."


Jessica histeris dan langsung berusaha meraih Ferdi, kemudian memeluk pria itu dengan erat. Ferdi sendiri tak membalas pelukan tersebut dan hanya membiarkan Jessica melakukanya sendiri.


"Fer, aku mau kamu kembali sama aku Fer. Aku nggak sanggup kalau harus hidup kayak gini. Aku sayang sama kamu, aku menyesal sudah mengkhianati kamu Ferdi. Aku sayang sama kamu."


Jessica terisak dengan nada bicara yang terdengar kacau. Tangisannya kali ini tidaklah main-main, sebab ia memang menyesali apa yang telah ia perbuat. Namun semua itu sudah terlambat, rasa di hati Ferdi untuknya telah hilang total.


Ia datang kesini hanya karena masih memiliki simpati sebagai sesama manusia. Terlebih mereka pernah mengenal satu sama lain, untuk waktu yang cukup lama.


"Kamu kembali sama aku, Fer. Aku janji akan memperbaiki semuanya. Aku akan jadi perempuan yang lebih baik lagi untuk kamu, aku janji."


Jessica yang masih memeluk Ferdi itu pun berkata. Ferdi menghela nafas lalu membuang tatapan matanya ke suatu sudut.


"Maafin aku, Jes. Aku udah nggak bisa." ujarnya kemudian.


"Ma, maksud kamu?" Jessica kembali meradang. Ia kini melepaskan pelukan dan menatap mata Ferdi lekat-lekat.


"Maksud kamu datang kesini apa, kalau ujungnya kamu nggak mau balikan sama aku?" tanya nya kemudian.


"Aku datang kesini karena Nadia yang minta. Katanya kamu mau bunuh diri. Aku cuma memenuhi permintaan dia, karena dia khawatir sama kamu."


"Jadi bukan kamu yang khawatir?"


Jessica benar-benar merasa terpukul.


"Aku khawatir, Jes. Tapi bukan berarti aku mau kita balikan. Semua yang terjadi diantara kita itu udah cukup. Aku udah nggak mau menjalani apa-apa lagi sama kamu. Dan lagi kamu tau kan, kalau saat ini aku sudah terlibat hubungan lain. Aku sudah melamar Clara dan kami sudah bertunangan."


"Cukup!"

__ADS_1


"Aku nggak mau dengar itu."


Jessica berteriak kencang, kemudian menangis meraung-raung. Ferdi kini berusaha menenangkan perempuan itu, sebab ia takut terjadi apa-apa. Lagipula tetangga unit sebelah bisa saja mendengar, jika suara mereka terlalu keras.


"Kamu nggak bisa melakukan ini ke aku, Ferdi. Aku cinta sama kamu, kamu harus balik sama aku. Aku nggak rela kamu menikah dengan perempuan itu. Kamu baru kenal sama dia, aku yang udah lama mendampingi kamu."


"Jes, tenang dulu."


"Kamu ingat kan selama ini hubungan kita gimana. Kamu cinta mati banget sama aku, kamu sayang dan nggak mau ninggalin aku."


"Jess."


"Aku mau kita balikan, Ferdi. Aku akan memperjuangkan semuanya apapun yang terjadi."


"Jessica!" tegas suara Ferdi terdengar. Membuat Jessica kini mendadak terdiam.


"Aku udah nggak bisa." ujar Ferdi lagi.


Air mata Jessica pun kembali mengalir.


Jessica seolah dihantam oleh baru besar. Tubuh dan pikirannya kini seperti terhimpit dan tak bisa bergerak.


"Oke." ujarnya kemudian.


Wanita itu kembali menatap Ferdi dalam-dalam, kali ini syarat akan maksud yang Ferdi sendiri tak mengerti.


"Kita liat apa yang bisa aku lakukan untuk ini semua." ujarnya.


Jessica pun mengambil handphone, lalu menghidupkan kamera dan meletakkannya di suatu titik. Kemudian ia mulai hendak melucuti pakaiannya sendiri.


"Jes, kamu mau apa?" tanya Ferdi dengan nada yang mulai emosi.


"Calon istri kamu akan tau kalau kamu tidur sama aku hari ini."


"Jes, stop!. Jangan fitnah aku kayak gini."

__ADS_1


"Kamu nggak mau balik sama aku kan?. Ini akibatnya."


Jessica mulai melepaskan baju, dan merekam dirinya sendiri. Kemudian ia juga mengambil wajah Ferdi. Namun tak lama setelah itu ia terdiam, pasalnya ia melihat Jordan dan juga Sean yang tiba-tiba muncul di muka pintu kamarnya.


Segera Jessica menutup tubuhnya yang setengah telanjang dengan selimut. Ia benar-benar tak menyangka jika Ferdi tak datang sendirian.


"Kalian ngapain disini?" teriak Jessica pada keduanya.


"Kita udah rekam perkataan dan perbuatan lo, Jes." ujar Sean.


"Gue sama Sean nggak ada maksud untuk mesum dengan ngeliat lo begini. Tapi kita terpaksa karena lo mau memfitnah Ferdi." Jordan menimpali.


"Berani lo mengeluarkan video yang lo rekam tadi di sosial media, kita juga bakal membalas lo dengan melaporkan video ini ke pihak yang berwajib." ancam Sean.


Wajah Jessica pun kini mendadak pucat pasi. Terasa ruangan itu seperti hampa udara seketika.


"Nggak cuma Jordan sama Sean aja koq. Di depan ada Jason, sepupu kamu yang dokter itu." Ferdi berujar pada Jessica.


"Aku kesini murni untuk menolong kamu dari percobaan bunuh diri, Jes. Karena aku khawatir kamu beneran nekat, meski kamu sebenernya suka drama dan pura-pura mau mati setiap kali ada masalah." Ferdi makin mengunci pergerakan Jessica.


"Makanya aku bawa mereka semua kesini. Maksud aku masih mau baik sama kamu, tapi kamu malah kayak gini ke aku. Ini udah bukan cinta lagi, ini udah obsesi bodoh. Karena kalau kamu cinta sama aku, kamu nggak mungkin nyakitin aku. Terlebih melakukan fitnah seperti ini." lanjut Ferdi kemudian.


Seluruh persendian dan tungkai Jessica terasa lemas. Kemudian Ferdi beranjak, disusul oleh Jordan dan juga Sean. Mereka berpamitan pada Jason dan juga Imelda, sang pacar yang ada di depan. Mereka tadi datang berdua karena khawatir Jessica kenapa-kenapa.


"Titip Jessica." ujar Ferdi pada pemuda itu.


Ia masih tak bisa berlaku terlalu jahat.


"Maafin Jessica, Fer." Jason berujar padanya.


Jason tau sifat dan kelakuan Jessica selama ini, maka dari itu ia meminta maaf. Ferdi mengangguk, kemudian berlalu. Jordan dan Sean juga pamit, lalu mereka menyusul Ferdi.


Sementara di kamar, Jessica benar-benar telah membeku. Trik murahan yang ia lakukan gagal total. Ia malu bukan hanya pada Ferdi, tetapi juga pada Jordan dan Sean. Kini rasanya, ia benar-benar ingin bunuh diri.


Air mata wanita itu mengalir deras, namun ia tak bisa mengeluarkan suara apa-apa. Bahkan ketika Jason dan Imelda datang menghampiri, Jessica tetap tak bisa berkata sepatah pun.

__ADS_1


Dadanya kini sesak, seolah paru-paru wanita itu enggan menerima oksigen yang ia hirup. Andai saat ini ia bisa menggali lubang, rasanya ia ingin mengubur dirinya dalam-dalam.


__ADS_2