
"Hallo papa."
Axel memulai panggilan pertamanya pada Ferdi. Tepat setelah Ferdi pulang dari kantor bersama Clara. Ferdi dan Clara tertawa, sementara Axel nyengir sambil berlarian menaiki tangga. Kemudian keduanya melihat Arvel dan Anzel yang sibuk berkutat di dapur.
"Pada bikin apa kalian?" tanya Clara pada mereka.
"Bikin omelette ma." jawab Arvel.
"Mama sama om Ferdi mau?" tanya nya kemudian.
"Boleh." jawab Clara.
"Kamu juga mau kan sayang?" Clara bertanya pada Ferdi.
"Boleh kalau nggak keberatan." ucap Ferdi.
Mereka pun lalu membuat omelette baru untuk kedua orang tua mereka tersebut. Tak lama, omelette itu pun jadi dan mereka makan bersama.
"Si Axel nggak makan?"
Ferdi menanyakan absennya Axel dari meja makan, pun juga tak ada omelette yang dibuatkan untuknya.
"Udah duluan dia, om." jawab Arvel.
"Pas yang pertama tadi jadi, dia langsung makan." lanjut remaja itu kemudian.
"Oh, pantesan." ucap Ferdi.
"Lain kali jangan kasih makan duluan, bang. Harus bareng-bareng." ucap Clara.
"Kan enak kalau meja makan rame." ujarnya lagi.
"Abis gimana?. Pas omelette-nya masih di teflon aja dia udah merengek laper." Kali ini Anzel yang berujar.
"Cacingan kali dia." ucap Arvel.
"Iya, cacing besar Alaska." seloroh Anzel.
"Naga Cina tuh dalam perut dia." lanjut remaja itu lagi.
Ferdi dan Clara nyaris tersedak saking karena menahan tawa. Mereka kemudian lanjut makan sambil berbincang.
***
"Kamu kemana aja sih?"
Nadia bertanya pada Frans. Sebab akhir-akhir ini kekasihnya itu selalu sibuk.
"Aku lagi sibuk cari duit, sayang. Aku juga mau bantu papa. Kasihan Ferdi dibebankan sendirian oleh papa, supaya bisa pake duit istrinya untuk keperluan perusahaan."
"Iya tapi minimal kabari aku lah, ini nggak ada sama sekali." gerutu Nadia lagi.
"Iya, aku minta maaf. Aku bener-bener sibuk. Jangankan ngabarin kamu, buat makan aja untung ingat." jawab Frans.
"Lagian kamu pegang kunci apartemen aku kan. Kalau kangen ya datang aja."
Nadia menekuk bibirnya dengan manja.
"Kalau aku nggak mikirin Ferdi, aku nggak akan bekerja sampai secapek ini. Aku juga males terlalu mengejar duit banget, sampe nggak bisa lagi menikmati hidup."
Nadia menghela nafas.
__ADS_1
"Aku takut si Clara merasa di peras, karena uangnya selalu di pake sama Ferdi." lanjut Frans lagi.
"Iya, aku ngerti koq." ucap Nadia.
Pasangan itu kemudian menikmati makanan yang telah mereka pesan. Sementara dari meja sebelah, Jessica yang membelakangi keduanya pun tersenyum. Frans dan Nadia tak menyadari adanya Jessica di tempat tersebut.
Wanita ular itu tak salah menginginkan makanan dari restoran ini dan pergi mendatanginya. Sebab kini ia menyimpan sebuah rahasia besar. Ia baru tau jika Ferdi ternyata memanfaatkan Clara. Bukan karena ia benar-benar mencintai wanita itu.
"Hallo, pak."
Jessica menghubungi Nando, sesaat setelah mereka semua selesai makan. Dan baik Frans maupun Nadia telah pergi meninggalkan tempat itu.
"Iya, ada apa Jessica?" tanya Nando kemudian.
"Saya perlu bicara pak, kita ketemuan bisa?"
"Oke saya lihat dulu waktunya ya. Nanti saya kabari."
"Oh, oke. Baik pak." jawab Jessica.
Ia pun lalu menyudahi panggilan telpon tersebut dan kembali tersenyum jahat.
***
Esok hari, Ferdi menemani Clara periksa kandungan. Dokter bilang perkembangan janinnya bagus dan Ferdi merasa begitu bahagia.
Tak hanya ia sendiri, ketiga anak sambungnya pun ikut ke rumah sakit, tetapi mereka menunggu di luar. Axel bilang ingin melihat perawat dan dokter cantik.
Clara berpesan kepada ketiga anaknya untuk boleh memandang, tapi jangan melecehkan.
"Ingat ya, dimana pun kalian berada. Goda-godain cewek, kayak manggil atau suit-suit itu merupakan bentuk seksual harassment. Termasuk pelecehan terhadap orang lain. Jadi kalau ngeliat cewek cantik, liat aja sekilas abis itu udah."
Begitulah Clara selalu berkata pada anak-anaknya sebelum mereka bepergian. Dan ketiga anaknya merupakan anak yang penurut.
"Ma, udah?"
Axel bertanya pada Clara, ketika ibu dan ayah tirinya telah keluar dari ruang praktek dokter kandungan.
"Udah, mau liat foto USG dedeknya nggak?" tanya Clara.
"Mau, mana?" tanya Axel lagi.
Maka Clara pun memberikan foto tersebut lalu Arvel dan Anzel ikut menilik ke dalam gambar.
"Koq gini doang, dedeknya mana?" tanya Axel.
Ferdi tertawa, begitupula dengan Clara dan dua anak lainnya.
"Belum terlalu kelihatan, Axel." jawab Ferdi.
"Tapi nantinya bakal kelihatan?" tanya nya lagi.
"Iya kalau udah beberapa bulan." jawab Clara.
Axel masih menatap aneh ke foto tersebut.
"Berarti dulu Axel kayak gini juga, ma?" tanya nya.
"Nggak." jawab Anzel.
"Lo umur dua bulan di kandungan mama udah joget-joget." selorohnya lagi.
__ADS_1
Mereka semua kini tertawa-tawa.
"Fer, abis ini kita belanja." ucap Clara.
Ferdi mengangguk.
"Kita mau ke supermarket, ma?" Axel bersemangat.
"Giliran denger belanja aja lo. Langsung naik energi sampai ke ubun-ubun." ucap Arvel.
"Hehehe." Axel nyengir, kali ini sangat mirip dengan bajing.
Tak lama keluarga itu segera berangkat menuju ke supermarket. Setibanya disana Ferdi mengambil satu troly, kemudian berjalan bersama Clara.
Arvel dan Anzel membawa satu troly lainnya. Karena Clara membebaskan mereka untuk mengambil apa saja. Selama itu makanan atau kebutuhan sehari-hari yang penting. Bukan elektronik dan hal aneh lainnya.
Mereka berjalan dengan santai. Sementara Axel sudah meluncur kesana kemari dengan menaikkan satu kaki pada bagian bawah troly yang ia dorong.
Untuk anak yang satu itu, Clara dan Ferdi hanya bisa merelakan. Sebab energi dan tingkahnya memang kelebihan.
"Yahuuuu."
Ia meluncur kesana kemari. Kebetulan supermarket yang mereka datangi cukup sepi hari itu.
"Axel hati-hati!" Ferdi mengingatkan sang anak.
"Iya pa." jawabnya kemudian.
Ia berbalik arah dan kembali meluncur.
"Ma, Axel ambil bebek-bebekan ini satu ya?"
Ia menunjukkan satu mainan berbentuk bebek, dengan helm di atas kepalanya.
"Buat apa, bang?" tanya Clara.
"Buat teman mandi." jawabnya polos.
Ferdi tertawa, sementara Clara berusaha bersabar.
"Ya udah, ambil!" ujar wanita itu.
Tak lama Axel kembali meluncur. Kali ini lebih ngebut dari yang tadi, sehingga mengagetkan Arvel dan Anzel yang tengah berada di barisan rak yang menjual Snack.
"Pelan-pelan, Bambang. Ntar nyungsep aja lo." tukas Anzel. Sementara Arvel kini terkekeh.
"Iya Karyono." jawab Axel kemudian menghilang di balik rak lainnya.
"Heran dia kalau di luar, energinya kayak 100 kali lipat." ucap Anzel lagi.
"Kayak nggak tau Axel aja." tukas Arvel pada adiknya itu. Mereka pun lalu sama-sama tertawa.
Sementara di lain pihak, Ferdi dan Clara kini berjalan diantara rak yang menjual susu ibu hamil. Ferdi tampak membaca kandungan gizi di beberapa merk atau brand dari susu tersebut.
"Kamu nggak mau cobain merk lain?" tanya Ferdi seraya menunjukkan satu kaleng susu hamil yang berbeda dengan yang biasa diminum sang istri.
"Mmm, enak nggak ya tapi?" tanya Clara.
"Tau, cobain aja dulu." ucap Ferdi.
"Oke deh." jawab Clara kemudian.
__ADS_1
***