
"Mama nggak ada ngajarin kamu kayak gitu, Axel. Kenapa kamu mukulin anak orang?"
Clara berteriak pada Axel ketika mereka telah berada dirumah. Saat itu Arvel dan Anzel baru pulang dan Ferdi pun baru saja tiba dari kantor. Mereka bertiga sudah tau permasalahan yang terjadi, sebab tadi Clara ada sempat mengabari via WhatsApp.
"Berapa kali mama bilang, beladiri itu bukan untuk berlaku sok hebat atau sok jagoan di hadapan orang lain."
Axel menunduk.
"Kamu tuh bikin Mama kesel tau nggak."
Clara mengayunkan tangan dan hendak memukul Axel. Namun Ferdi degan cepat menangkap tangan istrinya itu.
"Clara." Ia berujar seraya menatap tajam ke mata Clara.
"Dia tuh ngeselin, Fer."
"Ya nggak harus di pukul juga."
"Dia mukulin anak orang, sampai babak belur."
"Kamu tanya nggak sama dia apa alasannya?" Suara Ferdi meninggi dan Clara kini terdiam.
"Sebagai orang tua harusnya kamu tanya dulu. Kenapa sampai dia berbuat seperti itu. Nggak mungkin ada asap kalau nggak ada api. Jangan taunya cuma marah dan pengen di dengar aja, tanpa kamu mau mendengarkan."
Clara makin diam. Arvel dan Anzel membuang tatapan mereka ke arah lain, sementara Axel kini terus menunduk.
"Dia di bully, Clara."
Kata-kata Ferdi tersebut berhasil membuat Clara tersentak. Ia menatap Axel lalu kembali menatap Ferdi. Arvel dan Anzel pun sama terkejutnya dengan sang ibu, sebab mereka tak ada mengetahui perkara itu sedikitpun.
"Kamu nggak tau kan?" ujar Ferdi lagi.
"Dia di bully selama ini dan dia hanya diam. Dia menuruti kata-kata kamu, bahwa beladiri bukan untuk berlaku sok hebat di depan orang lain. Dia nggak pernah ngelawan, sampai akhirnya aku yang nyuruh."
Clara benar-benar membeku kali ini. Dada wanita itu terasa sesak dan jantungnya berdegup kencang.
"Aku yang nyuruh dia tempo hari untuk membalas perlakuan musuhnya itu. Ini yang kedua kali dia melakukan hal tersebut."
Clara terus terperangah memperhatikan Axel dan juga Ferdi.
"Kalau kamu mau marah, marah sama aku. Aku cuma ngajarin dia, supaya sebagai laki-laki dia punya harga diri. Karena kalau dia diam aja, sampai kapanpun dia akan terus jadi korban. Dan itu nggak baik untuk kesehatan mentalnya dia."
Ferdi kemudian berlalu. Clara perlahan mendekat ke arah anak bungsunya yang masih terdiam membisu.
"Bener apa yang dibilang om Ferdi?" tanya nya kemudian.
Axel mengangguk, namun masih menunduk.
__ADS_1
"Bener om Ferdi yang nyuruh kamu memukul lawan kamu itu?"
Lagi-lagi Axel mengangguk.
"Tapi itu bukan salah om Ferdi sepenuhnya. Axel emang udah lama mau membalas perlakuan mereka. Tapi Axel belum yakin aja, karena masih mikirin omongan mama yang melarang Axel untuk berlaku kasar sama orang."
Clara menarik nafas panjang.
"Apa yang sering mereka lakukan ke kamu?" tanya nya lagi.
"Paling sering memukul." jawab Axel.
Hati Clara kini seperti di cabik-cabik. Ia benar-benar tak menyangka jika anaknya menjadi korban bullying. Tadi di sekolah ia ingat bagaimana orang tua Gibran berapi-api memojokkan Axel.
Clara hanya diam karena merasa memang anaknya-lah yang nakal. Kini ia mendendam dan rasanya ingin memanjangkan perkara ini. Karena ternyata yang lebih nakal adalah Gibran.
Sementara di lain pihak, Anzel kini menyusul Ferdi. Ferdi yang mendapati anak tirinya itu pun kini menghentikan langkah.
"Ada apa?" tanya Ferdi kemudian.
"Saya nggak suka om marahin mama saya, apalagi di depan anak yang lagi berusaha dia didik. Om nggak seharusnya melakukan semua itu. Om menghilangkan wibawa mama di mata Axel."
"Dari pertama mama kamu marah sampai kepada saat dia mau memukul Axel. Saat itu mama kamu sudah kehilangan wibawanya. Terutama di mata Axel."
Ferdi menatap Anzel dalam-dalam.
"Om belum punya anak, om nggak akan tau rasanya berada di posisi mama saya."
"Tapi om pernah jadi anak, sama seperti kamu, Arvel dan juga Axel. Nggak harus punya anak dulu untuk bisa belajar menjadi orang tua. Sama halnya kita nggak perlu kemalingan dulu, untuk bisa waspada terhadap pelaku pencurian."
Ferdi masih terus menatap Anzel dan begitupun sebaliknya.
"Om pernah jadi anak dan om tau rasanya, ketika orang tua hanya nyerocos dan menyalahkan, tanpa tau apa yang menjadi penyebab. Kenapa kita melakukan sebuah kesalahan." ujarnya lagi.
"Kamu sebagai kakaknya, apa pernah kamu tau mengenai hal tadi?"
Anzel terdiam kali ini.
"Sebagai saudara harusnya kalian lebih saling memperhatikan satu sama lain. Apalagi hubungan kalian sangat dekat. Harusnya kamu bisa menjadi pelindung dan tempat cerita yang nyaman bagi saudara-saudara kamu, dan begitu juga sebaliknya. Harusnya saudara-saudara kamu menjadi tempat paling nyaman untuk kamu bercerita masalah apapun. Karena itulah gunanya keluarga."
Ferdi meninggalkan tempat itu begitu saja. Sementara Anzel dan juga Arvel yang mendengar dari balik tembok kini sama-sama terdiam.
***
Beberapa saat berlalu.
Axel berjalan ke arah sebuah ruangan, dengan diiringi oleh Clara. Saat itu Ferdi yang tengah melintas tak sengaja melihat hal tersebut.
__ADS_1
"Ayo masuk, ini hukuman untuk kamu." ujar Clara pada sang anak.
"Mama kan udah tau duduk permasalahannya gimana. Koq Axel masih di hukum juga?" Axel melayangkan protes terhadap ibunya itu.
Clara menarik nafas panjang.
"Mama akan memperkarakan balik orang tua Gibran. Mama akan bongkar kelakuan anaknya terhadap kamu selama ini. Biar orang tuanya juga malu. Tapi kali ini kamu tetap harus menjalani hukuman disiplin dari mama."
"Ya, tapi kenapa?. Untuk alasan apa coba?" Axel masih saja protes.
"Untuk alasan karena kamu sudah bertindak dengan kekerasan."
"Tapi kan ada alasannya."
"Mama tau. Tapi sebagai ibu, mama juga nggak boleh menormalisasi tindakan kasar yang kamu buat. Itu sama aja artinya mama membiarkan anak mama menjadi seorang kriminal."
Axel diam, ia memang tak bisa menang berdebat melawan Clara. Hanya Ferdi yang saat ini bisa mengimbangi wanita itu.
"Masuk!" ujar Clara kemudian.
"Di dalam ada apaan?" tanya Axel ragu-ragu.
"Nggak ada apa-apa, orang cuma ruangan kosong doang. Ada AC nya lagi. Masih mending daripada kamu mama kurung di gudang belakang yang banyak kecoanya."
Axel pun lalu masuk ke ruangan itu. Kini Clara menoleh pada Ferdi.
"Kamu juga masuk, Fer." ujarnya kemudian.
"Kamu mau menghukum suami kamu sendiri?. Dosa loh, Clara."
Ferdi berucap sambil menahan senyuman. Sejatinya Clara pun sudah ingin tertawa, namun ia berusaha keras menahannya.
"Masuk, Fer. Kamu yang ngajarin anak kita untuk jadi anarkis."
"Ya tapi kan."
"Aku tau." Clara menyela ucapan Ferdi.
"Tapi sebagai orang tua, kamu pasti mau jadi contoh yang baik kan untuk anak-anak. Lagipula kamu harus bertanggung jawab. Kamu yang ngajarin dia untuk mukulin orang, masa cuma dia yang dihukum. Kan nggak adil buat dia."
Ferdi menarik nafas panjang.
"Oke." jawabnya kemudian.
"Kamu juga nggak dapat makan malam." ujar Clara lagi.
"Oke, kan bisa makan subuh." ujar Ferdi.
__ADS_1
Pemuda tampan itu lalu melangkah masuk ke dalam ruangan, sementara Clara terus menahan senyumannya.