Terpaksa Menikahi Janda Kaya

Terpaksa Menikahi Janda Kaya
Mulai Mencoba


__ADS_3

Sebuah surat peringatan dilayangkan pihak Clara pada Nando. Isi dari surat peringatan itu adalah meminta Nando untuk segera menyelesaikan urusannya dalam tempo tiga bulan. Setelah itu perusahaan akan dipindahtangankan pada Ferdi, yang merupakan suami baru dari Clara.


"Pak ini ada surat resmi dari pusat untuk bapak."


Sekretaris Nando membawakan surat tersebut.


"Ya sudah tarok aja dulu disitu." Nando memerintahkan.


Sekretarisnya lalu meletakkan surat tersebut pada tempat biasa ia meletakkan surat. Posisinya ada di sebelah kiri meja kerja Nando.


"Saya permisi dulu pak." ujar sekretarisnya itu lagi.


"Iya."


Nando menjawab tanpa berterima kasih. Sang sekretaris kemudian keluar dan kembali ke tempat semula.


***


"Kita hanya tinggal menunggu Nando mundur secara teratur. Nggak perlu ribut dan nggak perlu capek menemui dia."


Orang kepercayaan ayah Clara berujar, ketika surat peringatan telah dilayangkan kepada Nando. Ia dan Clara belum mengetahui jika sampai saat ini Nando belum membaca surat tersebut.


Pria itu tengah sibuk bekerja dan juga membalas chat dari selingkuhan barunya. Penyakit mantan suami Clara tersebut telah kembali berulang, itulah kenapa jangan sekali-kali memaafkan laki-laki yang berselingkuh.


Dan untuk para pelakor janganlah merasa bangga, ketika berhasil merebut suami orang dari hasil sebuah perselingkuhan. Sebab selingkuh itu merupakan sebuah tabiat. Akan berulang bila dia sudah bosan terhadap kita.


***


"Vel, itu orang siapa dah?"


Kevin berbicara pada Arvel ketika mereka telah pulang sekolah dan menunggu jemputan. Arvel juga tengah menunggu Anzel yang saat ini masih berada di toilet.


"Siapa?" Arvel balik bertanya.


"Arah jam satu." ujar Kevin.


"Mana sih?" Arvel mencari-cari diikuti tatapan kedua temannya yang lain, yakni Michael dan juga Jodi.


"Itu yang dalam mobil sedan item." ujar Kevin lagi.


Arvel menoleh ke arah jam satu. Tampak disana ada lima mobil sedan berjejer, dan semuanya berwarna hitam.


"Yang mana anjay?. Orang itu warnanya item semua." tukas Arvel kemudian.


"BMW." ujar Kevin


Arvel lalu melihat ke arah mobil yang dimaksud. Tampak seorang pria menatap dirinya lalu refleks membuang pandangan ke arah lain, ketika tanpa sengaja mereka bertemu pandang.


"Dia ngeliatin lo mulu dari tadi." lanjut Kevin.


"Lo kenal, Vel?" tanya Michael.

__ADS_1


Arvel berpikir.


"Mmm, nggak tau gue. Bukan ngeliatin gue kali. Segini banyaknya orang, masa iya ngeliatin gue. Ngeliatin cewek-cewek ini mungkin."


Arvel melirik ke arah beberapa siswi yang ada di dekat mereka.


"Iya kali ya." ujar Jodi.


Tak lama masing-masing jemputan dari mereka sampai. Anzel juga sudah kembali dari toilet. Mereka pun lalu saling berpamitan dan berpisah di tempat itu.


***


"Kami sudah menerbitkan surat peringatan ke Nando, Fer. Dia diharuskan mundur, karena nantinya tampuk kepemimpinan di sana akan digantikan oleh kamu untuk sementara waktu. Kamu nggak akan ngapa-ngapain sih sebenarnya. Karena aku dan yang lain akan segera merubah sistem yang ada. Jadi yang memimpin nggak perlu suami aku, tapi dikembalikan lagi aja ke pusat." ucap Clara.


Ferdi mengangguk.


"Pokoknya kamu kasih tau aja aku mesri harus gimana. Masalahnya bidang perusahaan kamu dan pekerjaan aku jauh berbeda. Aku juga seorang karyawan, bukan pemimpin. Aku nggak tau gimana caranya kalau di suruh memimpin sesuatu yang bahkan aku sendiri nggak familiar. Yang ada ancur-ancuran nanti." ujarnya kemudian.


"Iya kamu tenang aja, semua udah diatur koq." tukas Clara.


"Oke deh, kita pulang sekarang?" tanya Ferdi.


"Nggak, besok aja." seloroh Clara.


Keduanya pun lalu tertawa. Ferdi kemudian menghidupkan mesin mobil dan menekan pedal gas. Tak lama setelahnya mereka terlihat meninggalkan lobi kantor istrinya tersebut.


"Kamu nyangka nggak sih kita nikah kayak gini?"


"Nggak." jawab Ferdi.


Clara tertawa sambil menatap dashboard mobil.


"Kita ketemu gara-gara aku berantem sama Nando. Terus kamu di pukuli dan masuk rumah sakit." ujarnya.


Ferdi mengingat hal tersebut.


"Sebenarnya itu aku nggak apa-apa tau." ujar Ferdi kemudian.


Clara menoleh dan mengernyitkan dahi karena tak mengerti.


"Maksudnya?"


"Aku tuh nggak apa-apa, nggak mesti dibawa ke rumah sakit. Kamu aja yang waktu itu khawatir berlebihan."


"Ya abis gimana, aku panik. Aku nggak kenal kamu juga, takut kamu kenapa-kenapa. Daripada aku yang disalahkan, mending aku bawa ke rumah sakit." ujar Clara.


"Oh, jadi waktu itu kamu bawa aku ke rumah sakit. Karena kamu takut tersandung masalah lain lagi. Bukan karena kamu beneran khawatir sama aku?"


"Iya." jawab Clara dengan polosnya.


Ferdi tertawa, antara miris dan ingin memukul kepala istrinya itu dengan batu.

__ADS_1


"Tapi kalau sekarang aku beneran khawatir, Fer. Kalau sampai terjadi apa-apa sama kamu. Karena aku udah cinta sama kamu." ucap Clara.


Lagi-lagi Ferdi tertawa.


"Koq kamu malah ketawa?. Kamu nggak cinta sama aku?" Clara mulai menjelma menjadi perempuan yang menyebalkan.


"Kalau nggak cinta, ngapain aku tidurin kamu coba." ucap Ferdi.


"Koq jawabannya gitu?" tanya Clara sambil tersenyum.


"Ya bener dong, aku bisa kayak gitu sama kamu karena aku cinta." ujar Ferdi lagi.


"Tapi ada koq orang yang nggak cinta bisa begituan. Cowok yang sengaja bayar cewek kan ada." tukas Clara.


"Kalau aku nggak bisa kayak gitu. Mau bisa pegang tangan cewek aja, aku harus cinta dulu. Kalau nggak ada rasa, mana mau aku." ujar Ferdi.


Clara tersenyum sekali lagi.


"Kamu tuh cowok aneh tau nggak, Fer." ujarnya kemudian.


"Yang ngomong bukan cuma kamu doang koq. Dari jaman sekolah aku udah di bilang cowok aneh sama cewek-cewek. Aku sendiri nggak tau letak anehnya dimana. Menurut aku, aku biasa aja." ujar Ferdi.


"Biasa sih kalau orang aneh tuh nggak nyadar diri." ucap Clara.


"Yang penting ganteng?" Ferdi membela diri.


"Aneh-aneh juga suami kamu kan?" lanjutnya lagi.


Dan lagi-lagi Clara tertawa.


"Iya, yang penting aku sayang koq sama kamu." ujarnya kemudian.


Ferdi pun tersenyum dan mereka kini melanjutkan perjalanan.


***


Esok hari, Ferdi mulai mengerjakan poject barunya bersama Nath. Ia terlihat begitu sibuk dari pagi hingga siang. Jordan dan Sean mengetahui akan hal tersebut, dan mereka mendukung Ferdi sepenuhnya.


"Fer, lo dipanggil pak Nath tuh. Suruh ke ruangannya." Nova berkata ketika Ferdi tengah fokus pada pekerjaan.


Pemuda itu pun beranjak menuju ruangan Nath. Saat itu Nath tengah mengambil beberapa buku di salah satu lemari dan tiba-tiba,


"Braaak."


Salah satu buku terjatuh. Dan dari dalam buku tersebut tampak sebuah foto keluar dan mendarat di ujung sepatu Ferdi. Ferdi meraih foto tersebut lalu melihatnya.


"Ini foto lo waktu bayi, Nath?" tanya nya kemudian.


"Aaaa, iya." ujar Nath.


"Lucu banget. Tapi pas gedenya lo kadang ngeselin." seloroh Ferdi.

__ADS_1


Nath hanya tertawa kecil. Ferdi lalu menyerahkan kembali foto tersebut.


__ADS_2