
Clara mengajak anak-anaknya untuk fitting baju. Baju tersebut nantinya akan mereka pakai di hari pernikahan ibu mereka.
Sejatinya Arvel dan Anzel sangat malas pergi ke butik langganan Clara. Sebab ada cucok meong serta para karyawan perempuan, yang suka menggoda dan mencubit-cubit pipi mereka. Lantaran mereka very good looking dan menggemaskan.
Sedang Axel lebih santai. Ia memang selalu seperti itu di setiap kesempatan. Santai dan banyak nyengir adalah bawaan pribadinya.
"Oh waw, makin ganteng-ganteng semua your honey baby."
Si pemilik butik yang amfibi menghampiri Clara dan anak-anaknya. Axel tampak santai saja sambil tertawa. Sementara kedua kakaknya terlihat risih namun berusaha untuk terlihat ramah. Sebab bila mereka tak ramah menanggapi orang lain, terlebih yang Clara kenal. Clara kadang suka mengingatkan.
"Jangan sombong, nak. Sama orang lain."
Begitulah kata-kata yang sering di ucapkan oleh Clara. Hingga mereka pun harus mengeluarkan jurus senyum fake dan sikap yang penuh akting.
"Ini tiga-tiganya kan mau ngukur baju?" tanya si pemilik butik.
"Oh iya dong mak, kalau nggak ya ngapain eke bawa tiga-tiganya ke sindang." ucap Clara.
"Yuk sini, sayang. Itu di ukur dulu ya sana mbak-mbak disana." ucap si pemilik butik sambil menunjuk ke arah beberapa karyawannya di suatu sudut.
Maka ketiga anak itu pergi ke sana dan Clara serta si pemilik butik itu berbincang. Si pemilik butik membicarakan tentang gosip terbaru dengan cara yang begitu heboh. Hingga Clara pun jadi tertawa-tawa dan merasa terhibur.
***
Lain halnya dengan Clara. Pihak orang tua Ferdi kini tengah sibuk mengurus gedung pernikahan, mencari katering yang terbaik serta mengurus segala keperluan-keperluan kecil yang biasanya sering terlewatkan.
Mengapa Jeffri yang tengah bermasalah dengan keuangan rela merogoh kocek demi pernikahan tersebut. Semua adalah demi agar Ferdi memiliki harga diri di depan Clara.
Setidaknya, meski di ujung nanti Ferdi akan meminta tolong pada Clara masalah keuangan. Di awal mereka tak boleh terlalu terlihat seperti benalu. Sebab keluarga Clara adalah keluarga besar dan tentu mereka bis menilai itu semua.
Dan lagipula ini adalah rencana Jeffri. Ferdi sendiri jika ingin menikah, dari dulu ia bertekad untuk me.biayai pernikahan tersebut. Apalagi keadaannya saat ini, Ferdi mencintai Clara. Tak ada alasan untuk tidak berkorban diemi wanita itu.
"Ma, kateringnya jadi yang mana kata papa?" Nadia bertanya pada Aini yang sibuk melihat keadaan gedung yang disewa.
"Yang kedua itu aja."
Aini menyebut katering yang mengirim sampel makanan kemarin. Setelah sehari sebelumnya ada lagi yang mengirim.
"Yang kedua?"
"Iya, rasanya lebih mantap."
"Iya sih, Nad juga suka yang itu." ujar Nadia.
__ADS_1
Tak lama Jeffri dan Adrian muncul, kemudian mereka membicarakan beberapa hal yang memang penting dan harus di bahas.
***
"Brengsek!"
Nando mondar-mandir di ruangan tempat dimana ia kini berada. Di saksikan oleh beberapa teman dekatnya yang kebetulan sedang ada disana.
"Gue akan buat perhitungan dengan si Ferdi." ujarnya lagi.
"Bisa-bisanya anak gue posting lagi fitting baju di sosial media. Apa sih yang udah dikasih sama laki-laki yang nggak punya apa-apa itu ke anak gue?. Sampe anak gue kayaknya excited banget buat dapat bapak tiri."
Ia mengoceh panjang lebar. Sebab beberapa saat lalu ia melihat Axel memposting insta story dengan caption "Fitting buat acara mama." Tentu saja Nando jadi membara hatinya. Sebab Axel terlihat seperti menerima kehadiran ayah tirinya itu.
Dalam video berdurasi kurang dari 10 detik tersebut, tampak pula terlihat Arvel dan Anzel yang tengah duduk sambil bermain game online disana.
Saat direkam oleh sang adik, tentu saja ekspresi mereka terlihat biasa. Karena mereka pun masih berkutat dengan game online. Nando mengira dua anak yang lain itu juga menerima kehadiran Ferdi. Ia tak tau jika kedua anak itu belum bisa menerima calon suami dari ibu mereka dengan sepenuh hati.
Maka jadilah Nando kini seperti cacing kepanasan. Ia mondar-mandir kesana kemari dengan hati resah dan pikiran yang runyam.
"Gue heran sama Nando, kan udah mantan ya. Koq dia yang kebakaran jenggot."
Salah satu teman Nando berujar pada teman yang lainnya, ketika mereka telah kembali dari tempat pria itu.
"Kalau nggak ada rasa lagi, ngapain sampai berapi-api kayak tadi." lanjutnya kemudian.
"Padahal pas cerai kemarin, dia yang vokal banget ngejelekin mantan bininya dan memuji-muji bininya yang baru. Sampe semua aibnya si Clara dia bilang, kita yang nggak tau jadi tau. Sekarang dia sendiri yang ketar-ketir."
Temanya yang satu tertawa.
"Ya namanya juga Nando, bro. Kayak nggak tau dia aja. Kadang semenit dia lupa sama apa yang dia omongin semenit yang lalu. Kayak gitu juga masalah ini. Mungkin dia lupa kali, pernah ngejelekin mantan bininya di depan kita. Sekarang malah nunjukin kalau dia masih cemburu."
"Kayak nggak punya harga diri nggak sih?"
"Emang."
"Hahaha."
Kedua sahabat itu saling tertawa-tawa. Meski Nando memiliki circle pertemanan yang cukup luas. Namun isi di dalamnya tidaklah setulus yang ia kira. Mereka masih suka membicarakan Nando di belakang.
Berbeda halnya dengan circle pertemanan Ferdi. Meskipun sedikit dan itu-itu saja, tetapi mereka memanglah teman sejati. Jordan dan Sean tak pernah menjelekkan Ferdi di belakang, begitupula sebaliknya.
Jika ada hal dari diri Ferdi yang mereka tak sukai, biasanya mereka akan langsung katakan di depan Ferdi sendiri. Ferdi pun demikian. Hingga mereka tak terbiasa saling bergosip seperti emak-emak yang tinggal di dalam gang.
__ADS_1
***
"Om, main Free Fire nggak?"
Tiba-tiba Axel mengirim pesan singkat pada Ferdi di WhatsApp. Kemarin ia telah mendapatkan kontak calon ayah tirinya itu.
"Nggak, kenapa?" Ferdi balik bertanya.
"Yah, kirain main." Axel tampak agak sedikit kecewa.
"Kenapa emangnya?" tanya Ferdi lagi.
"Biar ngerasa nggak download sendirian gitu." ucap Axel.
"Lah itu abang?. Nggak pada main emangnya?"
"Nggak. Kata abang Ar, sama abang An. Free Fire itu buat bocil alay. Mereka nggak mau main, takut di cengin teman-teman mereka."
Ferdi tertawa membaca semua itu.
"Kata temen om juga gitu sih. Tapi ya kalau kamu mau download mah, download aja. Emang ada larangan?"
"Ya nggak enak aja, ntar dibilang bocil alay. Kalau om juga download, minimal kita alay berdua."
"Hahaha." Ferdi tertawa.
"Om lagi dimana ini?" tanya Axel.
"Lagi kerja." jawab Ferdi.
"Oh, lagi kerja ya?" Axel tak mengetahui hal tersebut.
"Iya dong, masa nggak kerja?" ucap Ferdi lagi.
"Hehehe." Axel membalas dengan kata-kata seperti itu.
"Ya udah deh, nanti Axel chat om lagi ya."
"Iya."
"Bye, om."
"Bye."
__ADS_1
Axel menyudahi chat tersebut, sementara kini Ferdi masih tertawa-tawa. Anak-anak memang kadang selalu ada-ada saja tingkahnya.