
Esok harinya Clara dan Ferdi pulang ke rumah. Tepat disaat anak-anak pun sudah pulang dari sekolah.
Tanpa membuang banyak waktu Clara segera mengajak ketiga buah hatinya tersebut untuk makan bersama. Kebetulan tadi ia dan Ferdi membeli makanan yang sudah jadi.
"Kalian makan apa, waktu mama nggak ada di rumah?" tanya Clara pada ketiga anaknya di sela-sela makan yang kini telah berjalan.
Ketiga remaja tersebut saling bersitatap.
"Ya, makan biasa ma." ucap Axel pada sang ibu.
"Jangan bohong sama mama, pasti kalian makan mie instan kan?" ucap Clara seraya menatap mereka satu persatu.
"Nggak koq." ucap Axel lagi.
"Mama tau kamu bohong. Mama nggak suka ya sama anak tukang bohong. Dan mama udah mengingatkan kalian, jangan sering-sering makan mie instan. Nggak baik buat kesehatan. Jangan malah ambil kesempatan kalau mama lagi nggak ada di rumah."
Arvel, Anzel, dan Axel hanya menunduk. Lalu mereka melanjutkan makan dengan suasana yang sudah tidak enak.
***
"Kamu nggak seharusnya marah dengan anak-anak di meja makan."
Ferdi berujar ketika ia dan Clara telah naik ke lantai dua dan masuk ke kamar. Saat itu Arvel kebetulan tengah melintas di depan kamar tersebut, karena hendak menuju ke kamarnya. Ia berhenti di sana dan mendengar percakapan antara ibu dan ayah tirinya itu.
"Ya, aku nggak suka aja anak-anak kebanyakan makan mie instan. Mereka tuh kalau di belakang aku suka gitu."
"Tapi meja makan bukan tempat menghakimi kesalahan seseorang, Clara. Meja makan itu tempat makan, dimana orang-orangnya membutuhkan rasa nyaman untuk bisa menelan makanan."
Ferdi menatap Clara lekat-lekat. Clara sendiri tak menyangka jika ini akan menjadi hal yang serius.
"Kalau kamu aku buat nggak nyaman, terus kita berada di satu meja dan makan. Apa rasa makanan kamu masih akan tetap enak?. Masih bisa kamu menelan makanan itu dengan baik?"
Ferdi kembali melanjutkan kata-kata. Clara terdiam, sementara diluar Arvel masih mendengarkan dengan tubuh yang terpaku.
"Kamu kan seorang pemimpin perusahaan, kamu pasti tau etika cara menegur karyawan atau bawahan kamu. Begitu juga dengan anak. Jangan mentang-mentang kita orang tua, lantas kita bisa seenaknya marah nggak liat situasi dan tempat. Apalagi tadi ada aku, aku orang baru buat mereka. Gimana perasaan mereka, kamu marahin gitu depan aku?"
Clara benar-benar tak mampu berkata apa-apa lagi kali ini. Ia mulai menyadari dan menyesal atas apa yang telah ia lakukan.
"Mereka memang anak-anak kandung kamu, tapi mendidik anak juga ada etikanya. Gimana mereka mau belajar etika, kalau kamu aja tidak mencontohkan dengan baik."
"Aku minta maaf." ujar Clara dengan penuh penyesalan.
"Ini nggak seharusnya terjadi, padahal kita baru menikah." lanjutnya kemudian.
"Aku nggak ada masalah. Kamu minta maaflah sama mereka, dan jangan di ulangi."
__ADS_1
Wanita itu kembali diam, namun kemudian ia mengangguk.
"Terserah kamu mau marahin mereka, kalau mereka memang benar-benar salah. Tapi satu hal, jangan di meja makan. Kecuali saat kita lagi nggak makan. Karena pada saat kita makan, kita sedang menerima pemberian Tuhan. Apa kita pantas menerimanya sambil marah-marah?"
Clara menunduk dan lagi-lagi mengangguk. Ferdi menghela nafas sambil menatap istrinya itu dalam-dalam. Kemudian ia mendekat, memeluk, dan mencium kening Clara dengan lembut.
Sementara di luar Arvel tetap diam, sambil berperang melawan hatinya sendiri. Hatinya mengatakan jika Ferdi adalah seseorang yang baik, namun ia bersikeras untuk tidak mau buru-buru menyimpulkan.
Maka dari itu ia pergi dan berlalu, kebetulan Ferdi dan juga Clara sudah berhenti berbicara.
***
Esok hari, Ferdi hendak berangkat ke kantor. Arvel, Anzel, dan Axel pun juga mau berangkat ke sekolah. Seusai sarapan Clara berbicara pada anak-anaknya.
"Hari ini supir izin sama mama, dia nggak masuk. Kalian bareng om Ferdi aja ya." ucap wanita itu.
"Oke." jawab Axel antusias. Kebetulan Ferdi ada di dekat sana, dan sedang memakai sepatu.
"Axel kamu lupa kalau kita janjian hari ini." ucap Anzel pada pada adiknya itu sambil memberi kode.
"Janjian?" Axel melongo menatap keduanya, sementara Anzel masih berusaha memberi kode.
"Janjian apaan bang?" tanya nya lagi.
"Oh, iya ma. Adek udah janji sama abang." ucap Axel kemudian. Ia baru mudeng jika kedua kakaknya tak ingin ikut dengan Ferdi.
"Janjian apa?" tanya Clara curiga.
"Kita mau jalan kaki, ma." ucap Anzel.
"Kenapa nggak naik mobil aja, emang om Ferdi bakal menerkam kalian?"
Ferdi tertawa kecil sambil merapikan jasnya. Ketiga remaja itu agak menunduk, dalam suasana yang cukup canggung.
"Aaa, Anzel janjian sama Tiara ma. Abang sama Cindy. Makanya kita mau jalan bareng ke sekolah, kan rumah mereka nggak jauh dari sini." Anzel beralasan.
Clara pun tersenyum, sebab mengira jika itu benar.
"Ya udah kalau gitu." ujarnya kemudian.
Ketiga anak itu pun pamit, mereka mencium tangan Clara. Namun setelah itu mereka sadar jika kini telah ada Ferdi yang turut mendiami rumah mereka.
Sempat terjebak dalam suasana otak yang semrawut, akibat berpikir apa yang harus mereka lakukan terhadap ayah tiri mereka itu. Akhirnya mereka pun ikut mencium tangan Ferdi, lantaran takut dan tak enak pada Clara.
Jika mereka tidak melakukan hal tersebut, nanti akan jadi masalah baru lagi. Clara pasti akan menegur mereka entah sore nanti atau malam hari saat makan malam.
__ADS_1
Clara jelas akan menyuruh anak-anaknya untuk menghormati Ferdi, meski Ferdi pun sejatinya tak terlalu menuntut demikian.
"Ya udah, hati-hati di jalan." ucap Clara ketika anak-anaknya itu mulai beranjak.
"Iya." jawab mereka secara serentak.
"Eh, adek."
Tiba-tiba Clara memanggil Axel dan menghentikan langkah mereka semua. Sebab Arvel dan Anzel pun tak mungkin meninggalkan adik mereka tersebut di belakang.
"Iya ma?" tanya Axel seraya membalikkan badan.
"Abang kan sama ceweknya semua tuh, terus kamu sama siapa?"
"Deng, deng."
Seperti ada backsound sinetron di belakang mereka semua.
"Ya, sama mereka." ucap Axel lalu nyengir.
"Mending kamu sama om Ferdi daripada di kacangin di sepanjang jalan."
"Mmm..."
Axel sejatinya sangat ingin sekali bersama Ferdi. Tapi tak mungkin, mengingat sore atau malam nanti ia pasti akan di musuhi oleh kedua kakaknya.
"Ayo, kalau mau sama om. Om udah mau berangkat." ujar Ferdi.
"Aaa, makasih om. Axel sama mereka aja."
Axel berkata sambil sedikit nyengir, lalu ekspresinya split menjadi biasa lagi. Clara baru saja hendak bicara, namun Axel sudah keburu buka mulut.
"Daripada mereka cabut sekolah dan pacaran, ma. Mending adek ikutin." ujarnya pada sang ibu.
"Oh iya." gumam Clara.
"Ya udah hati-hati." ujar CLara sekali lagi.
"Dah."
Axel melambaikan tangan lalu kembali berjalan bersama kedua kakaknya itu. Ketika mereka bertiga telah jauh, Clara pun baru berpikir. Sekolah Arvel dan Anzel lebih jauh ketimbang sekolah Axel. Bisa saja kan mereka menyimpang, karena Axel sudah tak mengawasi.
"Ah, sudahlah." pikir Clara.
Ia hanya ingin berusaha percaya saja terhadap ketiga anaknya itu. Tak lama Ferdi pun turut berpamitan dan berangkat ke kantor. Sementara Clara sendiri baru akan masuk pada keesokan hari. Sebab jadwal cuti menikahnya dari kantor, masih sampai esok hari.
__ADS_1