
"Papa mau ketemu."
Nando mengirim pesan singkat pada Arvel dan juga Anzel. Sebab ia ada maksud untuk mempengaruhi kedua anaknya itu. Perihal pernikahan Clara dan Ferdi yang akan segera di laksanakan.
Nando tak ingin Clara move on ataupun bahagia. Ia tak ingin sang mantan terlihat lebih dalam hal apapun dibanding dirinya.
"Nggak bisa, pa. Ar hari ini sampai sore sekolahnya. Dan lagian udah janji sama temen-temen untuk makan bareng sebelum pulang."
Arvel menolak permintaan sang ayah. Ia jujur perihal jika dirinya yang memang sekolah full time di hari itu. Juga tentang janjinya kepada teman-teman sekelas untuk makan bersama.
Namun dibalik dua alasan itu, tentu saja ia menyimpan alasan yang lain. Yakni malas bertemu sang ayah. Sebab selama ini hubungan diantara mereka pun tak terlalu baik atau dekat.
Sama halnya dengan sang kakak, Anzel juga hari ini menjalani sekolah dari pagi sampai sore. Plus ia sama malasnya menemui sang ayah, yang ia anggap telah mengecewakan dirinya dengan berselingkuh dan menikah lagi.
"An nggak bisa, pa. Full time sekolah dan pulang nanti mau ikut abang Ar sama teman-temannya."
Begitulah bunyi pesan yang ia kirim untuk Nando. Maka pria itu kini terdiam dengan perasaan yang sangat keki. Entah mengapa begitu sulit mengajak anak-anaknya untuk sekedar bertemu.
Akhirnya Nando memutuskan untuk pergi ke sekolah Axel. Ia sengaja tak mengirim pesan pada anak itu, sebab di sekolahnya dilarang membawa handphone.
Setelah berjalan selama beberapa saat, Nando tiba di muka sekolah sang anak bungsu tersebut. Kebetulan saat itu mereka baru saja bubaran.
Para siswa dan siswi pulang dengan di jemput oleh orang tua maupun supir masing-masing. Meski ada pula beberapa yang berjalan kaki, untuk mereka yang jarak rumahnya cukup dekat.
"Dek."
Nando mencegat Axel yang tengah hendak menuju ke minimarket di dekat sekolahnya. Sebab sang supir yang menjemput masih terjebak macet di sebuah jalan.
"Eh, papa." ujar Axel dengan nada kaget, namun tak cukup excited dan terkesan seperti bertemu dengan orang lain.
"Ngapain disini, pa?" tanya Axel penasaran.
"Papa mau ketemu kamu." ucap Nando.
"Ini udah ketemu."
Axel menjawab dengan polosnya, namun entah mengapa itu seperti menusuk hati Nando. Seakan sang anak tidak menghargai pertemuan tersebut.
"Ikut papa, yuk!" ajak Nando kemudian.
Ia masih berusaha untuk bersikap seolah dirinya adalah ayah yang baik. Semata agar anak itu mau ikut dan akan ia tanamkan sebuah pengaruh nantinya. Ia ingin satu persatu anaknya menjadi penghalang pernikahan Clara.
"Nggak mau ah, kata mama adek nggak boleh ikut orang lain sembarangan."
__ADS_1
Nando rasa ingin meledak hatinya demi mendengar semua itu. Ia sangat kesal namun teringat pada tujuan.
"Ya, tapi kan papa bukan orang lain. Papa ini papa kamu dan kamu bukan anak SD lagi, mustahil bakalan jadi korban penculikan."
"Papa mah nggak pernah nonton berita." ucap Axel lagi.
"Banyak tau pa, anak SMP yang jadi korban penculikan. Terus ginjalnya dijual." lanjutnya lagi.
"Ya tapi kan, ini papa. Papa ngapain nyulik terus mau menjual ginjal kamu. Kamu itu anak papa."
"Emang adek anak papa?"
Pertanyaan tersebut sukses membuat Nando terdiam.
"Kalau iya, kenapa selama ini papa nggak pernah nganterin adek sekolah. Dari TK loh nggak pernah. Papa juga nggak pernah nemenin adek belajar, atau sekedar nonton TV, main game bareng. Teman-teman adek banyak yang suka main futsal sama bapaknya, papa nggak pernah kayak gitu."
Nando makin tertampar jiwanya, sebab selama ini ia memang sangat tidak perhatian pada ketiga anaknya. Ia masih menganut paham patriarki, yang beranggapan jika mengurus anak itu adalah tugas seorang wanita dan bukan urusan laki-laki.
Padahal yang namanya anak, adalah tanggung jawab kedua orang tua. Dan bentuk tanggung jawab bukan sekedar soal memberi makan, pakaian, dan tempat tinggal serta pendidikan. Tapi juga waktu, kasih sayang dan perhatian. Sebab tumbuh kembang anak membutuhkan dukungan yang kompleks.
"Adek kan tau papa sibuk. Jadi papa nggak bisa punya waktu banyak buat kamu, dan abang-abang kamu."
"Ya kalau nggak punya waktu banyak, minimal sedikit lah. Tapi papa nggak pernah ada sama sekali, walau itu cuma lima sampai sepuluh menit. Kadang di meja makan aja pagi-pagi, papa makan sambil nelpon. Nggak ada interaksinya sama sekali dengan kami. Kami itu ngerasa nggak punya papa selama ini."
"Dah ya, adek mau pulang. Mau main mobile legends di rumah." ujar remaja itu kemudian.
Maka Axel pun berlalu meninggalkan tempat tersebut dan menuju ke mobil. Sedang kini Nando terpaku dalam diam yang begitu dalam.
***
Clara melihat-lihat model baju pengantin di sebuah katalog online, milik salah seorang desainer terkenal dunia.
Mungkin ia tak akan memesan pada desainer tersebut, dikarenakan sudah pasti harganya terbilang fantastis. Clara ingin hari pernikahannya nanti berkesan, namun tak terlalu menghabiskan budget yang banyak.
Ia bisa mencontek model gaun yang ia lihat dan memesannya pada desainer lokal. Selain lebih murah, memberdayakan desainer lokal akan membantu perekonomian di negara sendiri. Lebih banyak nilai plus yang bisa di dapat.
"Cla, liat ini deh!"
Valerie mengirimkan sebuah model gaun pengantin, yang menurutnya sangat cocok untuk Clara.
"Wah bagus beb."
Clara membalas pesan sahabatnya itu di WhatsApp.
__ADS_1
"Save aja buat referensi." ujar Valerie.
"Oke sip." balas Clara lagi.
Tak lama ia pun melanjutkan pencarian.
"Clara."
Salah seorang petinggi di kantornya, tiba-tiba masuk dan menghampiri Clara.
"Iya om." ucap Clara kemudian.
"Duduk." tukasnya lagi.
"Tadi om dengar dari karyawan katanya Nando datang dan membuat keributan." ujar pria itu.
"Iya om, dia nggak terima saya mau menikah lagi." jawab Clara.
Pria yang ada di hadapannya itu mengerutkan kening lalu tertawa kecil. Sehingga Clara pun kini ikut-ikutan tertawa.
"Kocak kan, om?" tanya nya kemudian.
"Udah jadi mantan, tapi tuh ngatur-ngatur." lanjutnya lagi.
"Hhhhh."
Pria itu menarik nafas panjang.
"Jangan sampai dia menggagalkan pernikahan kamu. Sebab Nando itu licik dan bisa saja menghalalkan segala cara." ucapnya lagi.
"Iya sih, om. Saya juga kepikiran sampai sana, dan saya benar-benar harus hati-hati selama beberapa waktu ke depan."
"Tapi pernikahan kamu nggak lama lagi kan?" tanya pria itu.
"Nggak, dalam waktu dekat ini saya sudah akan menikah. Nanti om tunggu aja undangannya." ucap Clara.
"Baik kalau gitu, yang penting tadi kamu nggak apa-apa. Kalau kamu butuh bodyguard hubungi om. Om punya kenalan jasa bodyguard yang oke punya."
"Baik om, nanti saya hubungi kalau memang sudah diperlukan."
"Baik kalau begitu."
Si pria petinggi perusahaan itu kemudian berpamitan dan beranjak meninggalkan ruangan Clara.
__ADS_1