
Ferdi melangkah ke arah mobil kantor, yang sampai saat ini masih ia pakai. Kemudian pria itu menekan lock dan membuka pintunya.
"Fer."
"Ya." Ferdi menoleh pada Clara.
"Kenapa, sayang?" tanya nya kemudian.
"Kalau mau lagi, ntar malem." Ferdi berujar dengan suara pelan, sebab takut di dengar sekuriti. Maka Clara pun tersenyum bahkan tertawa kecil.
"Kamu tuh, ganjen." ujar Clara seraya mencubit lengan Ferdi.
Ferdi yang tertawa kali ini.
"Kamu nggak mau balikin aja ini mobil ke kantor?. Kita kan ada beberapa yang bisa kamu pake."
Ferdi baru mengerti jika sejak tadi Clara ingin mengatakan hal tersebut.
"Bukan aku nggak mau, aku tau kamu baik."
Ferdi mendekat lalu sedikit membelai rambut Clara di bagian depan.
"Tapi mobil ini memang pihak kantor yang ngasih ke aku. Dan lagipula anak-anak kan sudah besar, Cla. Tiba-tiba aku tinggal disini aja, mungkin mereka punya persepsi sendiri tentang aku. Meskipun kamu bilang kamu udah menjelaskan ke mereka, kalau aku tinggal disini ngikutin kehendak kamu. Karena anak-anak nggak bisa tinggal di tempat lain." lanjutnya lagi.
Ferdi masih menatap Clara.
"Apalagi kalau tiba-tiba aku langsung pake mobil kamu. Bakalan keliatan kalau aku aji mumpung dalam pernikahan ini."
"Aku akan bilang ke mereka."
"Pikiran setiap orang itu berbeda, Clara. Nggak bisa kamu jadikan sama hanya karena kamu adalah ibu yang lebih punya power ketimbang mereka. Pikiran dan prasangka itu milik masih-masing dari kita, ada dalam kepala kita."
Clara diam, secara usia mungkin dia jauh lebih tua dari Ferdi. Ia juga berpendidikan tinggi, dan seorang pemimpin perusahaan. Namun sejak usia 17 tahun ia langsung menikah, dan lebih banyak menghabiskan waktunya bersama Nando.
__ADS_1
Tak banyak pengalaman dan pembelajaran hidup yang Clara dapatkan dari sekitar. Sebab circle-nya hanya sebatas Nando, keluarga Nando, kantor, serta keluarganya sendiri.
Sedang Ferdi sedari kecil tak pernah begitu membatasi diri seperti sang kakak, Frans. Yang hanya bergaul eksklusif di sekitaran orang kaya saja.
Meski Jeffri selalu menerapkan hal tersebut kepada kedua anaknya. Namun Ferdi tak pernah ragu untuk mengeksplore apapun di sekitar.
Ketika ia bertemu dan berteman dengan Jordan dan Sean di sekolah. Mereka seringkali pergi nongkrong ke tempat tongkrongan receh, bertemu siswa sekolah lain dan menjalin pertemanan.
Saat SMA mereka juga ikut tawuran, pergi ke rumah teman yang ternyata sangat sederhana. Makan dan mandi disana, bahkan menginap. Sampai ia pun bisa mempelajari banyak hal dari orang-orang yang ia temui.
Jeffri tak pernah tau akan hal tersebut. Ferdi tumbuh menjadi pribadi yang dewasa dan bijaksana, berkat tak pernah memblok dirinya dari orang lain.
Untuk berteman akrab, memang hanya sebatas Jordan dan Sean saja. Tapi dilain itu pergaulannya sangat luas.
"Ya udah, senyaman kamu aja Fer. Aku cuma menawari, jangan tersinggung." ujar Clara.
"Nggak, aku nggak tersinggung."
"Aku cuma menjelaskan apa yang ada di pikiran aku saat ini. Kecuali kalau aku sama anak-anak udah cukup dekat, udah punya bonding yang bagus. Nggak apa-apa." ujarnya lagi.
Kali ini Clara kembali tersenyum.
"Ya udah kalau gitu, aku berangkat dulu ya." ujar Ferdi kemudian.
"Hati-hati di jalan." ucap Clara.
Ferdi mengangguk, lalu mencium bibir istrinya itu sekali lagi dan masuk ke dalam mobil. Sesaat kemudian mobil yang ia kemudikan tersebut mulai merayap.
Ferdi keluar dari pagar rumah tanpa curiga. Padahal di belakangnya terdapat mobil seseorang yang seperti tengah mengintai. Ya, Nando. Ia menatap mobil Ferdi yang mulai menjauh, kemudian mengikutinya.
***
Untuk mempersingkat waktu dan mudah-mudahan bisa menghindari kemacetan. Maka Ferdi memutuskan untuk mengakses jalan tol.
__ADS_1
Ketika masuk ke jalan tersebut ia belum begitu sadar, jika ia tengah diikuti seseorang. Sampai kemudian ia pun notice pada hal tersebut.
Ferdi seperti mengenali mobil tersebut. Entah mengapa pikirannya hanya tertuju kepada Nando. Ia pun sejak awal bertemu Clara saat tengah bertengkar dengan mantan suaminya tersebut, sudah paham dan hafal pada mobil Nando.
Namun ia masih berpikir jika itu adalah orang lain. Sebab tak hanya Nando saja yang memiliki kendaraan serupa.
Ferdi menaikkan kecepatan, dan melihat di kaca spion. Mobil yang ia curigai tersebut juga menaikkan kecepatan, meski masih menjaga jarak.
Ferdi mendadak menarik mobilnya ke jalur lambat, tiba-tiba mobil itu pun ikut berpindah. Padahal mobil sport seperti itu dirancang untuk berjalan di jalur cepat. Ferdi jadi tau jika ia benar-benar tengah diikuti.
Ia kembali ke jalur tengah, menaikkan kecepatan dan mobil Nando pun demikian. Ferdi menarik sudut bibirnya dan tersenyum. Ia yakin sebentar lagi ini akan menjadi hal yang seru.
Dalam beberapa saat Ferdi mencapai area yang sepi, dan masih terus berada di jalur tengah. Begitupula dengan mobil tersebut, ia masih setia mengikuti Ferdi.
Tiba-tiba Ferdi pindah ke jalur cepat dan menaikkan lagi kecepatan. Tentu saja mobilnya dengan mudah disusul. Sebab mobil yang ia kendarai bukan tandingan mobil si terduga Nando.
Namun sejatinya bukanlah kemenangan yang ia kehendaki. Melainkan hanya ingin sedikit bermain, meski itu sangat berbahaya dan tak patut di contoh oleh siapapun.
Ferdi kian menaikkan kecepatan, Nando terus menyusul. Mungkin dengan tenaga yang tak ada seperempat dari mobil Ferdi. Hingga jarak antara mobil mereka kini sedikit mepet.
Ketika Nando tengah melaju kencang dan jalanan cukup sepi. Ferdi mendadak kembali ke jalur tengah dan langsung kembali juga ke jalur lambat. Ia lalu berbelok ke sebuah jalan, sedang Nando terlanjur melaju. Ia tak berekspektasi jika Ferdi akan melalui jalur tersebut.
Ferdi tertawa, Nando mengumpat di dalam mobilnya. Dan setelah beberapa saat kemudian Ferdi pun tiba di kantor. Namun tanpa ia ketahui jika Nando juga telah tiba di dekat sana. Di sebuah tempat yang cukup tersembunyi. Ia tak tertangkap oleh mata Ferdi.
Nando menatap ke gedung tempat dimana Ferdi kini masuk. Mantan suami Clara itu pun mengerutkan kening, namun teringat perkataan temannya semalam. Yang mengatakan bahwa Ferdi memang tak bekerja dengan Jeffri. Ia bekerja di tempat lain dengan bidang yang berbeda.
Detik demi detik berlalu. Orang-orang yang lewat mau pun yang bekerja di sekitaran tempat itu mulai memperhatikan mobil Nando. Pasalnya aspal di jalan yang menuju ke area tersebut tak mulus serta banyak polisi tidur.
"Nekat amat tuh orang bawa mobil begitu kesini?"
Pengendara yang melintas mulai ada yang bergunjing. Beberapa diantaranya berbicara di sudut lain. Hanya demi menguntit Ferdi, Nando rela mengorbankan mobilnya sendiri. Demi perasaan cemburu yang ia miliki untuk Clara.
Tak lama ia mulai kembali menghidupkan mesin mobil. Lalu bergerak meninggalkan tempat tersebut. Sementara Ferdi santai saja, dan memulai harinya dengan penuh semangat.
__ADS_1