
"Fer, papamu butuh uang lebih banyak dari sebelumnya. Karena masih banyak yang perlu di bereskan. Kalau bisa kamu usahakan dalam bulan ini."
Adrian berbicara pada Ferdi, dan hal tersebut tanpa sengaja di dengar oleh Igor sahabat Frans. Igor kemudian menyampaikan hal tersebut pada Frans dan Frans seketika naik pitam.
"Ferdi nya mana?" tanya nya kemudian.
"Ferdi nya udah pergi, bro. Mungkin masih di parkiran bawah." ucap Igor.
Maka Frans buru-buru keluar dari ruangan dan langsung turun kebawah. Ia lalu mencari keberadaan adiknya tersebut.
Frans mencari kesana-kemari. Beruntung ia menemukan Ferdi yang baru saja hendak masuk ke dalam mobil, di sudut halaman parkir.
"Ferdi."
Ia berlarian ke arah adiknya tersebut.
"Frans." Ferdi kaget dengan kehadiran sang kakak.
"Tadi om Adrian ngomong apa sama lo?" tanya Frans.
"Ya ngomongin apa lagi coba?. Selain uang." jawab Ferdi.
"Terus lo diam aja?" tanya Frans lagi.
"Menurut lo gue harus gimana?" Ferdi menatap kakaknya itu.
"Gue sebenernya pengen marah, tapi percuma. Ini semua menyangkut tentang papa. Kalau nggak ada hubungannya sama papa, gue nggak akan peduli." lanjutnya lagi.
Frans menarik nafas panjang.
"Oke, lo jalan pulang hati-hati." ujar pria itu kemudian.
Ferdi mengangguk, lalu ia masuk ke dalam mobil dan tak lama mobil itu pun berlalu. Frans yang sudah kadung kesal kini mencari keberadaan Adrian. Ia tak menemukan pria itu di ruangannya. Tapi kemudian mereka bertemu di sebuah spot yang cukup sepi di kantor.
"Om, kita harus bicara." ujarnya.
"Ada apa?" tanya Adrian pada Frans.
"Saya minta om dan papa stop memeras Ferdi. Ferdi itu bukan sapi perah kalian. Perusahaan ini hampir berantakan bukan gara-gara Ferdi. Ferdi itu nggak salah apa-apa dan dia nggak tau apa-apa."
"Sekarang om tanya sama kamu. Siapa yang bisa membantu kita kecuali Ferdi?. Kamu?. Bisa kamu bantu menyediakan uang yang banyak untuk perusahan ini?"
Frans diam, semua itu benar tapi juga bukan sesuatu yang tidak salah. Semua itu tetap salah mengingat Ferdi tak punya hubungan apa-apa dengan perusahaan. Hanya sekedar memiliki pertalian darah dengan Jeffri sang pemilik.
Dan itu semua harusnya tak lantas menjadikan Ferdi bertanggung jawab atas semua yang terjadi. Jeffri sendirilah yang harusnya mengatasi masalah tersebut.
"Kalian tetap tidak pantas memperlakukan Ferdi seperti itu. Apalagi uang yang dia gunakan adalah uang istrinya. Ferdi itu pribadi yang merdeka, tidak ada tanggung jawab yang mengikat dia dengan perusahaan ini."
"Jadi apa yang mau kamu lakukan?" Adrian menatap dalam ke mata Frans.
__ADS_1
"Menghimbau Jeffri untuk menghentikan semua ini?" lanjutnya lagi.
"Iya, bila perlu." jawab Frans.
"Ferdi harus mendapatkan hidupnya sendiri dan tidak ada satupun yang boleh mencampuri kehidupan pribadinya. Termasuk perihal uang yang dia atau istrinya miliki."
Frans berbalik arah dan hendak berlalu.
"Kondisi kesehatan Jeffri menurun, dan dia merahasiakan itu dari kalian."
Frans terdiam kali ini.
"Om bukan mau menghentikan niat kamu untuk berbicara dengan Jeffri dan menyelamatkan Ferdi. Tapi pikirkan kondisi kesehatan dia sekarang. Uang yang diberikan Ferdi sebelumnya tidak lantas menyelesaikan semua masalah. Kami juga masih berjuang di banyak sisi. Kami nggak mengandalkan Ferdi sepenuhnya."
Frans makin diam.
"Kalau kamu pikir om bohong, kamu boleh cek laporan kesehatan papa kamu. Biar kamu tau dan yakin bahwa dia saat ini tidak sedang baik-baik saja."
Adrian berlalu meninggalkan Frans, yang kini masih terpaku di tempatnya berdiri.
***
Clara masih istirahat di rumah saat ini. Ferdi belum mengizinkan wanita itu untuk bekerja, dan Clara pun menuruti. Sebab saat ini dirinya masih mengalami mual yang parah.
Kehamilannya kali ini tak seperti kehamilan-kehamilan sebelumnya. Dimana ia merasa lebih lemah dan lebih sering pusing serta mual.
"Mama."
"Tadi di depan kalian ada liat tukang rujak nggak?" tanya Clara.
"Mama pengen rujak?" Arvel balik bertanya.
"Iya, pengen banget." jawab Clara.
"Tumben." Axel nyeletuk.
"Biasanya nggak mau jajan. Kan rujak yang dagang abang-abang kaki lima loh Ma." lanjutnya lagi."
"Ya gimana, mama pengen." ucap Clara.
Axel pun tertawa.
"Dedeknya persis om Ferdi." ujarnya kemudian.
"Kenapa emangnya?" tanya Clara.
"Suka jajan." lanjutnya lagi.
"Orang hamil itu bukannya rata-rata emang suka rujak ya." celetuk Anzel.
__ADS_1
"Bukan karena sifat siapa yang menurun." tambahnya.
"Sifat juga ngaruh kali, bang. Namanya genetik."
"Nggak sampe ke doyan rujak juga, Jumali."
Axel lalu nyengir.
"Tadi nggak ada tukang jualan apa-apa, ma." Arvel kembali berujar dan membahas topik semula. Setelah kedua adiknya melebar kemana-mana.
"Yah nggak ada ya." Clara seperti kecewa.
"Online aja kalau nggak." Anzel menimpali.
"Ya udah deh, mama pesan dulu."
Wanita itu meraih handphone dan memesan rujak melalui laman aplikasi ojek online. Arvel, Anzel, dan Axel masuk lalu naik ke atas. Selang beberapa saat berlalu mereka turun untuk makan. Namun mereka melihat Clara duduk di meja makan sambil diam menatap rujak yang telah ia beli.
"Kenapa nggak di makan, ma?. Mual?" tanya Arvel pada ibunya itu.
"Mama kesel." ujar Clara dengan nada seperti remaja yang tengah putus asa.
"Ini mangga-nya mateng. Mama tuh kepengen yang masih krispi gitu loh, bang. Yang masih kres, kres kalau di makan."
Arvel dan Anzel saling bersitatap. Saat ini Clara tak seperti Clara yang biasanya. Namun mereka cukup mengerti jika seorang wanita hamil akan mengalami perubahan mood, akibat hormon kehamilan yang tengah meningkat.
"Ya udah, abang makan dulu bentar. Abis itu ntar abang cari kang rujak yang mangga-nya masih muda." ujar Arvel.
"Ntar Anzel temenin, ma." Anzel menimpali.
"Ikut." ujar Axel.
"Lo tinggal aja." tukas Anzel.
"Mau ikut." Axel bersikeras.
"Ntar yang jaga mama, siapa?" tanya Arvel.
"Pokoknya mau ikut."
Arvel dan Anzel saling bersitatap sambil menarik nafas panjang.
"Ya udah, gue yang jaga mama." ujar Anzel.
"Maf ya, mama jadi nyusahin kalian. Abisnya mama pengen banget. Rasanya udah di ujung lidah, bang." ucap Clara.
"Iya, tapi abang makan dulu ya." tukas Arvel.
Clara pun mengangguk. Arvel, Anzel dan Axel akhirnya makan. Selesai makan Arvel mengajak Axel untuk keluar rumah, guna mencari keberadaan tukang rujak yang buah mangga-nya masih muda atau mengkal. Sementara Anzel tetap berada di rumah, untuk menjaga Clara.
__ADS_1
Mereka mencari mulai dari sekitaran kompleks perumahan. Karena tidak berhasil menemukan, mereka akhirnya keluar.