
Clara pulang terlebih dahulu, tanpa adanya peluk cium atau perpisahan manis seperti beberapa hari ke belakang.
Ferdi juga tak menyusul atau mencegah langkah wanita itu. Sebab seberapapun ia menyesali apa yang tadi ia ucapkan pada Clara, tetap saja ujungnya ia akan menikah dengan orang lain.
Clara menitikkan air mata untuk pertama kalinya dalam hidup. Sebab tak pernah sekalipun ia jatuh cinta, apalagi untuk menangis karenanya.
Tapi kini ia mengalami hal tersebut. Dimana ketika jatuh cinta dan sakit hati datang di waktu yang bersamaan. Ternyata kecantikan dan kesuksesan yang dimiliki saja tak cukup untuk meraih cinta. Banyak orang yang masih memikirkan perihal status.
Setidaknya itulah yang ia kira terjadi pada hidupnya saat ini. Bahwasannya Ferdi meninggalkannya akibat status janda yang ia miliki.
***
"Tap, tap, tap."
Ferdi melangkah kembali ke kantor. Sejatinya tadi ia sudah pamit pulang, sementara yang lainnya lanjut lembur. Namun kini ia kembali dengan wajah lesu. Membuat seisi kantor bingung dan jadi bertanya-tanya.
"Lo kenapa, bro?" tanya Jordan pada Ferdi.
Ferdi menatap sahabatnya itu dengan nanar. Jordan sudah tau pasti ada yang tidak beres.
"Gue mau ke Dojo." ucap Ferdi lalu meraih gelas dan mengambil air mineral di galon dekat ruangan Nath. Ia lalu meminum air tersebut dan meletakkan gelasnya di dekat sana pula.
"Gue ikut." ucap Sean.
Ferdi menoleh dan memberi tatapan yang Sean pun sudah mengerti. Ia dan Jordan memang sangat dekat dengan Ferdi. Bahkan dari bahasa tubuh saja mereka sudah sama mengerti.
Ferdi menatap ke ruangan Nath.
"Udah, pergi aja kalau mau pergi." ucap Nath yang ternyata tengah berada di arah lain. Ia juga tau jika Ferdi tengah mengalami sesuatu.
Ferdi melangkah ke arah pintu, Jordan serta Sean bergegas membereskan handphone dan lain-lain. Kemudian mereka pun menyusul Ferdi.
"Jalan pak Nath." ucap Jordan masih sempat-sempatnya.
"Iya, hati-hati." ucap Nath.
Jordan dan Sean berlarian ke arah lift. Dimana Ferdi sendiri sudah tak terlihat.
***
Di sebuah kamar mandi yang besar dan mewah. Air dari keran bathub terus mengalir, tumpah ruah membasahi sekitar. Namun Clara yang berada di dalamnya hanya diam membisu. Sejak tadi ia berada di sana sambil menjatuhkan pandangan ke suatu sudut.
Tatap wanita itu membeku, sama seperti hatinya yang seolah tak bisa lagi mencair. Ia masih menyesali hubungan yang ia jalin bersama Ferdi. Harusnya ia bisa menahan diri, untuk tidak terbawa suasana.
Kini bayangan saat Ferdi meninggalkannya, dan juga bayangan Nando saat bersenang-senang di atas apa yang seharusnya ia miliki. Menjadi satu padu, semuanya tumplek di benak Clara. Membentuk sebuah simpul kusut yang carut marut.
***
Sementara di lain pihak.
__ADS_1
"Buuuk."
"Buuuk."
"Buuuk."
Jordan menghajar Ferdi di arena latihan Karate. Tadi memang Ferdi yang mengajak mereka kesana. Di sudut ruangan tampak Sean tengah berlatih solo, pada sebuah kayu yang memiliki banyak cabang.
"Buuuk."
"Buuuk."
"Buuuk."
Jordan terus memukul Ferdi, karena Ferdi yang meminta untuk menganggapnya sebagai lawan. Tak lama kemudian Ferdi pun bangkit dan kembali mengadakan perlawanan seperti di awal. Di awal tadi sempat Ferdi yang menguasai keadaan.
Mereka terus berusaha saling mempertahankan diri, dan Ferdi amat sangat menumpahkan emosinya kali ini. Emosi terhadap apa yang telah terjadi dalam hidupnya.
"Aarrgghh."
"Aarrgghh."
"Buuuk."
"Buuuk."
Itulah suara-suara yang terdengar dari ruangan latihan tersebut. Jordan dan Sean selalu siap menjadi teman latihan, ketika Ferdi membutuhkan lawan untuk melampiaskan kemarahannya.
"Buuuk."
***
"Jadi lo akan segera dipertemukan dengan tuh janda?" Sean bertanya ketika mereka telah selesai latihan.
Mereka duduk di suatu sudut sambil meminum air mineral.
"Iya." jawab Ferdi seraya menutup botol air mineral dan meletakkannya di samping. Jordan dan Sean saling bersitatap satu sama lain.
"Gue mau kalian ada sama gue, di hari itu." ucap Ferdi.
Lagi-lagi Jordan dan Sean saling bersitatap.
"Kalau itu nggak usah lo minta, Fer." tukas Jordan.
"Gue sama Sean pasti datang. Nggak di undang pun kita berdua akan tetap datang." lanjutnya lagi. Sementara Sean mengangguk, menyetujui ucapan Jordan.
"Kita tau lo pasti berat menghadapi semua itu, bro. Kita akan selalu ada buat lo." Sean menimpali.
"Thanks." ucap Ferdi seraya menunduk dalam. Namun kemudian ia kembali mengangkat kepalanya, dan mengeluarkan sebungkus rokok dari dalam saku. Mereka bertiga lalu merokok bersama..
__ADS_1
Selang beberapa saat, Jordan dan Sean pamit ke toilet. Tinggallah Ferdi sendiri di sudut halaman Dojo atau tempat latihan tersebut.
"Disini kan nggak boleh ngerokok."
Sebuah suara remaja yang belum pecah terdengar di telinga Ferdi. Seketika ia pun menoleh ke arah sumber suara itu.
Ferdi mengerutkan kening dan agak sedikit terkejut, sebab sudah dua kali ia bertemu dengan sosok tersebut. Ia lalu mematikan rokok dan membuangnya ke tempat sampah.
"Aku udah coba solo lord pakai Estes dan berhasil." ujarnya kemudian.
Ferdi tertawa kecil, bahkan seperti beban yang ia alami berkurang begitu saja.
"Om juga latihan di Dojo ini?. Koq kita nggak pernah ketemu." cerocos anak itu lagi.
"Mungkin kamu baru." ucap Ferdi.
"Nggak, kata siapa. Aku udah dua tahun disini." ucapnya kemudian. Om kalo yang baru disini."
Ferdi tertawa, sebagai pemegang sabuk hitam ia benar-benar merasa terhibur dengan celoteh renyah yang keluar dari bibir anak itu. Entah mengapa mereka selalu bertemu, mendadak Ferdi jadi ingin tau anak siapa dia. Mengapa orang tuanya selalu membiarkan anak itu berada di mana-mana.
Jordan dan Sean kembali dari toilet, namun Ferdi sudah tidak ada di tempat. Mereka mencari-cari kesana kemari, hingga keluar dari pagar tempat latihan. Ternyata Ferdi disana, tengah makan sate pikul dan kerak telor bersama seorang anak.
"Anak siapa tuh yang dibawa sama Ferdi." celetuk Sean seraya mengamati.
"Ya anak Dojo sini juga. Seragam latihannya aja sama dengan kita." ceteluk Jordan sambil tertawa.
"Gue mau beli ah." ucap Sean lalu mendekat. Maka Jordan pun ikut menyusul.
***
Clara kembali mendapat desakan dari orang kepercayaan ayahnya. Bukan sebuah paksaan yang bagaimana. Melainkan seperti sebuah reminder, bahwa Nando saat ini sangat-sangat berbahaya.
Pada akhirnya setelah orang kepercayaan ayahnya itu menelpon. Clara beralih menelpon Glenca, sang calon menantu dari Adrian.
"Glen."
"Iya say, kenapa?"
"Gue mau di kenalkan dengan laki-laki yang mau lo kenalkan ke gue itu. Langsung nikah hari itu juga nggak apa-apa, kalau dia mau."
Glenca melongo dan terdiam. Sebab saat ini ia, Adrian dan Jeffri tengah duduk di satu meja. Guna memikirkan bagaimana caranya meminta Clara untuk menjadi istri Ferdi. Kini tanpa diminta, wanita itu mengajukan diri dengan suka rela.
"Ini serius, Cla?" tanya Glenca masih tak percaya, namun ia begitu gembira.
"Serius, gue butuh segera sosok suami."
Clara menjelaskan jika saat ini perusahannya di kuasai oleh Nando dan ia membutuhkan sosok suami yang bisa membantunya merebut kembali semua itu. Tentu saja ini menjadi berita yang sangat baik bagi Jeffri dan yang lainnya. Karena mereka tak perlu bersusah payah untuk memutar otak, jalan telah terbuka dengan sendirinya.
***
__ADS_1
Siap-siap nanti malam mereka berdua akan dipertemukan ya, jangan lupa like, vote dan share di sosial media kalian. Supaya cerita ini makin ramai, dan author makin betah nulis setiap hari. Thank You.