Terpaksa Menikahi Janda Kaya

Terpaksa Menikahi Janda Kaya
Berbeda


__ADS_3

Flashback.


Saat dimana Ferdi berhasil lolos dari pengintaian Nando. Pria itu tiba di kantor dan langsung masuk ke dalam.


"Surprise."


Seisi kantor mengagetkan Ferdi dengan memecahkan balon. Mereka menyemprotkan semprotan sarang laba-laba, diantara suara terompet yang ditiup oleh Jordan.


"Teeeeet."


"Selamat kembali bekerja pengantin baru." ujar mereka serentak.


Ferdi tertawa. Ia masih tak percaya jika seisi kantornya tanpa terkecuali, mau membuat hal seperti ini. Padahal ia mengira ini masih begitu pagi dan tak mungkin mereka semua sudah datang.


"Thank you gaes."


Ferdi mulai mengeluarkan sepatah, dua patah kata. Ia menatap semuanya dengan penuh haru.


"Thank you." ujarnya sekali lagi.


"Ini hadiah dari gue, Fer."


Nath menyerahkan sesuatu padanya. Ferdi membuka hadiah tersebut, dan itu diberikan secara simbolis. Ferdi tersenyum lalu memeluk Nath untuk sejenak.


"Thank you, bro." ujarnya kemudian.


Hadiahnya berupa tabungan sebesar dua ratus juta. Karyawan lain turut berbahagia untuk Ferdi tanpa rasa iri sedikitpun. Sebab dulu ada juga yang menikah dan Nath memberinya kendaraan berupa mobil.


"Buat yang lain, kalau mau hadiah. Nikah dulu syaratnya." ucap Nath.


"Gimana mau nikah pak Nath, pacar aja nggak punya." celetuk salah seorang karyawan.


"Eaaa, dia curhat." seloroh Sean.


Mereka semua pun lalu tertawa-tawa.


***


Lain halnya dengan Ferdi yang seakan di berkati pagi itu, Nando justru tiba di kantor dengan wajah kusut bak simpul tali yang carut-marut.


Ia melangkah masuk dengan wajah asam dan mengabaikan sapaan dari para karyawannya. Akibatnya suasana kantor pagi itu menjadi muram. Sebab aura negatif yang ia sebarkan, mengundang lebih banyak hal negatif lainnya.


Tak hanya sampai disitu, kesialan seakan terus berlanjut bahkan hingga siang hari. Lantaran Nando bekerja dengan penuh rasa gusar, akibatnya seluruh hal seakan saling mendukung satu sama lain.


Ada karyawan yang kerjanya asal-asalan. Masuknya berita tentang penjualan produk mereka yang kurang laku di pasaran. Masalah pengeluaran keuangan yang membengkak, office girl yang tak sengaja lewat dan menumpahkan kopi di jas miliknya tanpa sengaja.


Pokoknya hari Nando benar-benar bertolak belakang dengan hari Ferdi yang menyenangkan. Ia seperti menjadi orang yang terkutuk di hari itu.

__ADS_1


***


Masih di hari yang sama, dengan kejadian Ferdi di kantor.


Di sekolah, Arvel mendapat ledekan dari teman-temannya. Bahwa ia kini memiliki seorang ayah baru. Namun ledekan tersebut hanya bersifat candaan dan bukan sebuah bullyan.


Arvel hanya berusaha tersenyum. Sebab tak satupun dari teman-temannya mengetahui. Jika ia belum begitu menyukai Ferdi. Bahkan ia tak pernah bermimpi untuk memiliki ayah tiri. Setelah ayahnya Nando, membuat ia memiliki ibu tiri terlebih dahulu.


"Eh, bro. Tadi lo dianterin ayah tiri lo dong?" tanya Michael teman sebangkunya.


"Aaa, i, iya." Arvel berdusta.


Sebab ia ingin menyembunyikan hubungannya yang tak akrab dengan Ferdi. Padahal mau mengatakan jika tidak diantar pun, mungkin teman-temannya tak masalah. Namun karena masih remaja, pikirannya masih terbatas.


"Bokap tiri lo asik nggak sih, orangnya?" tanya Kevin yang duduk di depan.


"Kalau asik, enak banget hidup lo pasti. Bisa kemana-mana bareng, main game bareng kalau dia suka game." Jodi yang disebelahnya menimpali.


Arvel masih berusaha untuk tersenyum bahkan membuat tawa kecil yang seolah mengatakan, jika semua itu adalah benar adanya.


"Tapi bokapnya Arvel ganteng banget loh."


Eva yang duduk di belakang nyeletuk. Hingga Arvel dan Michael pun menoleh.


"Iya, malahan lebih mirip Arvel sama adek-adeknya ke bapak yang ini. Ketimbang bapak yang dulu."


"Iya, kayak beneran bapaknya Arvel." Eva melanjutkan.


"Ah, masa sih segitunya?" tanya Arvel.


"Eh, iya loh."


Saphira mempertahankan pendapatnya, Sementara Arvel kembali tertawa. Namun tak lama Cindy melintas di depan kelas tersebut bersama Egi. Siswa yang dikabarkan tengah dekat dengan gadis itu.


Arvel terdiam, begitupula dengan teman-temannya. Sebab teman-teman Arvel tau jika Arvel menyukai Cindy sejak lama.


***


Tak jauh berbeda dengan sang kakak, Anzel pun saat ini tengah memperhatikan Tiara. Gadis yang ia sukai tersebut tengah bercengkrama dan tertawa-tawa dengan siswa yang disukainya.


Tiara seangkatan dengan Arvel. Dan Anzel sudah menyukai gadis itu dari jaman ia pertama mengikuti masa orientasi siswa baru.


Tetapi karena Tiara adalah kakak kelasnya yang populer, Anzel hanya bisa mendekati untuk berteman saja. Sebab ia memiliki banyak saingan, termasuklah siswa yang saat ini tengah bersama dengan gadis itu.


"Udah, bro. Sikat!"


Dhio salah satu teman Anzel menjadi kompor.

__ADS_1


"Yoi, bro. Sampai kapan lo mau menjadi pemuja rahasia kayak kini." Al makin membuat suasana menjadi panas.


"Kalau gue jadi lo, gue deketin aja. Bodo amat, mau kakak kelas pada mengintimidasi gue kayak gimanapun." lanjut Dhio lagi.


Anzel sejatinya sudah memikirkan itu sejak beberapa hari belakangan ini. Di tambah ketika melihat Tiara datang dengan begitu cantiknya, di acara pernikahan Clara dan juga Ferdi.


Anzel jadi makin tak bisa membendung perasaan. Ia ingin menyatakan cintanya pada Tiara sesegera mungkin.


***


Berbeda dengan dua kakaknya. Di hari itu Axel sekolah cukup bersemangat. Meski tadi di jalan ia menggerutu, akibat diajak hiking dari rumah ke sekolah.


Tetapi begitu tiba di sekolah, ia langsung berubah menjadi seperti memiliki energi. Apalagi setelah ia bertemu dengan teman-temannya.


"Widih yang punya bapak baru, udah sampe aja nih." Rafa berkata pada Axel.


"Semangat banget lagi." Saka menimpali.


"Oh harus dong." ujar Axel.


"Masa udah punya papa baru, masih nggak semangat juga." lanjutnya kemudian.


"Gimana, udah Mabar sama bokap lo?. Kata lo dia juga suka main game online." celetuk Rafa.


Axel yang baru saja mengambil minuman dingin dari dalam kulkas kantin tersebut, kini duduk di hadapan kedua temannya sambil menyedot minuman.


"Ya belum lah, kan dia aja masih riweh ngurusin segala urusan pasca pernikahan. Belum lagi ngurusin nyokap gue dan kerjaannya dia." jawab Axel.


"Oh, oke-oke." Rafa dan Saka sama mengangguk-anggukan kepala mereka.


"Eh, ntar malem main bareng yuk!" ajak Saka.


"Iya, jangan sama kakak-kakak lo mulu." Rafa menimpali.


"Sekali-kali sama kita, sama anak-anak yang lain." lanjutnya kemudian.


"Ya udah, ntar malem ya." ujar Axel.


"Jangan bohong lo tapi." ujar Saka lagi.


"Iya, kapan sih gue pernah nggak menepati janji?" tanya Axel.


"Ya udah, ntar malem janjian aja." ucap Rafa.


"Oke." jawab Axel.


Mereka kemudian sama-sama menghabiskan minuman. Tak lama kemudian bel tanda masuk pun dibunyikan. Ketiga anak-anak itu buru-buru membayar, lalu bergerak menuju kelas.

__ADS_1


__ADS_2