Terpaksa Menikahi Janda Kaya

Terpaksa Menikahi Janda Kaya
Bertanya Pada Clara


__ADS_3

"Jadi mama beneran hamil?"


Arvel kaget mendengar apa yang diceritakan oleh Anzel. Sepulang sekolah Anzel dan Axel menyambangi kakak mereka tersebut di rumah sakit.


"Kalau yang gue sama Axel dengar dari om Ferdi sih gitu." ujar Anzel lagi.


Sementara Axel membatu, ia terus kepikiran dengan ucapan Anzel pagi tadi. Mengenai dirinya akan tersingkir jika mereka mendapatkan adik baru.


"Hhhhhh."


Arvel menghela nafas panjang.


"Gue udah duga dari awal sih, kalau mama nikah sama om Ferdi itu, nggak sekedar karena dia punya rencana doang. Tapi karena mama juga suka." ucap remaja itu.


"Lo liat kan pas pesta pernikahan mama bahagianya kayak apa. Nggak bisa bohong." lanjutnya lagi.


"Iya sih, gue juga agak curiga waktu itu. Cuma gue positif thinking aja. Gue pikir mama lagi akting doang depan om Ferdi." Anzel menimpali.


Tak lama Clara masuk. Arvel dan Anzel yang agak terkejut, langsung menghujani ibu mereka tersebut dengan tatapan.


"Apa?"


Clara bertanya pada kedua anaknya itu, karena merasa ada sesuatu yang aneh.


"Soal pagi tadi?"


Clara langsung sadar dan menjudge ke arah sana. Tampak Arvel dan Anzel mengalihkan tatapan mereka ke arah lain.


"Nggak, mama belum hamil koq. Itu bercandaannya om Ferdi aja." ucap Clara.


"Beneran, ma?"


Axel yang sejak tadi diam kini mulai bersuara.


Anzel menatap Arvel dan mereka sama-sama menahan senyum. Arvel sendiri telah diceritakan oleh Anzel melalui pesan di WhatsApp, mengenai apa yang telah ia perbuat pada Axel pagi tadi.


"Koq kamu kayak ketakutan gitu mukanya?" tanya Clara pada Axel.


Anak itu diam.


"Kenapa kamu?" tanya Clara lagi.


"Abang Anzel, ma." ucapnya kemudian.


Anzel tertawa namun membuang muka ke arah lain. Clara yang memang tau jika anak keduanya itu sangat jahil tersebut, kini melontarkan pertanyaan.


"Diapain bang, adeknya?" tanya Clara.


"Nggak di apa-apain koq." ucap Anzel.

__ADS_1


"Abang bilang kalau kita punya adek lagi, mama akan suruh Axel ini dan itu. Katanya mama bakalan pilih kasih dan nggak perhatian lagi sama kita semua." Axel menjelaskan.


Clara menarik nafas, antara kesal namun ingin tertawa. Ia tau ucapan seperti ini bisa memperbaharui mental Axel. Namun bila ia memarahi Anzel dengan serius, maka mental anak itu juga akan menjadi korban.


Sebagai seorang ibu, situasi yang serba salah seperti ini seringkali ia hadapi.


"Mama selama ini ngurus anak tiga, ada nggak yang mama beda-bedain?" tanya Clara.


Arvel, Anzel dan Axel diam.


"Mama nggak pernah membeda-bedakan kalian. Masing-masing dari kalian mama kasih perhatian yang imbang, kasih sayang yang sama besarnya. Kalau salah satu dari kalian berbuat salah, pernah nggak mama malah marahin yang lain?" tanya Clara.


"Misalkan Axel yang salah, terus mama nyalahin bang Anzel atau bang Arvel. Pernah nggak?. Nggak kan?. Tetap yang salah yang mama marahin." lanjut wanita itu.


"Nggak ada mama beda-bedakan antara anak pertama, kedua, bungsu." Clara menatap ketiga anaknya itu.


"Dan kamu Axel, udah tau abang kamu jahilnya dari dulu. Masih aja kamu percaya kalau dia lagi ngerjain kamu."


Anzel lagi-lagi tertawa dan tetap sambil memalingkan wajah. Sementara Arvel sangat-sangat menahan senyumnya, meski agak sedikit gagal.


"Pokoknya, kalaupun mama punya anak lagi. Nggak akan ada yang berubah. Semuanya pasti sama aja." ucap Clara.


"Tapi ma, mama bilang waktu itu pernikahan ini cuma buat rencana mama doang. Tapi koq mama malah berubah."


Arvel mengajukan pertanyaan yang membuat Clara mendadak terdiam. Waktu itu memang dirinya telah mengawali pernikahan dengan sebuah kebohongan. Kebohongan terhadap anak-anaknya sendiri.


"Mama minta maaf soal itu." ucap Clara sambil sesekali tertunduk.


Clara menghentikan ucapan, sebab terasa ada yang mengganjal di tenggorokannya.


"Harusnya mama ngomong jujur aja sama kita." ucap Arvel.


"Tapi kan waktu itu kalian nggak suka kalau mama menikah lagi." ujar Clara.


Arvel, Anzel, dan Axel pun sedikit tertunduk.


"Mama bohong juga demi menjaga perasaan kalian." lanjut wanita itu kemudian.


"Mama memang sudah terdesak harus menikah saat itu. Soal rencana mama menggunakan om Ferdi untuk merebut kembali perusahaan yang ada di papa kalian, itu nggak bohong. Hanya saja mama juga cinta sama om Ferdi. Jadi pernikahan ini terjadi untuk dua hal itu." tambahnya.


Arvel menarik nafas cukup dalam. Begitu pula dengan kedua adiknya.


"Kalian benci dan marah sama mama?"


Clara mencoba memastikan, sebab kejujuran ini sudah terlanjur dikatakan. Ketiga anak itu menggeleng.


"Kalian boleh marah koq, mama tau mama salah."


"Nggak, ma. Kita nggak gitu koq." ucap Axel.

__ADS_1


"Mama nggak apa-apa kalau anak-anak mama mau marah, tapi jangan lama-lama." ujar Clara lagi.


Ketiga anak itu pun tersenyum, Clara jadi lega dibuatnya.


"Kita cuma mau mama jujur soal apapun mulai hari ini. Sama kayak mama selalu minta sama kami." ujar Anzel.


"Mama janji, dan mama minta maaf sekali lagi." ujar Clara.


***


"Ini laptop gaming siapa, bang?"


Axel menemukan laptop gaming yang sengaja Arvel sembunyikan di salah satu laci lemari. Di dalam kamar rawatnya memang terdapat satu lemari besar untuk meletakkan barang ataupun pakaian.


Ia tak menyangka jika Axel akan membuka-buka tempat tersebut, saat dirinya tengah ke toilet. Anzel yang baru saja dari membeli es teh manis di kantin rumah sakit pun masuk, dan ia melihat itu semua.


"Laptop siapa, bang?" tanya nya menimpali.


Clara saat itu sudah tidak ada lagi di ruangan. Ia tengah membeli kue permintaan Arvel, di sebuah toko yang cukup jauh dari rumah sakit.


"Itu..."


Arvel menarik nafas dan menjeda ucapannya karena bingung.


"Abang juga bingung dari siapa." lanjutnya kemudian.


"Maksudnya yang ngirim nggak ada namanya gitu?" tanya Axel.


"Di box nya tertulis dari papa." ucap Arvel.


"Dari papa?" Anzel dan Axel bertanya di waktu yang nyaris bersamaan.


"Tumben papa mau beliin beginian." tukas Anzel.


"Makanya abang juga heran. Yang tau kalau abang pengen laptop gaming seri ini, tipe ini. Cuma teman-teman akrabnya Abang disekolah. Mereka nggak kenal papa, dan papa nggak tau mereka." ucap Arvel.


"Tapi abang udah tanyain belum ke teman-teman abang, ada nggak mereka ngomong ke papa. Jangan-jangan papa mengintai abang selama ini." ucap Anzel


"Udah, nih jawaban mereka."


Arvel menunjukkan chat WhatsApp yang ia kirim kepada teman-tema akrabnya yang hanya berjumlah tiga orang.


"Gue, bapak lo aja kagak tau wujudnya yang mana. Lagi mau ngomong sama dia." ucap salah satu dari temannya.


"Gue juga nggak, Vel." ujar temannya yang lain.


"Papa punya cenayang kali, bang." celetuk Axel.


"Atau papa mempelajari ilmu membaca pikiran orang. Bisa jadi kan."

__ADS_1


Arvel dan Anzel kompak menarik nafas sambil melebarkan bibir tanda kesal.


"Nggak mungkin." ujar keduanya secara serentak.


__ADS_2