Terpaksa Menikahi Janda Kaya

Terpaksa Menikahi Janda Kaya
Es Terus


__ADS_3

"Ferdi kenapa?"


Clara bertanya pada sang suami setelah melihat sikap pria itu yang lesu dan tak bergairah seperti biasanya. Namun tadi ia tetap menanggapi anak-anak dengan baik dan berusaha menyembunyikan kegalauan hatinya. Namun saat kembali ke kamar, Clara dapat menangkap semua itu.


"Nggak apa-apa koq, aku cuma kecapean aja." ucap Ferdi lalu coba tersenyum pada Clara.


"Beneran?"


Clara coba memastikan kejujuran di mata suaminya itu.


"Jangan di pendam sendiri kalau ada apa-apa." ucap Clara pada sang suami.


"Iya sayang, aku janji. Kalau ada masalah aku akan bilang ke kamu." ujarnya lagi.


Clara tersenyum lalu memeluk dan mencium kening istrinya itu.


"Dedek lagi apa di dalam?" tanya nya sambil memegang perut Clara.


"Kayaknya dia bobok." ucap wanita itu kemudian.


Keduanya sama-sama tertawa lalu kembali berpelukan.


***


Esok hari.


Arvel dan Anzel telah turun ke bawah untuk sarapan. Sebab sebentar lagi mereka akan segera berangkat ke sekolah.


"Axel mana?" tanya Ferdi pada keduanya.


"Masih di atas." ucap Arvel.


"Lagi sibuk mix and match baju sekolah kali. Padahal kan udah ada setelannya."


Anzel berseloroh. Mereka yang ada di ruang makan itu sama-sama tertawa.


"Ma, pa, Axel nggak sekolah ya hari ini."


Tiba-tiba Axel menongolkan diri di lantai atas sambil melihat ke bawah. Suara anak itu terdengar lemah dan juga parau.


"Loh, kenapa kamu?" tanya Clara heran.


"Axel flu dan badan Axel panas ma." jawabnya kemudian.


"Es terooos."


Arvel dan Anzel mempraktekkan cara marah ala emak-emak, apabila anak mereka tengah sakit.


"Elah bang, jangan jadi kompor kenapa?" ucap Axel sewot.


"Huacim."


Ia bersin.


"Huacim."


"Huacim."


Terus mengulang hingga tiga kali.


"Lo awas nularin mama." ucap Arvel.


"Tau lo, ntar mama sakit baby nya ikut sakit." Anzel menimpali.


"Iya ini makanya Axel ngomong dari atas. Biar nggak deket-deket sama mama."

__ADS_1


"Kamu udah minum obat belum?" tanya Ferdi.


"Belum pa, makan aja belum."


"Ya udah, mau nasi goreng apa roti?" tanya Ferdi lagi.


"Mau nasi goreng yang banyak." jawab Axel.


Arvel dan Anzel kompak tersenyum.


"Sakit masih aja makannya banyak." ucap Anzel.


"Namanya juga Axel, makhluk ajaib." Arvel menimpali.


Ferdi kemudian mengambilkan nasi goreng dan juga susu hangat. Tak lama ia pun naik ke atas dan memberikan semua itu pada Axel.


"Makasih ya, pa." ucap Axel pada sang ayah tiri.


"Iya sama-sama, habis itu minum obat, ngerti?"


"Iya."


Ferdi kembali turun ke bawah dan Clara tampak meminta izin pada pihak sekolah Axel, melalui sambungan telpon. Sebelum berangkat ke kantor ia memastikan Axel sudah minum obat dan beristirahat.


***


"Asik, jamnya di pake."


Clara baru menyadari jika Ferdi mengenakan jam tangan pemberiannya, setelah mereka berada di mobil. Mobil tersebut juga kini sudah merayap meninggalkan rumah.


"Nanti kalau nggak di pakai, kamu nanyain. Kenapa jam dari aku nggak di pakai. Bla, bla, bla." ucap Ferdi sambil tersenyum.


"Iya sih, aku bakal nanya gitu. Tapi kamu make ini karena beneran suka, apa kamu nggak enak doang kalau nggak di pake?" tanya Clara.


"Nggak koq, aku suka modelnya. Lagian model jam tangan cowok kan gitu-gitu doang dari dulu."


"Habis mau model kayak gimana coba?" tanya nya kemudian.


"Kebanyakan aksen dan model, ntar dikira alay." lanjutnya lagi.


Ferdi tertawa.


"Nanti kalau sore si Axel nggak reda juga, kita bawa aja ke dokter." ucap pria itu.


Clara senang mendengar hal tersebut. Ferdi memang selalu perhatian terhadap anak-anak.


"Iya, lagian itu pasti karena kebanyakan jajan deh." tukas Clara.


"Kan kita nggak tau yang jualan lagi kena virus apa. Atau pembeli sebelumnya sakit dan nggak sengaja virusnya menempel di sekitar tempat jualan." lanjutnya lagi.


"Kemaren itu dia bikin insta story jajan es sampai empat kali. Dari istirahat pertama di sekolah sampai pulang." ucap Ferdi.


"Emang kadang-kadang dia tuh ngeselin. Kalau dibilangin dia ngadunya ke kamu, Fer. Kamu juga manjain dia sih."


Ferdi lagi-lagi tertawa.


"Kasihan kalau ngeliat mukanya dia lagi memelas, Cla. Aku nggak tega, beneran." ucap Ferdi.


"Axel tuh ular tau." ucap Clara.


"Mukanya emang sengaja di buat memelas kalau dia lagi butuh sesuatu. Sisanya ya tau sendiri, meliuk-liuk nggak ada diem." lanjut wanita itu kemudian.


Ferdi makin tertawa, kemudian mobil pun lanjut berjalan. Setibanya di kantor Clara, Ferdi mencium kening wanita itu dan berpesan padanya untuk jangan terlambat makan. Clara pun sama demikian.


Mereka akhirnya berpisah di lobi dan Ferdi melanjutkan perjalanan menuju kantornya.

__ADS_1


***


"Bisa kerja bener nggak sih?"


Nando mengawali paginya dengan emosi yang buruk. Para karyawan yang dimarahi olehnya tersebut hanya diam.


"Masa kayak gini aja nggak bisa." lanjut pria itu.


"Braaak."


Ia melempar file yang diberikan padanya hingga berserakan di lantai. Jessica yang melihat itu semua, kini berusaha fokus pada pekerjaannya. Ternyata Nando seram juga ketika marah.


"Udah sana, kembali bekerja!"


Nando mengusir para karyawan yang ia marahi tersebut dari ruangan. Karyawan tersebut pun kembali ke meja kerja mereka dengan rasa malu dan sakit hati.


Semua orang sejatinya paham, sebab saat ini nama Nando tengah santer diberitakan di berbagai media. Sebagai suami jahat yang membela pelakor.


Semua tau Nando stress, tapi tak pantas juga bila ia melampiaskan kekesalan terhadap orang lain yang tidak bersalah.


Berbeda dengan Nando, Ferdi justru mengawali pagi ini dengan baik. Meski semalam ia sempat kesal saat mengingat sikap Adrian terhadapnya. Namun Ferdi sudah melupakan semua itu.


"Fer, provit lagi nih."


Nath memberitahu kabar baik. Ferdi pun senang mendengarnya.


"Party dikit bisa kali." ucap Jordan pada bosnya itu.


Nath tertawa.


"Bisa, santai aja. Mau dimana?" tanya nya kemudian.


"Wah, gue suka nih sama yang sesat begini." Sean menimpali.


"Gue ikut dong." ucap Nova.


Nath memperhatikan mereka semua dan Ferdi kini tertawa melihat ekspresi dari bosnya itu.


"Pada pemerasan ya semuanya." Nath bercanda pada mereka.


"Yaelah pak Nath sekali-kali. Udah lama juga kita nggak kuy." ucap Jordan.


Nath kembali tertawa.


"Iya, ntar weekend." ujarnya.


"Asik."


Mereka semua bersorak-sorai kegirangan.


"Udah pada kerja dulu." ucap Nath.


"Nggak kerja, nggak cuan ini." lanjutnya lagi.


Mereka semua pun mulai bekerja dengan penuh semangat.


***


"Kuasai dulu asetnya mbak, baru gugat cerai."


"Jangan bodoh say, ambil dulu duitnya. Jangan biarkan pelakor jadi sejahtera.


Ninis tengah membaca direct message di Instagram miliknya. Sampai hari ini belum ada pemberitaan mengenai dirinya yang juga mantan pelakor. Ninis masih terbang di awang-awang, lantaran di bela oleh netizen.


"Ayo kak semangat, kuasai harta suaminya dan baru minta cerai."

__ADS_1


Satu pesan kembali masuk dan Ninis kini semakin memantapkan niatnya, untuk mengeruk harta Nando.


__ADS_2