
Jeffri kembali mengalami kejatuhan di beberapa sektor. Kali ini hal tersebut sangat sulit di selamatkan. Padahal ia dan seluruh pekerja telah berusaha semaksimal mungkin untuk mengatasi hal tersebut.
"Jeff, are you ok?"
Adrian bertanya pada Jeffri yang kini tampak begitu kusut di ruangannya.
"Tinggalkan gue sendiri!" perintah Jeffri kemudian.
"Oke."
Adrian keluar dari tempat tersebut. Sementara di kantor, berkebalikan dengan Jeffri. Perusahaan Nath mengalami kemajuan pesat bulan ini. Ia begitu senang dengan kinerja seluruh karyawannya terutama Ferdi, yang telah membantu banyak dalam hal promosi dan inovasi.
"Gaes, achievement kita melampaui target bulan ini. Nanti bonus di transfer ke rekening masing-masing." Nath mengabarkan pada semua.
"Asek!"
"Yeaaaay."
Seisi kantor bertepuk tangan dan bersorak-sorai.
Nath menatap Ferdi dan Ferdi pun tersenyum pada bos sekaligus sahabatnya itu.
"Mau pada makan apa kalian?" tanya Nath kemudian.
"Pizza pak."
"Ayam bakar."
"Nasi Padang."
"Martabak."
Masing-masing karyawan mengungkapkan keinginan.
"Ya sudah pesan aja. Nanti diganti sama kantor, tunjukin aja bil pembeliannya."
"Ada batasan nggak pak?" celetuk Jordan.
"Nggak, selama masih sanggup makan mah beli aja. Yang penting jangan beli Lamborghini aja lo pada.
"Ha-ha-ha." Mereka semua tertawa.
"Oke." jawab mereka semua serentak.
Maka siang itu bisa dibilang kantor Nath berpesta. Meski bukan pesta yang besar, tetapi cukup menyenangkan dan mengenyangkan.
***
Siang hari di kantor Clara.
"Bu, ini ada kiriman dari ojek online. Katanya dari pak Ferdi."
Salah satu office girl menghampiri Clara dan memberikan sebuah bungkusan yang tampaknya berisi makanan.
"Oh, makasih ya." ujar Clara seraya menerima bungkusan tersebut.
"Sama-sama, bu."
Office girl itu keluar. Clara membuka bungkusan tersebut dan kebetulan ini sudah jadwal makan siang. Tadinya Clara berpikir untuk memesan saja di kantin, namun ternyata Ferdi sudah membelikan terlebih dahulu.
__ADS_1
"Ferdi, makasih ya. Tau aja bumil lagi pengen yang seger-seger." ucap Clara.
Ia mengirim pesan tersebut sambil melihat apa saja yang dibelikan oleh sang suami. Ada nasi beef teriyaki, sup miso tahu dan juga buah potong serta susu hamil siap minum. Tak lama Ferdi pun membalas.
"Kurang nggak porsinya?" tanya pria itu.
"Nggak, ini udah banyak banget loh." ucap Clara.
"Makasih ya." tukasnya lagi.
"Iya mama, makan yang banyak ya. Biar mama sehat, dedeknya sehat."
Clara tersenyum membaca semua itu. Ia ingat kerap mengkhayalkan hal ini dulu. Saat ia masih menikah dengan Nando dan mengandung anak-anak pria itu. Tapi Nando sama sekali tak perhatian.
"Ngapain sih gue ingat masa lalu." ucap Clara seraya menepis ingatan tersebut.
Tak lama ia pun mulai makan. Untungnya meski sering mual, Clara tak terlalu sensitif dengan makanan. Ia masih bisa memakan apa saja tanpa terganggu dengan bau atau aroma dari makanan itu sendiri.
Sebab pengalaman saat hamil Anzel, sempat banyak yang tak bisa ia makan. Seperti ayam dan ikan. Ia benci baunya saat itu.
Entah ada hubungannya atau tidak, tapi Anzel agak susah makan dari kecil. Berbeda dengan pada saat hamil Axel, Clara bisa memakan segalanya.
Dan sekali lagi entah ada hubungannya atau tidak, Axel pun menjadi anak yang tak masalah memakan apapun. Untung saja ia tidak memakan tembok dan seisi rumah, saking seringnya ia mengunyah dan tak kenal lelah setiap saat.
"Kamu udah makan, sayang?"
Clara kembali mengetik balasan untuk Ferdi.
"Nih lagi makan."
Ferdi memfoto pizza yang ada di tangannya.
"Kantor lagi party." lanjutnya kemudian.
"Pencapaian yang melebihi target." ujar Ferdi.
"Waw, selamat ya buat kantor kalian."
"Thank you." balas. Ferdi.
"Sama-sama." jawab Clara.
Mereka lanjut bercakap di chat. Ferdi terlihat cukup fokus pada handphonenya. Sampai kemudian ia melihat seorang kurir datang, dengan membawa sebuah drone dengan merk yang cukup mahal.
Ferdi hanya menilik saja sekilas. Ia pikir Nath sengaja membeli untuk keperluan pribadi. Sebab kurir tersebut langsung menemui Nath didalam.
"Sayang, aku mau ke toilet dulu. Ntar aku chat lagi sorean ya. Abis ini mau lanjut kerja soalnya." ucap Ferdi pada Clara setelah cukup lama berlalu.
"Oh oke deh, aku juga bentar lagi kelar makan nih. Mau istirahat sebentar terus lanjut kerja juga." ucap Clara.
"Iya, semangat terus ya mama."
"Iya papa, makasih banyak ya."
"Sama-sama." ucap Ferdi.
Chat tersebut kemudian berakhir.
***
__ADS_1
"Walaupun lo lebih tua, lo seharusnya jangan terlalu banyak ngatur gue bang. Lo nggak tau rasanya gimana di intimidasi sama orang yang sok hebat."
Axel berteriak pada Arvel sore itu.
"Iya tapi nggak harus lo selesaikan dengan kekerasan juga. Itu anak orang hampir mati, lo dorong ke jalan raya. Lo kan tau di depan sekolah lo itu mobil pada ngebut semua."
"Terus aja lo belain itu musuh gue. Nggak usah belain adek lo sendiri."
"Ada apa ini?"
Ferdi dan Clara yang baru tiba dari kantor langsung keluar dari mobil dan menghampiri mereka.
"Gue bukan belain dia. Gue menyelamatkan elo." Arvel membentak Axel.
"Menyelamatkan apa?. Kalau gue nggak ngelawan, mereka akan terus bully gue tau nggak. Udah gue gebukin waktu itu aja, mereka masih belum kapok dan penasaran sama gue."
"Tapi kalau tadi lo dorong itu orang ke jalan raya dan dia ketabrak terus mati. Elo masuk penjara, goblok. Lo nggak kasihan sama mama?" Anzel ikut membentak Axel.
"Sudah stop!" ujar Ferdi.
"Lo mentang-mentang di biarin om Ferdi sama mama untuk membalas orang yang membully, jadi ngelunjak dan nggak mikir lagi." lanjut Arvel.
"Axel kamu tuh kenapa sih?" Clara bertanya pada sang anak dengan nada tinggi.
"Axel di diajak berantem sama musuh Axel, ma. Pas Axel balas gebukin dia, bang Ar malah menghalangi."
"Ya orang mau lo dorong ke jalan raya. Ke tempat mobil yang lagi pada ngebut. Niat lo udah mencelakakan nyawa orang, bukan sekedar membalas." ucap Arvel masih berapi-api.
"Axel, mama nggak nyangka kamu begitu ya."
"Mama bela aja Abang Ar terus. Dari dulu kalian always memenangkan dia. Axel tuh selalu jadi yang belakangan. Apa-apa Abang Ar, selalu dia yang dinomor satukan."
"Udah tenang dulu." Ferdi kembali menengahi.
"Nggak bisa gitu, pa. Mentang-mentang anak pertama jadi seenaknya."
"Axel, dengerin papa!"
"Papa juga mau bela Abang Ar?"
Axel menatap Ferdi lalu menatap Arvel.
"Gue sekarang berharap lo bukan abang gue dan bukan anak papa-mama, bang. Gue benci sama lo."
Petir seolah menggelegar, padahal hujan pun tiada turun. Arvel tersentak mendengar semua itu, apalagi Clara, Anzel dan juga Ferdi.
"Lo tuh emang keterlaluan ya." Anzel mendorong bahu Axel dengan keras seakan hendak memukul anak itu. Namun dengan cepat tangan Arvel menghalanginya.
Arvel kemudian berlalu. Hati Clara hancur, Anzel sedih. Sementara Ferdi berada di posisi yang serba salah. Ia benar-benar tak menyangka hal seperti ini akan terjadi.
"Gue harap lo puas dengan semua ini. Lo bebas sekarang, gue udah nggak peduli lagi lo mau ngapai."
Anzel berujar ada Axel lalu ia pun turut meninggalkan tempat itu. Sementara Clara matanya terlihat berkaca-kaca. Ia pun lalu melengos saja dari hadapan Axel. Sementara Axel kini merasa bingung sekaligus merasa jika dirinya telah begitu keterlaluan.
"Mama kenapa, pa?" tanya Axel pada Ferdi.
"Sebaiknya kamu masuk kedalam." ujar Ferdi.
"Tapi, pa."
__ADS_1
"Masuk!"
Ferdi berkata dengan nada yang begitu menahan amarah. Axel kemudian berbalik arah dan melangkah perlahan ke arah pintu masuk.