
"Om."
"Hmm?"
"Ada nggak sih, kuliah yang bikin kita bisa bikin game online gitu?"
Axel bertanya pada Ferdi ketika pria itu menjemputnya di sekolah. Di ketahui jika hari ini Axel pulang lebih sore ketimbang kakak-kakaknya. Lantaran ada les tambahan yang wajib diikuti.
Clara meminta tolong pada Ferdi untuk menjemput Axel. Sebab ia sendiri pulang malam lantaran ada lembur di kantor.
"Ada dong." jawab Ferdi seraya memasang sabuk pengaman.
"Apaan jurusannya?" tanya Axel.
"S1 game aplication and technology." jawab Ferdi lagi.
"Emang ada?"
"Ada, cek aja di google." Lagi-lagi pria itu berucap.
Axel pun membuka google dan mencari kata kunci tersebut.
"Eh iya, ada ya." ujar Axel dengan wajah masih tak percaya.
"Sebenarnya kalau kamu ngambil kuliahnya ketengan. Kayak misalkan kamu kuliah jurusan desain grafis, atau teknik elektro, teknik komputer, desain komunikasi visual. Itu kamu bisa kerja di game developer."
Ferdi menghidupkan mesin mobil dan menekan pedal gas.
"Termasuk kalau kita belajar coding, itu juga penting kan?" tanya Axel.
"Iya, kamu bisa gambar tokoh atau anime pun bisa jadi sesuatu yang penting. Kalau kamu mau jadi seorang pengembang game profesional, bisa gambar, itu lebih baik."
Axel manggut-manggut.
"Emangnya kamu pengen kuliah di jurusan itu nantinya?" tanya Ferdi.
"Mmm, iya sih. Tapi nggak tau deh, boleh apa nggak sama mama."
"Itu kan pilihan hidup kamu sendiri." ucap Ferdi.
"Tapi kan biayanya ada di orang tua." ujar Axel.
"Kadang orang tua, mentang-mentang mereka yang membiayai. Mereka jadi menuntut apa yang mereka mau dari kita. Termasuk masalah jurusan kuliah." lanjutnya kemudian.
"Koq kamu bisa menilai kayak gitu?" tanya Ferdi heran.
"Kakaknya temen Axel ada yang jago coding. Dia pengen jadi programmer, tapi malah dipaksa kuliah di keperawatan. Kata ibunya teman Axel, biar bisa nikah sama aparat."
Ferdi terkekeh mendengar semua itu.
"Ini kamu serius apa bercanda?" tanya nya kemudian.
"Masa alasannya kayak gitu." lanjutnya lagi.
"Ini Axel serius, om."
__ADS_1
"Kakak teman sekolah kamu?"
"Bukan, teman Axel latihan karate. Kalau di sekolah mah rata-rata orang tuanya udah open minded, untuk masalah cita-cita anak." ujarnya lagi.
"Jadi anaknya dimasukin jurusan keperawatan, cuma supaya bisa nikah sama aparat?. Bukan karena pengen anaknya kerja di kemanusiaan, bisa membantu merawat orang lain gitu?"
"Bukan."
"Ngadi-ngadi kamu." ucap Ferdi lagi.
"Ih, serius om. Orang pas kakaknya temen Axel itu debat sama ibunya, Axel ada disitu koq lagi mampir. Soalnya di dekat rumah dia ada yang jual seblak enak gitu. Makanya Axel kesana buat makan seblak sama temen Axel. Eh nggak taunya si kakak sama ibunya lagi ribut."
Ferdi tertawa, sejatinya antara miris dan tak habis pikir. Kelakuan orang tua di negara +62 memang kadang ada-ada saja. Mereka suka memaksakan kehendak terhadap anak-anak mereka. Jika tidak menurut maka akan mengeluarkan kata-kata pamungkas basi, yakni anak durhaka."
"Tapi kan ilmu codingnya masih bisa kepake sampai kapanpun." ucap Ferdi.
"Lagian kan bagus jadi bisa punya dua profesi. Perawat dan programmer. Programmer mah tinggal kurus lagi aja buat dapat sertifikasi, bisa dipake ilmunya." lanjutnya kemudian.
"Ya tapi itu kan tetap aja egois, om. Anaknya mau kemana, orang tuanya maksa kemana. Lagian kan nggak semua cewek pengen nikah sama aparat. Kalau dia maunya nikah sama CEO atau Mafia gimana?"
Ferdi benar-benar tertawa kali ini.
"Suka baca novel online ya kamu?" tanya nya kemudian.
"Dikit." jawab Axel.
Ferdi masih terus tertawa. Sebab mengobrol dengan Axel memiliki kelucuan tersendiri bagi pemuda itu. Setiap hari remaja itu selalu punya topik baru dan seru untuk dibahas.
"Axel heran aja sama model orang tua kayak gitu."
"Yang penting kan bukan orang tua kamu." ucap Ferdi lagi.
"Koq kamu udah berani menyimpulkan?" tanya Ferdi heran.
"Ya itu abang Ar contohnya." ujar Axel.
"Mama selalu bilang, abang kuliahnya ambil kedokteran aja, bang. Abang kan pinter. Padahal abang Ar pengen jadi filmaker." lanjut remaja itu.
"Abang Ar banyak bikin film indie, dokumenter. Film-filmnya banyak diikutkan lomba, walau yang menang baru beberapa doang. Dia pinter bikin skenario. Naskah pementasan drama di sekolahnya aja, abang Ar koq yang bikin dan setiap pementasan selalu sukses. Tapi mama maksain maunya dia." lagi-lagi Axel berujar.
"Mungkin kurang komunikasi aja kali sama mama. Kalau dibicarakan baik-baik dan serius, mungkin mama akan mengizinkan kalian memilih jurusan yang kalian mau."
Axel diam.
"Iya sih." ujarnya kemudian.
"Cobalah bicara dulu, jangan langsung buru-buru menyimpulkan sesuatu." ucap Ferdi lagi.
"Lagian kan mama bukan orang yang diem aja dirumah dan minim pergaulan. Dia juga bisa diajak berkomunikasi dengan baik. Coba aja ajak ngomong face to face. Om rasa sih mama bakal ngerti sama kemauan kalian."
Axel mengangguk-anggukan kepalanya untuk yang kesekian kali. Sementara mobil yang mereka naiki terus melaju.
***
"Clara, kita sudah bisa mengambil kembali perusahaan itu. Sebaiknya kamu kasih tau suamimu untuk bersiap menghadapi Nando."
__ADS_1
Clara malam itu teringat ucapan dari salah satu orang kepercayaan ayahnya. Mereka tadi berbicara mengenai Nando dan cabang perusahaan, yang sampai saat ini masih dipimpin oleh mantan suaminya tersebut.
"Iya om, saya akan segera membicarakan hal tersebut dengan suami saya." ucap Clara.
"Hai sayang."
Ferdi yang baru selesai mandi menghampiri Clara. Ia punya kebiasaan mandi di saat malam telah larut. Sebab ia ingin merasakan sensasi kesegaran saat tidur.
"Fer, aku mau bicara." ucap Clara.
"Kamu hamil?" tanya Ferdi seraya tertawa.
"Nggak, belum." jawab Clara sambil tersenyum.
"Koq bisa-bisanya sih kamu nanya kayak gitu?" ujarnya lagi.
"Abisnya kamu serius amat mukanya. Kayak mau meminta pertanggungjawaban karena udah aku hamilin." seloroh Ferdi.
Clara tertawa mendengar semua itu.
"Sini makanya, aku mau ngomong." ucap wanita itu lagi.
"Bentar dulu, aku jemur handuk."
Ferdi menjemur handuknya di balkon kamar lalu kembali ke arah Clara dan duduk disisi istrinya itu.
"Ada apa sayang?" tanya nya kemudian.
Clara menarik nafas, ia sedang merangkai kata-kata dalam benaknya. Ia mau Ferdi mengerti permasalahannya dengan Nando tanpa merasa dimanfaatkan.
"Aku mau kamu tau, kalau sampai saat ini Nando masih memimpin salah cabang perusahaan aku." ucap wanita itu.
Ferdi menatap Clara dan mendengarkan hal tersebut.
"Papaku punya perjanjian aneh dengan orang tua Nando, saat kami baru mau menikah."
"Perjanjian aneh?" tanya Ferdi.
Clara mengangguk, kemudian ia menceritakan semuanya secara jujur pada Ferdi.
"Makanya aku minta kamu menikah." ujar Clara.
"Oh." jawab Ferdi singkat.
"Tapi bukan berarti karena aku nggak sayang. Aku cinta sama kamu, Ferdi."
"Aku tau koq."
Ferdi menatap Clara lalu tersenyum sangat tipis.
"Aku tau kamu cinta sama aku, saat kita bercinta semua itu kelihatan dan terasa buat aku." ucap pemuda itu.
Clara kini bernafas lega, ia sudah takut Ferdi akan marah dan tersinggung atas ucapannya. Ia takut Ferdi akan merasa jika pernikahan ini hanyalah atas azas manfaat.
Tanpa Clara ketahui jika Ferdi juga menyimpan rahasia besar. Meski ia tengah berusaha keras untuk tak jadi melakukan hal tersebut.
__ADS_1
"Kamu tenang aja, aku akan batu kamu sebisa aku." ujar Ferdi lagi.
Clara makin bernafas lega, dan secara serta merta ia pun lalu memeluk Ferdi. Ferdi membalas pelukan tersebut dan mencium kening Clara.