Terpaksa Menikahi Janda Kaya

Terpaksa Menikahi Janda Kaya
Lamaran


__ADS_3

Hari yang dinantikan tersebut akhirnya tiba. Keluarga Ferdi sudah bersiap dengan segala keriwehan serta barang-barang hantaran yang akan mereka bawa.


Jeffri melibatkan Adrian beserta istri dan anak-anak dari sahabatnya itu. Sebab ia tak mungkin mengajak keluarga besar dari pihaknya maupun pihak sang istri, Aini. Sudah dipastikan keluarga besar Jeffri maupun Aini akan protes, jika mengetahui Ferdi akan dinikahkan dengan seorang janda beranak tiga.


Daripada semuanya menjadi kacau, lebih baik Jeffri melibatkan orang yang satu frekuensi saja dengannya. Itu akan lebih mudah dan segala sesuatu pasti berjalan dengan lancar.


Di dalam kamar, Frans tengah merapikan jas Ferdi. Meskipun hati pria itu masih terasa begitu sakit dan tak rela Clara dimiliki oleh orang lain. Bahkan bila itu oleh adiknya sendiri.


Beruntung ia cukup pandai menyembunyikan semuanya. Hingga hal tersebut tak mengundang kecurigaan dari Ferdi.


"Papa udah nunggu di bawah." ujar Frans setelah semuanya dirasa cukup.


Ferdi pun lalu mengangguk, kemudian mereka berdua turun ke bawah. Tak menunggu waktu lama, mereka semua akhirnya berangkat.


***


Berbeda dengan Jeffri yang merahasiakan lamaran serta rencana pernikahan Ferdi dari keluarga besarnya, maupun keluarga Aini.


Clara justru memberitahu kepada pihak keluarga mendiang ibu serta ayahnya, bahwa ia berencana untuk menikah lagi.


Meski awalnya pihak keluarga perempuan itu agak ragu, namun mereka menerima keputusan yang diambil oleh Clara. Toh Clara sudah dewasa dan ia berhak menentukan pilihannya sendiri. Setelah dulu ia menikah atas dasar pilihan sang ayah.


Saat ini mereka semua tengah bersiap. Guna menunggu kedatangan pihak calon suami Clara, yang sejatinya belum mereka kenal sama sekali tersebut.


"Abang Ar sama Abang An, nggak mau makan kuenya?. Enak tau?"


Axel yang tengah memakan kue berisi cream custard tersebut, berkata pada kedua kakaknya yang sampai saat ini masih duduk diam di dalam kamar. Dengan tampilan yang sudah rapi.


Jangankan makan, rasa lapar pun tak bisa mereka rasakan bahkan sejak semalam. Arvel dan Anzel sangat terpikir akan hari ini. Hanya Axel yang sepertinya masih bisa tidur nyenyak serta makan enak. Sebab ia tak begitu ambil pusing lagi, setelah berbicara dengan Ferdi kemarin.


"Arvel, Anzel, Axel. Kalian dipanggil, di suruh ke bawah. Bentar lagi pihak calon besan akan datang."


Salah seorang asisten rumah tangga berkata dari depan pintu yang terkunci. Arvel tak menjawab, sementara Axel mulutnya berisi makanan. Akhirnya Anzel lah yang mendekat lalu membuka pintu.

__ADS_1


"Iya mbak, nanti kita turun sebentar lagi." ucapnya kemudian.


Asisten rumah tangga itu pun akhirnya berlalu. Sementara kini Anzel menoleh pada kakak dan adiknya. Mau tidak mau Arvel juga beranjak, diikuti oleh Axel.


Ketika tiba dibawah, mereka langsung duduk di tengah-tengah keluarga. Clara sendiri masih di dandani di kamarnya.


Tak lama kemudian pihak Ferdi tiba, dan mereka di sambut dengan baik. Ferdi mencoba berinteraksi dengan keluarga Clara yang menyapanya dengan ramah. Arvel, Anzel dan Axel awalnya enggan melihat ke arah orang-orang yang baru datang tersebut.


Namun pada akhirnya mereka menoleh, dan di saat yang bersamaan Ferdi melihat ke arah mereka bertiga.


Seketika Ferdi terkejut dan terdiam, begitupula dengan ketiga anak itu. Terutama Axel yang notabenenya sering berinteraksi dengan Ferdi.


Pandangan mata Arvel dan Anzel terlihat sangat tidak suka. Sementara Axel sendiri berada di tengah-tengah. Ia masih begitu kaget dengan semua ini, sama halnya seperti Ferdi.


Prosesi pun di jalankan. Ferdi hampir tak dapat berkonsentrasi, ketika mata Arvel, Anzel, dan Axel tertuju ke arahnya. Namun ia berusaha keras untuk tetap bersikap tenang.


"Ternyata itu anak, anaknya si Clara."


Sean berujar pada Jordan sambil setengah berbisik, seraya melayangkan lirikan mata pada Axel. Sementara Nath dan juga Nova kini menoleh ke arah dua orang itu.


"Ntar aja gue jelasin, nggak enak." ujar Sean.


Maka mereka kembali mengikuti prosesi. Disana pihak Ferdi menyampaikan maksud kepada keluarga Clara yang dituakan, atau yang dipilih Clara menjadi walinya hari itu.


Maksud pun diterima dengan baik, tak lama Clara dibawa masuk. Wanita itu melangkah, sementara Ferdi berdiri menunggu dengan harap-harap cemas. Jantungnya berdegup kencang dan ia begitu gugup.


Ia belum pernah merencanakan pernikahan dengan Jessica, bahkan tak pernah membayangkan hal tersebut sama sekali.


Kini setelah putus dari mantan kekasihnya itu, ia dihadapkan pada sebuah lamaran yang cukup mendadak. Jujur ia masih terpaksa melakukan semua ini. Sebab ia masih takut, apakah ia sudah bisa memimpin sebuah rumah tangga atau belum.


Tapi karena yang dilamar adalah wanita yang ia cintai, sedikit terpaksa pun rasanya gak mengapa.


Clara mendekat seraya tersenyum pada Ferdi. Semua mata tertuju pada kecantikan wanita itu. Meski dandanannya minimalis dan tidaklah heboh. Tapi tetap tak bisa membuat banyak pasang mata berpindah. Mereka justru menikmati kecantikan Clara yang alami.

__ADS_1


Host kembali memimpin acara, menanyakan apakah pihak Clara menerima lamaran Ferdi. Tentu saja Clara menjawab "Iya." Dan keluarganya mendukung hal tersebut.


Sebuah cincin pun akhirnya disematkan Ferdi di jari manis wanita itu, dan begitupula sebaliknya. Kini keduanya telah resmi saling mengikat janji, untuk kemudian dilanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi lagi.


Acara di lanjutkan dengan pengambilan foto. Clara kemudian menoleh ke arah anak-anaknya dan mereka pura-pura bermain handphone.


"Kamu sudah bicara sama mereka tadi?"


Clara bertanya pada Ferdi. Maka pemuda itupun tersenyum tipis dan menggeleng.


"Anak-anak, sini!"


Clara memanggil ketiga anaknya. Dengan wajah malas Arvel dan Anzel pun mendekat. Hanya Axel yang sedikit cengar-cengir, namun kemudian di pelototi oleh Anzel.


"Anak-anak, ini calon suami mama. Calon papa tiri kalian."


Arvel dan Anzel tetap memasang wajah malas, namun mereka mengangguk agar perkara segera di sudahi.


Tak lama Clara dipanggil oleh salah satu anggota keluarganya, entah untuk apa. Hingga yang tersisa kini hanyalah Ferdi dan ketiga anak Clara saja.


"Saya nggak mau panggil anda papa. Karena anda bukan papa saya."


Arvel berujar dengan wajah dinginnya.


"Kami akan awasi anda setiap saat, jangan sampai ibu kami terluka sedikitpun. Karena urusannya adalah dengan kami bertiga." Anzel menimpali ucapan sang kakak.


Ferdi menatap ketiga anak itu satu persatu.


"I love her." ujarnya kemudian.


"Dan saya harap kita bisa bekerjasama dalam banyak hal. " lanjutnya lagi.


Arvel berlalu dengan gusar, begitupula dengan Anzel. Axel menatap Ferdi dan tersenyum, Ferdi pun membalas dengan sangat tipis sekali, namun tulus.

__ADS_1


"Axel."


Anzel memanggil adik bungsunya itu dengan nada kesal. Tak lama Axel pun berlalu dari hadapan Ferdi.


__ADS_2