Terpaksa Menikahi Janda Kaya

Terpaksa Menikahi Janda Kaya
Hangat dan Nikmat


__ADS_3

Di rumah ketika sampai dan masuk ke kamar, Ferdi mendekat ke arah Clara. Sambil melepas dasi dan kancing kemeja, pemuda itu lalu mencium bibir sang istri.


Clara membalas ciuman Ferdi dengan bantu melepaskan kancing kemejanya. Dalam sekejap bagian dada sang suami yang bidang serta tubuhnya yang berotot kering, terpampang nyata di hadapan Clara. Menjadikan ia semakin tergila-gila pada pria itu.


"Hmmh."


Ferdi bersuara ketika kedua tangannya menangkup dua gunung kembar di dada Clara. Ukurannya yang memang cukup besar itu, terasa begitu kenyal. Junior Ferdi yang sudah menegang sejak tadi, kini semakin memberontak minta di bebaskan.


Clara yang sudah berpengalaman dalam berumah tangga itupun mengerti. Tak menunggu waktu lama, sambil masih berciuman. Ia membuka pengait celana panjang yang Ferdi kenakan, lalu menurunkan resletingnya.


Sesuatu yang panjang, besar, serta berurat mencuat dari sana. Clara menggenggam tongkat itu kemudian membuat gerakan mengelus, mengurut serta menarik turunkan genggamannya.


"Hmmmh, ssshh, aaah."


Ferdi merasakan sensasi nikmat yang teramat sangat. Apalagi kemudian bibir cantik istrinya mulai bermain di area tersebut.


"Aaah, sayang."


"Hmmh."


Ia mulai membelai kepala sang istri dengan lembut dan menatapnya dengan tatapan yang nanar. Karena juniornya sudah semakin membesar dan tegang, Ferdi pun menjadi tidak tahan.


Segera saja ia menarik Clara lalu mulai melucuti helai demi helai benang yang melekat di tubuh wanita itu.


Kini Clara berada di atas tempat tidur dengan posisi siap di garap oleh sang suami. Ferdi mendekat, membuat posisi setengah menindih. Kedua kaki Clara ia lebarkan dan dikecupnya kembali bibir wanita itu.


Ia bangun sejenak, menunduk dan melihat ke arah bagian sensitif milik sang istri. Kemudian dengan menggunakan ibu jari ia membuat gerakan memutar dan mengusap-usap di bagian atas dari area tersebut.


"Ferdi, hmmh."


"Iya sayang, enak?. Hmm?"


"Ssshhh, aaah."


Clara makin melebarkan kaki dan mengangkat-angkat pinggulnya sesekali. Ferdi mulai mengurut-urut miliknya, menempelkan benda yang sudah keras itu di bibir milik Clara. Ia membuat gerakan naik turun.


"Ferdi, hmmh."


Mata Clara perlahan sayu dan kepalanya mendongak ke atas sesekali, saking ia tak kuasa menahan serangan nikmat yang diberikan sang suami.


Ferdi mulai memposisikan juniornya dan mendorong tongkat itu untuk masuk, sambil ia berbisik lembut di telinga Clara.


"Kamu sempit, sayang."


"Ssshhh." Clara seketika melayang di udara.


"Aku mau kamu hamil."


"Aaaaah."


Keduanya sama-sama mengerang ketika milik Ferdi telah terbenam sempurna. Clara merasa kan sesak namun nikmat dibawah sana. Apalagi ketika Ferdi mulai membuat gerakan keluar dan masuk secara perlahan.


"Hmmh, ah, ssshhh."

__ADS_1


"Hmmh, Ferdi. Hmmh."


"Sayang, ssshh, aaah."


Tak ada anak-anak di rumah, hingga mereka bisa sedikit mengeluarkan suara.


"Aku sayang kamu, Ferdi."


"Iya sayang, aku juga."


Ferdi terus membuat gerakan maju mundur. Menghantam liang hangat milik sang istri dengan penuh kenikmatan.


Mereka kemudian berganti posisi, dengan hantaman yang sama nikmatnya. Malah Clara seolah makin menggila. Ia turut mengimbangi gerakan sang suami dengan goyangan yang panas.


"Sayang, hhhhh. Aku sayang kamu." ucap Ferdi.


Pria itu terus memompa-mompakan miliknya. Dari satu posisi ke posisi yang lain. Hingga ketika permainan tersebut telah lama berlangsung. Ferdi mengembalikan Clara ke posisi dimana istrinya itu berada di bawah.


Ia kembali membenamkan miliknya, gerakan pun ia percepat karena sudah hampir mencapai puncak.


"Sayang, aku mau..." teriak Clara.


"Sama, hmmh. Aku juga." balas Ferdi.


Pemuda tampan itu terus mempercepat gerakan sampai kemudian,


"Aaaaaaah."


Rasa nikmat yang mereka rasakan naik turun, dari perut ke bawah, kemudian naik lagi ke perut. Lalu keduanya sama-sama terhempas, Clara memeluk Ferdi dengan erat. Keringat tubuh mereka kini membanjir dimana-mana.


***


Beberapa saat berlalu, keduanya telah selesai mandi, berganti pakaian, dan juga mengganti seprai tempat tidur serta sarung bantal yang basah akibat aktivitas tadi.


Mereka kini duduk di ruang makan dengan posisi berhadapan. Berhubung tadi baru pulang dan belum ada apa-apa. Clara membuat pasta dan menggoreng nugget.


"Maaf ya, Fer. Kita makannya cuma ini." ujar Clara.


"Abisnya aku capek banget, tadi kamu mainnya lebih lama dari biasanya." lanjut wanita itu sambil tersenyum.


Ferdi pun tertawa kecil, memang tadi ia agak sedikit lebih lama keluar ketimbang sebelum-sebelumnya. Kondisi tubuhnya sedang baik dan ia memiliki energi lebih.


"Iya, nggak apa-apa koq. Ini juga enak."


Ferdi menyinggung pasta yang dibuat oleh Clara.


"Nggak Perez kan kamu?" tanya Clara lagi.


"Nggak, masa lidah kamu sendiri nggak bisa ngerasain?. Rasanya enak begini." ucap Ferdi.


"Kan enak di lidah aku, belum tentu di lidah kamu Fer."


Clara tetap mencari alasan untuk mendebat suaminya. Namun perdebatan itu terasa manis dan membuat keduanya sama-sama seperti ABG yang baru jatuh cinta.

__ADS_1


"Enak koq, rasanya pas. Jauh ketimbang mama aku yang masak." Ferdi menceritakan soal Aini sambil tertawa.


"Emangnya kenapa kalau mama yang masak?. Waktu aku kesana kayaknya enak-enak aja makanannya."


"Kalau masakannya enak, yang masak pasti papa atau Frans. Kalau nggak, ya beli." tukas Ferdi lagi.


"Tapi wajar sih mama kamu nggak bisa masak, anak orang kaya dan istri orang kaya."


"Ya, yang miskin juga banyak koq nggak bisa masak. Tergantung orangnya aja." ucap Ferdi.


"Tapi papa aku nggak masalah soal itu. Aku juga nggak masalah kalau kamu nggak bisa masak. Yang penting kalau masak air jangan gosong aja." lanjutnya kemudian.


Clara tertawa.


"Masak air bisa gosong tuh, gimana ceritanya?" tanya wanita itu.


"Nova noh, diminta tolong sama Nath bikin kopi karena lagi nggak ada OB. Pancinya sampe bolong."


Clara makin tertawa, Ferdi pun kini ikut-ikutan.


"Airnya kering, terus nggak ketahuan ya?" tanya Clara.


"Iya, sampe akhirnya tuh panci bolong. Emang pancinya lawas sih. Tapi ya karena Nova juga teledor."


Clara hampir tersedak karena hendak tertawa lagi, namun saat ini dirinya tengah mengunyah makanan.


"Gitu, mau cari cowok CEO. Iya kalau dapat CEO nya yang nggak masalah istrinya nggak bisa masak. Dapat CEO yang kayak di film azab, yang dikit-dikit marah mampus lu." ujar Ferdi lagi.


"Iya sih, nggak semua CEO itu baik loh." ucap Clara.


"Tapi nggak semuanya arogan juga, kayak yang gambarkan di novel-novel online. Yang berbudi pekerti luhur juga banyak." Lanjutnya lagi.


Ferdi tertawa.


"Kalau di novel online mah dikit-dikit arogan. Padahal CEO itu rata-rata teredukasi dengan baik. Pas sekolah dan kuliah mereka juga diajarkan cara bersikap baik kepada orang lain." timpal Ferdi.


"Iya emang, banyak CEO baik. Cuma kalau untuk menikah emang nggak segampang di novel online itu juga. Rata-rata keluarga CEO itu lumayan pemilih kalau untuk masalah jodoh. Karena mereka pasti mempertimbangkan bibit, bebet, bobot." ucap Clara.


"Nggak ada yang kayak di novel-novel, office girl dinikahi CEO. Cewek miskin dengan mudahnya menikahi Presdir, mana ada. Bukan aku merendahkan sebuah profesi dan status sosial seseorang ya. Tapi kebanyakan novel-novel sekarang bikin cewek-cewek jadi berkhayal sangat jauh dan tinggi. Pas tau kenyataannya malah kaget dan jadi kecewa berat." lanjut wanita itu kemudian.


"Makanya aku sering ngingetin Nova, supaya nggak terlalu berekspektasi hidupnya akan seindah novel-novel yang dia baca. Menginginkan laki-laki kaya, dan CEO itu sah-sah aja. Jadi cewek emang harus memilih. Tapi aku ajarkan dia untuk jadi cewek yang mandiri juga, biar nggak gampang diremehkan orang. Terutama oleh keluarga si cowok."


"Tapi Nova-nya mau kan di nasehatin?" tanya Clara.


"Ya, kadang di denger sebentar. Ntar kumat lagi." jawab Ferdi sambil tertawa.


"Giliran ditinggalin cowok, karena cowoknya memilih cewek yang spesifikasi lebih tinggi. Dia nangis dan pasti curhat ke kita." lanjut pemuda itu.


Clara tertawa.


"Nanti deh, kalau ketemu temen CEO ku yang baik dan keluarganya nggak banyak tingkah. Aku bakal kenalin ke Nova, siapa tau jodoh." ucap Clara.


Keduanya lalu sama-sama tersenyum dan melanjutkan makan.

__ADS_1


__ADS_2