
"Cla."
"Kenapa Fer?"
"Ngerasa aneh nggak sih kamu?" tanya Ferdi pada Clara, ketika mereka berbaring di dalam kamar.
Hari telah terlewati dengan baik. Saat makan siang Ferdi lagi yang memasak, dibantu anak-anak. Makan malam tadi pun ia yang menghandle.
Kini malam telah beranjak naik, mereka semua akan segera pergi tidur. Sementara anak-anak ada di kamar mereka masing-masing. Mungkin sudah tidur, mungkin juga masih bermain game online.
"Kamu ngerasa aneh kenapa?" Clara balik bertanya pada Ferdi.
"Ya, aneh aja. Sekarang aku udah mau punya anak." ucap Ferdi.
"Di perut kamu ada anak aku, anak kita."
Clara tersenyum.
"Aku juga pernah ngerasain itu dulu." ujar wanita itu.
"Oh ya?" Ferdi yang tadinya menatap langit-langit kamar, kini menoleh pada Clara.
"Iya." jawab Clara seraya melakukan hal serupa. Ia juga menoleh pada Ferdi.
"Itu semacam kegalauan masa transisi." kalau aku bilang." lanjutnya kemudian.
Ferdi diam, namun masih menatap Clara yang kembali melihat ke arah langit-langit kamar.
"Rasanya kayak kamu berada di suatu tempat dan bingung harus gimana. Iya kan?"
"Iya semacam itu, tapi aku senang juga." ucap Ferdi.
Clara kembali tersenyum.
"Rasanya sama persis dengan yang aku rasain dulu. Aku juga saat itu takut, takut kalau aku nggak bisa jadi ibu yang baik." ucapnya.
"Kamu kayak gitu juga nggak?" Ia bertanya pada Ferdi.
"Mmm, agak sih sedikit." ujar Ferdi.
Clara kembali menoleh pada suaminya itu, kini mereka saling berhadap-hadapan. Clara membelai kepala dan rambut sang suami dengan lembut dan penuh rasa keibuan.
"Kamu pasti bisa jadi ayah yang baik, Fer. Yakin sama apa yang aku bilang ini." ujarnya.
Ferdi terus menatap Clara seperti seorang adik yang membutuhkan bimbingan kakaknya. Dan Clara bertindak sebagai penenang dari hati yang dilanda kegalauan.
"Kita akan sama-sama jalani semua ini. Kita saling belajar, aku pun masih terus belajar menjadi ibu yang baik." ucap Clara.
Ferdi mengangguk, ia lalu meraih dan mencium tangan istrinya tersebut dengan lembut.
***
Sementara itu di kamar.
__ADS_1
"Bang, gue nggak bisa tidur."
Axel mengirim pesan ke WhatsApp kedua kakaknya.
"Ya udah sini!"
Arvel dan Anzel membalas pesan adik mereka itu dengan perkataan yang sama.
"Gue harus kemana nih?. Kamar bang Anzel apa bang Arvel?" tanya Axel.
"Terserah." jawab keduanya serentak.
Axel diam dan berpikir.
"Buruan Axel, sebelum kamar gue kunci."
Lagi-lagi Arvel dan Anzel mengirim pesan yang sama, di waktu yang nyaris bersamaan pula.
"Ini kakak gue bisa membaca pikiran masing-masing deh kayaknya." gumam Axel.
"Masa pesannya sama persis semua." lanjutnya lagi.
"Axel."
Arvel dan Anzel kembali mengirim pesan.
"Lo berdua aja bang yang kesini."
"Enak aja, gue nggak pernah ngiler ya kalau tidur. Sarung bantal dan seprai gue ganti tiap dua hari sekali."
"Hahahaha." Anzel membalas dengan tawa.
Diantara ketiga anak Clara, Axel lah yang paling resik. Sementara Arvel adalah tipe orang yang detail sekaligus rapi. Anzel sendiri agak cuek, kadang jika libur ia bahkan tak mandi seharian.
Tetapi jika ada janji dengan teman, apalagi ada gadis yang ia suka. Maka ia akan serius dalam membersihkan tubuh serta membersihkan tempat.
"Bang, kalau lo berdua nggak datang. Gue nggak bakal tidur sampai pagi." ancam Axel.
"Biarin aja gue tipes nanti." lanjutnya lagi.
Tak lama kemudian Arvel dan Anzel tiba di kamar anak itu. Arvel melempar bantal yang ia bawa ke kepala Axel, sementara Anzel memukul adiknya itu dengan guling. Lalu mereka bertiga sama-sama berbaring di kasur Axel yang berukuran king.
"Bang."
Axel memanggil kedua kakaknya yang kini masih sama-sama bermain handphone.
"Hmm?" tanya Arvel dan Anzel di waktu yang nyaris bersamaan.
"Ngerasa aneh nggak sih lo berdua?. Kita udah Segede ini, terus mau punya adek."
Arvel dan Anzel diam, mereka sama-sama berpikir tentang perasaan mereka masing-masing.
"Iya juga sih, sedikit." jawab Arvel.
__ADS_1
"Tapi gue seneng." lanjutnya lagi.
"Kalau lo gimana bang?" tanya Axel pada Anzel.
"Kalau gue berasa kayak lucu aja sih." jawab kakak keduanya itu.
"Dulu waktu gue kecil, gue nggak ngeh mau punya adek. Tau-tau mama nggak ada di rumah, papa bilang di rumah sakit. Pas pulang bawa elo." lanjutnya lagi.
"Tapi sekarang gue sadar dan tau kalau mama hamil. Lucu aja sih menurut gue, kayak gimana gitu." tambahnya.
Axel tertawa. Ia kini membayangkan dirinya bermain dengan anak kecil perempuan. Sementara kedua kakaknya kembali bermain handphone.
Di kamar, Clara mulai terlelap. Ferdi menarik selimut dan menutupi sebagian tubuh dari istrinya tersebut.
***
Esok harinya di kantor, Ferdi mendapat kabar jika aplikasi yang ia kembangkan mendapat perhatian dari beberapa investor.
Nath bilang, ia akan mengadakan sebuah pertemuan besar dan akan mengundang banyak orang. Disana nanti Ferdi diminta untuk mempresentasikan aplikasi jadi ciptaannya tersebut.
Lebih banyak investor lebih baik, ucap Nath. Sebab itu akan berdampak baik bagi mereka semua. Tentu saja Ferdi merasa senang, dan ia merasa ini seperti semacam berkah baginya.
"Rejeki anak lo, Fer." ujar Jordan pada Ferdi.
Ia, Sean, dan yang lainnya telah mengetahui jika Ferdi akan segera di karuniai seorang anak. Dan mereka juga tau jika aplikasi yang tengah dikembangkan teman mereka itu mendapat perhatian dari banyak calon investor.
"Iya, mudah-mudahan makin banyak lagi yang berminat." ucap Ferdi.
"Tuhan tau kalau lo bertanggung jawab atas dua keluarga, Fer. Orang tua lo dan keluarga inti lo." ucap Sean.
Ferdi menganggukkan kepala lalu tersenyum tipis. Mungkin inilah cara sang pencipta alam menolongnya.
Sebab beban yang ditanggung Ferdi di pundaknya sangatlah berat. Meski dari luar ia terlihat baik-baik saja dan terkesan tak begitu memusingkan hal tersebut.
"Oh ya, udah tau belum penyakitnya Nath apa?" tanya Ferdi pada Jordan.
Keduanya menggelengkan kepala.
"Kayaknya dokter udah kasih tau Nath, pas gue sama Sean lagi nggak sempat jagain dia. Dan dia memilih buat menyimpan itu semua." tukas Sean.
Ferdi menghela nafas panjang. Ia benar-benar penasaran atas apa yang menimpa Nath. Karena sampai saat ini atasan sekaligus sahabatnya itu belum diperbolehkan pulang oleh pihak rumah sakit.
"Gue pengen tau banget dia kenapa. Gue khawatir sama dia." ujar Ferdi.
"Kita juga sama, bro. Tapi mau gimana, kita udah coba nanya dan Nath bilang hasilnya belum keluar." Jordan menjelaskan.
"Tapi lo tenang aja. Gue sama Jordan punya rencana buat minta tolong sama Nova. Kali aja pak Nath mau terbuka kalau ngobrol sala cewek." Sean menimpali.
"Sekarang Nova mana?" tanya Ferdi.
"Ya itu, lagi kita tugaskan ke rumah sakit jagain pak Nath." jawab Jordan kemudian.
Lagi-lagi Ferdi menghela nafas panjang. Ia berharap Nova bisa mendapatkan keterangan.
__ADS_1