Terpaksa Menikahi Janda Kaya

Terpaksa Menikahi Janda Kaya
Lagu


__ADS_3

Ferdi beserta ketiga anaknya dan juga Nath akhirnya masuk bioskop. Setelah tadi sempat membeli minuman dan juga makanan.


Axel memesan pop corn ukuran besar dengan rasa karamel. Plus minuman coklat dan beberapa cemilan lainnya. Sedang kedua kakaknya cukup kalem dengan memesan minuman serta pop corn berukuran sedang.


Kedua kakaknya tersebut tak terlalu doyan ngemil, apabila sudah makan besar. Tak seperti Axel yang keinginan makannya selalu ada, meski ia tengah sakit sekalipun.


Axel duduk di sebelah kiri Ferdi, sementara di kanan ada Anzel, kemudian Arvel, dan juga Nath. Mereka menonton dengan fokus.


Setelah film superhero itu selesai, mereka berjalan. Kemudian melihat poster sebuah film lokal bertema keluarga.


"Eh, ini yang kita tonton waktu itu kan bang?. Yang sama temen-temen abang." Axel berkata pada Arvel.


Memang di minggu lalu mereka ada nonton, tapi dengan teman-teman sekolah Arvel. Anzel dan Axel sendiri ikut saat itu.


"Iya." jawab Arvel.


"Film tentang apaan ini?" tanya Ferdi pada anak-anaknya itu.


"Film keluarga." jawab Arvel.


"Jadi tokohnya itu tarok anaknya yang masih bayi di panti asuhan, karena nggak mampu biayain. Terus setelah beberapa belas tahun dia cari anaknya itu lagi. Pengen anaknya ikut sama dia, tapi anaknya nggak mau. Akhirnya ya, dia harus berjuang mengambil hati anaknya itu." ujar Axel.


"Oh, gitu." ucap Ferdi.


Sementara Nath mendadak terdiam membisu.


"Terus endingnya gimana?" tanya Ferdi lagi.


"Anaknya tetap nggak mau." jawab Anzel.


Mereka berbicara sambil terus berjalan keluar dari bioskop.


"Tapi Axel kasihan juga sih sama orang tuanya itu anak." ujar Axel kemudian.


"Kalau abang di posisi tokoh anaknya itu gimana bang?"


Axel melontarkan pertanyaan yang membuat Arvel dan Anzel tersentak lalu diam. Sementara Nath pun makin tenggelam dalam kekakuan.


Pasalnya Arvel seorang anak angkat dan Anzel mengetahui hal tersebut. Nath sendiri adalah ayah kandung yang sengaja menitipkan anak itu pada temannya.


"Ya, abang juga nggak mau lah. Orang yang mengurus dan menghidupi abang itu mama koq."


Arvel menjawab sesimpel itu. Anzel senang mendengar jawabannya, sementara Ferdi hanya menanggapi seperti obrolan yang biasa dan santai. Axel mengangguk-anggukan kepala, sedang Nath hancur.


"Kalau om Ferdi sama om Nath punya anak, tapi keadaanya terdesak. Om pilih membuang anak om, atau cari cara gimana supaya anak itu bisa dipertahankan?" tanya Axel lagi.


Perasaan Nath seperti di cabik-cabik saat mendengar hal tersebut.


"Kalau om sih, tergantung situasinya." ucap Ferdi.

__ADS_1


"Bahaya atau nggak buat si anak. Kalau misalkan om paksa untuk mempertahankan dia dalam asuhan om." lanjut pria itu kemudian.


"Kalau om?"


Axel bertanya pada Nath. Dan saat itu aliran darah Nath serasa berhenti. Sebab ia akan menjawab mengenai hal yang pernah ia lakukan.


"Om akan berpikiran sama dengan om Ferdi." ujarnya.


Axel kembali mengangguk-anggukan kepala. Ia hanya anak remaja yang ingin tau mengenai pandangan orang dewasa mengenai sesuatu. Sama sekali ia tidak sadar jika pertanyaan polosnya melukai salah satu dari orang dewasa tersebut, yakni Nath.


"Eh, karaokean yuk!" Nath mengalihkan topik pembicaraan.


"Mau nggak?" tanya nya lagi.


"Gue sih terserah mereka." jawab Ferdi. Ia kemudian dan Nath menatap Arvel, Anzel, dan juga Axel secara serentak.


"Axel mau."


Remaja itu menjawab duluan. Maka kedua kakaknya hanya mengikuti saja. Karena jika tidak di turuti keinginannya, kecoa seperti Axel akan mengamuk dan terbang-terbang sampai ke rumah nanti.


Akhirnya Nath mengajak mereka untuk pergi ke sebuah karaoke keluarga. Disana mereka bernyanyi dan tentu saja yang paling heboh sejagat adalah Axel. Ia bernyanyi sambil berjingkrak-jingkrak layaknya ubur-ubur yang tersengat belut listrik.


Ferdi, Arvel, dan Anzel pun tertawa. Hingga Nath juga ikut-ikutan terbahak, dan beban batin yang ia rasakan berkurang.


"Om Ferdi ayo duet sama Axel."


Tak lama gantian Anzel dan Arvel yang bernyanyi, lalu Nath dan kembali lagi ke Ferdi atau Axel. Atau mereka bernyanyi bersama secara bergantian.


"Nih, lo lagi bro."


Ferdi menyerahkan mikrofon pada Nath, sebab sekarang adalah gilirannya. Nath kemudian mencari lagu yang ia ingin nyanyikan.


"Ada yang mau duet?" tanya nya ketika lagu yang ia inginkan sudah ketemu. Ia hendak menyanyikan lagu bertajuk "Jealous." Dari Labrinth.


"Nggak, susah ini lagu." seloroh Ferdi seraya memakan kentang goreng yang ada di hadapannya.


"Kalian ada yang bisa?" tanya Nath pada Arvel, Anzel, dan Axel.


"Nggak bisa, om." jawab mereka serentak.


"Tapi tau lagunya?" tanya Nath lagi.


"Tau, cuma nggak bisa nyanyinya." jawab Anzel.


"Kalau bang Anzel nyanyi lagu itu, kecoa pada kabur." ucap Axel.


"Yang ada itu elu." Anzel membela diri. Sementara Arvel dan Ferdi kini tertawa.


Lagu tersebut di putar dan Nath mulai bernyanyi.

__ADS_1


"I'm jealous of the rain


That falls upon your skin


It's closer than my hands have been


I'm jealous of the rain."


Nath memulai lagu itu dengan halus. Membuat Ferdi dan yang lain sontak menghentikan makan. Karena ada semacam perasaan tersentuh di hati mereka masing-masing.


Padahal mereka paling badak untuk urusan berekspresi. Tapi kali ini semacam pengecualian, sebab suara Nath memang bagus dan lebih unggul dari mereka semua.


"I'm jealous of the wind


That ripples through your clothes


It's closer than your shadow


Oh, I'm jealous of the wind, cause."


Nath melanjutkan nyanyian, sambil mengingat kejadian demi kejadian yang ia alami selama ini.


Sama seperti makna lagu tersebut, ia cemburu ketika melihat Arvel berada dalam gendongan Clara ataupun Nando. Sebab ia telah mengikuti dan mengawasi sang anak dari jauh, sejak anak itu masih kecil.


Nath selalu hadir di sisi Clara dan suaminya saat itu. Ia datang sebagai orang tua bayangan dan ikut mengasuh Arvel. Ialah yang selalu membantu apabila Clara tengah lengah atau teledor terhadap anaknya.


Bahkan ia selalu ada di taman bermain, tempat dimana Arvel biasa datangi. Namun agaknya Arvel tak menyadari semua itu, atau mungkin saat ini ia juga sudah lupa.


Nath tak pernah benar-benar meninggalkan anaknya. Bahkan ia sangat senang sekali saat mengetahui Ferdi akan menikah dengan Clara.


Sebab ia tau Ferdi merupakan orang baik dan bisa memberikan sosok ayah bagi anaknya. Ia percaya Ferdi bisa memberikan kasih sayang yang tulus.


"I wished you the best of


All this world could give.


And I told you when you left me.


There's nothing to forgive


"But I always thought you'd come back, tell me all you found was


Heartbreak and misery


It's hard for me to say, I'm jealous of the way


You're happy without me."


Lagi tersebut terus dinyanyikan, dan Nath semakin dalam tengelam di dalamnya.

__ADS_1


__ADS_2