
"Cla."
Glenca si calon menantu Adrian mengirim pesan singkat pada Clara.
"Iya say, kenapa?" jawab Clara.
"Bisa ketemuan nggak?. Ada hal penting nih yang mau gue bicarakan. Soalnya kalau ngomong disini nggak enak." ucap Glenca lagi.
"Mau ketemu kapan?" Clara balik bertanya.
"Hari ini bisa nggak?"
"Oke." jawab Clara.
"Pas pulang kerja ya." lanjutnya kemudian.
"Oke." jawab Glenca.
Maka mereka pun akhirnya bertemu sesaat setelah pulang kerja. Hari itu Glenca membicarakan perihal tawarannya tempo lalu. Mengenai maksud untuk mengenalkan Clara dengan seseorang.
Sebab ia sudah di desak oleh sang calon mertua untuk segera mengatur pertemuan antara Ferdi dan juga Clara.
"Tapi Glen, aku lagi dekat sama seseorang sekarang." Clara berujar seraya mengingat soal Ferdi. Tanpa ia sadari jika Glenca hendak menjodohkan dirinya dengan orang yang sama.
"Oh ya, siapa?" Glenca bertanya pada wanita itu.
"Ada deh." jawab Clara sambil tersenyum dan tersipu malu.
Glenca teringat pada ucapan calon mertuanya, bahwa mereka harus mendapatkan Clara untuk Ferdi. Kini ia khawatir, sebab Clara telah memiliki orang lain.
"Tapi, kamu yakin sama cowok itu?" tanya nya kemudian.
Kali ini Clara menatap Glenca.
"Mmm, maksud aku, yakin dia mau serius?" lanjutnya lagi.
Ucapan Glenca tersebut membuat Clara menjadi agak sedikit ragu. Ia belum tau apakah Ferdi serius atau tidak terhadap dirinya. Sedangkan ia saat ini sedang membutuhkan sosok laki-laki, yang bisa dibuat menjadi suami dadakan.
"Mmm, yakin koq." jawab Clara dengan nada terbata-bata.
"Yakin dia bakalan serius." lanjut Glenca kemudian.
Ia makin terjepit, takut jika proses perjodohan ini tak dapat dilanjutkan. Ia bingung dan harus memutar otak, mencari cara bagaimana semuanya bisa berjalan dengan lancar.
"Gini aja deh, kalau misalkan nanti dia nggak serius atau apa. Kamu hubungi aku aja, yang dari aku pasti serius koq. Dijamin!"
Clara tersenyum, bahkan tertawa kecil.
"Koq jadi kayak perjodohan paksa sih?" canda nya kemudian.
__ADS_1
"Eee, nggak maksa koq. Cuma berusaha menawarkan yang lebih baik aja. Biar nggak kesepian, dan ya gitu deh hehehe."
Glenca menyeruput minumannya, sebab kini ia mulai merasa canggung dan salah tingkah. Sementara Clara masih bersikap santai, menurutnya ini semua sangat lucu. Ia yang jadi janda, tapi orang-orang di sekitarnya lah yang repot mencarikan pasangan baru untuknya.
***
Malam itu Ferdi tengah senyum-senyum sendiri di kamarnya, ketika keheningan mulai menyeruak.
Tadi sepulang kerja, ia sempat berjalan berdua bersama Clara. Tepat setelah Clara bertemu dengan Glenca, mereka janjian untuk makan dan jalan berdua. Lalu sempat pula ada beberapa foto yang mereka ambil di handphone Ferdi.
Pemuda tampan itu kini tengah terbaring sambil memandangi foto tersebut. Seperti remaja yang baru saja jatuh cinta.
"Ferdi."
Tiba-tiba Frans menongolkan kepalanya di pintu kamar. Sebab Ferdi memang kebiasaan selalu lupa mengunci pintu tersebut.
"Apaan?"
Ferdi menjawab sambil buru-buru menutup galeri handphone, supaya Frans tak melihat fotonya bersama Clara.
"Ngapain lu?" tanya Frans seraya mendekat, lalu duduk di pinggir tempat tidur adiknya itu.
"Kagak kenapa-kenapa, emang kenapa?" Ferdi balik bertanya.
"Di suruh makan sama papa, lo." ucap Frans lagi.
"Sama pacar lo ya?" Frans langsung berspekulasi.
"Nggak." jawab Ferdi, namun dengan nada yang tidak meyakinkan.
"Nggak nya begitu." ucap Frans sambil tertawa. Ferdi pun jadi ikut-ikutan tertawa.
"Apaan sih, orang emang nggak."
"Masih kaku aja lo, kayak remaja 14 tahun." ledek Frans kemudian.
Ferdi pun hanya terus tertawa.
"Eh, gue mau pesan kopi nih. Lo mau nggak?" Frans menawari Ferdi.
"Kalau ngopi, mau." jawab Ferdi.
Maka Frans pun menscroll halaman pencarian makanan di akun ojek online miliknya. Kemudian ia memesan kopi, dan memberikan handphonenya pada Ferdi untuk kemudian memilih sendiri.
"Nih, lo pilih mau yang mana." ucap Frans
Maka Ferdi pun memilih. Selang beberapa saat berlalu kopi tersebut tiba. Frans dan Ferdi kemudian menghabiskan waktu di balkon sambil ngopi dan mengobrol.
Tak ada yang terjadi, semua obrolan terdengar santai dan normal. Sampai kemudian Jeffri datang menemui keduanya.
__ADS_1
"Jadi, udah nggak ada waktu lagi?"
Frans bertanya pada Jeffri. Ketika ayahnya itu telah selesai menjelaskan soal perjodohan Ferdi yang harus di percepat. Sedangkan Frans tau jika saat ini Ferdi tengah jatuh cinta pada seseorang.
"Kita sudah terdesak, dan kita membutuhkan bantuan dari perempuan itu secepatnya." ucap Jeffri.
Sementara Ferdi hanya diam, ia benar-benar tak bisa berbuat apa-apa. Ia telah berjanji pada ayahnya itu dari jauh-jauh hari. Bahwa ia akan menerima perjodohan tersebut. Ia tak menyangka jika dirinya akan jatuh cinta pada lain wanita dalam tempo yang begitu cepat.
"Kamu mau bantu papa kan, Fer?"
Jeffri bertanya seraya menatap puteranya itu lekat-lekat, dan Ferdi hanya menunduk pasrah.
"Pa, sebenarnya Ferdi..."
Frans hendak mengatakan jika saat ini Ferdi tengah terlibat hubungan dengan seseorang, namun tatapan mata Ferdi menghalangi laju ucapan kakaknya tersebut. Sehingga Frans pun kini menarik nafas dan menghentikan semuanya.
"Papa tau ini kejam. Tapi saat ini, cuma kamu satu-satunya yang bisa menolong papa dan menyelamatkan kita semua. Papa berharap banyak sama kamu, Ferdi."
Ferdi menghela nafas dan kembali menunduk dalam, begitu pula dengan Jeffri.
"Maafin papa, papa nggak bisa jadi ayah yang baik untuk kamu. Untuk kalian." lanjut pria itu.
"Ferdi ikhlas koq, pa. Ferdi udah janji mau bantu papa."
Frans membuang pandangannya jauh ke depan. Ia tak tega melihat wajah adiknya itu. Sementara Jeffri kini semakin merasa menjadi orang tua paling jahat di dunia.
***
Sama kelabunya dengan suasana rumah Ferdi malam itu, Clara pun terdiam di sudut kamar. Sebab orang kepercayaan ayahnya tiba-tiba saja menelpon dan memberitahu, jika mereka harus bergerak cepat.
Sebelum Nando berbuat hal lebih jauh terhadap cabang perusahaan yang saat ini masih dipegang olehnya.
"Kita nggak berdiam diri terlalu lama, Clara. Kecuali kamu mau merelakan perusahaan itu, untuk sepenuhnya berada di bawah kendali Nando. Dan merelakan kejadian apapun yang akan berlangsung setelahnya."
Begitulah kata-kata yang di dengar oleh Clara. Tentu saja wanita itu tak rela. Meskipun ini adalah bagian dari kesalahan serta keteledoran mendiang ayahnya sendiri.
Ia tak akan mengalah sedikitpun kepada mantan suaminya itu. Apalagi segala sesuatu milik Nando saat ini, ikut dinikmati oleh istri barunya pula.
"Saya sekarang sudah punya pasangan om. Saya akan bicarakan hal ini dengan pasangan saya." ucap Clara.
"Good, setidaknya nikah dulu aja. Yang penting status dulu." ucap orang kepercayaan ayah Clara dengan nada gembira. Ia lega karena Clara akhirnya serius memikirkan hal ini.
Bukan apa-apa, ia juga sangat menyesalkan kebodohan mendiang ayah Clara yang membuat perjanjian dengan sangat terburu-buru, dan tanpa memikirkan kemungkinan buruk ke depannya.
"Pokoknya om tenang aja, besok Clara bicara dulu sama orangnya. Dia pasti mau bantu lah, kalau Clara jelaskan secara rinci."
"Ok, kamu atur aja. Kalau misalkan butuh bantuan, tinggal telpon om aja. Mumpung si Nando saat ini masih lengah, kita harus bergerak cepat."
"Iya om, Clara ngerti." jawab Clara kemudian.
__ADS_1