
"Pokoknya, nanti kita buat suaminya mama nggak betah tinggal disini."
Anzel berucap pada kakak tertua dan juga adik bungsunya. Sejatinya rapat dadakan ini adalah untuk membahas rencana Arvel dan juga Anzel mengenai Ferdi.
Tetapi sebagai seorang adik yang tidak berani melawan, Axel pun terpaksa ikut-ikutan. Meski itu bertentangan dengan apa yang ada dalam benak dan pikirannya.
"Lo setuju kan?"
Anzel bertanya pada Axel. Sebab dari mereka bertiga, Axel terlihat lebih santai menghadapi pertunangan sang ibu. Anzel takut anak itu jadi berpihak pada Clara dan juga Ferdi.
"Iya bang, Axel mah nurut aja apa kata abang."
Axel mencari aman, daripada kena banting oleh Anzel. Sebab kakak keduanya itu adalah seorang atlet judo, yang hobi membanting lawan saat bertanding.
Meski Axel sendiri ikut kelas beladiri, namun levelnya masih rendah dan belum begitu mahir dalam menjatuhkan lawan. Lagipula Anzel adalah kakaknya, ia segan untuk berkelahi dengan saudara sendiri.
"Ya udah, pokoknya kita semua harus kerjasama untuk membuat itu cowok segera menyelesaikan tugasnya. Yakni merebut kembali perusahaan mama yang ada di tangan papa. Abis itu, kita harus pastikan mereka bercerai." ucap Anzel lagi.
Arvel meraih orange jus yang ada di atas meja lalu meminumnya dengan santai. Ini semua adalah idenya, tetapi karena dia sangat pendiam maka Anzel lah yang bertindak sebagai penyambung lidah.
Lagipula Anzel sangat menyetujui ide tersebut. Sebab ia mencurigai Ferdi hanya ingin mempermainkan Clara.
Dibanding kedua saudaranya, Anzel paling hobi nonton film. Ia sering menyamakan sifat orang di dunia nyata dengan tokoh-tokoh dalam film yang ia tonton. Maka dari itu ia gampang curiga pada seseorang.
Beberapa saat berlalu.
Terdengar suara pintu pagar yang dibuka, dan sebuah mobil yang mendarat di depan rumah. Sontak Ketiga anak itu langsung mengintip dari kaca jendela kamar, yang berada di lantai dua tersebut.
Tampak Ferdi keluar dari dalam mobil dan membukakan pintu untuk Clara. Kemudian Clara melangkah sambil membawa plastik berisi makanan untuk anak-anaknya. Sesuai janji, Ferdi membelikan untuk ketiga anak itu.
"Kamu nggak mau mampir dulu?" tanya Clara pada Ferdi.
"Nggak usah, udah malam juga. Nggak enak nanti diliat orang, belum nikah udah datang di jam yang segini larut." ucap Ferdi.
"Ya udah, kamu hati-hati di jalan ya." ucap Clara.
Ferdi tersenyum, pria itu lalu mendekat dan Clara pun demikian. Dari atas Arvel, Anzel dan Axel memperhatikan. Axel senang, sementara kedua kakaknya mulai emosi.
"Aku pulang ya." ucap Ferdi sekali lagi.
Clara mendekatkan bibirnya, Ferdi langsung mencium wanita itu. Sementara di atas ketiga anak Clara kaget dengan bibir yang sama-sama menganga.
__ADS_1
"Praaank."
Terdengar suara benda jatuh di lantai atas. Ferdi dan Clara yang kaget langsung menghentikan aktivitas, lalu mendongak ke arah sana. Saat itu buru-buru Arvel menutup gorden.
Sejatinya Anzel sengaja menjatuhkan barang, karena saking emosinya melihat sang ibu dicium oleh sang calon ayah tiri.
"Itu suara apaan?" tanya Ferdi pada Clara.
"Paling juga anak-anak lagi main di atas." jawab Clara.
Ferdi tersenyum, begitupula dengan Clara. Tak lama keduanya kembali berciuman, dan setelah itu Ferdi benar-benar pamit. Clara masuk ke dalam, usai Ferdi berlalu dan pintu pagar telah kembali ditutup. Wanita itu langsung mencari anak-anak.
"Abang, adek. Ayo makan dulu!"
Clara berteriak dari lantai bawah, sambil menyiapkan makanan di meja makan.
Tak ada jawaban.
"Bang?"
"Adek?" panggilnya sekali lagi.
Tak lama Arvel, Anzel, dan Axel pun turun sambil saling memberi kode. Clara tak tau jika anak-anaknya tersebut tadi melihat adegan ia dan Ferdi diluar.
Clara bertanya pada ketiga anaknya itu. Arvel dan Anzel saling tatap, kemudian Axel yang bertindak sebagai tameng.
"Tadi lagi main mobile legends, ma. Nanggung soalnya." ucap anak itu.
Padahal tadi di atas Arvel dan Anzel masih emosi, dan ingin marah pada Clara. Namun mereka juga takut, sebab Clara termasuk salah satu ibu yang galak. Jadilah mereka agak lama turun kebawah, untuk menetralkan perasan. Daripada ujungnya jadi bertengkar.
Sementara Axel tak memiliki masalah apa-apa. Baginya ciuman adalah hal wajar, anime yang ia tonton saja ada yang berciuman ketika mereka berpacaran. Teman-teman di sekolahnya pun ada yang kepergok melakukan hal tersebut.
Sementara kedua kakaknya lebih kepada khawatir. Khawatir akhirnya sang ibu malah benar-benar jatuh cinta pada Ferdi. Sebab Clara pada awalnya beralasan menikah, hanya untuk kepentingan merebut perusahaan. Clara tak jujur mengenai perasaan cintanya yang memang sudah tumbuh untuk pria tersebut.
"Ya udah nih, makan dulu!" ucap Clara.
Ketiga anak itu duduk di kursi yang biasa mereka gunakan dan mulai mengambil makanan.
"Ma, tadi dari mana aja sama om Ferdi?"
Axel melontarkan pertanyaan yang membuat kedua kakaknya memberi lirikan menyeramkan. Seketika ia sadar jika telah membuat kedua saudaranya itu merasa tidak nyaman. Namun pertanyaan sudah terlanjur ia keluarkan.
__ADS_1
"Nggak kemana-mana, tadi ada urusan sebentar." ucap Clara.
"Oh."
Axel hanya memberi tanggapan singkat. Sebab bila di perpanjang, ia khawatir akan di colok matanya dengan garpu oleh Arvel dan juga Anzel.
"Kamu kenapa nanyain om Ferdi?"
Arvel dan Anzel kian emosi, sementara Axel seolah terjebak untuk terus membicarakan hal tersebut.
"Aaa, nggak ma. Nanya doang. Mama tau nggak kalau adek kudisan?"
Ia mengalihkan pembicaraan, namun malah membuat semua orang jadi mengerutkan kening.
"Kudisan?. Koq bisa?" tanya Clara heran.
Kedua kakaknya kini berada dalam mode awkward. Mereka tau Axel hanya ingin menghentikan Clara dalam membahas Ferdi.
"Ntar mama liat ya, kita obatin." ucap Clara.
"Kudisnya di pantat, ma."
Axel berimprovisasi, sebab ia memang tak memiliki penyakit kulit tersebut.
"Oh ya udah, nanti kamu obatin sendiri. Mama masih nyimpen salep ini itu koq di atas."
"Emangnya mama pernah kudisan?" tanya Axel lagi.
"Nggak, tapi kan kamu tau kalau mama selalu simpan berbagai jenis obat di kotak P3K. Persiapan kalau-kalau ada yang begini." jawab Clara.
Axel mengangguk-anggukan kepalanya.
"Lagian kenapa sih kamu bisa begitu. Pasti suka jorok kamu ya?." Clara menjudge sang putra.
"Jarang mandi sih kamu, jarang ganti baju, dalaman dan lain-lain. Iya kan bang?"
Clara bertanya pada dua anaknya yang lain, kemudian mereka sama-sama mengangguk untuk mendukung kebohongan Axel.
"Tuh kan kamu. Awas ya kalau jorok lagi. Kamu itu udah remaja loh dek, nggak malu ganteng-ganteng berpenyakit kulit?"
"Hehehe."
__ADS_1
Axel nyengir bajing, ia senang karena telah berhasil mengalihkan topik pembicaraan. Sebab jika sepanjang makan ia terjebak obrolan mengenai Ferdi, maka sudah di pastikan ia akan dikirim ke Afrika oleh kedua kakaknya. Hidup berkelana menjadi Tarzan bersama hewan-hewan liar disana.