
"Hueeek."
"Hueeek."
"Hueeek."
Ferdi yang baru tiba di rumah terkejut, mendengar suara seperti muntah dari dalam.
"Hueeek."
"Hueeek."
"Hueeek."
Buru-buru ia membuka pintu dan masuk. Ia mendengar suara itu dari dalam kamar mandi kamar. Segera saja ia menuju ke sana dan melihat sudah ada Anzel dan Axel di muka pintu kamar mandi tersebut.
"Om." sapa Axel.
"Mama kenapa nak?" tanya nya kemudian.
"Itu." ujar Axel lagi.
Ferdi meletakkan tas laptop yang ia bawa da segera masuk ke dalam. Disana ia melihat Arvel yang tengah mengusap punggung ibunya.
"Sayang."
Ferdi mendekat pada Clara dan ikut membantu istrinya itu.
"Hueeek."
Clara muntah cukup banyak. Kemudian ia coba berdiri dan dibantu oleh suaminya. Arvel memencet flush dan menutup kloset. Clara beralih ke wastafel dan berkumur serta mencuci muka.
Ferdi mengambil tissue. Membantu mengelap wajah dan bibir dari istrinya itu. Clara diam sejenak, merasakan perutnya apakah masih ingin muntah atau tidak.
"Masih mau muntah?" tanya Ferdi.
Clara menggelengkan kepala. Wajahnya pucat dan ia terlihat lemas. Kemudian Ferdi membantu istrinya itu berjalan menuju tempat tidur. Disana Clara di posisikan setengah berbaring.
Ferdi membuatnya bersandar pada bantal. Sebab jika langsung merebahkan diri sepenuhnya, di khawatirkan Clara akan kembali muntah. Ferdi mengambil air putih di luar, lalu memberikannya pada Clara.
"Kamu minum dulu." ujarnya kemudian.
Clara mereguk air putih tersebut secara perlahan. Rasa mual di perutnya sedikit berkurang.
"Anak-anak, makasih ya." ujar Clara pada Arvel, Anzel dan juga Axel.
"Iya ma, sama-sama." Arvel mewakili kedua saudaranya.
"Mama butuh bantuan lain?" tanya nya kemudian.
"Nggak sayang, kalian balik ke kegiatan kalian yang tadi gih. Maafin mama udah ganggu kalian ya."
"Nggak apa-apa koq, ma." ujar Anzel.
"Buat dedek kita rela diganggu koq." Axel menimpali.
Clara dan Ferdi tersenyum.
"Nanti kalau butuh bantuan panggil aja kita." ujar Arvel.
__ADS_1
"Iya sayang."
"Ketiga anak itu beranjak."
"Makasih ya bang, dek." ujar Ferdi.
Arvel dan Anzel mengangguk, meski sikap mereka masih cenderung dingin. Namun mereka sudah mau berinteraksi dengan Ferdi. Sementara Axel kini menatap ayah tirinya itu.
"Oh iya, kamu juga abang. Om lupa, sorry." tukas Ferdi.
Axel lalu tersenyum dan berlalu mengikuti kedua kakaknya. Tinggallah kini Ferdi dan Clara saja di kamar.
"Maafin aku ya."
Ferdi duduk di sisi tempat tidur sambil berujar pada sang istri.
"Gara-gara aku, kamu jadi kayak gini." lanjutnya lagi. Clara mendadak tersenyum, meski ia masih terlihat lemah.
"Kamu sih, ganjen jadi cowok." ujarnya kemudian.
"Abisnya kamu cantik, jadi bawaannya pengen nyuntik." seloroh Ferdi.
"Makanya aku melendung, di suntik mulu." tukas Clara.
Mereka lalu sama-sama tertawa. Clara mendekatkan bibirnya ke bibir Ferdi, lalu keduanya pun berciuman.
Hormon kehamilan Clara yang meningkat tajam, membuat wanita itu mencium suaminya penuh gairah. Ferdi bisa menangkap itu semua.
"Sayang, ini belum tiga bulan loh. Masih rentan." ujarnya mengingatkan Clara dan mengingatkan diri sendiri.
Clara tertawa kecil.
"Iya dong, kan aku baca-baca artikel juga di google.
Clara menghela nafas.
"Iya, aku juga nggak bakal ambil resiko koq. Walau jujur aku panas banget ngeliat kamu." ucapnya.
Ferdi diam. Ia sekarang bertambah yakin kalau anak yang dikandung Clara adalah benar anaknya. Pertama, ia percaya Clara setia dan usia kandungan wanita itu sesuai dengan perhitungan pernikahan mereka. Kedua, Clara jadi ganjen seperti dirinya.
"Kenapa?" tanya Clara seraya menatap Ferdi yang terdiam menatap dirinya.
"Kamu ganjen." ujar Ferdi kemudian.
Lalu keduanya sama-sama tertawa.
"Hueeek." Clara kembali seperti ingin muntah.
"Kamu mau ke kamar mandi lagi?" tanya Ferdi.
"Nggak usah, ini mualnya masih bisa di handle koq." ucap Clara.
Ferdi lalu mengusap perut istrinya itu.
"Jangan sering-sering bikin mama mual ya nak. Kasihan loh, mamanya. Jadi anak baik ya." ujarnya kemudian.
Clara tersenyum mendengar semua itu. Ia kembali mendekatkan bibirnya dan mereka kembali berciuman.
***
__ADS_1
"Mama kasihan juga ya, bang. Axel nggak tega ngeliatnya."
Axel berujar pada Arvel dan juga Anzel. Saat ini mereka bertiga tengah membaca buku di ruang tengah.
"Namanya juga hamil. Hampir semua ibu hamil begitu katanya." ujar Arvel.
"Iya, tapi Axel kasihan aja sama mama. Ini semua gara-gara om Ferdi." lanjutnya.
Arvel dan Anzel tertawa.
"Ya iyalah gara-gara om Ferdi, masa gara-gara papa. Kan udah cerai." celetuk Anzel.
Kemudian Ferdi melintas ke arah dapur.
"Nah loh." Ledek Arvel dan Anzel pada Axel sambil tertawa.
"Ntar tersinggung aja om Ferdi." ujar Anzel.
"Ya, sorry." ujar Axel dengan suara pelan tapi nyengir.
"Om Ferdi udah makan?" Tiba-tiba Axel bertanya.
"Belum, kenapa?" tanya Ferdi.
"Itu tadi Axel sama abang bikin toping nasi gila. Udah kita pisahin buat mama sama om Ferdi. Kalau mau sih, kalau nggak mau juga nggak apa-apa." tukas Axel.
Ferdi menilik ke meja makan, dan membuka penutup sebuah mangkuk bening yang cukup besar. Tampak di dalamnya terdapat toping nasi gila, namu lebih nampak seperti toping semesta atau seisi bumi.
Pasalnya setahu Ferdi toping nasi gila biasanya ada telur, sosis dan juga pokcoy. Tapi ini isinya sangat ramai. Mulai dari ketiga hal itu tadi ditambah cumi, udang, ayam suwir, brokoli, wortel, crab stick, dan lain-lain.
Tampilannya agak menyeramkan, karena dimasak oleh remaja laki-laki yang bukan ahli memasak. Namun Ferdi menghargai semua itu.
"Iya, nanti om makan. Mau bikinin mama susu dulu." ujarnya.
"Oke." jawab Axel.
"Hayo loh, om Ferdi tersinggung itu sama omongan lo yang tadi." Anzel terus menggoda Axel sambil tertawa.
"Iya tuh, keliatan dari mukanya." Arvel menimpali.
Hati Axel pun terusik, ia menyesali mulutnya yang tak bisa di rem. Ferdi membuat susu, sementara pikiran Axel berkecamuk. Di tambah kedua kakaknya yang selalu saja meledek.
Ferdi selesai dan hendak kembali ke kamar. Axel sudah tidak tahan lagi karena merasa tak enak hati. Akhirnya ia memberanikan diri untuk membahas hal tersebut.
"Om Ferdi marah sama omongan Axel tadi?" tanya nya dengan nada takut-takut.
"Yang mana?" Ferdi balik bertanya seraya menoleh dan berusaha keras menahan senyum.
"Yang, yang itu. Soal Axel bilang mama mual gara-gara om Ferdi."
Arvel dan Anzel memalingkan wajah ke arah lain sambil tertawa tanpa suara.
"Nggak koq, emang itu gara-gara perbuatan om." ucap Ferdi sambil tertawa.
Ia kemudian berlalu kembali ke kamar. Axel bernafas lega sementara Arvel dan Anzel cekikikan.
"Lo berdua sih, bang. Kan gue jadi malu sama om Ferdi." gerutunya kemudian.
Arvel dan Anzel high five dan terus saja tertawa.
__ADS_1