Terpaksa Menikahi Janda Kaya

Terpaksa Menikahi Janda Kaya
Mata Sembab Nath


__ADS_3

Pagi hari, sayup-sayup Arvel terbangun. Ia menatap seorang pria yang ada di depan pintu. Namun saat itu pandangan mata Arvel masih blur.


Ia tak bisa melihat jelas orang tersebut. Tetapi rasa-rasanya ia seperti mengenali. Merasa pernah melihat, namun entah dimana. Arvel terus memperhatikan hingga orang itu berbalik membelakangi dan pergi meninggalkan kamar.


Lalu pandangan mata remaja itu kini beralih pada Ferdi yang tertidur di kursi, dengan kepala terjatuh ke atas tempat tidurnya.


"Om Ferdi."


Arvel menyentuh bahu Ferdi dan mencoba membangunkan pria itu.


"Om."


"Ya." Ferdi terbangun dalam keadaan kaget.


"Ada apa?. Kamu butuh sesuatu?" tanya Ferdi kemudian.


Arvel menggeleng.


"Ini udah siang." ujarnya dengan nada dingin.


"Om bukannya kerja." lanjutnya lagi.


Seketika nyawa Ferdi pun mulai berkumpul dan ia melihat hari telah cerah. Ferdi pergi ke kamar mandi untuk mencuci muka, kemudian kembali pada Arvel.


"Mama mana?" tanya Arvel yang tak melihat kehadiran Clara.


"Mama semalam pulang sama adek-adek kamu. Dia ada rapat penting pagi ini, dan adek-adek kamu ada ujian praktek di sekolah. Tadinya mau balik lagi kesini, abis nganter adek-adek kamu. Tapi om pikir mending mama di rumah aja dulu. Biar dia kesini lagi aja hari ini."


Arvel diam, namun ia mengerti dan lebih baik memang seperti itu. Ketimbang melihat ibunya bolak-balik disaat waktu pun sudah malam.


Tak lama seorang dokter dan perawat pun masuk untuk mengecek keadaan remaja itu. Ferdi masih mendampingi dan mendengarkan dokter berbicara.


"Semoga cepat sembuh ya."


Dokter tersebut mengakhiri pemeriksaan dengan ucapan doa.


"Terima kasih, dok."


Arvel dan Ferdi berucap di waktu yang nyaris bersamaan. Tak lama jadwal makan pagi pun tiba.


"Kamu nggak ada mau ke toilet dulu atau apa?" tanya Ferdi.


"Biar Arvel sendiri aja, om." jawabnya.


"Atau minta tolong perawat nanti." lanjut remaja itu.


"Yakin kaki kamu udah nggak apa-apa?. Bisa jalan sendiri?"


Arvel mengangguk.


"Ya udah, kamu makan dulu gih!"

__ADS_1


"Bentar lagi."


"Oke."


Ferdi membiarkan remaja itu bertindak senyaman dirinya sendiri. Ia tak mau terlalu mengatur-ngatur. Sebab yang paham akan kondisi tubuhnya hanya dokter dan Arvel sendiri.


"Om kalau mau pulang, pulang aja. Karena udah siang juga." ujar Arvel.


Ferdi mengangguk.


"Ya udah, nanti siang paling mama kesini. Om baru bisa kesini lagi sore nanti."


Arvel mengangguk. Ferdi pun pamit pulang.


"Om."


Arvel memanggil Ferdi ketika ayah tirinya itu sudah di muka pintu.


"Ya." jawab Ferdi sambil berbalik.


Masih dengan cara bicaranya yang dingin, Arvel pun kembali berkata-kata.


"Makasih." ujarnya kemudian.


Ferdi hanya mengangguk lalu berbalik dan menghilang di balik pintu. Ia kini menelpon dan mencari keberadaan Nath. Nath mengatakan padanya untuk menunggu di parkiran. Ferdi pun lalu menanti disana. Hingga tak lama setelahnya bos Ferdi itu pun tiba.


"Nath, koq mata lo sembab gitu sih?"


"Gue itu alergi dingin, Fer." jawab Nath pada Ferdi.


"Semalam di koridor rumah sakit itu dingin banget." tukasnya lagi.


Ferdi diam, kadang kantor pun sangat dingin, namun Nath baik-baik saja. Tapi memang di ruangan bosnya itu, air conditioner selalu hidup dengan dingin yang seadanya. Tak seperti di luar. Dimana Ferdi dan teman-temannya adalah hantu di dingin, yang tak bisa bekerja jika air conditioner tak sampai mengembun.


"Ada obatnya nggak sih?" tanya Ferdi lagi.


Nath yang kini telah memasang seat belt tersebut, mulai menghidupkan mesin mobil.


"Ntar juga ilang sendiri." jawabnya.


Tak lama mobil mereka pun mulai bergerak meninggalkan halaman parkir rumah sakit.


***


Ferdi pulang dulu ke rumah, dan ternyata rumah telah sepi. Clara serta anak-anak lainnya sudah berangkat. Ia segera mandi kemudian bergegas menuju kantor. Sementara di kantor Jeffri, Adrian menemui pria itu dan berbicara padanya.


"Bro, beberapa hal yang lo percayakan ke gue udah gue urus dengan baik." ucap pria itu.


"Good." jawab Jeffri.


"Kita harus memanfaatkan uang dari Ferdi untuk bisa memperbaiki sebagian dari keadaan kita saat ini." lanjutnya lagi.

__ADS_1


"Tapi kita masih cukup banyak bidang yang mesti dibenahi." ujar Adrian.


"Ya, semoga dengan adanya bagian yang sudah diperbaiki dan sudah berjalan normal kembali. Pemasukan kita jadi bisa stabil lagi dan bisa membantu memperbaiki bagian lain. Dan semoga Ferdi bisa membantu lebih dari ini." ucap Jeffri.


Adrian pun mengangguk, lalu mereka melanjutkan percakapan sejenak. Kemudian kembali pada kesibukan masing-masing.


***


Siang harinya, Clara hendak izin dari kantor untuk melihat keadaan Arvel. Namun ternyata hari itu dirinya benar-benar sibuk. Akhirnya ia memutuskan untuk pergi ke rumah sakit nanti saja, setelah jam pulang kantor tiba.


"Cla, kamu udah dirumah sakit?" tanya Ferdi siang itu melalui WhatsApp, ketika jam istirahat telah tiba.


"Belum, Fer. Kantor masih sibuk banget ini. Tapi dia baik-baik aja kan, terakhir kamu liat?"


"Baik-baik aja, dokter juga bilang gitu tadi ke aku." jawab Ferdi.


"Oh ya udah, syukur deh kalau gitu. Belum bisa banget, Fer. Kerjaan udah kayak apaan tau, banyak banget." ucap Clara lagi.


"Iya sayang, aku ngerti."


"Menurut kamu aku ini ibu yang baik bukan sih?"


Tiba-tiba Clara mengirim pesan yang menyiratkan, jika saat ini ia mendadak menjadi insecure.


"Koq kamu ngomong gitu?" Ferdi balik bertanya.


"Dulu Nando sering bilang, aku tuh bukan ibu yang baik. Karena sebaik-baiknya perempuan itu adalah perempuan yang di rumah. Ngurus anak sama suami. Bukan perempuan kayak aku yang kerja menggantikan posisi laki-laki."


"Itu akal-akalan Nando aja kali, buat menguasai perusahan kamu seutuhnya. Jadi yang dia serang mental kamu sebagai seorang ibu."


Clara terdiam membaca jawaban dari Ferdi. Kenapa ia tak berpikir sampai sana selama ini. Benar kata suaminya itu, mungkin dulu Nando melakukan semua itu agar Clara merasa down mentalnya, dan akhirnya memilih di rumah.


Kemudian menyerahkan tampuk kepemimpinan terhadap perusahaan kepada sang suami, secara suka rela.


"Brengsek."


Clara mengumpat dalam hati sambil mengingat wajah Nando. Rasa geram dan kesalnya terhadap pria itu terakumulasi dengan yang sebelum-sebelumnya.


"Jaman sekarang, udah nggak bisa menilai seorang perempuan baik dari dia cuma di rumah doang apa nggak. Di rumah doang selama 24 jam, ngurus anak dan suami. Tapi ujungnya malah curhat di sosmed dan mengeluh soal capeknya jadi ibu rumah tangga. Nggak ikhlas dengan apa yang dia kerjakan. Ya sama aja bohong."


Ferdi kembali mengirim pesan pada Clara.


"Dirumah doang 24 jam tapi mendidik anak dengan kata-kata kasar. Suka memaksakan kehendak terhadap anak. Kalau anak nggak nurut langsung menggunakan kata-kata pamungkas, anak durhaka dan lain-lain. Nggak bisa juga dikategorikan sebagai sebaik-baiknya perempuan. Ini menurut aku ya." ujar Ferdi lagi.


"Jaman sekarang udah nggak bisa menilai perempuan dari situ. Di luar sana, ada banyak perempuan yang nggak punya perusahan. Mereka mungkin jualan, jadi buruh pabrik, jadi ojek online dan lain sebagainya buat menafkahi anak. Di saat suami mereka mungkin nggak mampu menafkahi karena sakit. Bisa jadi lagi kepincut perempuan lain dan ngasih nafkah ogah-ogahan. Atau cerai dan mantan lakinya ghosting nggak kasih nafkah ke anak. Apakah pantas mereka disebut bukan sebaik-baiknya perempuan?. Hanya karena mereka keluar rumah untuk mencari nafkah. Nafkah loh ini yang dicari, buat anak. Bukan kesenangan pribadi."


Clara terus membaca pesan dari suaminya itu, dengan mata berkaca-kaca menahan tangis. Betapa selama ini ia selalu menghakimi diri sendiri saat sibuk dan tak bisa punya banyak waktu mengurus anak-anaknya.


"Kamu harus sudah melupakan apa yang dulu matan suami kamu pernah lakukan atau katakan. Sebab kamu hidup di masa sekarang dan aku adalah suami kamu. Aku bukan Nando, aku Ferdi. Yang akan selalu mendukung kamu, selama jalan yang kamu ambil itu benar dan tidak merugikan orang lain. Masalah anak kita urus sama-sama."


Air mata Clara benar-benar terjatuh membasahi pipinya. Namun terasa hatinya kini membesar dan segala insecure yang ia rasakan tadi, mendadak lenyap.

__ADS_1


__ADS_2