
"Ini dari siapa ya, pa?" tanya Axel pada Ferdi.
Sementara Ferdi tak menjawab, karena otaknya kini tengah berpikir keras. Bagaimana mungkin ia menghubungkan hadiah misterius tersebut dengan Nath. Sedang Nath sendiri tak memiliki hubungan apa-apa dengan sang anak tiri.
"Pa."
Axel membuyarkan lamunan Ferdi.
"Kalian bawa aja ini ke dalam." ucap Ferdi kemudian berlalu.
Ia kemudian menyambangi Clara yang masih tertidur di kamar. Clara belum tau mengenai apa yang kini terjadi di luar.
"Fer, kamu udah bangun?" tanya wanita itu sambil mengucek mata. Tampak ia masih begitu mengantuk serta malas.
"Iya sayang." ucap Ferdi seraya mendekat.
Tak lama wanita itu beranjak lalu mencuci muka. Drone telah dibawa oleh Arvel, Anzel dan juga Axel ke atas. Clara membuat sarapan berupa pancake dan meletakkannya ke atas meja makan.
Tak ada satupun yang memberitahu dirinya mengenai hadiah yang kini telah berada di kamar Arvel tersebut. Namun setelah sarapan tiba-tiba Ferdi mendekat. Saat itu Clara baru saka selesai mencuci piring.
"Sayang, aku boleh liat foto anak-anak waktu mereka kecil nggak sih?" tanya Ferdi.
"Oh ya, kamu belum liat ya?" tanya Clara.
"Belum." jawab Ferdi sambil tersenyum. Tanpa Clara ketahui jika suaminya itu memiliki maksud terpendam.
"Ko tumben pengen liat?" tanya nya lagi.
"Nggak tau, tiba-tiba penasaran aja sih.
"Tapi foto mereka tuh di album, kalau di handphone ada di iCloud hp yang lama. Hp lamanya lupa aku simpan dimana. Ntar aku cari dulu."
"Ya udah nggak apa-apa, liat yang di album aja." ujar Ferdi.
"Ayo sini!" Clara mengajak sang suami menuju ke atas.
Ferdi kemudian mengiring di belakang sambil menjaga kalau-kalau istrinya itu salah mengambil langkah. Mereka menuju ke perpustakaan mini yang dimiliki oleh rumah tersebut.
"Kreeek."
Clara membuka pintu ketika mereka telah sampai, kemudian masuk. Ferdi mengiring dibelakangnya. Wanita itu berjalan diantara rak-rak yang berisi buku, lalu ia mengambil sebuah album foto. Ketika halaman pertama album foto tersebut di buka, Ferdi pun terkejut.
"Degh."
"Ini siapa?" tanya nya dengan jantung yang berdegup kencang.
Ia menunjuk sebuah foto anak bayi yang berusia beberapa bulan.
__ADS_1
"Ini Abang Ar." ucap Clara sambil tersenyum.
Jantung Ferdi kian berdetak cepat. Ia kini memperhatikan foto itu sekali lagi. Foto itu sama persis dengan apa yang ia temukan di ruangan Nath waktu itu.
"Nah kalau ini bang An sama Axel."
Clara menunjukkan foto-foto Anzel dan Axel yang juga sama lucunya dengan foto Arvel. Ferdi turut memperhatikan, namun benaknya kini begitu berkecamuk. Apa mungkin yang ia pikirkan saat ini benar adanya.
"Lucu-lucu kan mereka." ucap Clara.
"Iya sayang." jawab Ferdi sambil tersenyum.
"Mamaaa, liat kaos kaki Axel nggak?"
Tiba-tiba terdengar suara Axel dari muka kamarnya. Ia berteriak ke arah bawah, karena tak tau jika kini Clara berada di lantai yang sama.
"Mamaaa."
"Iyaaa."
Clara buru-buru keluar dan meninggalkan ruang baca. Ferdi dengan cepat mengambil foto Arvel, lalu turun ke bawah dan menyimpannya di dalam tas kerja. Tak lama ia kembali naik dan menjemput Clara yang bagus saja selesai menemukan kaos kaki Axel.
"Ayo sayang, turun!. Aku mau mandi." ucapnya kemudian.
Clara pun menurut. Mereka lalu turun ke bawah dan pergi mandi.
***
Axel mempertanyakan perihal drone yang tadi mereka terima. Ia, Arvel, dan juga Anzel saat ini telah berada di dalam mobil yang menuju ke sekolah.
"Nggak tau, gue juga bingung." jawab Arvel.
"Mulai dari laptop, sampai ke ini barang juga." lanjutnya kemudian.
"Apa dari pemuja rahasia?. Cewek yang suka atau tergila-gila sama lo secara diam-diam." tanya Axel lagi.
Ia mengajukan pertanyaan yang sama, dengan saat dimana laptop gaming diterima oleh sang kakak waktu itu.
"Masa iya cewek yang suka sama gue duitnya sebanyak itu?. Kalaupun ada, emang ga ketahuan orang tuanya gitu." ucap Arvel.
"Iya juga sih."
Axel terdiam, begitupula dengan Arvel sendiri. Sedang Anzel kembali terpikir akan keluarga kandung sang kakak.
***
Ferdi tiba di kantor beberapa saat sebelum jam kerja di mulai. Ketika itu telah ada beberapa karyawan lain seperti Jordan, Sean dan juga beberapa diantaranya.
__ADS_1
Namun Nath belum datang dan Ferdi kemudian menyelinap ke ruangan bosnya itu, lalu melakukan sesuatu hal disana.
Selang beberapa saat ia keluar dan kembali ke meja kerjanya. Lalu bersikap seolah tak terjadi apa-apa.
Nath kemudian tiba di kantor dan menyapa semuanya. Pria itu masuk ke dalam ruangan dan Ferdi perlahan mengikuti.
Nath tertegun melihat foto Arvel yang ada di lantai, kemudian mengambilnya dan memasukkan foto tersebut ke dalam sebuah buku.
"Degh." batin Ferdi bergemuruh.
Benar dugaannya. Foto yang dimiliki Nath, dengan foto yang ia letakkan tadi adalah foto orang yang sama. Tidak sekedar mirip karena masih bayi. Ferdi pun jadi kian curiga pada atasannya itu.
"Fer, lo ngapain sih?"
Nova muncul dan bertanya.
"Ah, nggak." ucap Ferdi pada wanita itu lalu nyengir.
Ia kemudian kembali ke meja kerjanya dan menghidupkan komputer. Tadinya Ferdi hendak bertanya mengenai drone yang dibeli Nath kemarin. Ia ingin berpura-pura meminjam, tetapi takut Nath malah curiga terhadapnya.
Sebab jika memang drone tersebut adalah yang dikirim ke rumah. Bisa jadi Nath akan berpikir, mengapa Ferdi menanyakan benda itu. Karena mustahil jika Ferdi tak mengetahui adanya hadiah misterius, yang sampai kepada sang anak tiri.
Ferdi mengurungkan niat untuk membahas soal drone. Dan lagi masalah foto tadi sudah merupakan sebuah bukti yang kuat. Yang mengarah ada kecurigaan bahwa Nath merupakan orang yang ada hubungannya dengan Arvel.
***
"Pak."
Jessica yang telah lama menyimpan sebuah rahasia, kini memberanikan diri untuk menemui Nando di ruangannya. Meski pria itu masih penat dan stress akibat pemberitaan tentang dirinya di media sosial.
"Ada apa, Jes?" tanya Nando dengan nada lesu dan seperti tidak bersemangat lagi menjalani semua.
Jessica mendekat lalu duduk di hadapan bos sekaligus calon pionnya tersebut.
"Saya mau ngomong sesuatu sama bapak." ujar Jessica.
Nando menggerakkan tangan seolah mempersilahkan.
"Tempo hari saya ketemu kakaknya Ferdi dan ceweknya di sebuah tempat makan. Dan saat itu saya dengar, mereka bilang Ferdi menikahi istrinya hanya demi uang."
Nando kaget lalu menatap Jessica. Namun ekspresinya tetap ia jaga agar terlihat sedingin mungkin.
"Bapak mantan suami dari istrinya Ferdi kan?" Jessica pura-pura memastikan. Nando masih menatap perempuan itu tanpa memberi reaksi apa-apa mengenai pertanyaan tersebut.
"Jadi pak, perusahan bapaknya Ferdi itu lagi bangkrut. Mereka butuh uang untuk menyelamatkan semuanya. Maka dari itu mereka mengunakan Ferdi untuk bisa mengeruk harta Clara."
Jessica terus berbicara panjang lebar, sementara kini Nando bagaikan orang yang menemukan kartu AS.
__ADS_1