Terpaksa Menikahi Janda Kaya

Terpaksa Menikahi Janda Kaya
Dinner Dingin


__ADS_3

"Fer."


"Iya Nath."


Nathan mendekati Ferdi setelah beberapa saat jam kantor kembali di mulai.


"Lo pake mobil yang ini. Yang lama mana kuncinya, nanti biar di service."


Nathan menyerahkan kunci mobil lain kepada Ferdi dan meminta kunci mobil yang sebelumnya.


"Loh, kan yang nabrakin gue. Biar gue yang bawa ke bengkel." ujar Ferdi.


"Nggak usah, kan ada anggaran kantor buat kalau kecelakaan atau kerusakan di kendaraan." ujar Nath lagi.


Ferdi baru teringat akan hal tersebut. Ia pun lalu menyerahkan kunci mobil yang sebelumnya.


"Nggak apa-apa nih?" tanya nya memastikan.


"Nggak apa-apa, udah sini!" ujar Nath lagi.


Kunci mobil tersebut pun akhirnya di serahkan. Kini Ferdi memegang kunci yang baru.


***


"Axel, besok lo ada pelajaran kesenian kan?"


Anzel mengingatkan adiknya itu.


"Iya bang." jawab Axel sambil menghabiskan telur gulung terakhirnya.


"Ada disuruh bawa apa nggak?" tanya Arvel.


"Ntar udah jam 12 malem baru ngomong. Bang besok di suruh bawa bendera pusaka, naskah asli teks proklamasi, kapal nabi Nuh, mumi Fir'aun Ramses II." seloroh remaja itu lagi.


Anzel tertawa.


"Udah jam 12 malem baru ngomong, bang besok disuruh bawa batu dari bulan sama cincin Saturnus. Gimana mama yang ikut denger nggak marah coba." ujarnya kemudian.


Axel nyengir. Ia memang sering lupa jika guru kesenian menyuruhnya membawa apapun itu. Kadang setelah jam 12 malam ia baru ingat, jika besok di suruh membawa tanah liat, atau alat lukis dan sebagainya.


Hal tersebut yang sering membuat Clara beserta kedua anaknya yang lain pusing. Kalau sudah begitu supir pun akan disibukkan. Karena di telpon oleh Clara dan disuruh mencari apa yang Axel minta.


"Ada sih, baru inget Axel. Besok disuruh bawa play doh." ujarnya.


"Ya udah beli dulu di toko buku nanti. Mumpung kita belum balik ke rumah." ujar Arvel.


"Kita ke mall yang biasa ya pak." tukasnya lagi.


"Oke." jawab sang supir.


"Dari pada bapak di susahin sama nih bocah di tengah malam." Anzel menimpali. Sang supir pun lalu tertawa.

__ADS_1


Maka mereka pun kini bergerak ke arah mall yang dimaksud.


***


Sesuai janji setelah pulang kerja, Ferdi menjemput Clara untuk dinner. Saat itu sempat terjadi miss Komunikasi. Ferdi menunggu Clara lama sekali di parkiran, sementara Clara menanti sampai bosan di lobi kantor.


Ferdi lupa menyampaikan pada istrinya tersebut jika mobilnya telah berganti. Namun setelah itu mereka pun akhirnya bertemu dan bersama meninggalkan pelataran parkir kantor.


Ferdi mengajak Clara dinner di restoran yang terletak di samping sebuah mall besar. Ia sudah mereservasi tempat beberapa jam sebelum itu. Kini ia dan Clara duduk di salah satu meja dan saling berhadapan.


"Suasana disini cozy banget ya." ucap Clara pada sang suami.


"Kamu suka tempatnya?" tanya Ferdi.


"Suka." jawab Clara sambil tersenyum.


Tak lama seorang pelayan datang dan membawa buku menu. Ferdi dan Clara pun mulai memilih apa yang hendak mereka makan dan minum.


Mereka menentukan pesanan dan tak lama kemudian si pelayan kembali datang, lantaran di panggil oleh Clara. Mereka memesan makanan dan minuman lalu menunggu sambil berbincang.


"Selamat malam."


Seorang pelayan lain datang dengan membawa buket bunga mawar merah dan menyerahkannya pada Clara. Clara terkejut dan meraih bunga tersebut lalu berterima kasih. Ia tau itu adalah bunga pemberian Ferdi.


"Kamu suka?" tanya Ferdi kemudian.


"Ya." jawab Clara sambil tak henti tersenyum.


Tak lama makanan pesanan mereka datang. Lalu mereka memulai dinner tersebut dengan tetap menjaga percakapan.


***


"Bang, laper."


Axel merengek pada kedua kakaknya, ketika ia telah berhasil mendapatkan play-doh yang disuruh oleh sang guru kesenian.


"Ya udah, ayok makan!" ajak Anzel seraya melirik ke sebuah restoran siap saji yang gak jauh dari mereka.


"Nggak mau yang ini, mau yang di sebelah sana. Yang di luar."


"Sama aja Axel. Ini sama yang di luar itu restorannya sama." ujar Anzel dengan nada geram.


"Beda, itu tempatnya gede dua lantai."


Anzel sudah sangat ingin melempar adiknya itu ke planet lain. Namun Arvel mencari jalan aman.


"Ya udah nggak apa-apa, kita sana aja. Tinggal jalan kaki ini." ujarnya kemudian.


Axel senang keinginannya di turuti.


"Gue getok juga papa lu." ucap Anzel dengan nada penuh gregetan.

__ADS_1


Mereka lalu keluar dari mall tersebut dan menuju ke sebuah restoran cepat saji yang ada di samping. Mereka kemudian makan di tempat itu .


"Bang, beliin pak supir nggak nih?" tanya Axel pada Arvel dan juga Anzel.


"Iya nanti kita beliin." jawab Arvel.


"Makan aja dulu." lanjutnya lagi.


Mereka pun meneruskan makan hingga habis. Setelah itu mereka mengorder untuk supir. Ketika mereka berjalan kembali ke arah mall, sebab supir mereka parkir disana. Tiba-tiba turun hujan dengan deras dan sangat cepat.


Arvel, Anzel, dan Axel segera berlarian ke arah sebuah restoran lain yang ada di sisi kiri mereka dan berteduh di sana.


"Duh, kenapa mendadak begini sih." ujar Axel seraya menatap langit.


Sementara di dalam restoran tersebut, Ferdi dan Clara yang tengah mengobrol tanpa sengaja melihat ketiga anak mereka.


Ferdi dan Clara kaget dan saling menatap satu sama lain. Kemudian mereka sama-sama mengetuk kaca. Ketiga anak itu menoleh dan tak kalah terkejut. Ferdi dan Clara memberi mereka kode untuk masuk.


Axel segera memasukkan makanan untuk supir ke dalam tas, karena biasanya restoran seperti itu tak memperbolehkan membawa makanan dari luar. Mereka kemudian masuk dan dipersilahkan duduk oleh Ferdi dan juga Clara.


"Kalian dari mana?" tanya Clara seraya membersihkan kepala Axel yang basah dengan tissue.


"Dari makan di sebelah." jawab Arvel.


"Dari nemenin anak ini beli Play-Doh sebelum itu. Di suruh sama guru kesenian katanya." Anzel menimpali.


"Beneran dek?" tanya Clara memastikan.


"Iya ma, bener." jawab Axel.


"Itu aja Anzel koq yang ngingetin dia." ucap Anzel kemudian.


"Kalau nggak, dia baru bakal inget jam 12 malam nanti." lanjutnya kemudian.


Axel nyengir, Ferdi tertawa kecil mendengar hal tersebut. Sebab ia juga pernah mengalami ketika masih SD.


"Emang ini, Fer. Kalau ada di suruh guru baru ngomong sama aku atau abangnya malem-malem." ucap Clara.


"Gimana nggak pada emosi." celetuk Arvel.


Mereka pun lalu tertawa-tawa. Tak lama sebuah mobil masuk dan parkir di halaman depan restoran. Seorang pria dan seorang wanita berlarian ke arah pintu lantaran hujan masih turun dengan derasnya.


Pria dan wanita itu dihampiri oleh pelayan dan dibawa masuk. Sebab ia telah mereservasi tempat sebelum itu.


Ia kemudian berjalan, dan matanya tanpa sengaja menatap ke arah keluarga Clara yang tengah berbincang sambil tertawa-tawa.


"Nando, kamu ngeliatin siapa?"


Wanita yang bersamanya bertanya pada Nando.


"Ah nggak." jawab Nando.

__ADS_1


Mereka kemudian berjalan mengikuti arahan si pelayan. Namun yang jelas wanita yang bersama Nando itu bukanlah istrinya Ninis, melainkan wanita lain.


__ADS_2