
Clara sedikit kesal pada tantenya yang menelpon tadi. Bahkan kekesalannya tersebut masih tersisa sampai detik ini. Dimana harusnya ia sudah menyiapkan wajah segar dan penuh senyuman. Sebab sang suami dan anak-anak sebentar lagi akan pulang.
"Kreeek."
Terdengar suara pintu yang dibuka. Clara sontak mengubah ekspresinya menjadi penuh senyuman. Ternyata Arvel yang pulang.
"Ma."
Remaja itu menyapa Clara, seraya melangkah ke arah tangga.
"Koq sendirian, bang. Axel mana?" tanya Clara. Sebab ia tak melihat Anzel.
Biasanya anak itu selalu mengekor, karena hampir setiap hari mereka selalu pulang dan pergi bersama.
"Tuh lagi di depan rumahnya Dipo, anak pak RT. Lagi bantuin benerin konsol game punya dia." jawab Arvel.
"Oh ya udah." ucap Clara. Sebab rumah pak RT hanya berjarak beberapa rumah dari rumahnya.
Arvel kemudian naik ke atas, sementara Clara sibuk memasukkan gula, kopi, dan krimer ke dalam jar plastik. Sebab persediaan kebutuhan tersebut telah habis.
***
Ferdi mengendarai mobil dengan kecepatan sedang. Hingga tak lama sampailah ia di sebuah jalan yang cukup sepi. Dari kejauhan ia melihat seperti Axel yang tengah berjalan kaki.
Dan ketika di dekati, remaja tersebut memanglah benar merupakan Axel. Ia berjalan sendirian di jalan itu. Sementara agak jauh di belakangnya ada juga beberapa anak sekolah yang baru pulang, tetapi mereka tidak satu sekolah dengan Axel. Sebab seragam yang mereka pakai berbeda.
"Tiiiin."
Ferdi membunyikan klakson, Axel terkejut dan menoleh. Ia melihat ke arah kaca yang di buka oleh Ferdi.
"Eh, om Ferdi." ujarnya dengan wajah sumringah.
Ferdi berhenti, kemudian Axel masuk ke dalam mobil. Tak lama mesin mobil kembali dihidupkan.
"Koq kamu jalan sendirian, abang mana?" tanya Ferdi setelah mobil mulai merayap.
"Dari tadi Axel tungguin, mereka nggak ada lewat. Udah pulang duluan mungkin, atau bisa jadi juga sekolahnya belum bubaran." jawab remaja itu.
"Oh, oke." tukas Ferdi.
"Tapi kenapa kamu milih jalan kaki, kan bisa naik kendaraan umum, taxi atau ojek online." lanjutnya kemudian.
"Axel sih mau-mau aja, om. Tapi kan sekolah Axel nggak boleh bawa handphone. Mau order pake apa coba?"
"Oh iya, om lupa." ujar Ferdi lagi.
__ADS_1
Mobil terus melaju hingga beberapa menit kemudian mereka tiba di depan rumah.
"Om, Axel disini aja. Ntar abang ngeliat." ujarnya meminta.
Ferdi pun menghentikan laju kendaraan dan membiarkan Axel turun.
"Koq lo turun disini?" Tiba-tiba terdengar suara Anzel dari arah belakang.
"Jegik!"
Axel terjebak kali ini. Seperti tercebur ke dalam lumpur hisap. Stuck, tak bisa kemana-mana. Hanya bisa menunggu pasir tersebut menghisapnya ke dalam.
"Takut ketahuan lo ya, sama gue sama abang Ar?" Anzel langsung menjudge. Seketika aliran darah Axel seolah berhenti sampai disitu.
"Om mau ke depan sana bentar, mau beli rokok." ucap Ferdi dari dalam mobil.
"Makanya Axel om turunkan duluan." lanjutnya lagi.
"Denger sendiri kan, bang?" Axel jadi bisa membela diri, padahal tadi posisinya sudah di ujung tanduk.
"Lagian Axel ketemu om Ferdi itu dijalan. Axel tadi pulang jalan, bukan sengaja minta jemput. Mau minta jemput pun pakai apa coba?. Handphone aja Axel nggak bawa." ujarnya lagi.
Anzel menghela nafas dan berlalu ke dalam. Tak lama kemudian Axel pun turut serta. Sementara Ferdi melewati dulu rumah tersebut untuk berpura-pura membeli rokok. Agar kebohongannya tak ketahuan. Beberapa saat kemudian barulah ia kembali ke sana.
***
"Gimana tadi kerjanya, Fer?"
Clara memulai interogasi pertamanya sebagai istri. Setelah Ferdi bekerja untuk pertama kalinya pula pasca menikah. Posisi mereka kini sama-sama berbaring dan saling berhadapan di atas tempat tidur.
"Baik." ujar Ferdi lalu tersenyum.
"Kamu sendiri gimana seharian ini?. Tadi kamu ngapain aja?" Ia balas melontarkan pertanyaan pada sang istri.
"Banyak hal yang aku lakuin. Ya masak, ya beresin rumah." jawab Clara kemudian.
Ferdi kembali tersenyum.
"Makasih ya, makanannya enak banget loh." ucap Ferdi. Tadi mereka telah makan bersama anak-anak.
"Oh ya?. Emang enak banget rasanya?. Perasaan biasa aja." ucap Clara.
"Itu tadi enak, sayang."
Ferdi berkata jujur, sebab masakan yang dibuat Clara memang enak menurutnya.
__ADS_1
"Makasih ya." ujar Clara dengan wajah yang tersipu merah. Ia nyaris menitikkan air mata, namun takut di kata lebay.
Sebab ada hal yang menyakitkan di masa lalu. Dimana setiap kali ia menyajikan masakan, selalu saja salah di mata Nando. Padahal itu hanya masakan yang ia buat untuk sarapan pagi. Sebab Clara hanya sempat membuat sarapan kecuali weekend.
"Ini oilnya over banget." ujar Nando.
"Ini pake bawang putih ya?. Aku nggak suka bawang putih."
"Ini keasinan."
"Ini hambar."
"Bisa masak nggak sih?"
Begitulah kata-kata yang sering di lempar mantan suaminya itu padanya. Makanya setiap pagi Clara jadi selalu menyediakan roti tawar dan selai saja.
Setelah sikapnya berubah seperti itu Nando pun kembali marah. Ia mengatakan sarapan hanya roti dan roti saja, sangat membosankan.
Tingkah dan arogansi Nando sebagai suami benar-benar membuat Clara muak dan ingin muntah.
"Nanti kalau sempat, aku masakin lagi ya." ujar Clara bersemangat.
"Semisal ketika aku pulang kerja nggak terlalu malam atau weekend." lanjutnya kemudian.
"Iya sayang, nggak masalah." tukas Ferdi.
***
Sementara Ferdi bahagia, namun tentu saja tidak bagi Jessica. Saat ini perempuan itu tengah menanggung sesal akibat perbuatannya sendiri. Sesal tersebut lalu berujung dendam dan menyalahkan.
Dalam hati dan benaknya ia menuding Clara telah ambil kesempatan, untuk caper pada Ferdi dan merebut Ferdi dari dirinya.
Padahal jika tidak ada Clara, meskipun pernah berbuat kesalahan berupa selingkuh. Clara yakin betul Ferdi masih akan mudah memaafkan dan menerima kembali.
Tinggal memohon dan meminta maaf saja sambil menangis. Pasti semuanya beres. Namun semua menjadi sulit ketika Ferdi memiliki pilihan, dan yang memberi pilihan itu adalah Clara. Akhirnya Ferdi memutuskan meninggalkan Jessica dan memilih wanita itu.
"Lo liat aja nanti, Clara. Kita akan liat sampai mana rumah tangga lo sama Ferdi. Nggak usah kepedean lo bakal selamanya sama dia." gumam wanita itu.
"Gue akan buat perhitungan dan akan gue buat Ferdi ninggalin lo. Gue yakin gue akan punya cara untuk mewujudkan itu semua." lanjutnya lagi.
Ia kemudian menarik nafas dan melemparkan tatapan penuh kemarahan ke suatu sudut. Tepatnya ke sebuah foto dirinya dan Ferdi yang masih terpajang di dinding.
"Sekarang lo silahkan ketawa-ketawa dan bahagia dulu. Habis ini lo akan menangis, ketika Ferdi menceraikan lo."
Jessica lalu mereguk minuman keras atau minuman beralkohol, yang sejak tadi sudah berada dalam genggaman tangannya.
__ADS_1