
"Oh gini aja kalau nggak."
Axel masih belum berhenti membahas nama adik barunya kelak.
"Fera aja gimana namanya?" tanya nya kemudian.
"Kan pas tuh, Ferdi-Clara." lanjutnya lagi.
Arvel dan Anzel diam.
"Kayak nama tante-tante." ujar Arvel sambil tertawa.
"Iya anjir, vibes nya kayak lagi di toko kelontong. Ketemu cici-cici bernama Fera yang jual sembako." Anzel menimpali.
"Tiba-tiba seseorang dari meja samping mereka beranjak, karena telah selesai makan.
"Dokter Fera." seseorang memanggil dokter tersebut.
Seketika Arvel, Anzel, dan Axel terdiam. Baru saja mereka mengomentari nama Fera. Kini didekat mereka ada seorang dokter dengan nama yang sama.
Ketiganya lalu bergegas meninggalkan tempat itu, sebelum keluar keringat dingin lebih lanjut. Kebetulan acara makan mereka telah selesai dan minuman mereka bisa di take away.
"Elu sih, bang." ujar Axel pada Arvel sambil nyengir. Saat ini posisi mereka telah cukup jauh.
"Lu mancing - mancing." Arvel membela diri.
"Hehehe." Axel kembali nyengir.
Mereka terus berjalan, tiba-tiba mata Axel menangkap seseorang yang masih diingatnya. Orang itu berdiri di suatu sudut dan melihat ke arah mereka bertiga.
"Bang, itu kan cewek yang di depan rumah kita?"
Axel menilik ke suatu arah. Arvel dan Anzel refleks mengikuti pandangan adik mereka itu. Si wanita yang dimaksud langsung membuang muka. Ia tidak lagi mengenakan masker, namun masih memakai baju yang sama seperti saat mengintai di depan rumah Clara.
Arvel hendak menyusul dan mencari tau siapa wanita itu. Namun kakinya yang masih sakit menghalangi langkahnya.
"Biar gue aja, bang."
Anzel seakan memahami maksud sang kakak. Ia pun lalu beranjak menyusul si wanita.
"Kenapa harus di samperin sih, bang?" tanya Axel.
"Takutnya orang jahat, Xel. Atau suruhan papa buat apa-apain mama."
"Iya juga sih. Tapi kata mama itu Jessica, mantan om Ferdi."
"Ah serius?. Masa mantannya om Ferdi kayak lebih tua gitu."
"Lah mama aja lebih tua dari om Ferdi."
"Nggak tua-tua amat juga, ini mah kayak udah mau empat puluhan atau bahkan lebih." ujar Arvel.
"Iya kali ya, suruhan papa." ujar Axel lagi.
"Makanya." tukas Arvel.
Sementara itu Anzel yang menyusul terus berjalan, meski wanita itu kini menjauh dan berjalan cepat.
"Mbak tunggu!"
Anzel berhasil menyusul dan menyalip serta menghentikan wanita itu. Lalu wanita itu pun menatap Anzel.
"Umur kamu berapa?. tanya nya kemudian.
Anzel bingung, mengapa tiba-tiba saja wanita itu menanyakan usianya.
__ADS_1
"Saya lima belas tahun." ujarnya.
"Anda kenapa di depan rumah saya dan seperti mengintai. Sekarang anda juga ada di sini." lanjutnya kemudian.
"Yang satunya, yang sama tingginya dengan kamu. Dia usianya berapa?"
Anzel semakin bingung.
"Mbak ini siapa sih?" tanya nya penasaran.
"Mbak orang suruhan papa saya?" tambahnya.
"Dia itu anaknya siapa?"
Lagi-lagi wanita itu melontarkan pertanyaan yang aneh. Tapi Anzel mengerti dia yang dimaksud itu adalah Arvel. Karena sebelumnya si wanita menanyakan soal Arvel. Anzel berpikir lalu,
"Degh."
Batin remaja itu tersentak. Ia telah mengetahui jika Arvel adalah anak adopsi, tapi tidak dengan Axel. Dan sekarang ada seorang wanita yang mempertanyakan perihal usia dan Arvel itu anak siapa. Anzel mendadak gemetar kali ini.
"Dia abang saya. Anak kandung mama dan papa saya. Anda ada perlu apa sampai menanyakan usia kami berdua. Anda siapa?" Anzel mencecar wanita itu. Tak lama wanita itu pun berlalu, tanpa memberi keterangan apa-apa.
"Siapa?"
Arvel bertanya pada Anzel ketika adiknya itu telah kembali.
"Dia bilang lagi mencari rumah tantenya, bang." ia berbohong.
"Siapa tantenya?" tanya Arvel lagi.
"Sri Sekartanti." jawab Anzel asal-asalan.
"Oh."
Mereka lalu melanjutkan langkah.
Tiba-tiba Axel nyeletuk, Arvel jadi terdiam dan berpikir. Sementara Anzel memejamkan mata sambil menarik nafas antara kesal dan lelah. Kenapa Axel harus nyeletuk disaat kondisi sudah tenang seperti ini.
Ia sangat takut wanita itu tadi adalah ibu Arvel yang datang untuk mengambil kakaknya tersebut. Anzel tak akan rela jika mereka dipisahkan.
"Udalah ngapain dipikirin." ujar Anzel.
"Tapi kan takutnya itu orang bahaya, Zel." ujar Arvel pada Anzel.
"Kalau dia sampai mau mencelakakan mama gimana?. Karena takutnya itu orang suruhan papa."
Anzel bersyukur kakaknya berpikir ke arah sana. Dan ia berharap jangan pernah Arvel memikirkan perihal siapa orang tua kandungnya.
"Iya ntar kita cari tau lebih lanjut. Kita siap-siap dulu, kan mau pulang." ujar Anzel.
"Iya deh." tukas Axel diikuti Arvel yang menarik nafas agak dalam.
Mereka bertiga akhirnya kembali pada Clara dan juga Ferdi.
***
"Kamu kenapa?" tanya Nadia pada Frans, ketika akhirnya mereka bertemu untuk makan bersama.
"Salah nggak sih aku marah ke om Adrian, yang menurut aku terlalu memaksa papa buat menekan Ferdi."
"Soal keuangan itu?" tanya Nadia lagi.
Frans sudah bercerita panjang lebar pada calon istrinya tersebut, mengenai Ferdi yang awalnya dipaksa menikah.
"Iya, aku kasihan sama Ferdi. Sementara aku kamu liat sendiri. Dari kerjaan tambahan, aku paling bisa kasih papa dua ratus sampai tiga ratus juta. Nggak bisa lebih."
__ADS_1
"Itu aja udah banyak, Frans. Dua ratus-tiga ratus juga itu bukan daun loh, uang." ujar Nadia lagi.
"Iya dan sekarang mereka mau nge-push Ferdi supaya bisa kasih duit lebih lagi. Aku khawatir dia jadi cekcok rumah tangganya nanti."
Nadia menghela nafas.
"Jujur kalau aku di posisi Clara, udah ngasih 10M tapi masih di push juga. Aku bakalan marah besar dan nggak akan aku bantu lagi." ucap Nadia.
Mereka taunya uang tersebut dari Clara, dan bukan Nath.
"Aku cuma pengen Ferdi bahagia dan menjalani rumah tangga normal, layaknya rumah tangga pada umumnya." tukas Frans.
"Aku jadi kakak nggak guna banget, nggak bisa melindungi dia." lanjutnya lagi.
Nadia kembali menarik nafas, kali ini ia mengusap punggung kekasihnya itu.
"Kita makan dulu ya, nanti kita obrolin lagu dengan serius. Yang penting perut terisi dulu, biar bisa berpikir jernih." ujar Nadia.
Frans mengangguk, tak lama pesanan mereka pun tiba.
***
"Ma, perut mama sakit nggak?"
Axel yang duduk di belakang bersama dua kakaknya bertanya pada Clara, yang saat ini duduk disisi Ferdi.
"Nggak, biasa aja. Cuma tadi tuh mual." jawab Clara.
"Kayak orang asam lambung gitu ya ma?" tanya nya lagi.
"Iya."
"Tapi perut mama nggak sakit, ada dedek bayinya gitu?"
Axel terus saja kepo, Clara kembali hamil di saat ketiga anaknya telah remaja. Jadi mau tidak mau ia harus menjelaskan dengan cara yang benar kepada mereka, terutama Axel.
"Nggak koq, nggak berasa apa-apa kalau sekarang. Nanti kalau udah gede di dalam, baru tuh suka bergerak dedeknya." tukas wanita itu.
"Terus sakit, ma?"
"Kadang sakit kalau dia nendang." ucap Clara.
"Dulu kamu juga gitu di perut mama." lanjutnya lagi.
"Abang Anzel sama abang Ar juga?"
Arvel agak terdiam, Anzel ingin rasanya menggetok kepala Axel dengan kunci Inggris. Tapi anak itu tidak mengetahui perkara Arvel yang sesungguhnya. Clara jadi agak sedikit tak enak perasaan, takut kalau Arvel berkecil hati.
"Ya semua anak di dalam perut ibunya pasti gerak."
Ferdi menyelamatkan Clara.
"Kalau nggak gerak, itu yang harus di khawatirkan." lanjutnya lagi.
"Oh."
Axel mengangguk-anggukan kepalanya.
"Tapi nggak sepanjang waktu kan ma?. Axel tendangin perut mama."
Kali ini Clara tertawa.
"Ya nggak, sesekali aja. Sisanya lucu, suka getar-getar gitu. Apalagi kalau mama ajak ngobrol." ujarnya.
"Kadang kalau kalian nakal, rasanya pengen mama telan lagi aja. Dulu waktu kecil kalian lucu-lucu. Pas gede, kadang ngeselin banget sampe ke ubun-ubun."
__ADS_1
Arvel, Anzel dan Axel tertawa kali ini. Begitupula dengan Ferdi dan juga Clara sendiri. Hari beranjak naik, dan mereka akan segera tiba di rumah.