Terpaksa Menikahi Janda Kaya

Terpaksa Menikahi Janda Kaya
Bagaimana


__ADS_3

"Gimana, gimana?"


Igor yang tak hadir di acara Ferdi kemarin, kini bertanya pada Frans.


"Cewek yang lo taksir itu ternyata adalah cewek yang mau di jodohkan bokap lo ke Ferdi?" tanya nya lagi.


"Ya."


Frans menjawab dengan nada setengah gusar, lalu kemudian ia menghisap batang rokok yang terselip di antara kedua jarinya.


"Ya lo pepet aja lagi, toh Ferdi juga nggak mau kan di jodohin?"


Frans menarik nafas.


"Masalahnya, ternyata Ferdi dan cewek itu udah jadian sebelum mereka di jodohkan." ucapnya kemudian.


"Hah?" Igor mengerutkan kening.


"Maksud lo mereka itu udah saling kenal duluan gitu?" tanya nya tak percaya.


Frans mengangguk, dan kembali menghisap batang rokok miliknya. Igor tampak bingung, namun kemudian ia pun tertawa-tawa.


"Kenapa lo ketawa?" tanya Frans heran. Tapi Igor masih terus berlanjut.


"Lucu, bego." ujarnya lagi.


"Lucu apanya?"


"Ya, mereka udah saling ketemu terus jadian. Tau-tau mereka dijodohkan. Apa nggak lucu kejadiannya?"


"Nggak, biasa aja." ucap Frans ketus.


Igor kemudian menatap sahabatnya itu. Ia mengerti pastilah perasaan Frans menjadi kacau balau. Sebab pemuda itu mencintai Clara.


"Lo marah nggak ada gunanya, bro. Mereka saling mencintai." ucap Igor membuat Frans kini terdiam.


"Lagian kalaupun mau lo pacarin juga. Si Nadia mau lo tarok dimana?. Clara nya sendiri pun mau lo tempatkan dimana?. Lo nggak mungkin kan ninggalin Nadia, dengan segala apa yang sudah dilakukan keluarganya terhadap keluarga lo selama ini."


Frans makin terdiam.


"Lo egois, kalau masih mau Clara juga. Mau lo jadiin selingkuhan si Clara?. Karena lo nggak bisa ninggalin Nadia. Kan kalau gitu kasihan dua-duanya. Kasihan Nadia dan kasihan Clara nya juga. Udah paling bener dia sama Ferdi."


Frans kembali menghela nafas dan menghisap batang rokoknya berkali-kali. Ia masih enggan mengakui kalau semua ucapan Igor itu benar. Ia masih sakit hati mengapa Ferdi yang mendapatkan Clara dan mengapa Clara juga jatuh cinta pada Ferdi.


***


"Frans mana sih?"


Ferdi bertanya pada sang ayah, ketika ia akhirnya membeli beberapa seserahan untuk Clara. Ia telah keluar dari rumah sakit dan tengah dalam persiapan melamar wanita itu.


"Katanya masih di jalan." ucap Jeffri.

__ADS_1


"Koq lama banget, bukannya di jam segini nggak macet." gerutunya lagi.


Ferdi memang selalu tak bisa jauh dari saudaranya itu, dalam keadaan apapun. Tak lama Frans tiba dan langsung datang mendekat.


"Lo dari mana aja sih?" tanya Ferdi pada kakaknya itu.


"Tadi gue pecah ban di jalan." ucap Frans. Namun Ferdi selalu tau jika kakaknya itu tengah berbohong.


"Lo bohong, gue bisa ngerasain koq." ujarnya kemudian.


Maka Frans pun menarik nafas panjang dan menatap Ferdi.


"Gue pecah ban di jalan, Ferdi." ujarnya sekali lagi.


"Lo berantem kan sama Nadia, makanya muka lo bete gitu."


Ferdi langsung menjudge ke arah sana dan Frans memanfaatkan momentum dengan menganggukkan kepala. Ia tak ingin Ferdi tau mengenai perasaannya yang terluka akibat Clara.


"Berantem kenapa lagi lo?" tanya Ferdi ingin tau.


"Biasalah, lo kayak nggak tau cewek aja tukang ngambek."


Frans tak sepenuhnya berbohong soal itu, saat ini juga memang Nadia tengah marah padanya. Akibat sikap yang ditunjukkan Frans membuat Nadia merasa aneh. Namun Frans sendiri tidak memikirkan hal tersebut, melainkan terpikir akan Clara yang ia cintai.


"Lo ajak baikan aja, biar nggak rusuh terus." ucap Ferdi sekali lagi.


Frans mengangguk, sehingga Ferdi pun kini berhenti mengurusi hal tersebut. Mereka lalu lanjut berbelanja sesuai daftar list yang telah di tulis oleh Aini. Daftar list tersebut kini ada di tangan Jeffri.


***


Anzel bertanya pada Axel, diikuti tatapan mata Arvel yang tajam dan dalam.


"Mana Axel tau, koq abang An sama Abang Ar kayak nggak percaya gitu?" Axel balik bertanya.


"Ya karena kan diantara kita bertiga, lo yang paling dekat dengan mama. Lo yang berpotensi di curhatin mama mengenai siapa cowok yang saat ini lagi dekat sama dia." Anzel kembali berujar.


"Kagak bang, Axel nggak tau. Mama nggak ada cerita apa-apa sama Axel."


"Beneran?" Arvel kini ikutan bersuara.


"Bener bang, kalau tau juga pasti Axel kasih tau ke kalian."


"Oke."


Anzel kembali berujar, namun tatapan matanya dan mata Arvel belum terlepas dari anak itu. Mereka masih curiga jika Axel sudah tau bahkan sudah mengenal calon ayah tiri mereka. Padahal sejatinya ia pun sama tidak tahu.


"Emangnya kalau tau, abang Ar sama Abang An mau ngapain sama calon suaminya mama?"


"Mau kita intimidasi." jawab Anzel.


"Kalau ternyata orangnya gede, tinggi dan badannya jadi terus jago beladiri gimana?" tanya Axel lagi.

__ADS_1


"Ya tetap akan kita intimidasi, ngapain takut." Arvel menimpali.


"Emangnya bang Ar sama bang An berani?"


"Berani." ucap keduanya serentak.


"Ngapain takut?" ucap Anzel menambahi.


"Kalau Axel sih, takut bang. Masalahnya nggak enak sama mama. Lagian mama juga pasti mencak-mencak, kalau kita nggak bersikap baik sama calon suaminya." ucap Axel lagi.


"Terus lo takut gitu?" tanya Anzel pada Axel.


"Ya coba aja kalau abang berani. Axel mah ngekor aja." ucapnya lagi.


Maka Arvel dan Anzel pun kompak diam, sambil menahan kekesalan dalam hati. Sangat sulit memang, untuk mengajak seorang Axel bersatu dalam hal apapun itu.


***


"Lo udah ketemu anak-anaknya Clara, bro?"


Sean bertanya pada Ferdi, ketika akhirnya mereka bertemu. Saat itu Ferdi telah kembali dari membeli seserahan.


"Belum." ucap Ferdi seraya menyalakan sebatang rokok.


"Sama sekali?"


"Sama sekali."


"Kalau mereka nggak setuju gimana?" Jordan menimpali pertanyaan Sean.


"Itu dia yang gue takutkan." jawab Ferdi.


"Gimana sih caranya deketin bocil." tanya nya kemudian.


"Umur berapa sih anaknya si Clara?" Jordan balik bertanya.


"SMP sama SMA." jawab Ferdi.


"Itu bukan bocil lagi, ege." tukas Sean sambil tertawa.


"Eh, iya ya?" Ferdi baru menyadari.


"PR nih Fer, buat lo." ucap Jordan lagi.


"Ngedeketin anak kecil masih jauh lebih gampang ketimbang remaja." lanjut pemuda itu.


"Bener, Fer. Remaja biasanya kalau nggak suka, bakalan keliatan banget." ucap Sean.


Ferdi kini menghisap batang rokoknya yang sudah menyala sejak tadi. Dengan pikiran yang mulai melayang kemana-mana.


Benar apa yang dikatakan kedua temannya itu, ini akan menjadi pekerjaan yang cukup sulit untuk Ferdi.

__ADS_1


Mengingat anak-anak Clara bukan lagi anak kecil, yang mungkin lebih gampang di dekati hanya dengan coklat ataupun mainan.


__ADS_2