
"Nath, perut aku sakit banget."
Dania mengeluh pada Nath, ketika mereka tengah berada di jalan menuju rumah sakit.
"Sabar ya sayang. Maafin aku, aku baru bisa datang sekarang. Mereka mengurung aku di rumah."
Nath mengusap perut Dania yang sudah mengalami kontraksi hebat sejak tadi subuh.
"Sakit, Nath." keluhnya.
"Iya, sebentar lagi kita sampai." ucap Nath.
"Aaaakh."
Dania memegang perutnya yang terasa begitu mulas. Nath semakin panik, namun ia berusaha untuk tetap tenang sebab ia menyetir mobil.
Ketika tiba di emergency rumah sakit, Dania yang baru hendak melahirkan pertama kalinya itu kembali merintih kesakitan.
Nath tersenyum di sela-sela kekhawatiran dan kesedihannya yang sama-sama memuncak. Ia menggenggam erat tangan Dania sambil turut mendorong tempat tidur pasien.
"Sabar ya, sebentar lagi kita akan ketemu sama Noah. Kamu sayang dia kan?" tanya nya pada Dania.
Wanita itu mengangguk, meski ia nyaris menangis saking sakitnya yang ia rasakan. Setibanya di bagian persalinan, dokter dan perawat segera menangani dan memeriksa Dania.
Ternyata ia baru pembukaan enam, Nath dan wanita itu baru tau jika hendak melahirkan harus menunggu beberapa pembukaan lagi.
"Kenapa harus menunggu lagi, dok?. Dia udah kesakitan parah dari tadi."
Nath berkata dengan emosi yang berusaha keras ia tahan. Dokter pun tersenyum mendengar hal tersebut.
"Nath." Tiba-tiba dokter lain muncul, dan itu adalah dokter Vino teman baik Nath.
"Vin."
"Kenapa?" tanya dokter Vino seraya mendekat.
"Vin, Dania mau melahirkan. Kata dokter dia masih harus menunggu pembukaan lengkap selama beberapa jam lagi. Dia udah kesakitan kayak gitu, kenapa harus di suruh nunggu lagi?"
Kali ini dokter Vino yang tersenyum. Ia maklum, sebab tak semua laki-laki muda paham akan proses melahirkan. Meski ia berpendidikan tinggi seperti Nath.
"Bro, melahirkan bayi itu memang berproses. Gunanya pembukaan lengkap, supaya bayinya bisa lewat jalan dan keluar." Dokter Vino mulai menjelaskan.
"Kenapa harus selama itu?" tanya Nath lagi.
"Untuk kelahiran pertama, rata-rata memang lama. Tapi kalau untuk kelahiran selanjutnya, biasanya nggak selama yang pertama." ujar dokter Vino.
"Nath diam, ia tidak tega melihat dan mendengar rintihan Dania.
"Bapak yang sabar." dokter kandungan yang menangani Dania kini kembali berujar.
"Ibunya di tenangkan dulu saja sampai pembukaannya lengkap. Di besarkan hatinya, di kuatkan mentalnya." ujar dokter itu lagi.
__ADS_1
"Iya, bro. Pokoknya semua harus sabar. Lo yang sabar, biar Dania juga sabar menghadapi proses persalinannya."
Dokter Vino merangkul Nath dan Nath pun akhirnya mengangguk. Perlahan emosi dan kekhawatiran pria itu berangsur mereda. Ia menguatkan hati terlebih dahulu sebelum akhirnya kembali ke kamar, tempat dimana Dania berada.
Ia muncul kali ini dengan begitu tenang. Sehingga Dania yang masih kesakitan itu, merasa ada yang mengerti serta melindungi dirinya.
"Nath, aku nggak tahan lagi." Dania mengadu pada Nath.
Nath tersenyum lalu memegang tangan perempuan itu. Tak lama ia pun mencium kening Dania dengan lembut.
"Kalau sakitnya bisa dipindahkan, aku mau." ucap Nath kemudian.
"Tapi berhubung itu mustahil, aku cuma bisa minta supaya kamu kuat. Demi anak kita."
Air mata Dania mengalir deras demi mendengar perkataan tersebut. Namun ia seperti memiliki sebuah kekuatan baru. Nath kemudian mengajak Dania berjalan di sekitar, sambil menunggu pembukaan lengkap.
Tiap kali Dania merasakan kontraksi hebat, tiap itu pula Nath memeluk dan mencoba menenangkan wanita itu.
Kadang Dania beristirahat, lalu Nath menyuapinya makan. Meski Dania makan sambil meringis kesakitan dan Nath rasanya ingin menangis saat itu juga. Sebab ia benar-benar tidak tega.
Setelah beberapa jam berlalu, pembukaan pun lengkap. Nath mendampingi Dania melahirkan anak mereka.
Dania dan Nath melalui perjuangan yang menyakitkan dan juga melelahkan. Hingga akhirnya Noah pun lahir dengan selamat. Nath menangis, sementara Dania akhirnya lega dan tersenyum.
Bayi itu berkulit putih bersih dan wajahnya sangat mirip dengan Nath. Namun ia memiliki bibir seperti Dania.
"Curang ih, ngambil muka papanya semua."
Dania berujar ketika ia telah selesai di jahit dan dibersihkan. Serta Noah kini telah dimandikan dan pakaikan pakaian. Nath tersenyum, ia duduk disisi Dania sambil memperhatikan Noah.
Dania tersenyum, kemudian Nath mencium keningnya dengan lembut.
"Aku udah beli rumah buat kita, nanti kita pulang kesana." ujarnya.
***
"Noah, papa akan melindungi kamu. Papa nggak akan membiarkan siapapun menyakiti kamu. Papa akan selamatkan mama. Kamu harus janji sama papa, kamu akan terus hidup."
Nath seperti melihat adegan berulang dalam tidurnya. Pria itu kini gelisah dengan mata yang masih terpejam.
"Vin, tolong bawa anak gue. Sembunyikan dia dimanapun. Cuma lo yang bisa nolong gue saat ini. Gue udah nggak percaya sama orang tua gue. Gue yakin mereka sudah melakukan hal buruk terhadap Dania. Nggak mungkin Dania meninggalkan anak kami sendirian di rumah sakit. Dia nggak sejahat itu."
"Lo tenang dulu, Nath."
"Lo harus tolongin gue."
"Iya, gue akan bawa Noah. Gue janji akan jaga dia dengan baik. Tapi lo tenang dulu, jangan gegabah. Lo harus selidiki benar-benar dan gue akan bantu lo cari dimana keberadaan Dania dan ibunya."
"Dor."
"Dor."
__ADS_1
"Dor."
Tiga suara tembakan terdengar.
"Nath kita harus lari, sekarang!"
"Haaah."
Nath terbangun dari serangkaian mimpinya yang panjang. Mengenai peristiwa yang terjadi hampir 17 tahun yang lalu tersebut.
Ini bukan pertama kalinya ia tidur dalam kegelisahan. Namun hampir disepanjang hidup ia mengalami mimpi buruk.
Nath berjalan ke arah kotak obat dan meraih obat penenang yang diresepkan padanya. Kemudian ia mengambil beberapa butir lalu meminum obat tersebut.
"Dia dimana sekarang?"
Nath mengingat pertanyaannya pada Vino kala itu.
"Dia ada dalam asuhan sepupu gue. Sepupu gue itu masih muda banget, tapi dia udah nikah. Gue lihat dia cukup telaten dan mau belajar ngurus Noah."
"Jangan sampai ada yang tau kalau dia anak gue. Cukup lo sendiri yang tau rahasia ini. Sebab gue pun bilang ke orang tua gue kalau Noah sakit dan udah nggak ada. Mereka percaya, dan gue akan mengumpulkan bukti kejahatan mereka atas Dania."
"Kalau mereka terbukti bersalah, apa lo akan menjerat dan mempidanakan mereka?" tanya Vino.
"Gue nggak tau, kalau memang mereka terbukti mencelakakan Dania. Gue akan serahkan ke pihak yang berwajib." ucap Nath.
"Karena sampai hari ini, gue belum menemukan jejak Dania dan ibunya." lanjut pria itu.
***
"Dert."
"Dert."
Handphone Nath berbunyi, ia segera menarik diri dari ingatan tentang masa itu.
"Iya Fer?"
Nath menjawab panggilan Ferdi.
"Bro, coba lo cek aplikasi dulu. Menurut lo kira-kira bagus nggak tampilan yang udah gue ubah sekarang."
Ferdi membicarakan soal aplikasi yang mereka tengah kembangkan.
"Emang udah kelar?" tanya Nath.
"Udah."
"Ya udah, gue liat dulu." ucap Nath.
"Oke."
__ADS_1
Ferdi pun lalu berpamitan dan menyudahi telpon tersebut.
***