Terpaksa Menikahi Janda Kaya

Terpaksa Menikahi Janda Kaya
Permintaan Clara


__ADS_3

Ferdi tertawa-tawa meninggalkan kantor sang ayah. Ia mengemudi dengan kecepatan yang cukup tinggi dan merasa begitu lepas.


"Dert."


"Dert."


Frans tiba-tiba menelpon.


"Frans gue lagi di jalan." ucap Ferdi.


"Lo kabur lagi?" tanya Frans kemudian.


"Menurut lo?"


"Fer, cobalah untuk serius sedikit aja."


"Gue serius Frans, sekalipun gue amat sangat terpaksa menerima perjodohan ini. Sekalipun gue nggak kenal dan belum pernah ketemu sama tuh perempuan. Gue serius mau nolong papa, cuma gue males belajar sama om John. Kayak dosen killer tau nggak lo. Mendingan gue belajar sendiri di rumah."


"Gimana mau belajar orang bukunya disini semua." ucap Frans.


"Lo cek deh, orang ada yang gue bawa pulang koq beberapa."


"Lah gimana cara lo ngambilnya?"


"Gue suruh security yang jaga malem. Terus dia kirim pake ojol ke rumah."


Frans menghela nafas.


"Sorry ya, Fer. Kalau gue jadi ikut maksa-maksa lo juga. Gue tuh khawatir sama papa."


"Iya, santai aja." tukas Ferdi.


"Yang penting lo tau kalau gue serius." lanjutnya kemudian. Gue cuma males sama om John-nya aja. Pengen gue bejek palanya ke cobek ayam geprek." lanjut pemuda itu.


"Emang lo berani ngebejek palanya om John di cobek ayam geprek?" Frans bertanya pada adiknya itu.


"Kagak." ujar Ferdi sambil tertawa.


"Dasar." Frans pun ikut tertawa.


"Ya udah, gue jalan dulu deh. Ntar ada polisi lagi, nyetir sambil nelpon kayak gini."


"Iya udah sana, hati-hati di jalan."tukas Frans.


"Iya."


"Eh, Frans."


"Apaan?"


"Mmm, nggak jadi deh."


"Apaan sih?" Frans penasaran.


"Lupa gue, sumpah. Hahaha."


"Ya udah sono, jalan!. Hati-hati!."

__ADS_1


"Sip." jawab Ferdi.


Ia pun lalu menyudahi obrolan tersebut. Ferdi kemudian membuka kaca. Ia hendak merokok lalu menurunkan kecepatan hingga mobil yang ia kemudikan, berjalan layaknya siput.


Ia meraih bungkus rokok di dashboard mobil dan ternyata isinya hanya sisa satu batang.


"Udah abis aja." gerutu pemuda itu.


Ia menilik ke sekitar, mencari minimarket namun tidak ada. Kemudian setelah menyusuri sebuah jalan yang cukup oanjang, ia melihat plang nama minimarket. Tetapi lokasinya ada di dalam area gedung perkantoran. Ferdi lalu masuk ke dalam gedung itu dan membeli rokok disana.


Usai membeli rokok ia pun keluar, namun tiba-tiba ia bertemu muka dengan seseorang.


"Mbak?"


"Ferdi?. Kamu ngapain disini?" tanya Clara kaget.


"Saya beli rokok, mbak. Mbak sendiri?"


"Ini kan kantor mbak, Fer."


"Oh, kantornya disini?"


Ferdy menilik ke arah gedung yang menjulang tinggi tersebut. Ia juga sama kagetnya tadi dengan Clara.


"Iya, kan mbak sebutin namanya waktu itu. Towernya apa dan lokasinya dimana. Waktu yang mbak nawarin kamu kerja disini, inget nggak?"


Ferdi seketika teringat obrolannya dengan Clara. Sesaat sebelum pertengkaran dengan Jessica terjadi.


"Oh iya mbak, saya baru inget." ujar Ferdi.


Tak lama mereka pun telah terlihat mengobrol di salah satu meja, di area luar minimarket plus tersebut. Mereka duduk sambil ngopi.


"Udah bubar, tapi mbak emang kadang agak lambat pulang. Soalnya percuma, jalan ke arah rumah mbak kan tau sendiri macetnya kayak apa. Kamu pernah nganterin kan?."


"Iya sih, sangat padat merayap itu mah." tukas Ferdi sambil tertawa kecil.


"Makanya mbak males, apalagi di jam segini."


Clara berujar sambil tersenyum dan senyuman itu dibalas oleh Ferdi. Mereka terus berbincang, sampai kemudian Clara tiba-tiba memasukkan sebuah omongan.


"Fer, weekend ini kamu sibuk nggak?" tanya Clara.


"Hmm, nggak. Kenapa emangnya mbak?" tanya Ferdi heran.


"Mau nemenin mbak nggak?"


"Kemana?" Lagi-lagi Ferdi bertanya.


"Ada investor menikah. Mbak nggak ada teman kesana."


"Hmm, emangnya sorry. Mbak nggak lagi dekat dengan seseorang gitu?" tanya Ferdi ragu-ragu.


"Nggak, kamu?"


"Mmm, nggak juga jawab Ferdi.


"Yang tempo hari?" Clara mempertanyakan soal Jessica.

__ADS_1


"Udah bubar, mbak." jawabnya kemudian.


"Ya walaupun dia masih nggak terima sih sampai hari ini." ucap Ferdi lagi.


Keduanya saling tatap dan sama-sama membuang pandangan. Entah mengapa jantung mereka tiba-tiba berdegup dengan kencang.


"Berarti bisa dong?" tanya Clara sekali lagi.


"Bi, bisa koq mbak." jawab Ferdi sambil tersenyum. Clara pun jadi tertunduk dan tersipu malu.


Para petugas minimarket yang cukup dekat dengan Clara kini mengintip. Mereka saling menyikut satu sama lain dan ikut senyum-senyum sendiri.


"Pacar baru bu Clara?" tanya salah seorang dari mereka.


"Nggak tau gue, tapi cocok ya." jawab yang lainnya.


Maka mereka pun jadi sama-sama tersenyum, sampai lupa jika ada pelanggan yang mesti membayar.


***


Sebelum pertemuan itu.


"Lo jangan datang sendirian, takutnya ada Nando."


Valerie berkata pada Clara di telpon. Sesaat setelah Clara bertanya pada sahabatnya itu, perihal undangan pernikahan dari salah satu investornya di kantor. Kebetulan Valerie juga mengenal investor tersebut. Karena mereka berada di satu geng sosialita.


"Jadi menurut lo, gue harus ngajak lekong gitu?" tanya Clara pada Valerie.


"Oh iya dong say, masa secantik Clara Shinta Danuwijaya jalannya sendirian. Ntar oleng nggak ada yang pegangin." Valerie berseloroh dan itu membuat mereka berdua jadi tertawa-tawa.


"Tapi kira-kira siapa ya yang gue ajak. Masa karyawan gue. Nando rata-rata hafal kalau sama karyawan gue."


"Lah cowok yang kata lo pernah berantem sama Nando itu aja. Kan Nando mengira dia pacar elu. Biar makin panas tuh ubun-ubunnya si Nando." ujar Valerie lagi.


"Tapi, gue takut di nggak mau. Masih muda say, takut dia gengsi sama jalan sama jendes." ucap Clara lagi.


"Yaelah kalau jendesnya kayak elu mah, oke-oke aja. Mau pasti dia, yakin sama gue." tukas Valerie.


Clara pun diam sejenak.


"Biar Nando cemburu wak." Lagi-lagi galeri berujar dan lagi-lagi keduanya tertawa.


Usai Valeri menelpon, Clara jadi benar-benar berpikir. Ia rasa memang dirinya harus membawa pasangan. Sebab Nando pasti akan membawa istri barunya itu dan Clara bisa mati gaya jika tidak punya gandengan.


"Tapi, bagaimana caranya mengatakan hal tersebut ada Ferdi?"


Clara agak malu membayangkan hal tersebut. Sebab ia baru mengenal pemuda itu dan itupun kalau dia mau. Kalau tidak, bisa-bisa Clara akan jadi malu dibuatnya.


"Hhhhh." Clara menghela nafas, ia membuka handphone dan melihat kontak Ferdi.


***



Jalan cerita di novel saya TIDAK BISA DI ATUR OLEH SIAPAPUN. Kalau anda BOSAN, SILAHKAN CARI CERITA LAIN. HIDUP SESIMPEL ITU KOQ.


MAU BERTELE-TELE KEK, KAYAK SINETRON KEK. INI CERITA SAYA, ALURNYA HAK SAYA YANG MENGATUR. Suka silahkan baca, tidak suka silahkan skip.

__ADS_1


Saya tidak akan merubah apapun, atas dasar permintaan siapapun. Thanks!


__ADS_2