Terpaksa Menikahi Janda Kaya

Terpaksa Menikahi Janda Kaya
Kelakuan Axel Yang Ajaib


__ADS_3

Tanpa sepengetahuan Clara. Ferdi kembali membuat segelas susu hamil di dapur. Setelah jadi ia menyodorkan susu tersebut pada Axel.


Axel kemudian beranjak ke arah kitchen set dan kembali dengan dua gelas sloki. Ferdi bingung mengapa ada gelas tersebut di rumah itu.


"Koq ada gelas ini, punya siapa?" tanya nya kemudian.


"Ini tuh dulunya punya papa om, dia sering minum minuman keras di rumah." Axel menjelaskan.


"Sekarang sering dipake abang An kalau lagi makan mie instan sambil nonton drakor. Biasanya abang An pake buat minum air mineral. Biar vibes-nya kayak lagi minum Soju."


Ferdi tertawa sambil menggeleng-gelengkan kepalanya. Axel lalu mengisi gelas-gelas sloki tersebut dengan susu hamil yang barusan dibuat.


"Nih buat om, ini buat Axel. Kita minum barengan buat menghindari ada yang curang." ujar remaja itu.


"Kalau kita minum di gelas besar, nanti yang belakangan curang dan nggak mau minum bisa aja kan." lanjutnya lagi.


"Oke." jawab Ferdi.


Mereka lalu sama-sama memegang gelas sloki tersebut dan sama-sama mengangkatnya pula.


"Hitung ya, om." tukas Axel.


"Oke."


"Satu, dua, tiga."


Mereka pun sama-sama minum. Lalu sama -sama mengerutkan dahi.


"Kayak aneh gitu nggak sih?" tanya Ferdi.


Axel masih penasaran. Ia kembali menuang ke dalam gelas sloki dan meminumnya.


"Kayak susu apa ya?" tanya nya kemudian.


Ferdi lalu kembali menuang ke dalam gelas dan meminumnya.


"Kayak ada aroma-aroma aneh gitu pokoknya. Tapi lumayan enak juga." ucap Ferdi.


"Iya kayak familiar gitu loh, om. Tapi Axel nggak tau apa." Axel menimpali.


Lalu mereka pun tertawa-tawa.


***


Selang beberapa saat.


Arvel dan Anzel tengah bermain play station di lantai atas, tepatnya di kamar Arvel. Secara serta merta Axel datang dengan dua cup berisi es yang sepertinya es coklat.


Cup yang ia gunakan memanglah cup plastik untuk minuman. Clara sering membeli cup plastik itu untuk membuat es blender sendiri di rumah, atau membuat jus. Agar anak-anaknya tak jajan tapi serasa seperti jajan.


"Bang, nih es susu coklat." ucap Axel seraya menyodorkan cup-cup tersebut.


"Beli dimana lo?" tanya Anzel seraya meraih satu diantaranya.


"Kagak beli, Axel bikin tadi dibawah." jawab Axel.


"Punya lo mana?" Kali ini Arvel yang bertanya.


"Udah duluan abis." jawab Axel.


Arvel dan Anzel mulai meminum es susu coklat tersebut. Tak ada reaksi apa-apa selain menikmati. Hingga lama-kelamaan minuman tersebut pun habis.

__ADS_1


"Bang."


Axel yang tadi sempat pergi itu, sekarang muncul kembali di pintu kamar Arvel.


"Hmm?" Arvel dan Anzel menjawab dengan cara yang sama.


"Itu tadi susunya pake susu hamil mama tau." ujarnya sambil tertawa.


"Hah?" Arvel dan Anzel kaget.


"Serius?" tanya mereka tak percaya.


"Serius." jawab Axel.


"Bentar lagi abang pada hamil, buncit semua perutnya." lanjut remaja itu.


Untuk selanjutnya Axel pun tak luput dari pengejaran kedua kakaknya tersebut.


"Dasar bayi nying-nying lo." Arvel melempar sang adik dengan bantal sofa.


Axel tertawa-tawa sambil meledek.


"Nih anak mesti di basmi nih." Anzel tak kalah kesalnya dengan si sulung.


Clara yang mendengar gubrak-gubrak di atas langsung keluar untuk mengecek apa yang terjadi. Dan ia melihat ketiga anaknya tengah berkejar-kejaran.


"Abang, adek. Nanti jatuh lagi." ujarnya dari bawah.


"Itu abang Ar belum sembuh loh." lanjutnya kemudian.


"Ini ma, masa Axel kasih kita es susu tapi pake susu hamilnya mama." Anzel menjelaskan.


Untuk selanjutnya ia dipanggil dan mendapat jeweran telinga dari sang ibu.


"Ada aja kelakuan kamu itu ya, Axel."


"Aduh, ma. Ampun-ampun." ucap Axel kesakitan. Padahal Clara merasa tak begitu kuat menjewer telinga anak itu.


Clara pun melepaskan hukuman tersebut, karena takut dikira menjadi ibu yang melakukan kekerasan terhadap anaknya. Namun Axel malah kembali nyengir kemudian kabur.


"Tuing!"


"Tuh kan, ngeselin." ujar Clara.


"Ma, kita nggak akan kenapa-kenapa kan minum susu itu?" tanya Arvel pada Clara.


"Iya, ma. Ntar kita buncit lagi." Anzel menimpali.


Kali ini Clara terbahak.


"Ya nggak bakal, nak. Emang kalian hamil." ujarnya kemudian.


Arvel dan Anzel tampak bernafas lega. Namun terlihat masih ingin memusnahkan Axel dengan pestisida.


Sebab Axel sampai saat ini masih mengintip dari balik tembok menuju ruang tamu, sambil menjulurkan lidahnya.


Tak lama Ferdi melintas, ketika Arvel dan Anzel telah kembali lagi ke atas. Dan ia melihat ke arah Clara yang tengah menatapnya.


"Apa?" tanya Ferdi bingung.


"Kamu ya yang memenuhi permintaan Axel buat nyobain susu hamil?" Clara balik bertanya.

__ADS_1


Ferdi lalu tertawa, sebab memang ia pelakunya.


"Abisnya penasaran, sayang." ucap Ferdi lalu mendekat dan mencium bibir Clara.


"Udah tau gimana rasanya?" tanya Clara lagi.


"Udah, enak tapi aneh." jawab Ferdi sambil masih tertawa. Clara pun jadi ikut-ikutan tertawa.


"Kamu tuh ngajarin anak. Akhirnya dia jahil kan ke abang-abangnya." ucap wanita itu.


"Kenapa emangnya?" tanya Ferdi heran.


Saat terjadi terjadi huru-hara di atas, Ferdi tengah berada di toilet. Sehingga ia tidak tahu-menahu mengenai hal tersebut.


"Dia bikin es susu coklat pake susu itu." jawab Clara.


"Terus dikasih ke abang-abangnya." lanjutnya lagi.


Ferdi pun mendadak tertawa geli.


"Serius.!" tanya nya kemudian.


"Ya, tanya aja tuh sama anaknya." ucap Clara seraya menunjuk pada Axel yang kini tampak bermain handphone di sofa ruang tengah.


Remaja itu terlihat menahan senyum sambil memperhatikan layar. Sementara Ferdi kini menggeleng-gelengkan kepalanya sambil tertawa.


"Udah, istirahat lagi yuk. Bumil nggak boleh keseringan marah loh."


"Iya ma. Mama mesti banyak istirahat, biar dedeknya sehat."


Axel sok menasehati. Padahal ialah biang dari semua kejadian di rumah ini.


"Sok nasehatin mama lagi kamu. Padahal kamu biang keladi yang bikin perkara." ucap Clara sambil tersenyum.


"Hehe." Untuk kesekian kalinya Axel nyengir.


"Nggak ada perkara, nggak rame ma." ujarnya membela diri.


Ia kemudian beranjak dan hendak menuju ke tangga yang ada di dekat Clara. Sekali lagi Clara ingin meraih anak itu karena gemas dan serasa hendak ia masukan ke dalam karung.


Namun Axel menghindar dengan cara berlari sambil nyengir.


"Tuing."


"Tuing."


"Tuing."


"Tuh Fer, ngeselin banget anak kamu." ucap Clara gregetan.


Ferdi hanya tertawa lalu mengusap-usap perut sang istri.


"Yuk istirahat aja yuk!" ujarnya.


"Dedeknya bobok dulu, ya."


Clara pun lalu menuruti keinginan suaminya itu. Ia kembali ke kamar dengan didampingi oleh Ferdi. Sesampainya disana, Clara kembali berbaring di atas tempat tidur dan dipeluk oleh Ferdi.


"Jangan pergi dulu sebelum aku tidur ya, Fer." pinta Clara.


"Iya sayang, aku disini." jawab Ferdi.

__ADS_1


__ADS_2