The Devil JOVE

The Devil JOVE
10. Tentang Franklin


__ADS_3

Teman-teman, mohon dukungannya untuk novel emak yang berjudul WANITA KESAYANGAN SANG PRESDIR yang insyaallah emak ikut sertakan dalam lomba 100%kekasihideal. Genrenya Romantis/Komedi dan sudah up mulai hari ini. Silahkan cek profil emak untuk mampir kesana ya. Di jamin sakit perut karena nahan tawa 😂😂😂 Terima kasih.



***


Sesampainya di pelabuhan, Jove beserta anak buahnya segera menaiki speedboat masing-masing berisi tujuh orang. Sembari menyalakan satu batang rokok, Jove meminta Franklin untuk menghubungi Mr.Farjaad. Dia penasaran apakah orang AG itu sudah ada di tempat yang ditentukan atau belum. Mengingat kalau transaksi mereka diincar oleh pihak kepolisian, jadi Jove harus memastikan kalau transaksi mereka aman. Dia tentu tak bersedia merugi setelah kebocoran sebelumnya. Juga karena ada sesuatu hal yang ingin dia tunjukkan pada orang tersebut.


“Apa Mr.Farjaad sudah tiba?”


“Sudah, Tuan,” jawab Franklin. “Mr. Frajaad tiba sepuluh menit yang lalu. Dia cukup profesional meski ini adalah pertemuan pertama kita.”


“Sudah seharusnya dia bersikap demikian. Karena jika dia berani menyalahiku, bukan tak mungkin hanya namanya saja yang akan kembali ke Negara AG. Aku memang membutuhkan opium dari mereka untuk pemasaran narkobaku ke LA, tapi bukan berarti aku bergantung sepenuhnya dengan mereka. Kau harus selalu mengingat hal ini baik-baik, Frank. Beritahu semua produsen kita kalau aku tidak akan segan untuk menghabisi mereka jika mereka berani bermain-main denganku!” ucap Jove penuh nada peringatan.


“Baik, Tuan. Saya akan memperingatkan mereka semua nanti,” sahut Franklin patuh.

__ADS_1


“Kita berangkat sekarang.”


Franklin segera memerintahkan anak buahnya untuk melajukan speedboad. Dia kemudian berdiri tepat di samping bosnya yang tengah merokok dengan satu tangan dimasukkan ke saku celana. Coba kalian bayangkan. Seorang pria tampan berkaca mata hitam berdiri di samping pengemudi speedboat sembari meniupkan asap rokok ke atas, tidakkah menurut kalian ini sangatlah keren? Jika iya, maka kalian satu pemikiran dengan Franklin. Sejak pertama kali Franklin bertemu dengan bosnya, dia tak pernah tidak mengagumi pria hebat ini. Oya, mungkin dari kalian ada yang merasa penasaran tentang asal-usul Franklin. Baiklah, emat otor akan menjelaskannya.


Dirga, atau yang lebih kita kenal dengan nama Franklin, dulunya adalah seorang anak yang tinggal di panti asuhan. Suatu hari saat Dirga hendak menyebrang jalan, dia tak sengaja melihat seorang anak laki-laki yang tengah menggeliat kesakitan di dalam mobil. Tak tega, Dirga memutuskan untuk menolongnya. Namun, dia yang tidak tahu tentang siapa anak itu malah menjadi korban salah sasaran dari orang yang hendak menghabisi anak tersebut. Alih-alih pingsan atau menangis kesakitan karena sebuah luka tembak di pinggangnya, Dirga dengan berani malah berlari mengejar orang yang telah menembaknya. Saat itu hanya satu yang di pikirkan oleh Dirga, membalas orang itu. Jujur, beradanya Dirga di tempat itu adalah karena dia di usir dari panti asuhan gara-gara Dirga yang terkucilkan. Entah apa salahnya. Yang jelas Dirga menerima perlakuan yang sangat buruk di panti tempatnya tinggal. Dan karena luka tembak di pinggangnya mengeluarkan banyak sekali darah, Dirga akhirnya jatuh tersungkur. Sesaat sebelum kesadaran Dirga hilang, dia melihat ada seorang wanita berlari ke arahnya. Lalu sampailah Dirga di sebuah pulau yang di dalamnya terdapat semacam tempat pelatihan yang mengerikan. Setelah dia bertemu dengan dewi penolongnya yang tak lain adalah ibu dari bosnya sekarang, sejak saat itu nama Dirga bukan lagi namanya. Franklin, nama ini di pilihkan khusus oleh bosnya. Sebagai balas budi, Franklin berjanji akan sehidup semati setia melayani bosnya. Dan sejak saat itu Franklin di didik dengan sangat luar biasa keras oleh orang-orang hebat yang ada di pulau tersebut hingga tumbuhlah dia yang seperti sekarang. Dingin, gesit, dan yang paling tahu mengenai apapun yang berhubungan dengan Tuan Jove, pria hebat tempatnya bergantung hidup.


Setelah speedboat bergerak kurang lebih tiga puluh menit, Jove melirik ke arah sekelompok orang yang berdiri di atas kapal pesiar. Yap, kalian benar. Transaksi ini akan dilakukan di atas kapal pesiar milik Jove. Kenapa kapal pesiar? Karena nantinya kapal ini yang akan membawa bahan utama untuk pembuatan heroin.


“Hmmmm, mereka sepertinya sangat waspada sekali, Frank. Lihatlah. Mr.Farjaad bahkan membawa tiga sniper sekaligus. Apa dia sedang meragukan kekuatan kelompok kita?” tanya Jove seraya meng*lum senyum.


Segera setelah speedboat merapat pada tangga kapal pesiar, Jove melangkah turun dari sana. Dari balik kaca mata hitamnya, Jove menatap penuh ejek pada Mr.Farjaad yang terlihat begitu tegang. Apalagi saat anak buahnya Jove mengeluarkan senjata di tangan masing-masing, kekhawatiran di diri Mr.Farjaad semakin terlihat.


“Selamat malam, Tuan Jove,” sapa Farjaad. Jujur, dia agak merinding melihat kedatangan mafia ini. Meskipun sudah banyak kali Farjaad berhadapan langsung dengan para mafia narkoba, tapi baru kali ini dia merasa sangat tertekan. Aura mengintimidasi begitu kuat terasa, seolah mampu meluluh-lantakan semua tulang yang ada di tubuhnya.


“Ada apa ini? Kau bahkan membiarkan tiga sniper mengawalmu. Separah inikah kau merendahkan kekuatanku?” tanya Jove dingin. Dia kemudian duduk sambil bersilang kaki di hadapan Mr.Farjaad.

__ADS_1


“Bukan begitu, Tuan Jove. Saya hanya belum ingin mati cepat, jadi organisasi memutuskan untuk mengirim mereka bersamaku. Jangan khawatir, mereka tidak akan bertindak tanpa perintah dariku,” jawab Farjaad. Dia kemudian menatap para sniper itu lalu mengangguk samar, memberi tanda agar mereka menurunkan senjata.


Sial. Bagaimana bisa Tuan Jove tahu kalau mereka adalah para sniper? Ini gawat. Sepertinya aku harus hati-hati dalam berucap. Aku tidak mau mati konyol di tangannya.


“Mr.Farjaad, kenapa kau mengurangi jumlah opium yang kuminta dari kelompokmu? Tidakkah kau tahu kalau aku merugi sangat besar gara-gara hal tersebut. Dan jika di hitung dalam jumlah nominal, harga nyawamu beserta semua anak buahmu yang ada di sini tidak akan sebanding dengan kerugian yang harus aku terima. So … lebih baik kau jelaskan mengapa kau begitu lancang menghalangi bisnisku. Jelaskanlah, dan aku akan mendengarkan dongengmu dengan baik!” tanya Jove seraya membuka kaca mata hitamnya. Dia lalu menyeringai seraya menatap seksama ke arah Mr.Farjaad yang terlihat gusar dalam duduknya.


“Tuan Jove, sebagai produsen opium terbesar, jelas saya merasa terancam begitu mendengar kalau transaksi kita telah terendus oleh pihak kepolisian. Dan jika saya tetap memaksakan untuk mengirim opium seperti yang anda mau, tidak menutup kemungkinan kalau hal ini akan memudahkan mereka untuk mengejar kita. Jadi untuk menghindari resiko itu, saya memutuskan untuk memberi anda sedikit opium dulu, baru setelahnya nanti saya akan mengirimnya pertahap,” jawab Farjaad mencoba untuk tetap tenang saat menjawab pertanyaan Jove. “Tuan Jove, saya bukan baru pertama kali ini melakukan transaksi opium dengan para bandar narkoba. Namun, baru kali ini saya mengambil keputusan yang mana telah membuat anda merugi. Saya tahu tindakan saya tidak professional dalam bisnis kita, tapi ini bisa terjadi karena kecerobohan kelompok anda sendiri. Andai saja rencana transaksi ini tidak bocor, bisnis anda pasti tidak akan terkendala seperti sekarang!”


Franklin melirik ke arah bosnya yang hanya tersenyum saja ketika Mr.Farjaad menyalahkannya. Meski pada kenyataannya kesalahan bukan berada di diri Mr.Farjaad, tapi bukan berrati dia boleh bicara seperti itu pada bosnya. Bukannya apa, Franklin hanya khawatir saja kalau hal tersebut akan menyinggung bosnya lalu Mr.Farjaad akan kehilangan nyawanya. Hal seperti ini bisa saja terjadi mengingat kalau bosnya sejak tadi terus saja tersenyum. Dan adalah yang paling sulit bagi Franklin memahami apa arti dari senyuman tersebut.


“Jika aku membawakan seseorang yang telah membuatku merugi besar, apa yang akan kau lakukan padanya, Mr.Farjaad?” Jove sengaja bertanya sambil menekankan kata Mr.Farjaad di akhir kalimat.


Sebelah alis Farjaad tertarik ke atas begitu dia mendengar pertanyaan Jove. Penasaran, dia pun menganggukkan kepala. Farjaad ingin melihat seperti apa rupa dari orang yang sudah begitu berani menyinggung bandar narkoba terbesar yang ada di Negara S ini. Sungguh, nyalinya sangat luar biasa hebat.


***

__ADS_1


__ADS_2