The Devil JOVE

The Devil JOVE
90. Pria Asing


__ADS_3

Di tempat lain, terlihat Regent yang tengah duduk termenung sambil memegang gips yang terpasang di lehernya. Sungguh, dia sama sekali tak menyangka kalau sepupunya kini tinggal di mansion milik Jove, mafia berdarah dingin yang kebetulan sedang dia coba hasut agar memasukkan Omary Group menjadi bagian dari bisnis Bioteknologi yang sedang di kembangkan oleh CL Group. Kalau sudah begini ceritanya, Regent tak mungkin lagi mempunyai kesempatan untuk memiliki sepupunya itu. Karena segila-gilanya Regent, dia cukup sadar diri kalau adalah kehancuran jika berani bersinggungan dengan mafia dingin itu. Nyalinya terlalu ciut.


"Brengsek. Sebenarnya apa yang telah terjadi sampai Casandra bisa tinggal di mansion milik Jove. Arrghgg!" teriak Regent tertahan. Dia lalu menggeram marah, dongkol karena jebakan yang dia buat untuk sepupunya malah mendatangkan musuh yang tidak terduga. "Tapi tunggu dulu. Malam itu akukan memberikan obat perangsang dosis tinggi di minuman Casandra. Dan sebelum aku pergi, aku tahu dengan sangat jelas bagaimana dia menggeliat kepanasan dan tidak berdaya. Mungkinkah hal ini yang menyebabkan mereka bisa tinggal bersama? K*parat. Aku yang berjuang keras mengatur rencana, tapi kenapa malah orang lain yang mendapat untungnya. Sialan sekali mafia itu!"


Sambil terus menggerutu, Regent tak henti memikirkan kemungkinan kalau Cassey dan Jove telah tidur bersama. Andai saja tidak sedang terluka, Regent pasti akan mencari cara agar bisa bertemu dengan sepupunya itu. Dia mana mungkin rela membiarkan wanita yang di sukainya tinggal bersama pria asing yang notabennya adalah musuh. Sialan sekali.


Tok tok tok


Regent langsung mendengus kasar saat seseorang mengetuk pintu kamar. Sembari kembali berbaring, dia mempersilahkan orang tersebut untuk masuk.


"Masuk!"


Ceklek


Pintu terbuka. Tiga orang pria dengan wajah datar langsung berjalan menghampiri Regent yang tengah berbaring di ranjang. Tak lama setelah itu masuklah seorang pria yang muncul dengan memakai masker di wajahnya.


Brengsek. Siapa mereka? Apa jangan-jangan mereka adalah komplotan orang yang waktu itu menyerangku? Astaga. Di mana Ayah. Kenapa dia membiarkan orang-orang asing ini masuk ke dalam ruanganku. Arggghhhhh


"Siapa kalian?" Regent berusaha tenang saat bertanya. Padahal jantungnya sudah hampir meledak membayangkan hal buruk yang bisa saja terjadi.


Pria yang memakai masker langsung memperlihatkan wajahnya begitu Regent bertanya. Awan, pembunuh bayaran ini segera meminta anak buahnya untuk bergeser. Dia kemudian berdiri tepat di samping kepala Regent. Lalu setelahnya dia sedikit membungkuk agar bisa bicara di samping telinga.


"Tak perlu kau tahu siapa kami, itu tidak penting. Dan tujuan kami datang kemari adalah untuk mengajakmu bekerja sama!" ucap Awan seraya tersenyum licik.


"Kerjasama? Kerjasama dalam hal apa?" sahut Regent sambil menelan ludah. Tekanan yang di berikan oleh orang ini serasa menembus tulang. Padahal orang ini hanya bicara, tidak sambil melukainya. Mengerikan sekali.


"Kau mengenal wanita yang bernama Casandra Lin, bukan?" tanya Awan. "Kita akan bekerjasama untuk mendapatkan wanita ini. Jika mau, aku pastikan kalau hidupmu akan sangat sejahtera bahkan sampai ke tujuh turunan keluargamu. Bagaimana? Apa kau setuju?"

__ADS_1


"Tunggu-tunggu. Casandra Lin adalah sepupuku. Kenapa kau mengincarnya?"


Kaget dan bingung, dengan cepat Regent mendorong bahu pria ini kemudian berusaha untuk duduk. Dia lalu menepis tangannya yang hendak membantu. Kesal rasanya. Belum juga Regent menemukan cara untuk membawa Casandra pergi dari kuasa Jove, sekarang malah datang lagi satu manusia asing yang tiba-tiba mengajaknya bekerjasama untuk mendapatkan sepupunya. Entah apa yang sedang terjadi di dunia luar, Regent bingung sekali.


"Regent Lin, aku tidak percaya kau tidak mengetahui rahasia sepenting ini di keluargamu sendiri. Tidak sadarkah kau kalau sekarang ada banyak sekali orang yang sedang berlomba-lomba untuk mendapatkan darah di tubuh sepupumu itu?" ucap Awan agak kaget karena gelagat Regent menunjukkan ketidaktahuannya tentang darah langka di tubuh Casandra.


Hmmm, sepertinya orangtua Casandra merahasiakan hal ini dari Regent dan ayahnya. Menarik. Dengan begitu aku bisa memanfaatkan kebodohan mereka sesuka hati.


"Darah? Darah apa yang kau maksud? Aku tidak mengerti," sahut Regent kebingungan sendiri. Di tatapnya lekat-lekat wajah pria asing ini.


"Casandra Lin, dia memiliki jenis darah langka yang bisa menjadi biang penawar dari segala jenis racun yang ada di dunia ini. Mungkin karena ayahmu dan Tuan Cadenza bukan saudara sekandung, jadi dia merahasiakan hal ini dari kalian. Asal kau tahu saja. Dari setiap tetes darah yang keluar dari tubuh sepupumu, itu bisa membuatmu menjadi orang terkaya di dunia ini. Bahkan kekayaanmu bisa melebihi kekayaan seorang Jove Lorenzo. Bayangkan saja. Di tubuh Casandra tak terhitung ada berapa ribu tetes darah yang bisa kau perjual-belikan sesuka hati. Tidakkah kau tertarik untuk memilikinya, Regent Lin?"


Awan terus mengiming-imingi Regent dengan janji manis. Oya. Awan memutuskan untuk mendatangi pria bodoh ini setelah mengetahui kalau Albert tengah berada dalam pengawasan anak buahnya Jove. Jika dia memaksakan diri untuk bekerja sama dengan Albert, di khawatirkan anak buahnya Jove malah akan menyasar kepadanya. Jadi Awan memilih untuk mendekati Regent Lin saja. Dan kebetulan sekali pria ini masih belum mengetahui tentang keistimewaan darah milik Casandra. Jadilah Awan mengambil keputusan dengan menjadikan Regent sebagai tameng ketika menunggu celah untuk menculik gadis itu.


"A-apa? J-jadi Casandra ... astaga. Ini kau tidak sedang mengerjaiku saja 'kan? Aku memang pernah mendengar desas-desus tentang adanya sekelompok orang yang sedang mengejar wanita pemilik darah langka. Namun karena menurutku itu adalah tahayul, aku tak pernah menanggapi kabar tersebut dengan serius. Akan tetapi sepupu, Ya Tuhan. Jadi dia orang yang sedang kalian incar?" kaget Regent antara percaya dan tidak percaya. Dia lalu mengusap wajahnya pelan, terlalu syok mendengar fakta ini.


"Astaga, jadi ini alasannya!"


Tapi tunggu. Saat Fidel memberitahukan hal ini reaksi Paman Cadenza terlihat biasa-biasa saja. Kalau memang benar Jove memiliki niat jahat pada Cassey, seharusnya dia menunjukkan sikap panik dan gelisah. Tapi seingatku Paman Cadenza begitu tenang menanggapinya. Ada apa ya? Kenapa aku merasa seperti sedang di hasut oleh pria ini?


"Kau, siapa namamu? Dan juga kenapa kau bisa tiba-tiba datang kemari mengajakku bekerjasama untuk mendapatkan Casandra?" tanya Regent penuh selidik.


"Awan. Tujuanku mengajakmu bekerjasama adalah karena aku tahu kau sedang mengincar proyek milik Jove. Kalau kau bersedia menjalin kerjasama denganku, maka kau tak perlu repot-repot lagi mencari cara untuk memperkuat statusmu. Cukup dengan kau membawa Casandra padaku, maka kau akan memiliki tahta dan kuasa yang sangat kau idam-idamkan!" jawab Awan tak ragu memperkenalkan identitasnya. Namun, tidaklah semudah itu dia membiarkan Regent tahu siapa dirinya. Sembari mengeluarkan belati yang terselip di pinggang, Awan dengan tegas memberikan peringatan kepadanya. "Tapi Regent Lin, seharusnya kau tidak terpikir untuk memberitahu pada orang lain tentang siapa aku dan apa tujuanku datang kemari. Karena jika itu sampai terjadi, maka bersiaplah kau ku jadikan manekin tanpa kulit wajah di ruang tamu rumahku. Mengerti?"


"Apa kau sedang mengancamku?"


"Apa kata-kataku terdengar seperti sebuah lelucon?"

__ADS_1


"K*parat. Enyah kau dari hadapanku sekarang juga!" amuk Regent penuh emosi.


"Baiklah. Aku akan pergi, tapi besok anak buahku akan datang kembali untuk mendengar jawabanmu. Dan aku sarankan kau sebaiknya jangan menolak. Karena aku bukan tipe orang yang suka memberi kesempatan kedua. Menolak artinya mati. Paham!"


Setelah berkata seperti itu Awan kembali memakai masker kemudian mengajak anak buahnya untuk pergi dari sana. Dan sebelum menutup pintu, dia masih sempat berbalik menatap Regent seraya memainkan belati di tangan.


"Brengsek!" umpat Regent setelah Awan dan anak buahnya benar-benar pergi dari ruangannya. "Berani sekali dia mengancamku. Memangnya kalian pikir kalian itu siapa hah!"


Tak berselang lama pintu ruangan kembali terbuka. Dan kali ini yang datang adalah Eriko. Keningnya tampak mengerut mendapati Regent yang terlihat begitu kesal sambil mencengkeram pinggiran ranjang.


"Regent, kau kenapa?" Eriko bertanya penuh rasa penasaran. Segera dia datang mendekat untuk mencari tahu apa yang telah terjadi. "Ada apa? Seseorang datang mengganggumu kah?"


"Ayah darimana?" tanya Regent jengkel. "Tahu tidak kalau aku baru saja di datangi oleh tamu asing yang sangat aneh. Untung saja mereka tidak membunuhku. Kalau iya, sekarang Ayah pasti sedang menangis meraung-raung karena menemukanku yang sudah tidak bernyawa lagi. Huh!"


"Apa? Kau kembali di datangi oleh mereka? Brengsek!?" Eriko memekik kaget. Dia lalu berbalik hendak keluar.


"Mau pergi kemana?"


"Ingin memeriksa apa saja yang dilakukan oleh para penjaga di luar. Ayah menugaskan mereka untuk menjaga keamananmu, tapi bagaimana bisa mereka kecolongan seperti ini. Ayah perlu memberi pelajaran pada orang-orang tidak becus itu!" sahut Eriko murka.


"Sudahlah, jangan permasalahan hal ini lagi. Toh aku masih hidup dan baik-baik saja. Lebih baik sekarang Ayah di sini saja. Ada hal penting yang ingin kubahas dengan Ayah!" ucap Regent mencegah sang ayah agar tidak pergi. Dia ingin membahas tentang rahasia yang di beritahukan oleh Awan tadi. Regent penasaran sekali. Sungguh.


Sambil mendengus marah, Eriko akhirnya mengurungkan niat untuk mendatangi para penjaga. Dia menarik kursi ke samping ranjang kemudian menunggu perihal apa yang ingin di bahas oleh putranya ini.


"Begini, Ayah. Apa benar Casandra ....


***

__ADS_1


__ADS_2