The Devil JOVE

The Devil JOVE
137. Status Baru


__ADS_3

Setelah pesta selesai, Jove langsung membawa Casandra pulang ke mansion. Dia tahu istrinya itu sudah sangat kelelahan setelah menyapa para tamu yang jumlahnya tak terhitung lagi. Meski acara di adakan secara mendadak, nyatanya hal itu tak membuat suasana menjadi sepi.Berbondong-bondong para tamu undangan datang memberikan ucapan selamat pada mereka berdua. Entah itu tulus dari dasar hati atau hanya sekedar ingin mencari muka, Jove tak peduli. Yang paling penting sekarang dia dan Casandra telah sah menjadi sepasang suami istri. Dia lega dengan status baru mereka.


"Kau kenapa diam saja, Jove? Apa kau merasa ada yang kurang puas?" tanya Casandra heran melihat suaminya yang terus diam sejak dari tempat acara.


"Apa ada alasan yang membuatku bisa merasa tidak puas?" Jove balik bertanya. Dia lalu menoleh. "Kau sudah menjadi istriku. Apalagi yang harus ku keluhkan?"


"Lalu kenapa kau diam saja. Bukannya kau itu biasanya sangat cerewet dan suka mengatur ya?"


"Apa tidak terbalik?"


Casandra mencebikkan bibir. Dia lanjut melangkah menuju kamar setelah pintu lift terbuka. Akan tetapi Casandra dibuat memekik kaget saat tubuhnya tiba-tiba melayang di udara. Segera dia mengalungkan tangan ke leher Jove begitu tahu kalau pria ini menggendongnya.


"Tuan, lain kali bisa tidak kau memberikan aba-aba dulu sebelum bertindak? Memangnya kau tidak takut kalau aku pingsan mendadak, hem?" sindir Casandra sambil menatap galak pada suaminya.


"Adalah keberuntungan bagiku bisa melihatmu pingsan mendadak, sayang. Itu akan membuatku jadi lebih mudah saat menidurimu," sahut Jove asal. Dia lalu tersenyum saat Casandra memukul dadanya dengan pipi yang merona merah. Jove menunduk. "Aku suka melihat rona pipimu yang seperti ini. Kau terlihat cantik, juga semakin menggoda."


"Dasar pembual!" ucap Casandra sambil melihat ke arah lain. Malu dia.


"Tidak ada pembual yang setampan suamimu. Hanya aku satu-satunya!"


"Sejak kapan kau memiliki kepercayadirian yang begitu tinggi, Jove?"


"Sejak aku memilikimu."


Sialan. Kenapa jantungku seperti menari-nari di puji begini oleh Jove. Kendalikan dirimu, Casandra. Jangan gatal-gatal.


"Buka pintunya!" perintah Jove begitu sampai di depan kamar. Ekpresi wajahnya sedikit berubah saat dia mendengar suara langkah kaki dari arah belakang. Itu Franklin. Sesuatu pasti telah terjadi.


Segera Casandra membuka pintu kamar begitu Jove memintanya. Setelah itu dia menempelkan kepala di dada pria ini, agak ngeri membayangkan apa yang akan terjadi di dalam sana mengingat status mereka yang sudah sah menjadi suami istri. Ayolah, ini memang bukan yang pertama bagi Casandra. Tapi tetap saja akan menjadi yang pertama setelah statusnya berubah. Wajarkan kalau dia merasa malu dan juga tegang? Apalagi sebelum ini dia selalu melarang Jove agar jangan menyentuhnya dulu. Casandra yakin mafia ini pasti akan menyiksanya selama mungkin. Hmmm.


"Mau langsung mandi atau istirahat dulu?" tanya Jove setelah mendudukkan Casandra di tepi ranjang. Dia lalu membungkuk, mencium kening dan juga kedua matanya penuh sayang. "Jangan tegang. Aku tahu kau lelah, jadi tidak akan memaksamu untuk melayaniku."


"Sungguh?"

__ADS_1


Berbinar mata Casandra. Tidak di sangka ternyata pria ini cukup peka juga. Padahal tadi jantung Casandra sudah hampir copot karena membayangkannya. Syukurlah Jove paham kalau dia memang sedang kelelahan setelah bersalaman dengan ribuan tamu undangan.


"Jadi mandi atau istirahat?"


"Aku akan mandi dulu,"


"Biar kubantu membuka gaunmu."


Tanpa menunggu persetujuan dari Casandra, tangan Jove bergerak membuka resleting di bagian belakang gaun. Setelah itu dia membantu melepaskan hiasan yang terpasang di kepala istrinya ini.


"Terima kasih," ucap Casandra sambil tersenyum manis. Dia suka dengan perhatian kecil yang Jove lakukan barusan.


"Berterima kasihlah dengan benar," sahut Jove.


"Sekalinya bajingan tetap saja bajingan,"


"Dan bajingan ini sekarang adalah suamimu."


Dua kali Casandra mengecup bibirnya Jove. Setelah itu dia berdecih sambil bersedekap tangan. Bukan marah, tapi merasa tergelitik melihat senyum yang langsung mengembang di bibir suaminya ini.


"Mandilah. Aku akan keluar sebentar untuk menemui Franklin," ucap Jove seraya mengusap puncak kepala Casandra penuh sayang. Walaupun lelah, dia tetap tak bisa mengabaikan kabar yang ingin di sampaikan oleh bawahannya itu.


"Ini hari pertama kita sebagai pasangan suami istri. Aku akan membunuhmu kalau kau sampai berani meninggalkan aku seorang diri di mansion ini. Tahu?" ancam Casandra sambil berjalan menuju kamar mandi. Dia sudah bisa menebak apa yang ingin di bicarakan oleh kedua pria itu. Dasar mafia tengik.


"Tidak akan, Nyonya. Kau jangan khawatir!" sahut Jove santai. Dia diam saja saat Casandra berbalik sambil melayangkan tatapan sinis. "Mandilah sebelum aku berubah pikiran dan memaksamu bercinta di dalam kamar mandi."


"Boleh aku memukul kepalamu yang mesum itu?"


Jove terkekeh. Namun kekehan itu hanya sekilas saja karena begitu Casandra menutup pintu kamar mandi, ekpresi di wajah Jove langsung berubah menjadi dingin. Segera dia berbalik untuk menemui Franklin yang pastinya masih menunggu di luar kamar.


Ceklek


"Ada apa?"

__ADS_1


"Tuan, seseorang membuat masalah. Mereka menuduh kelompok kita sudah melakukan tindakan curang dengan mengirim heroin berkualitas buruk pada mereka!" jawab Franklin melaporkan masalah yang sedang terjadi. "Dan dari informasi yang saya dengar, mereka tengah menyusun rencana untuk menyerang kelompok kita. Apa yang harus saya lakukan?"


Sebelum menjawab, Jove mengingat ancaman yang tadi Casandra lontarkan. Kalau saja hari ini bukan hari bahagia mereka, Jove pasti akan langsung mengajak Franklin dan anak buahnya untuk menghabisi orang-orang bodoh itu. Berani sekali mereka menebar fitnah. Cari mati saja. Akan tetapi karena Jove peduli dengan perasaan istrinya, dia memilih opsi lain untuk memberikan pelajaran pada mereka.


"Casandra bilang dia akan membunuhku jika berani meninggalkannya seorang diri di mansion. Karena aku masih belum menikmati malam pertama kami, aku ingin kau yang mengurus mereka semua. Habisi, dan jangan sisakan satupun. Aku tidak peduli meski tindakan ini akan memancing reaksi panas dari kelompok lain. Berani menyinggungku, itu artinya mereka harus mati. Paham?" perintah Jove tak terbantahkan.


"Baik, Tuan. Malam ini juga saya dan yang lainnya akan membunuh mereka semua. Anda bisa tenang menikmati malam pertama Anda dengan Nona Casandra," sahut Franklin maklum. Dia tentu sangat mengerti akan hal ini.


"Bagaimana dengan besok?"


"Sudah siap semua, Tuan. Jam delapan pagi kita akan berangkat ke Jepang!"


"Pastikan semuanya aman, Franklin. Aku tahu sekarang semua mata sedang tertuju pada Casandra. Resort yang kita sewa harus benar-benar steril. Dan para pelayan yang bekerja di sana haruslah buta, bisu, dan juga tuli. Jika melanggar apalagi berani menyebarkan informasi tentang aku dan Casandra, habisi saja meskipun orang itu adalah wanita. Aku tidak mau mengambil resiko besar dengan membuka celah untuk para bajingan itu!"


"Baik, Tuan. Anda jangan khawatir, nyawa saya taruhannya!"


Jove menghela nafas lega. Dia lalu menepuk bahu Franklin, senang karena pria ini selalu bisa dia andalkan.


"Apa Eriko membuat ulah?" tanya Jove saat teringat dengan ayahnya Regent.


"Membuat ulah sih tidak, tapi tadi Eriko tak sengaja bertemu dengan malaikat mautnya. Sepertinya antara Eriko dan Kiara sudah saling kenal sebelumnya," jawab Franklin.


"Awasi pria itu. Dia yang terlihat paling tidak senang melihat kebahagiaanku dan Casandra. Kalau saja itu bukan bagian Kiara, aku lebih memilihmu untuk langsung menghabisinya saja. Aku jijik!"


"Tapi sepertinya Regent tak seserakah ayahnya, Tuan. Dia terlihat tenang meski gurat ketidakrelaan tercetak jelas di matanya."


"Mungkin dia yang bisa memenangkan hati Kiara nanti. Kita lihat saja bagaimana kelanjutannya!"


Franklin membungkuk sopan saat bosnya kembali masuk ke dalam kamar. Setelah itu dia bergegas pergi dari sana dengan di ikuti oleh beberapa pengawal di belakangnya.


Ternyata masih saja ada yang berani menyinggung Tuan Jove di hari bahagianya. Benar-benar bodoh. Apa mereka pikir Tuan Jove akan melemah hanya karena sebuah pernikahan? Konyol.


***

__ADS_1


__ADS_2