
"Pastikan kuda-kudamu kuat saat memasang posisi menahan serangan. Kalau kakimu lemah, kau bisa muntah darah ketika lawan menendang ulu hatimu!" ucap Rose sambil menepuk kaki Kiara yang kurang sempurna. Tanpa memberi aba-aba, Rose melayangkan satu pukulan yang tidak terlalu kuat hingga membuat gadis ini mundur beberapa langkah ke belakang. "Lihat ini. Bibi hanya melakukan serangan ringan tapi tubuhmu sudah bergerak mundur. Perbaiki lagi!"
"Baik, Bibi," sahut Kiara patuh. Dia segera mengikuti arahan ibunya Jove dengan memasang kuda-kuda sesempurna mungkin.
Setelah semalam bertemu dengan Casandra, Kiara jadi mempunyai tekad untuk bisa segera melindunginya. Wanita itu memang cetus dan cara berpikirnya lumayan sembrono, tapi di mata Kiara itu terlihat manis. Calon istrinya Jove berusia tiga tahun lebih muda dari Kiara, jadi dia merasa seperti sedang berbincang dengan adiknya sendiri. Lumayan menghibur, begitu pikirnya.
Pagi hari setelah bangun tidur, Kiara diminta oleh ibunya Jove agar segera bersiap diri. Dia kemudian di bawa ke pinggir pantai, tapi bukan untuk bersenang-senang. Di sini, sambil mendengarkan suara deburan ombak Kiara kembali menjalani pelatihan. Walaupun tidak sekeras yang dia terima saat berada di pulau, tapi Kiara bisa merasakan ada tekanan kuat yang memaksanya harus bisa bertahan. Karena begitu sampai di sini, sosok keibuan di diri Bibi Rose langsung lenyap tergantikan oleh raut intimidasi dan juga tegas tak terbantahkan. Kiara sadar, penyiksaan yang sebenarnya baru saja akan dimulai.
"Jangan melamun. Kau bisa kehilangan nyawa jika tidak fokus!" tegur Rose setelah pukulannya hampir mengenai wajah Kiara. Dia lalu menghela nafas, merasa kurang puas dengan keadaan gadis ini. Tak mau memaksa, Rose memutuskan untuk istirahat sebentar. Dia lalu menggandeng tangan Kiara kemudian membawanya menyusuri pinggiran pantai.
Dua wanita dengan usia dan kecantikan yang berbeda sama-sama menyunggingkan senyum saat air laut mengenai kaki mereka. Setelah itu keduanya saling memandang, hangat dan nyaman. Jauh di dalam manik mata Rose, dia membayangkan akan seperti apa reaksi Kiara nanti begitu tahu kalau keluarga yang selama ini ingin dia bahagiakan ternyata sudah membusuk di dalam tanah. Masih terngiang dengan begitu jelas bagaimana gadis ini dengan begitu tegas menolak niat baik Rose yang ingin membantu membiayai sekolah adiknya. Dengan penuh percaya diri Kiara berkata kalau dirinya sudah menyisihkan tabungan hasil dari bekerja sebagai model untuk membiayai uang kuliah sang adik. Namun, takdir kebenaran sudah menarik garis berbeda. Rose hanya bisa mendoakan saja semoga gadis ini tidak mengambil tindakan buruk begitu mengetahui kebenaran yang belum terungkap.
"Bibi Rose, kenapa suara nafasmu terdengar begitu berat? Sesuatu terjadikah?" tanya Kiara dengan hati-hati. Dia sebenarnya sudah penasaran sejak tadi, tapi dia berusaha menahan diri karena takut di anggap lancang.
"Hanya sedang terkenang dengan seseorang dari masa lalu, Kia," jawab Rose berkilah. "Kami berdua di pertemukan dalam satu kejadian yang sangat luar biasa buruk. Akan tetapi saat dia tahu ada hal yang tak bisa dia hindari, dia memilih untuk mengakhiri hidup dengan cara membakar diri. Sangat tragis. Dan sampai detik ini, Bibi tak pernah bisa melupakannya. Bagaimana mungkin Bibi lupa kalau dia adalah satu-satunya orang yang membuat Bibi bertahan untuk tetap hidup. Dia sangat istimewa sekali, Kiara!"
__ADS_1
Langkah Kiara terhenti. Dia kemudian menoleh, merasa takjub akan cerita yang baru saja di sampaikan oleh ibunya Jove.
"Aku juga punya seseorang yang seperti itu, Bi. Dan mereka adalah keluargaku!" Kiara bercerita sambil tersenyum kecil. "Saat aku memutuskan untuk menjadi seorang model, yang menjadi tujuan utamaku adalah bisa mengangkat derajat keluarga. Aku bekerja siang malam, lalu mengirimkan separuh uang yang aku dapat untuk mereka. Naas tak dapat diduga dan sial tak dapat ditolak. Managerku diam-diam menjadikan aku sebagai seorang wanita panggilan. Awalnya aku marah dan ingin bunuh diri saja. Tapi saat aku di beritahu kalau adikku berhasil menjadi juara dan ayahku terkena penyakit keras, aku memutuskan untuk bertahan. Aku rela kehilangan harga diri dan juga masa depanku demi bisa membahagiakan keluargaku!"
"Apa kau begitu menyayangi mereka?" tanya Rose. Gadis ini memakan umpan yang dia lempar Dari cara inilah Rose mencari tahu akan setinggi apa amarah Kiara begitu mengetahui kalau orang yang membuatnya tetap bertahan hidup telah di habisi oleh paman dari wanita yang akan di jaganya.
"Sangat. Dan aku lebih memilih mati jika mereka sampai kenapa-napa!" jawab Kiara dengan tegas.
"Jika Tuhan memanggil mereka lebih dulu, apa yang akan kau lakukan?"
Kenapa Bibi Rose tiba-tiba membahas tentang keluargaku dan juga tentang kematian? Mungkinkah ada sesuatu yang sedang dia sembunyikan? Apa? Ah, dadaku berdesir. Semoga ini hanya sekedar perasaan yang salah. Ayah, Ibu, dan juga adikku baik-baik saja. Saat ini mereka sedang bersama dengan seseorang yang mirip denganku. Mereka aman.
"Dulu saat umur Bibi masih tujuh tahun, Bibi terpisah dari keluarga besar. Rasanya sangat menderita hidup sendirian tanpa bisa mengingat jati diri kita yang sebenarnya. Dan ketika kami kembali di pertemukan oleh takdir, Bibi pernah merasa sangat kecewa. Mengapa dan kenapa mereka tidak mencari Bibi. Namun, di balik semua itu ternyata ada alasan kuat yang mendasari. Mereka ....
"Bibi Rose, maaf aku lancang menyela perkataanmu. Kalau boleh tahu kenapa ya sejak tadi Bibi terus saja membicarakan hal yang berhubungan dengan keluarga. Apa mungkin ada sesuatu yang ingin Bibi sampaikan padaku? Jika benar maka katakan saja. Aku pasti akan menanggapinya dengan tenang!" ucap Kiara memberanikan diri untuk memotong perkataan ibunya Jove. Dadanya terus berdetak kuat, seolah ingin memberitahu kalau ada hal yang tidak benar. "Bibi, aku tahu Bibi hanya sedang memancingku untuk bicara. Jika boleh tahu, apa hubungannya dengan keluargaku? Mereka baik-baik saja, kan?"
__ADS_1
"Apa kau merasakan ada sesuatu yang salah dengan keluargamu?" sahut Rose balik melempar pertanyaan.
"Ya, aku merasakannya. Sehari sebelum aku masuk ke ruang operasi untuk melakukan bedah plastik, aku terus saja memimpikan hal-hal aneh tentang keluargaku. Pernah sekali mereka bertiga saling bergandengan tangan kemudian pergi meninggalkan aku, pernah juga mereka hanya duduk diam dengan ekpresi wajah yang sangat dingin. Mereka sangat pucat, seperti orang yang sudah meninggal. Tapi karena Nona Reina dan Pamela meyakinkan aku bahwa mereka baik-baik saja, hatiku kembali merasa tenang. Dan sekarang Bibi tiba-tiba mengulik masalah ini lagi. Jujur, aku resah, Bi. Aku takut telah melewatkan hal penting yang berhubungan dengan mereka!"
Suara helaan nafas Rose bercampur dengan suara angin dan deburan ombak saat dia merasa sesak mendengar penuturan Kiara. Dia jelas tahu kalau yang datang ke mimpi Kiara adalah arwah adik dan kedua orangtuanya. Makanya mereka terlihat pucat seperti mayat. Tapi, haruskah dia memberitahukan fakta itu pada Kiara? Lalu Jove, bagaimana dia akan menjelaskan pada putranya?
Tidak, aku tidak boleh kelepasan. Seiba-ibanya aku pada Kiara, aku tidak rela jika harus membiarkan Eriko mati sekarang. Tunggu setelah dia mengganas, barulah aku memberitahukan kebenaran ini.
"Oya, Kiara. Bagaimana pendapatmu setelah bertemu dengan Casandra? Apa kau menyukai sikap dan prilakunya?" tanya Rose mengalihkan pembicaraan. Dia kemudian tersenyum saat Kiara menatap lekat penuh heran. "Jangan berpikir macam-macam dulu. Bibi hanya tidak mau kau merasa sedih sehingga akan berdampak pada pelatihan kita. Kau tidak lupakan setelah nanti Jove mengizinkanmu untuk mulai mengawasi Casandra, Paman dan Bibi akan mengantarmu pulang ke rumah?"
"Tentu saja aku tidak akan lupa pada hal itu, Bibi Rose. Aku justru sedang menunggu waktu itu tiba," jawab Kiara langsung semringah. "Dan mengenai Casandra, aku suka gadis itu. Walaupun di awal bertemu dia bersikap cetus dan sedikit kasar, terlepas dari itu semua kepribadian Casandra sangatlah menyenangkan. Aku rasa kami bisa menjadi teman baik nantinya!"
Berteman baik tentu saja sangat boleh. Tapi kau harus ingat kalau Casandra sedang menjadi incaran banyak orang. Jove bisa menghabisimu kalau Casandra sampai tertangkap oleh mereka. Jadi kalau gadis itu mengajakmu berbuat yang tidak-tidak, langsung tolak kemudian tegur. Biar saja dia merajuk, yang penting kau tidak lalai dengan tugasmu. Mengerti?"
"Mengerti, Bibi!"
__ADS_1
Karena suasana sudah kembali mencair, Rose mengajak Kiara untuk kembali melakukan latihan. Namun kali ini mereka berlatih bersama. Sebelum rahasia itu terbongkar, Rose ingin menjaga hati gadis malang ini. Dia terenyuh membayangkan apa yang akan terjadi di masa depan nanti.
***