
Jove berdiri di samping jendela sambil memasukkan satu tangan ke saku jendela. Kedua sisi rahangnya tampak mengerat, merasa marah akan apa yang baru saja sedang terjadi.
Akibat ketidaksadarannya, perlakuan Jove pada Casandra kali ini membuat wanita itu mengalami pendarahan hebat. Bahkan sampai harus mendatangkan dokter khusus karena tubuh wanita itu tak berhenti menggigil. Satu yang Jove khawatirkan, Casandra tertular racun yang ada di tubuhnya. Entah apa yang dia pikirkan tadi sampai melupakan fakta kalau Casandra tidaklah tahu tentang derita yang di alaminya. Andai waktu bisa di putar, Jove akan lebih memilih memelampiaskannya pada wanita lain saja. Dia sakit melihat wanitanya tergolek tak berdaya akibat perbuatannya sendiri.
"Tuan Jove!"
Lamunan Jove buyar. Dia kemudian berdehem pelan, memberi izin untuk Franklin bicara.
"Dokter bilang Nona Casandra aman. Dia hanya terluka karena anda terlalu kuat melakukannya!" ucap Franklin melaporkan hasil pemeriksaan dokter.
"Kau yakin dia tidak terjangkit?" tanya Jove memastikan. Dia kemudian berbalik. "Aku akan menghabisi kalian semua jika sampai salah membuat laporan!"
"Tidak, Tuan. Nona Casandra benar-benar aman dari racun itu. Tubuhnya menggigil karena alam bawah sadarnya merasa tertekan atas apa yang anda lakukan. Selain itu tidak ada hal lain yang perlu kita khawatirkan karena racun yang ada di dalam tubuh anda hanya bisa menyebar pada keturunan anda saja. Selain itu tidak ada kontak yang bisa membuatnya menular pada orang lain!"
Terdengar helaan nafas lega begitu Franklin menjelaskan. Ekor mata Jove kemudian melirik ke arah ranjang tempat dimana Casandra berada. Untunglah wanita ini baik-baik saja. Jika tidak, maka Jove akan merasakan rasa bersalah yang mungkin akan dia tanggung sampai mati.
"Berikan aku ponsel. Ada seseorang yang harus bertanggung jawab atas masalah ini!"
"Baik, Tuan!"
__ADS_1
Segera Franklin mengambil ponsel dari saku jas kemudian diberikan pada bosnya. Dia lalu menoleh ke arah pintu saat seorang penjaga datang.
"Ada apa?"
"Tuan Jove, Franklin, pagi tadi Nyonya Rose menyambangi kediaman keluarga Lin. Beliau memberitahu mereka tentang adanya mata-mata yang coba mengintai!" lapor si penjaga dengan serius.
"Lalu bagaimana?"
"Sebelum kami sempat menangkap mereka, orang-orangnya Nona Pamela sudah membawa mereka pergi lebih dulu. Sepertinya dia diam-diam ikut mengawasi keamanan di keluarga Lin!"
Franklin menatap bosnya. "Haruskah saya menghubungi gadis itu, Tuan?"
"Aku yang akan melakukan!" sahut Jove yang memang kebetulan ingin menghubungi gadis psikopat itu. Dia lalu menempelkan ponsel ke telinga sembari menatap Casandra yang masih belum sadarkan diri.
"Kapan obatku selesai kau buat? Kau terlalu lama mengulur waktu. Aku muak menunggu!" tanya Jove tanpa basa basi. "Pagi ini aku membuat Casandra pendarahan hebat karena rasa sakit itu muncul tiba-tiba. Bertanggung jawablah sebelum aku mendatangi cangkang kesayanganmu kemudian menghancurkannya!"
Hening. Tak ada suara apapun yang keluar dari dalam telepon setelah Jove memberitahukan keadaan Casandra. Tahu kalau gadis itu terkejut, dengan marah Jove menendang meja yang berada tak jauh darinya. Dia emosi bukan pada Pamela, tapi pada dirinya sendiri. Jove tak habis pikir mengapa tadi dia bisa sampai hilang kendali sehingga melukai wanitanya sampai sedemikian rupa. Ayolah, meski perbuatannya sedikit buruk, tapi Jove sama sekali tidak ada niat untuk menyakiti. Dia mencintai Casandra, dan melihatnya terbaring tak berdaya begini membuat hatinya terluka. Sungguh.
"Kak, beri aku waktu tiga hari lagi untuk menyelesaikan racikan obat yang sudah hampir jadi sempurna. Aku harus memastikan lebih dulu kalau obat ini bisa menjamin para keturunanmu nanti agar tidak tertular racun itu. Percayalah, obatnya akan siap secepat yang aku bisa!"
__ADS_1
"Jangan hanya memberiku janji kosong, Pamela. Ini sudah terlalu lama. Kau tahu itu!" sentak Jove murka. Namun sedetik kemudian emosinya menghilang saat dia teringat dengan penyusup yang mengintai kediaman keluarga Lin. "Apa yang kau lakukan pada mereka?"
Kekehan, itu yang Jove dengar dari dalam telepon. Dia yakin sekali kalau gadis psikopat ini pasti telah menjadikan para penyusup itu sebagai pundi-pundi dollar. "Kau menghabisi mereka?"
"Aku mana mungkin tega menghabisi orang-orang lancang itu, Kak. Tapi kau tenang saja. Aku pastikan mereka tidak akan bisa kembali mengintai di rumah itu. Dan kalau kau mau tahu organisasi mana yang telah mengirim mereka, itu adalah Albert. Orang tolol sepertinya mengapa masih kau biarkan hidup? Apa kau sedang bermain-main dengan api yang bisa membakar tubuhmu sendiri, Jove Lorenzo? Lawak sekali!" ejek Pamela sebelum akhirnya dia terkikik kuat.
"Albert?" Kening Jove mengerut. Dia lalu menyeringai. "Kalau begitu kirimkan kepala mereka ke rumahnya. Aku ingin lihat masih seberani apa dia bermain api denganku. Dan kau, Pamela. Sebaiknya kau jangan membuatku menunggu lagi. Tiga hari, kau akan mati bersama dengan meledaknya labolatorium Grisi jika aku masih belum menerima obat penawar itu!"
Klik. Panggilan di putus sepihak oleh Jove setelah dia meninggalkan ancaman. Setelah itu dia mencengkeram ponsel dengan kuat, marah karena lagi-lagi Albert mengganggunya.
"Ada apa, Tuan?" tanya Franklin seraya memasang wajah garang. "Sepertinya sudah tiba waktu untuk kita menghabisi bajingan pengecut itu. Tidak disangka ternyata dia juga telah mengetahui tentang rahasia Nona Casandra. Kita harus bergerak cepat sebelum yang lain lagi!"
"Nanti saja. Kita jangan buru-buru menjadikan Albert sebagai target. Karena masih ada seseorang yang mengganggu pikiranku!" sahut Jove dingin. Dia lalu berjalan menuju ranjang kemudian duduk di samping Casandra yang terbaring dengan infus menancap di tangan sebelah kiri. "Awan, aku yakin pembunuh itu pasti sedang ketar-ketir memikirkan dengan siapa dia akan bekerja sama. Dan firasatku mengatakan kalau Albert akan menjadi kandidat utama yang akan dia incar sebagai tameng untuk melindungi diri dari kelompok kita. Awan bukan orang bodoh. Dia tahu benar kalau bermasalah dengan kita, adalah suatu kematian yang nyata. Kita tunggu saja!"
"Apakah ini tidak akan menimbulkan bahaya lain, Tuan? Saya khawatir kita kecolongan!" tanya Franklin tak tenang. Bukan karena berhadapan dengan Albert dan Awan, melainkan datangnya segerombolan orang yang sama-sama mengincar darah langka. "Kekuatan mereka akan menjadi besar sekali jika sampai menjadi satu. Dan kelompok kita belum tentu bisa menang!"
"Jangan meremehkan sesuatu yang kau sendiri bahkan tidak tahu endingnya, Frank. Karena mau sebanyak dan sebesar apapun kekuatan mereka, hanya aku yang boleh memiliki Casandra. Dia ratuku, dan akan terus seperti itu selamanya!"
Franklin langsung pamit keluar begitu mendengar ketegasan bosnya yang tak terbantahkan. Dia sadar betul kalau perkataannya tadi telah menyinggung harga diri pria tersebut. Sambil melangkah keluar, Franklin merutuki kebodohannya sendiri. Dia heran mengapa bisa terpikir untuk ragu akan kehebatan dari orang-orang yang berada di belakang seorang Jove Lorenzo. Benar-benar suatu kebodohan yang tak tertolong lagi. Haihhh.
__ADS_1
"Cassey, cepatlah sadar. Aku ingin memberitahu hal penting kepadamu. Kau harus mengerti kalau aku sama sekali tidak ada niat untuk menyakitimu hingga seperti ini. Semua itu terjadi karena ... karena wanita adalah kelemahanku. Lekaslah sadar!" gumam Jove seraya mengelus pipi pucat Casandra yang terasa sangat dingin. Baru sekali ini Jove merasakan ketidakberdayaan melihat seseorang tergolek lemah. Sungguh, jaguar satu ini merupakan kelemahan terbesar dalam hidupnya. Jove akui itu.
***