The Devil JOVE

The Devil JOVE
55. Tempat Baru


__ADS_3

Karena Kaira adalah orang spesial, Pamela turun tangan langsung mengantarkannya ke pulau rahasia milik Jove. Dia telah selesai dengan pekerjaannya di lab, jadi Pamela berencana untuk liburan sejenak di pulau tersebut. Sekalian melihat-lihat apakah di sana ada lowongan pekerjaan yang bisa dia lakukan atau tidak untuk menghasilkan dollar. Biasalah, Pamela kan tidak bisa hidup tanpa aroma uang. Jadi dia akan selalu menggunakan semua kesempatan yang ada untuk memperkaya diri. Menggemaskan sekali bukan?


“Haihhh, kenapa di sini isinya pria tampan semua ya? Apa Nona Reina tidak terpikir untuk merekrut tim wanita juga? Aneh,” gumam Pamela sambil bertopang dagu memperhatikan belasan pria yang tengah melakukan pelatihan fisik dengan cara diceburkan ke dalam kolam renang dengan kondisi tangan dan kaki terikat.


Sadis sekali bukan? Dan tidak sedikit dari pria-pria itu yang mati sia-sia karena tak bisa melepaskan ikatan tali di tangan dan kakinya. Meski banyak senior yang mengawasi jalannya pelatihan kejam tersebut, tapi mereka tidak akan pernah memberikan pertolongan pada mereka yang bernasib sial. Bukan tidak peduli, tapi memang seperti itulah syarat yang harus mereka lakukan jika ingin menjadi bagian dari tempat ini. Namun di balik itu semua, Jove telah menyiapkan bayaran yang sangat mahal bagi mereka yang lulus dalam pelatihan ini. Bahkan Jove tak ragu untuk memberikan uang dengan jumlah yang cukup besar pada semua keluarga yang di tinggalkan. Dia mafia yang baik hati sekali bukan? Tapi tetap saja, bekerja pada seorang mafia kelas kakap sepertinya taruhannya pasti nyawa. Jadi apa dari kalian ada yang berminat untuk bekerja padanya? 😎


Sementara itu di sebuah ruangan, terlihat Kaira yang tengah mengigit bibir bawahnya saat seorang dokter menyuntikkan sesuatu ke dalam tubuhnya. Tadi saat Kaira terbangun, tiba-tiba saja dia sudah berpindah tempat di sini. Entah apalagi yang akan dilakukan orang-orang ini kepadanya, Kaira tidak tahu. Yang jelas Kaira tidak melihat keberadaan Pamela di sana, gadis gila yang juga telah menyakitinya sebelum di bawa kemari.


Ceklek


Kaira yang sedang menahan rasa sakit di tubuhnya langsung menoleh saat mendengar suara pintu terbuka. Dia terkesima melihat seorang wanita yang sangat luar biasa cantik tengah berjalan ke arahnya sambil tersenyum manis sekali.


“Halo, Kaira. Apa kabar?” sapa Reina dengan suara gemulainya. Dia lalu mengibaskan tangan meminta agar para dokter segera pergi dari sana. Setelah itu Reina membelai wajah pucat Kaira, merasa puas karena gadis ini ternyata sangat patuh. Tentu saja patuh. Memangnya siapa yang mampu melawan kegilaan seorang Pamela Thampson? Bisa-bisa dia di jadikan kelinci percobaan di labolatoriumnya jika terlalu banyak memberontak. Kalian pasti sudah tahu bukan betapa gilanya jiwa gadis itu?


“Kau siapa?” tanya Kaira penasaran. Matanya terus menatap lekat wanita cantik yang berdiri di sebelahnya.


Sebelum menjawab, Reina terlebih dahulu membantu Kaira untuk duduk. “Kau boleh memanggilku dengan nama Nona Reina. Dan aku adalah bibinya Jove, juga Pamela. Kau mengenal mereka bukan?”

__ADS_1


Kaira mengangguk. “Aku sekarang ada di mana, Nona Reina? Bukankah sebelumnya aku berada di tempat lain ya?”


“Kau sedang ada di pulau. Pamela sudah memberitahumu bukan kalau Jove menginginkanmu untuk menjaga miliknya yang berharga?”


“Iya. Pamela sudah memberitahuku tentang masalah ini.”


“Nah, dan sekarang kau sedang berada di tempat yang akan membuatmu memenuhi keinginan Jove. Kau tidak perlu takut. Jove memilihmu secara khusus, jadi kami akan memperlakukanmu dengan cara yang khusus juga. Aku harap kau bisa bekerjasama dengan semua orang yang ada di sini ya?”


Kenapa aku merasa wanita ini sangat berbahaya ya? Mereka tidak mungkin hanya ingin menjebakku saja ‘kan? Aku tidak pernah menyinggung Jove, harusnya aku baik-baik saja di sini.


Reina terkekeh pelan melihat Kaira yang malah diam melamun. Dia kemudian menoleh saat seseorang membuka pintu ruangan. “Oh, Pamela. Ada apa? Bukankah kau sedang menikmati pemandangan roti sobek yang bertebaran di kolam renang ya? Kenapa kemari?”


Kaira langsung menelan ludah begitu melihat penampakan di layar ponsel milik Pamela. Tidak, dia bukan takut pada orang yang ada di dalam sana. Tapi Kaira merasa ngeri melihat banyaknya luka di dada Jove yang kebetulan tidak sedang memakai baju. Seketika nafas Kaira berubah menjadi sedikit lebih cepat dari biasanya.


“Kaira, keluargamu baik-baik saja. Kau cukup lakukan yang terbaik di sana lalu aku akan memastikan keluargamu tidak kekurangan apapun di sini. Kau mungkin terkejut dengan tindakanku. Tapi percayalah, aku melakukannya karena aku percaya kau mampu melakukannya. Jadi patuhlah pada Nona Reina dan juga semua orang yang ada di sana agar kau tidak mengecewakan aku saat bebas nanti. Mengerti?” ucap Jove sambil menatap tajam dari layar telepon.


“Apa aku bisa menemui keluargaku dulu setelah keluar dari sini?” tanya Kaira penuh harap. “Jove, kau tahu bukan kalau aku sangat merindukan mereka. Kalau memang kau berani menjanjikan hal itu padaku, maka aku akan melakukan semua yang kau perintahkan. Tapi jika keluargaku sampai kenapa-napa, aku bersumpah akan menjadi orang yang menghancurkan hidupmu!”

__ADS_1


Pamela dan Reina saling melempar lirikan mendengar Kaira yang dengan terang-terangan mengancam Jove. Hmmm, cukup mengerikan juga keberanian gadis ini. Mereka jamin kalau ucapannya itu malah akan membuat Jove semakin menyukainya. Kaira salah trik.


“Aku tidak akan menjawab iya atas pertanyaanmu. Tapi aku akan menjawab jika salah satu anggota keluargamu sampai ada yang meninggal, itu terjadi karena takdir Tuhan. Bukan kesalahan anak buahku!”


Klik. Pangilan langsung terputus setelah Jove berkata seperti itu. Sebagian dari kalian pasti ada yang berpikir kalau suatu hari nanti Kaira bisa menjadi musuh dalam selimut dalam hubungan Jove dengan Casandra karena mereka pernah menghabiskan malam bersama. Percayalah, hal itu tidak akan mungkin terjadi. Karena apa? Karena Kaira tidak akan pernah jatuh cinta pada pria berlatar belakang kaya raya seperti Jove. Kaira selalu memimpikan bisa menikah dengan pria sederhana di mana nantinya mereka akan berkebun untuk menikmati kehidupan rumah tangga mereka. Jadi Jove sangat jauh dari impiannya.


“Kaira, tersenyumlah. Di sini ada banyak sekali pria tampan dengan tubuh yang tak kalah atletis dari tubuh Kak Jove. Aku jamin kau akan sangat betah berada di tempat ini. Iyakan, Nona?” ucap Pamela sembari mengambil ponsel dari tangan Kaira. Sedetik kemudian ekpresi di wajah Pamela berubah menjadi sangat datar saat dia akan memajukan tubuhnya. “Kau adalah orang paling istimewa di sini. Aku harap kau bisa tahu diri dengan tidak berpikir untuk kabur ataupun bermalas-malasan. Ingat, Kak Jove bukan orang yang mudah berbaik hati pada orang lain. Begitu juga dengan aku. Jadilah gadis yang baik agar kau bisa secepatnya menemui keluargamu. Itukan yang kau inginkan?”


Ya Tuhan, sebenarnya orang-orang seperti apa mereka ini? Kenapa mereka begitu mudah mempermainkan hidup orang lain? Mungkinkah aku akan kuat bertahan?


“Pamela, kau jangan terlalu keras pada Kaira. Dia masih anak baru, kalau Kaira jatuh sakit bagaimana? Jangan lupa ya setelah ini Kaira harus melewati pelatihan ektra dari kami semua. Aku tidak mau mentalnya sampai melemah gara-gara sikapmu. Tahu?” tegur Reina sambil menjewer telinga Pamela yang sedang menggertak Kaira. Reina kemudian tersenyum pada Kaira yang menatapnya. “Jangan takut, sayang. Ada aku yang akan selalu melindungimu dari gadis gila ini. Oke?”


“Terima kasih, Nona Reina,” sahut Kaira antara takut dan juga pasrah.


“Kalau begitu sekarang kau istirahatlah karena mulai besok kau sudah harus melakukan pelatihan. Aku dan Pamela akan meninggalkanmu sendirian di sini. Jika lapar, tekan saja tombol ini. Nanti akan ada seseorang yang mengantarkan makanan untukmu. Oke?”


Kaira mengangguk. Dia diam memperhatikan Nona Reina yang menarik tangan Pamela untuk keluar dari sana. Setelah itu Kaira menarik nafas panjang sambil memperhatikan ruangan tempat dia berada.

__ADS_1


“Jove benar-benar pria yang sangat mengerikan. Semoga saja cukup aku yang masuk kemari, tidak dengan anggota keluargaku yang lain. Mereka bisa mati ketakutan nanti,” gumam Kaira sesaat sebelum dia kembali berbaring di ranjang. Dia lelah secara fisik dan juga pikiran. Kaira butuh istirahat yang cukup untuk menyambut hari esok yang pastinya jauh lebih melelahkan lagi daripada apa yang dia rasakan sekarang.


***


__ADS_2