
📢📢 BOM KOMENTARNYA BESTIE
***
“Ugghhhh, Jove. Hen-hentikan!” ucap Casandra dengan nafas terengah-engah. Dia berusaha mendorong tubuh Jove yang berada di atas tubuhnya.
Sungguh, adalah keputusan yang amat sangat salah dengan setuju untuk pulang ke mansion sialan ini. Kalau saja Casandra sedikit lebih berkuat hati, dia pasti tidak akan terjebak dalam keadaan gelora panas yang di ciptakan oleh bajingan brengsek yang kini tengah sibuk menyusuri tulang selangkanya. Sebagai wanita normal, sentuhan Jove jelas membuat tubuh Casandra serasa di bakar api yang sangat besar. Panas, tapi candu.
“Mend*sah saja kalau kau ingin mend*sah, Cassey. Jangan di tahan,” bisik Jove dengan suara parau. Berada di dekat wanita jaguarnya membuat Jove kehilangan kendali. Apalagi sudah beberapa hari terakhir Jove tidak mendapat pelepasan yang sangat di sukainya, jadi dengan keberadaan Casandra di kamar ini membuat fokus Jove terpecah hingga tersisa na*su gairah belaka.
“T-tolong jangan begini, J-Jove. K-kau bilang tidak akan macam-macam kalau aku pulang bersamamu, tapi kenapa sekarang kau begini? Tolong hentikan, Jove. Kau melukai harga diriku.”
Hening. Jove yang tadinya hendak membenamkan wajahnya di bagian dada Casandra mendadak diam mematung saat Casandra berucap kalau dia telah melukai harga dirinya. Jove bagai tersengat aliran listrik saat mendengar ucapan tersebut. Meski tubuhnya masih dilanda gairah yang begitu besar, Jove memaksakan diri untuk turun dari atas tubuh Casandra. Setelah itu dia berbaring menyamping kemudian menarik tubuh Casandra masuk ke dalam pelukannya. Jove lalu memejamkan mata.
“Walaupun aku sangat tidak suka ini, tapi aku akan tetap mengatakannya,” bisik Jove sembari menciumi kening Casandra yang basah keringat. “Maaf,”
Casandra tertegun.
In-ini aku tidak salah dengar ‘kan? Jove … dia mengatakan maaf padaku? Ya ampun, apa mungkin besok pagi matahari akan terbit dari arah barat, makanya bajingan tengik ini meminta maaf kepadaku. Aneh sekali.
“Aku tahu kau terkejut mendengarnya, tapi aku tulus mengatakannya,” lanjut Jove saat dia menyadari kalau Casandra terkejut mendengar perkataannya. “Ibuku dan keluarganya sangat menjunjung tingi martabat seorang wanita. Mereka selalu menyamaratakan status wanita dengan para pria di keluarganya. Namun, aku adalah pengecualian. Selama ini tidak ada yang tidak bisa kudapatkan selain wanita. Dan sejak bercinta denganmu, aku sudah tidak tertarik lagi pada wanita lain. Tubuhmu sangat candu, Casandra. Aku selalu hilang kendali jika sedang berada di dekatmu. Karena hanya dengan bercinta denganmu, aku merasakan kemenangan yang sesungguhnya. Kau … sangat berarti untukku!”
Deg deg deg
__ADS_1
Jantung Casandra berdegub kuat mendengar penuturan Jove yang seperti sedang mengungkapkan perasaannya. Bohonglah jika Casandra tidak merasa tersihir, dia sangat terpesona malah. Namun saat teringat betapa bajingannya pria ini, mati-matian Casandra menahan luapan hatinya agar tidak mudah terpedaya. Dia hanya diam saja tanpa ada niat merespon perkataan Jove meski sebenarnya dia sangat ingin. Casandra gengsi mengakuinya.
“Aku tidak keberatan kalau kau ingin menganggapku sebagai seorang bajingan. Walau itu tidak sepenuhnya benar, tapi aku juga tidak memiliki alasan untuk menampik pemikiranmu. Satu hal yang perlu kau ketahui tentangku, Casandra. Dunia yang kugeluti selalu penuh dengan bahaya. Namun, pantang bagiku membunuh orang-orang yang tidak berdaya. Entah itu anak-anak, wanita ataupun orangtua. Selama mereka menyinggung batasanku, aku tidak akan ragu untuk menghabisi mereka semua. Aku berkata seperti ini bukan untuk mengambil hatimu, tapi aku ingin kau tahu kalau aku bukan orang yang suka mempermainkan sesuatu yang tidak bernilai. Sampah akan kubuang pada tempatnya, dan berlian akan aku simpan di dalam kotak yang indah. Kau paham bukan maksud perkataanku?”
“Kau rumit, dan aku benci dengan caramu memperlakukan aku!” sahut Casandra seraya menyunggingkan senyum penuh ejek. Dia juga tidak sebodoh itu dengan tidak memahami pengakuan Jove yang tengah memberikan kode kalau dia adalah pria yang berbahaya. Pembunuh bukan pembunuh, penjahat juga bukan penjahat. Pada intinya di mata Casandra Jove tetaplah seorang bajingan yang telah merenggut keperawanannya. Titik.
“Aku begitu karena ingin melindungimu saja. Kau tidak mungkin tidak tahu alasan mengapa Ayahmu mengekangmu hingga seperti ini. Dan alasanku kurang lebih sama dengan yang di pikirkan oleh Ayahmu. Jadi menurutlah saat aku memintamu untuk diam!”
“Cihhhh!”
Jove tersenyum. Dia membuka matanya kemudian menarik dagu Casandra agar menatapnya. Menggunakan jari telunjuk, Jove membelai alis indah milik Casandra. Kecantikan wanita ini benar-benar sangat sempurna di matanya. Beruntung orang yang menjadi penyelamat hidupnya Jove adalah wanita jaguar ini. Entah apa yang akan Jove lakukan jika wanita yang di maksud oleh sang paman memiliki fisik yang tidak enak di pandang mata. Kemungkinan besar wanita itu akan terkurung di labolatoriumnya Pamela, si gadis psikopat yang begitu tergila-gila pada dollar.
“Jove?”
“Hem?” ….
“Apa yang harus kau risaukan dari hal ini, hem?” sahut Jove balik melayangkan pertanyaan. “Kau mengandung penerus keturunan Lorenzo, apa kau pikir aku akan mengabaikan kalian begitu saja?”
“Jadi kau akan menikahiku?”
“Apa kau berharap aku akan membunuhmu?”
“Brengsek kau!”
Casandra mencebikkan bibir. Dongkol sekali dia mendengar perkataan Jove barusan. Dia di dera kecemasan yang begitu besar tapi bajingan ini malah bicara melantur seenaknya. Kalau saja di sini ada palu, Casandra pasti sudah memukul kepalanya Jove sampai semua isi di dalam kepalanya berhamburan keluar. Membuat orang jengkel saja. Huh.
“Bukahkah tadi aku sudah mengatakan kalau aku candu pada tubuhmu. Kenapa kau masih meragukan hal itu?” ucap Jove beralih membelai kelopak mata Casandra. Dia kemudian tersenyum saat Casandra memejamkan matanya.
__ADS_1
“Bilang saja kalau kau hanya membutuhkan tubuhku untuk memuaskan hasratmu yang seperti kuda liar itu. Dasar bajingan. Kau menjijikkan, Jove!” umpat Casandra sambil menutup mulutnya yang ingin menguap. Karena saat makan malam tadi dia cukup banyak meminum anggur, rasa kantuk dengan cepat menghampiri Casandra. Di tambah lagi dengan perlakuan Jove sekarang, membuatnya jadi tidak tahan ingin segera bergelung di bawah selimut.
“Tidurlah. Aku akan menemanimu di sini,” bisik Jove sambil mengeratkan pelukannya. Dia lalu terkekeh pelan saat Casandra menggumamkan umpatan kasar terhadapnya. “Berhenti menggumam atau aku akan mengajakmu bercinta sampai pingsan. Tidur!”
Tak butuh waktu lama bagi Casandra untuk tenggelam di dunia mimpinya. Jove yang mendengar suara dengkuran pelan dari arah dadanya dengan hati-hati menundukkan kepala. Untuk beberapa saat Jove hanya terpaku diam melihat Casandra yang terlihat sangat manis saat sedang tidur seperti ini. Walaupun hanya menggunakan riasan sederhana, tapi keadaan ini tak membuat Casandra terlihat buruk. Malah dia terlihat semakin manis yang mana membuat Jove tak henti menelan ludah.
“Aku baru sadar kalau kau itu terlihat semakin cantik saat sedang diam seperti ini, Cassey. Saat kau sedang dalam keadaan sadar, kau benar-benar terlihat seperti seekor jaguar yang sedang kelaparan. Sangat garang dan menantang,” gumam Jove memuji betapa cantiknya sang dewi yang tengah terlelap di dalam pelukannya.
Tok tok tok
Jove menghela nafas panjang saat mendengar suara ketukan pintu. Tahu kalau Franklin ingin bicara dengannya, dengan hati-hati Jove membaringkan kepala Casandra di atas bantal. Setelah itu Jove mengecup bibirnya lama sebelum akhirnya dia melangkah keluar dari dalam kamar.
“Ada apa?” tanya Jove setelah menutup pintu. Dia lalu menaikkan sebelah alisnya ke atas saat mendapati ada luka tembak di tangan Franklin. “Sepertinya mereka cukup cerdik sampai bisa melukaimu seperti ini. Darimana mereka datang?”
“Orang-orang ini datang atas perintah seorang ilmuwan yang juga sedang memburu darah langka milik Nona Casandra, Tuan. Dan dari gerak-gerik mereka, sepertinya mereka adalah sekelompok pembunuh bayaran yang biasa di sewa oleh para pemberontak negara!” jawab Franklin mengungkapkan pendapatnya terhadap latar belakang musuh yang tadi sempat beradu tembak dengannya.
“Apa ini ada hubungannya dengan Albert?” tanya Jove memastikan.
“Saya rasa tidak, Tuan. Hanya penjaga itu saja yang terhubung dengan Albert. Mereka bukan,” jawab Franklin.
“Bagaimana dengan Awan?”
“Saya sudah memerintahkan orang untuk menyelidiki apakah Awan ada hubungannya dengan mereka atau tidak!”
Jove terdiam. Dia lalu mengajak Franklin pergi ke ruang kerjanya untuk membantu mengeluarkan peluru yang bersarang di tangannya.
***
__ADS_1