The Devil JOVE

The Devil JOVE
81. Fakta Yang Harus Dihadapi


__ADS_3

Setelah insiden pingsan di tengah-tengah makan malam, keberanian Casandra secara perlahan mulai menguat. Dan ini semua tak lepas dari campur tangan Jove yang tak pernah lelah menyiksa batin Casandra dengan membuatnya melihat langsung adegan demi adegan yang mampu membuat seluruh tubuh menggigil ngeri. Juga karena Casandra yang memiliki tekad tak mau terus-terusan bergantung pada bajingan tengik itu. Namanya adalah Casandra Lin, putri semata wayang dari pasangan Cadenza dan Elzavat Lin. Jadi adalah hal yang sangat memalukan sekali jika tidak berani menghadapi kekejaman dunia dengan tangan sendiri. Ya meski terkadang rasa ketakutan masih menyelimuti benaknya.


Seperti pagi ini. Karena hari libur, Jove mengajak Casandra untuk pergi ke suatu tempat. Awalnya Casandra kira mereka akan pergi ke tempat pelatihan atau restoran untuk sarapan. Tapi siapa yang akan mengira kalau Jove membawanya ke sebuah tempat aneh yang isinya orang-orang berwajah datar dan pucat.


"Tempat macam apa ini, Jove?" tanya Casandra penasaran.


"Tempat di mana kau akan mengetahui kalau di dunia ini ada banyak sekali orang dengan keahlian yang tidak masuk akal," jawab Jove santai. Mulutnya memang bicara, tapi tangannya tak bisa berhenti mengelus pinggang ramping wanitanya.


"Maksudnya bagaimana?"


Labolatorium Grisi. Ya, Jove sengaja membawa Casandra kemari karena dia berniat memperlihatkan betapa darah di tubuhnya sangat istimewa, juga sangat berbahaya. Alasan kenapa dia membawanya ke labolatorium ini adalah karena Pamela mengiriminya satu video di mana ada seorang pria yang tubuhnya terlilit sel aneh berasal dari campuran darah milik Casandra dengan cairan khusus hasil ciptaan ilmuwan Grisi. Karena penasaran dia akhirnya membawa Casandra datang guna meminta Pamela untuk memeriksa apakah ada kelainan lain di tubuh wanitanya atau tidak.


"Kau akan tahu sendiri nanti."


"Cihh, apa susahnya sih tinggal bicara saja!" sungut Casandra jengkel. Dia lalu menepis tangan Jove saat mereka akan masuk ke dalam lift. "Kondisikan tanganmu. Tahu?"


Jove diam tak menyahut. Sedangkan Franklin, dia menatap sekilas pada Nona Casandra kemudian beralih menekan tombol menuju ruang bawah tanah. Sebenarnya Franklin tak harus melakukan hal itu juga karena dinding di dalam lift ini memiliki mata yang langsung tahu kemana harus bergerak. Akan tetapi karena dia tak mau membuat Nona Casandra syok, memutuskan untuk bersikap kalau lift ini sama halnya dengan lift-lift yang lain. Ayolah, sekarang mereka sedang berada di Labolatorium Grisi, salah satu tempat paling ajaib yang pernah Franklin lihat. Mustahil benda-benda yang ada di sini bersifat sama seperti yang ada di luaran.


Ting


Pintu terbuka. Dan Casandra hampir jatuh terjengkang saat berpapasan dengan pria berwajah datar yang berjalan tegak sambil menenteng kepala binatang.


"Apa ini tempat penjagalan?" tanya Casandra yang kini sudah menempel di lengan Jove. Dia takut sekali. Sungguh.


"Ya." Jove menjawab singkat. Dan dia hanya tersenyum saja mendengar Casandra mengumpat pelan.

__ADS_1


Tak lama setelah itu pemilik dari tempat ini muncul. Casandra yang tidak tahu siapa orang tersebut nampak mengerutkan kening sambil memperhatikan penampilannya dari ujung rambut hingga ujung kaki. Sangat cantik, tapi entah mengapa bulu kuduknya seperti berdiri semua melihat senyum yang menghiasi bibir gadis tersebut.


"Halo, Nona Casandra. Apa kabar?" sapa Pamela dengan ramah. Tak lupa dia melambaikan tangan sambil memasang senyum semanis mungkin.


Ah, sepertinya akan menyenangkan sekali jika aku bisa memiliki wanita ini sepenuhnya. Hari-hariku pasti akan selalu penuh tantangan karena berhasil mendapatkan seseorang dengan keistimewaan yang sangat luar biasa hebat. Tapi ... bagaimana caraku menyingkirkan pawangnya yang bengis itu ya? . Haihhh.


"Aku tahu apa yang sedang kau pikirkan, Pororo!" ejek Jove dingin. Sengaja dia memanggil Pororo sebagai tanda kalau dia tak suka dengan cara Pamela menatap wanitanya. Jelas terlihat ada n*fsu di sana.


"Pororo?"


"Hei, jangan di dengarkan, Nona Casandra. Pororo itu bukan namaku, tapi Pamela lah namaku yang sesungguhnya," ucap Pamela dengan cepat menjelaskan. Setelah itu dia berjalan mendekati Casandra kemudian menggaet lengannya. "Ayo ikut aku. Ada penelitian menakjubkan yang ingin aku tunjukkan padamu."


"Penelitian apa?" tanya Casandra merasa was-was.


"Tentang ....


Belum juga Pamela menyelesaikan perkataannya, Franklin sudah lebih dulu berdehem. Pamela kemudian terkekeh sebelum akhirnya membawa Casandra menuju ruangan tempat di mana dia melakukan penelitian.


Sebenarnya ini tempat apa? Kenapa suasananya terasa begitu mencekam sekali. Dan juga penelitian apa yang ingin Pamela tunjukkan padaku? Tidak mungkin tentang penelitian organ tubuh manusia yang di satukan dengan binatang 'kan?


Ceklek


"Tara. Selamat datang di ruang penelitian Labolatorium Grisi, Nona Casandra!" ucap Pamela heboh sambil merentangkan kedua tangan memamerkan ruangan yang paling dia sukai. Setelah itu dia menarik Casandra menuju satu peti transaparan di mana di dalamnya ada mayat seorang pria yang di sekujur tubuhnya terlilit sel aneh. "Nah, ini dia penelitian yang ingin aku tunjukkan padamu. Keren 'kan?"


"Ma-makhluk apa ini?" tanya Casandra tergagap. Sumpah, ini terlalu mengerikan. Di hadapannya sekarang ada sebuah kotak berwarna bening yang di dalamnya ada sesuatu mirip mumi. Namun yang membuatnya terlihat semakin mengerikan adalah benda aneh yang mirip cacing sutra tengah bergerak keluar masuk menembus tubuh si mumi tersebut. Menjijikkan sekali. Sungguh.

__ADS_1


"Cassey, makhluk aneh yang sedang kau lihat adalah pecahan sel dari darah yang di ambil dari dalam tubuhmu. Jika biasanya darah akan membeku saat tercampur dengan zat tertentu, tapi darah milikmu malah berkembang biak menjadi pecahan sel yang mampu merenggut nyawa orang lain. Singkat katanya darahmu bisa mendatangkan kematian bagi mereka yang tidak paham cara mengendalikannya!" ucap Jove menjelaskan pada Casandra. Di tatapnya lekat wanita ini yang sedang tercengang syok. "Tidak perlu merasa takut. Aku dan Pamela akan menyelesaikan masalah ini untukmu."


"Ta-tapi bagaimana bisa ada kejadian seperti ini, Jove? Dan ... dan siapa aku sebenarnya? Kenapa aku bisa memiliki darah yang begitu mengerikan sekali? Apa yang salah?" tanya Casandra kebingungan memikirkan keanehan yang ada di dirinya. Ini sangat janggal, Casandra yakin pasti ada sebab lain yang membuat darahnya berbeda. Pasti.


"Jangan banyak berpikir yang tidak-tidak dulu. Kau cukup percaya saja kalau kami tidak akan membiarkanmu sendirian menghadapinya. Oke?" jawab Jove sambil berjalan mendekati Casandra yang terlihat lemas.


"Bisakah aku mengetahui yang sebenarnya?"


Pamela, Franklin dan Jove saling lirik. Mereka mana mungkin memberitahu Casandra kalau darah langka itu bisa membuatnya menjadi makhluk abadi. Melihat yang seperti ini saja wanita ini sudah lemas, apalagi jika sampai mengetahui rahasia yang lain. Bisa-bisa Casandra mati mendadak karena ketakutan.


"Daripada kita hanya berdiam sambil menatap mayat ini, bagaimana kalau aku menyajikan satu tontonan menarik tentang kehebatan darah milik Nona Casandra. Bagaimana? Apa kalian setuju?" tanya Pamela menawarkan hiburan.


"Nona Pamela, tidakkah kau melihat kalau Nona Casandra sedang ketakutan?" tanya Franklin tak habis pikir dengan kelakuan gadis psikopat ini.


"Lalu apa yang harus aku lakukan untuk membunuh waktu yang membosankan ini, Franklin? Haruskah aku memperlihatkan bagaimana cara mengeluarkan ginjal dari dalam tubuh manusia?" sahut Pamela dengan polosnya. Hanya hal-hal seperti ini saja yang dia ketahui. Jadi jangan pernah berharap kalau Pamela akan menyajikan tontonan seperti yang ada di dalam drama-drama televisi. Mustahil.


Franklin terdiam. Benar juga. Selain yang berhubungan dengan jiwa psikopat, Pamela mana mungkin bisa memberikan tontonan yang sedikit lebih manusiawi. Hmmm.


"Pamela, lakukan saja yang tadi kau katakan. Aku ingin lihat," ucap Casandra pasrah.


"Kau yakin?" tanya Pamela memastikan.


"Iya," jawab Casandra lirih.


"Baiklah kalau begitu. Persiapkan diri kalian dengan baik dan benar. Oke?"

__ADS_1


Dan pada akhirnya, Casandra harus siap melihat secara langsung betapa mengerikan darah yang mengalir di dalam tubuhnya. Jujur, dia sangat luar biasa syok. Tapi mau bagaimana lagi. Ini fakta yang memang harus dia hadapi.


***


__ADS_2