The Devil JOVE

The Devil JOVE
56. Anak Ular


__ADS_3


Eriko terus menghela nafas panjang sambil menatap putranya yang sedang terbaring di ranjang rumah sakit dalam keadaan yang sangat mengenaskan. Tulang leher patah dan tulang di kedua jari tengahnya sampai muncul keluar. Eriko tak habis pikir siapa sebenarnya orang yang telah tega mencelakai Regent hingga sedemikian rupa. Benar-benar mencari masalah dengannya. Huh.


“Ayah, apa Ayah sudah menemukan orang yang telah menyerangku?” tanya Regent pelan. Dia lalu mendesis lirih ketika hendak menengok ke arah ayahnya yang berdiri di sebelah ranjang. “Ayah sudah menemukan mereka bukan?”


“Regent, kecelakaan ini bukan rekayasamu saja ‘kan?” sahut Eriko malah balik bertanya. “Saat Ayah meminta orang untuk menyelidiknya, mereka bilang tidak ada jejak yang tertinggal. Dan para polisi bilang kau itu mengalami kecelakaan tunggal, bukan di sebabkan oleh serangan mobil lain. Coba kau ceritakan detailnya pada Ayah agar Ayah tidak pusing dalam mengambil tindakan!”


“Jadi Ayah tidak mempercayaiku?”


Regent mengumpat. “Ayah lihat kondisiku sekarang. Keadaanku sudah separah ini tapi kenapa Ayah malah meragukanku? Aku ini Regent, Ayah. Orang cerdas sepertiku apakah mungkin mencelakakan diri tanpa sebab yang jelas? Kecelakaan ini murni penyerangan. Ayah harus menemukan pelakunya!”


“Ayah bukan tidak mempercayaimu, Regent. Ayah hanya pusing memikirkan alasan kenapa orang itu bisa menyerangmu sampai seperti ini. Dari yang Ayah tahu perusahaan hanya sedang mensabotase proyek Bioteknologi di perusahaaan CL Group saja, dan itupun tidak di temukan pergerakan apapun dari perusahaan itu dengan tujuan untuk membalas kita. Tapi kenapa kau di celakai begini? Ayah pusing, Regent. Mau menuduhpun tidak bisa asal Ayah lakukan. Bisa fatal akibatnya nanti kalau kita sampai salah menyinggung orang. Kau tahu itu ‘kan?’ sahut Eriko sembari memijit pinggiran kepalanya. Dia lalu menggumam. “Kenapa orang ini bisa tidak meninggalkan jejak sama sekali ya? Aneh.”


Melihat keputus-asaan sang ayah membuat Regent merasa sangat kesal sekali. Kalau saja keadaannya tidak terlalu parah, Regent pasti akan turun tangan sendiri untuk mencari pelakunya. Dia sungguh sangat mendendam pada mereka. Bisa-bisanya mereka menyerang di saat Regent sedang dalam keadaan tidak siap. Pengecut sekali bukan?


Brengsek. Tunggu saja. Setelah aku keluar dari rumah sakit, aku akan langsung menghubungi semua kenalanku untuk mencaritahu siapa kalian dan siapa orang yang telah memerintahkan kalian untuk menyerangku. Beraninya kalian mencelakai seorang Regent Lin. Sudah bosan hidup ya?


Saat Regent dan ayahnya sedang sibuk dengan pemikiran masing-masing, seseorang tiba-tiba mengetuk pintu kamar. Eriko kemudian mempersilahkannya untuk masuk.


“Selamat siang Tuan Eriko, Tuan Regent,” sapa seorang perawat yang datang sambil membawa sebuah buket bunga di tangannya. “Tuan, seseorang menitipkan buket bunga ini agar di berikan kepada Tuan Regent. Orang itu juga berpesan agar Tuan Regent berhati-hati pada siapapun yang datang mengunjunginya hari ini.”


“Siapa orang itu?” tanya Regent langsung waspada.

__ADS_1


“Saya tidak tahu, Tuan. Orang itu mengenakan pakaian seperti preman dan saat saya bertanya dia siapa, orang itu langsung pergi begitu saja,” jawab si perawat jujur.


Mendengar jawaban si perawat, Regent lalu meminta sang ayah agar mengambil buket bunga tersebut. Dia yakin sekali di dalamnya pasti ada kartu ucapan yang di peruntukkan untuknya.


“Kalau begitu saya permisi, Tuan. Dan … semoga lekas sembuh,” ucap si perawat langsung pamit pergi setelah buket bunganya di ambil.


Dan ketika si perawat membungkukkan tubuhnya, entah mengapa tengkuk Eriko tiba-tiba meremang saat tak sengaja melihat senyum aneh di bibir perawat tersebut. Tak mau berpikiran macam-macam, Eriko segera memberikan buket bunga itu kepada Regent. Setelahnya Eriko memilih duduk di sofa sambil terus mengusap tengkuk belakangnya yang masih meremang.


“Kenapa senyum perawat tadi terlihat sedikit mengerikan ya? Itu pemandangan nyata atau karena aku yang sedang pusing memikirkan pelaku yang menyerang Regent, makanya aku jadi sedikit paranoid. Ah, biar sajalah. Lagipula dia hanya perawat. Tidak mungkin dia seorang perawat yang sedang menyamar,” gumam Eriko bertanya-tanya pada dirinya sendiri. Namun sedetik kemudian, tiba-tiba saja Eriko menyadari ada satu kebenaran yang tak sengaja terucap keluar dari dalam mulutnya. Perawat itu ….


“REGENT, CEPAT BUANG BUNGA ITU. BUNGANYA BERACUN!!!”


Regent yang memang sedang berusaha mencari kartu ucapan selamat dari dalam buket bunga seketika langsung menjatuhkannya ke lantai begitu mendengar suara teriakan ayahnya. Bingung akan apa yang terjadi, Regentpun segera bertanya pada sang ayah yang sudah berdiri di sebelahnya. “Ayah, ada apa. Kenapa Ayah mengatakan kalau buket bunga ini adalah racun?”


“Astaga, Regent. Kau ini bodoh atau apa hah! Apa kau lupa yang di katakan oleh perawat tadi kalau kau harus harus berhati-hati pada semua orang yang datang mengunjungimu hari ini? Dan tadi sebelum perawat itu keluar dari ruangan ini, Ayah tak sengaja melihatnya sedang tersenyum aneh. Dia pasti ingin mencelakaimu lewat bunga ini!” jawab Eriko dengan amarah yang menggebu-gebu.


“Ayah akan memastikan apakah di dalam buket bunga ini ada racunnya atau tidak.”


Dengan cepat Eriko membawa buket bunga itu ke dalam kamar mandi kemudian meraih shower. Sambil menutup hidung, Eriko menyemprot kuat-kuat ke dalam buket bunga tersebut untuk memastikan apakah di dalamnya ada racun mematikan atau tidak. Awalnya Eriko pikir yang akan keluar dari dalam sana adalah semacam cairan atau serbuk beracun. Namun yang dilihat Eriko membuatnya langsung membuang shower dan menutup pintu kamar mandi serapat mungkin.


“Sial!’ umpat Eriko dengan lantang.


“Bagaimana, Ayah? Apa benar ada racun di dalam buket bunga itu?” cecar Regent gelisah. Dia ingin sekali menoleh ke arah kamar mandi, tapi tidak bisa dia lakukan karena lehernya sangat sakit. Alhasil Regent hanya bisa menunggu ayahnya bicara.

__ADS_1


Sebelum menjawab pertanyaan Regent, Eriko menghubungi anak buahnya terlebih dahulu. Dia lalu memerintahkan mereka semua agar menangkap perawat yang baru saja keluar dari dalam kamar. Setelah itu barulah Eriko berjalan menghampiri Regent sambil terus mengusap wajahnya dengan kasar.


“Ayah, apa yang terjadi?” tanya Regent lagi.


“Regent, sekarang Ayah benar-benar yakin kalau kecelakaan yang kau alami sama sekali bukan kecelakaan tunggal. Dan perawat yang tadi mengantarkan buket bunga untukmu adalah salah satu komplotan dari mereka,” jawab Eriko dengan wajah merah padam. “Kau tahu tidak apa yang keluar dari dalam buket bunga itu setelah Ayah menyemprotkan air ke dalamnya?”


“A-apa?”


“Anak ular. Dan mereka sangat berbisa.”


A-apa? Anak ular? Astaga, apa-apaan ini?


“Untung Ayah langsung menyadari kalau perawat itu adalah penjahat yang sedang menyamar. Kalau tidak, kau pasti sudah mati di gigit oleh anak-anak ular itu,” lanjut Eriko sambil menggeram marah. “K*parat, siapa sebenarnya mereka. Berani sekali mereka ingin menyakitimu di saat Ayah sedang ada di sini. Cari mati!”


Merasa terancam, Regent akhirnya meminta sang ayah agar memindahkannya ke rumah sakit yang jauh lebih aman lagi. Kondisinya sedang tidak memungkinkan untuk melakukan perlawanan jika seandainya nanti orang-orang itu kembali melakukan penyerangan, jadi pindah dari tempat ini adalah solusi terbaik. Tak lupa juga Regent meminta sang ayah agar menempatkan banyak penjaga di depan ruangan rawatnya. Dia khawatir orang itu akan kembali datang dan menyamar sebagai perawat lagi.


Sementara itu di luar gedung rumah sakit, seorang perawat tampak sedang berjalan santai menuju parkiran mobil. Memilih posisi yang tepat, perawat tersebut tiba-tiba merobek wajahnya yang ternyata adalah wajah palsu. Tak lama setelah itu sebuah mobil mewah berhenti di depannya lalu keluarlah seorang pria dari dalam sana.


“Tuan Jove, apa anda baik-baik saja?” tanya Franklin cemas. Dia memperhatikan dengan seksama keadaan bosnya yang barusaja menyamar menjadi perawat hanya demi bisa menjenguk Regent Lin. Ide yang sangat ramah sekali bukan?


“Dengan keadaan cacat begitu apa kau pikir Regent bisa menyerangku?” tanya Jove balik. “Ayo pulang. Aku perlu istirahat setelah berhadapan dengan orang-orang bodoh seperti mereka”


“Baik, Tuan.”

__ADS_1


Franklin segera membukakan pintu mobil untuk bosnya. Setelah itu dia menyusul masuk dan langsung menghubungi anak buahnya sebelum melajukan mobil pergi meninggalkan parkiran rumah sakit. “Hapus semua rekaman cctv yang dilewati oleh Tuan Jove. Sekarang!”


***


__ADS_2