The Devil JOVE

The Devil JOVE
89. Penjelasan


__ADS_3

Rose menatap nyalang ke arah putranya yang tengah duduk dengan kepala tertunduk. Tadi setelah dia dan Adam pulang dari berjalan-jalan, mereka memutuskan untuk singgah di mansion guna membahas tentang Pamela. Akan tetapi betapa terkejutnya Rose saat mengetahui kalau calon mantunya mengalami pendarahan hebat setelah di tiduri paksa oleh putranya. Sebagai wanita, jelas Rose merasa sangat tidak terima. Terlebih lagi karena dia tahu Jove sudah tak pernah merasa kesakitan setelah percintaan pertamanya dengan Casandra. Dia murka, kecewa, sekaligus terluka.


"Apa Ibu pernah mengajarimu cara untuk merendahkan harga diri wanita, Jove?" Rose bertanya dengan nada suara yang begitu dingin. Sangat amat dingin sehingga membuat bulu kuduk semua orang yang ada di sana berdiri tegak. Tak terkecuali dengan suaminya juga, Adamar Clarence. "Apa Ibu pernah mengajarimu untuk meniduri wanita secara paksa, hah? JAWAB!"


"Tidak pernah!" jawab Jove tak gentar. Bukan tak menghargai, tapi karena Jove tahu dia bersalah. Kemurkaan sang ibu bisa semakin memuncak jika dia bersikap takut dan pasrah. Harus berani, apapun resikonya.


"Lalu apa yang telah kau lakukan pada Casandra? Kau ... kau hampir membuatnya mati, Jove!" teriak Rose dengan mata berkilat marah. Dia kemudian berjalan mendekat ke arah putranya. Menggerakkan jari telunjuk untuk menyentuh dagu agar menatapnya. "Nak, Ibu tahu dulu kau memang terbiasa mencari pelampiasan dengan menghabiskan malam bersama wanita-wanita sampah itu. Akan tetapi Casandra berbeda. Dia bukan mereka yang gila uang dan juga belaian pria. Casandra wanita baik-baik, dan dia adalah calon ibu dari para penerusmu kelak. Kau tidak lupa itu 'kan?"


Jakun Jove bergerak naik turun saat manik matanya beradu dengan manik mata sang ibu. Jujur, saat ini jantungnya Jove tengah berdegub dengan sangat kuat. Andai bisa memilih, Jove akan menyambut dengan penuh suka cita hukuman dari sang ayah yang biasanya berbentuk hukuman fisik yang sangat luar biasa brutal. Dia memang di kenal sebagai raja mafia berdarah dingin dan juga bengis. Akan tetapi setiap kali berhadapan dengan ibunya yang sedang marah, Jove akan menjadi sangat tidak berdaya. Wanita ini terlalu mengerikan, hingga mampu menggetarkan seluruh syaraf yang ada di dalam tubuhnya.


"Apa yang terjadi, hem? Kenapa kau bisa membuat calon menantu Ibu mengalami pendarahan sampai seperti itu?"


"Jove tidak sengaja melakukannya, Nyonya. Dia ... sakit!"


Sebuah suara sukses mengalihkan perhatian semua orang yang sedang terjebak dalam suasana mencekam. Jove yang melihat Casandra berdiri sambil berpegangan pada tembok bergegas pergi menghampiri. Dia lalu mengangkat tubuh lemahnya ke dalam gendongan kemudian membawanya ke hadapan sang ibu.


"Kenapa bangun, hem?" tanya Jove setelah duduk. Di kecupnya pelan kelopak mata Casandra yang basah keringat. Jaguarnya ini sangatlah keras kepala. Sudah tahu sedang sakit malah memaksakan diri untuk berjalan. Tapi Jove suka.


"Aku tidak menemukanmu di dalam kamar. Jadi aku keluar," jawab Casandra agak kikuk setelah Jove memberinya kecupan di hadapan banyak orang. Dia lalu menatap lekat pada wanita cantik yang tadi seperti sedang memarahi bajingan ini. Dengan suara yang masih lemah, Casandra mencoba menjelaskan penyebab mengapa dia mengalami pendarahan. "Nyonya, maaf jika aku lancang menimbrung percakapanmu dengan Jove. Di sini aku hanya ingin menjelaskan kalau bajingan ini tidak sengaja menyakitiku. Meski perbuatannya tidak benar, tapi apa yang aku alami bukan salah dia sepenuhnya. Mohon kau jangan salah paham dulu!"


Rose diam memperhatikan bagaimana gadis ini membela putranya. Sedikit mengejutkan. Karena yang Rose tahu Casandra sangatlah membenci Jove. Meski begitu, jujur Rose akui kalau dia merasa lega melihat perubahan sikap gadis ini. Dia kemudian melirik ke arah Jove yang tengah memperhatikan Casandra tanpa kedip.


"Nyonya, kalau boleh tahu kau itu siapanya Jove?" tanya Casandra penasaran.

__ADS_1


"Dia Ibuku," jawab Jove menggantikan sang ibu bicara. "Dan pria yang sedang duduk di sana adalah Ayahku. Sapalah!"


Whaaatttt?? Jadi mereka adalah orangtuanya Jove? Astaga, bagaimana ini. Untung saja tadi aku tidak langsung menyembur Jove dengan kata-kata yang tidak sopan. Bisa marah mereka nanti jika mendengar aku memaki bajingan ini. Selamat-selamat. Fyuuhhh...


"Halo Casandra, apa kabar? Senang bertemu denganmu, Nak," sapa Rose seraya menampilkan senyum hangat. Dia sedikit sulit menebak apa yang sedang di pikirkan oleh gadis istimewa ini.


"Halo, Nyonya. Kabarku sedikit kurang baik. Nyonya bisa lihat sendiri 'kan?" sahut Casandra balas menyapa. Dia kemudian beralih menyapa ayahnya Jove. "Halo Tuan. Aku Casandra."


"Hai, Casandra. Jangan panggil Tuan. Panggillah Paman Adam dan Bibi Rose saja. Atau kalau kau mau, kau boleh memanggil kami dengan sebutan yang sama seperti Jove. Ayah dan Ibu," sahut Adam cukup senang melihat kesopanan calon mantunya. Padahal tadi Adam sempat mengira kalau Casandra adalah jenis gadis galak yang suka bersikap semena-mena pada keluarga orang yang tak di sukainya.


"Terima kasih banyak. Akan tetapi aku rasa memanggil dengan sebutan Paman dan Bibi itu akan terdengar jauh lebih akrab untuk kita yang baru saling kenal. Benar tidak?"


"Baiklah terserah kau mau memanggil kami dengan sebutan apa. Kami tidak masalah,"


Jove diam membiarkan Casandra berkenalan dengan kedua orangtuanya. Posisinya yang duduk memangku membuat Jove bisa dengan mudah menatap Casandra dari samping. Walaupun dalam keadaan sakit dan pucat, nyatanya hal tersebut tak membuat kecantikan Jaguar ini menjadi berkurang. Malah semakin menambah kesan misterius di mana mata jaguar ini jadi terlihat sedikit menyendu. Jove sungguh beruntung memilikinya.


"Tidak, Ibu. Casandra berhak tahu tentang rahasia dari pria yang akan menjadikannya sebagai ratu di mansion ini," jawab Jove tanpa ragu.


"Ck, kapan-kapan aku bilang akan bersedia menjadi ratumu, Jove. Jangan sembarangan bicara kau ya!" protes Casandra kaget saat Jove bicara dengan sebegitu mudah di hadapan Bibi Rose. Membuat orang malu saja.


"Aku tidak butuh jawaban darimu, Cassey. Karena pada kenyataannya kau memang telah di takdirkan untuk menjadi ratuku," sahut Jove santai. Dia lalu menganggukkan kepala pada sang ibu, mempersilahkan untuk lanjut berbicara.


Casandra jengkel sekali saat bajingan ini dengan tidak tahu malunya mengklaim dirinya sebagai ratu yang telah di takdirkan. Dan pada akhirnya dia hanya bisa pasrah mendengarkan ketika ibunya Jove mulai membahas tentang penyakitnya yang aneh itu.

__ADS_1


"Jelaskan pada Ibu mengapa Casandra bisa mengalami pendarahan. Benar adalah karena penyakitmu yang tiba-tiba kambuh, atau karena desakan na*sumu yang liar itu!" cecar Rose langsung memasang ekpresi mengintimidasi.


"Aku tidak tahu pastinya, Ibu. Saat aku hendak mengantarkan Cassey, di dalam mobil tiba-tiba saja tubuhku bergelenyar aneh, dan ini bukan karena na*su. Secara perlahan tubuhku mulai menjadi kaku, lalu aku lepas kendali. Yang ku pikirkan saat itu adalah bagaimana cara untuk mendapatkan obat agar rasa sakitku bisa sedikit berkurang. Lalu antara sadar dan tidak sadar aku memaksa Cassey untuk melayaniku. Dan terjadilah ini semua. Aku melukainya," ucap Jove menjelaskan apa yang terjadi tadi pagi. Sembari bicara, tangannya tak henti mengelus pinggang dan perut Cassey, masih merasa bersalah atas apa yang menimpanya.


Pandangan Rose langsung teralih pada Adam begitu mendengar penjelasan Jove. Sungguh, kejadian ini benar-benar sangat aneh sekali. Setahu Rose, putranya hanya akan menderita setelah berhubungan badan dengan wanita. Tapi bagaimana mungkin hal seperti itu bisa terjadi bahkan sebelum Jove dan Casandra melakukan percintaan? Ada apa ini?


"Ekhmmm, Jove. Apa pendapatmu jika seandainya Ayah dan Ibu pergi mengunjungi Pamela di Laboratorium Grisi?" tanya Adam tanggap akan kebingungan di diri sang istri. Dia lalu terpikir untuk membahas masalah ini dengan Pamela. Sekalian ingin memberi gadis psikopat itu peringatan.


"Silahkan saja kalau Ayah dan Ibu mau pergi ke sana. Akan tetapi usahakan untuk tidak terlalu lama mengganggunya karena aku hanya memberi waktu selama tiga hari untuk dia menyelesaikan obat penawarnya!" jawab Jove seraya menatap seksama pada sang ayah. Oh ayolah. Jove tidak bodoh. Dia jelas tahu apa tujuan keduanya ingin pergi mengunjungi adik sepupunya itu.


"Baiklah kalau begitu. Ayah dan Ibu pergi dulu," sahut Adam kemudian berdiri. Dia lalu melingkarkan tangan ke pinggang Rose seraya menyunggingkan senyum ke arah Casandra. "Dan untukmu, Cassey. Mewakilkan Jove, Paman ingin meminta maaf padamu. Apa yang telah di perbuat oleh putra Paman di luar batas kendali kami. Jadi Paman harap kau bisa maklum. Ya?"


"Iya Paman tidak apa-apa. Jove juga sudah menjelaskannya padaku tadi," sahut Casandra sambil tersenyum kecil. Entah kenapa dia suka sekali dengan sikap kedua orangtua Jove. Tegas, penuh tekanan, tapi tak menghilangkan kehangatan dari rasa penuh kasih sebagai orangtua.


"Syukurlah. Kalau begitu kami pergi dulu ya. Kau beristirahatlah dengan benar agar cepat pulih. Oke?"


"Iya, Paman."


Giliran Rose yang berbicara. Di tatapnya penuh sayang wajah calon mantunya yang masih terlihat pucat. "Nak, Bibi senang kau ada di mansion ini. Next time jika ada waktu kita pergi jalan-jalan berdua ya. Ada banyak hal yang ingin Bibi tunjukkan padamu. Boleh?"


"Tentu saja sangat boleh, Bibi. Nanti Bibi tinggal beritahu aku saja kapan ingin pergi. Dan tentunya setelah keadaanku sudah membaik. Oke?" sahut Casandra penuh semangat. Dia yakin sekali kalau wanita ini pasti akan mengajaknya melakukan sesuatu yang memacu adrenalin. Casandra suka itu.


Casandra melambaikan tangan saat kedua orangtua Jove pergi dari sana. Setelah itu dia menoleh, menatap lekat wajah bajingan yang kini tengah memejamkan mata sambil merebahkan kepalanya ke sofa.

__ADS_1


Paman Adam dan Bibi Rose begitu hangat. Tapi mengapa mereka bisa memiliki anak sedingin dan sebengis Jove? Aneh sekali.


***


__ADS_2