The Devil JOVE

The Devil JOVE
100. Percikan Asmara


__ADS_3

Casandra menatap Jove yang kini sudah duduk di sebelahnya. Sementara sang ibu, duduk di sisi lain sambil mengelus-elus rambutnya yang sudah di ikat ke atas.


"Kau tidak pergi bekerja, Jove?" tanya Casandra membuka pembicaraan. "Sebagai laki-laki harusnya kau malu jika terus berada di rumah. Mau di beri makan apa nanti anak dan istrimu kalau kau begitu pemalas. Sana pergi!"


"Sekalipun aku menganggur sampai tua, anak dan istriku kupastikan mati dalam kondisi perut kenyang!" sahut Jove asal. "Hartaku bahkan tidak akan habis meski kugunakan untuk membeli nyawa kalian berdua sekalipun!"


Elzavat menelan ludah. Perkataan Jove tidak terlalu banyak, tapi cukup membuat jantung berpacu dengan cepat. Begitu santai mafia ini membicarakan tentang kekuatan uang, sama sekali tak merasa canggung meski sedang ada orangtua di sana. Benar-benar ya. Elzavat sampai kehabisan kata karenanya.


"Oh, jadi aku dan Ibuku semurah itu di matamu? Iya?" Casandra meradang. Brengsek sekali bajingan ini. Di hadapan sang ibu, Jove dengan begitu berani berkata kalau kekayaannya tidak mungkin habis meskipun di pakai untuk membeli nyawanya dan juga nyawa sang ibu. Dasar bajingan tengik. Huh.


Jove menghela nafas. Dia kemudian menoleh. Manik matanya menatap seksama ke arah wanita yang tengah mengerucutkan bibir. Jaguarnya merajuk.


"Kau yang bertanya, tapi kau juga yang marah. Bukankah aku sudah mengingatkanmu untuk menyimpan tenaga supaya nanti kau tidak langsung menjadi pecundang saat berlatih bersama Ibu dan juga penjaga barumu?" tegur Jove sambil menelan ludah. Detik ini, dan juga saat ini dia ingin sekali meraup bibir yang sedang mengerucut itu. Jove berkeinginan untuk melahapnya sampai bibir itu membengkak kemerahan.


"Apa hubungannya dengan masalah ini hah! Jangan mengada-ada kau!" sahut Casandra enggan kalah.


"Sekuat itu?" Jove mencibir. "Yakin?"


"Iyalah!"


"Boleh aku membanting tubuhmu ke lantai?"


Gluuukk


Casandra langsung kicep saat Jove mengancam ingin membanting tubuhnya. Benar-benar tidak ada obat. Apa Jove tidak sadar kalau ibunya masih berada di ruangan kamar ini? Kalau ibunya sampai salah mengartikan ucapannya bagaimana? Bodoh sekali dia.


"Kenapa diam?" tanya Jove. Dia kemudian melirik ke arah Nyonya Elzavat yang tengah terpaku dengan mulut menganga. Mungkin syok. "Apa karena Ibumu ada di sini dan mendengar perkataanku barusan?"


"Tutup mulutmu, Jove!" hardik Casandra.


"Kenapa harus di tutup? Bukankah kau yang pertama memulai semua ini? Apa yang kau takutkan?"


Kesal karena Jove tak mau berhenti memojokkannya, Casandra mengambil guling lalu memukulkannya ke wajah bajingan tengik ini. Setelah itu Casandra berbalik menghadap pada sang ibu kemudian menggenggam kedua tangannya dengan sangat erat.


"Ibu, jangan dimasukkan ke hati perkataan Jove barusan. Dia hanya sedang memprovokasiku saja. Jangan di percaya. Oke?"


"Apa selama kau tinggal di sini dia sering melakukan kekerasan?" tanya Elzavat penuh selidik. "Dan juga tentang kondisimu sekarang. Apa Jove yang melakukannya?"

__ADS_1


"Iya!"


Biji mata Casandra hampir terlempar keluar saat Jove mengiyakan pertanyaan sang ibu. Emosi, Casandra kembali berbalik kemudian hendak menamparnya. Dia sudah tidak bisa mentolerir lagi sikap arogan Jove yang sama sekali tak mau mengerti perasaan ibunya. Juga karena Casandra khawatir bajingan ini akan menceritakan penyebab mengapa dirinya bisa jatuh sakit seperti sekarang.


"Kau jangan macam-macam ya, Jove. Percaya tidak selepas ini aku akan langsung membunuhmu kalau kau tetap tak mau diam. Mengerti?" ancam Casandra dengan mata berkilat marah.


"Aku hanya menyampaikan kebenarannya saja. Apa yang salah?" Dengan santainya Jove bicara. Dia kemudian mencium punggung tangan Casandra yang tadi ingin memukulnya. "Tanganmu halus dan juga wangi. Sayang sekali jika harus di potong karena terlalu lancang!"


"Apa kau sedang mengancamku?"


"Kau belum tuli. Jelas tahu kalau aku sedang mengancammu!"


"Brengsek!"


Tadinya Elzavat merasa syok sekali mendengar perkataan Jove. Akan tetapi semakin di dengar, kekejaman kata yang keluar dari mulutnya malah membuat Elzavat tersenyum sendiri. Mafia ini ... sedang menggoda putrinya kah? Caranya memang agak sedikit aneh, tapi Elzavat bisa merasakan ada rasa ketulusan di baliknya. Sayang sekali Casandra tak bisa menyadari hal tersebut. Sikapnya yang galak dan juga kasar membuat rasa yang coba Jove sampaikan tidak mengena di hatinya. Hmmmm.


Biar bagaimana pun Jove tetaplah seorang mafia yang tidak mungkin bisa dengan mudah bertutur kata halus. Melihat caranya menggoda Cassey sepertinya dia sungguh-sungguh dengan janjinya waktu itu. Tapi ... apa mungkin Casandra bisa terus aman bersamanya? Ya Tuhan, apa yang harus ku perbuat? Di satu sisi aku dan Cadenza sangat ingin membawa Casandra pergi jauh darinya. Tapi di sisi lain aku sebagai seorang ibu merasa hangat menyaksikan putriku saling goda dengan pria berbahaya ini. Aku bimbang, Tuhan. Tolong bantu tunjukkan pilihan mana yang harus ku ambil agar tidak terjadi kesalahan.


Lelah meladeni kelakuan Jove yang semakin menjadi-jadi, Casandra memutuskan untuk diam saja. Dia sudah tidak peduli lagi ketika Jove mulai mengeluarkan omongan yang menjurus pada percintaan mereka.


"Nyonya Elzavat, aku pernah menemukan ada tahi lalat hidup di punggung sebelah kiri Casandra. Apa itu benar?" tanya Jove seraya meng*lum senyum. Bibirnya bertanya pada Nyonya Elzavat, tapi matanya terus tertuju pada Casandra.


"Casandra pernah membuka bajunya tepat di hadapanku!"


"Yakkkkkk! Fitnah macam apa yang coba kau tunjukan di hadapan Ibuku Jove. Dasar brengsek! Jangan melantur kau!" maki Casandra langsung naik darah saat omongan Jove mulai tak beraturan. Memangnya kapan-kapan dia pernah membuka baju di hadapannya. Kalau di perkos*a iya. Tapi jika secara sadar, matipun Casandra tidak akan pernah mau melakukannya.


"Aku hanya bercanda. Kenapa reaksimu begitu marah?" Jove tersenyum. Dia lalu mengusap kelopak mata Casandra yang sedang terpejam. "Berbincanglah dengan Ibumu. Aku akan pergi sebentar!"


"Kau mau kemana?"


Mata Casandra langsung terbuka lebar saat Jove berpamitan ingin pergi. Tanpa sadar dia menggenggam tangannya, merasa tak rela jika di tinggalkan.


"Aku tidak kemana-mana. Hanya akan pergi ke ruang kerjaku saja," jawab Jove.


"Bukan keluar untuk berburu musuh?"


"Aku lebih suka memburumu daripada memburu musuh." Jove mendekatkan wajah ke samping telinga Casandra. Dia lalu berbisik. "Karena memburumu bisa memberiku kenikmatan. Dan hanya ada lelah tersisa jika memburu mereka yang tidak penting. Jadi pikirkanlah dengan baik kapan kau akan menyerahkan diri dengan suka rela. Kau tidak suka dipaksa, bukan?"

__ADS_1


Wajah Casandra berubah merah padam setelah Jove selesai berbisik di telinganya. Dia tak berani menatap bajingan itu sampai terdengar suara pintu kamar tertutup. Barulah Casandra mengangkat wajah, kemudian menoleh ke arah lain. Malu sekali. Jove begitu frontal mempertanyakan kesediannya untuk berbagi kehangatan bersama. Oke baiklah hubungan mereka memang sudah sedikit lebih baik, tapi bukan berarti Casandra rela menjadi pelac*rnya. Dia ingin cara yang lebih sopan dari sekedar kata tidur bersama. Pernikahan mungkin.


"Kau mencintainya?" tanya Elzavat yang sejak tadi tak pernah melepaskan pandangan dari wajah putrinya. Terlalu kentara untuk Elzavat tidak menyadari adanya percikan asmara di diri kedua orang ini.


"Ibu, Ibu kenapa bertanya seperti itu padaku. Jove adalah pria jahat. Mungkinkah untukku jatuh cinta kepadanya?" jawab Casandra mencoba mengelak. Dia bicara tanpa berani menoleh ke belakang, khawatir ibunya tahu kalau sekarang wajahnya sedang terasa panas seperti terbakar.


Sialan kau Jove. Gara-gara ucapanmu yang mesum itu sekarang wajahku jadi sepanas ini. Bisa gawat jika Ibu sampai melihatnya. Dia pasti akan salah paham. Huhh.


"Pria jahat tak selamanya berhati jahat juga, Cassey. Jove memang sangat dingin dan kata-katanya acap kali membuat bulu kuduk berdiri. Tapi terlepas dari semua itu dia tetaplah pria normal yang bisa merasakan cinta!" sahut Elzavat sembari mengelus rambut putrinya penuh sayang. "Sebelum ini Ayah dan Ibu sempat terpikir untuk membawamu pergi jauh dari Jove. Kami khawatir hidupmu akan selalu terlilit bahaya jika terus berada di dalam lingkaran dunia gelapnya. Akan tetapi setelah melihat kedekatan kalian tadi, Ibu jadi berubah pikiran. Jadi bisakah kau memberitahu Ibu tentang perasaanmu? Tenang saja. Rahasia ini aman di tangan kita berdua. Oke?"


Casandra menggigit bibir. Jari tangannya tak henti bergerak mencubit kulit guling yang sedang dipeluknya. Jauh di dalam lubuk hati, Casandra memang mulai merasakan hal berbeda terhadap bajingan itu. Akan tetapi semuanya masih samar-samar. Dia masih belum bisa memutuskan apakah itu adalah benar perasaan suka atau hanya sekedar rasa kagum karena merasa terlindungi.


"Aku belum tahu pasti seperti apa perasaanku terhadap Jove, Bu. Kadang aku merasa salah tingkah dan juga malu, kadang aku juga merasa marah dan kecewa. Semuanya masih abu-abu, belum jelas apakah ada cinta di hatiku atau hanya sekedar rasa kagum. Ibu bisa memahami perkataanku 'kan?" ucap Casandra malu-malu. Pipinya merona saat teringat bagaimana pria itu terus memeluknya saat sedang kesakitan.


"Hmmmm, Ibu akan menganggap jawabanmu sebagai awal hubungan kalian. Memang masih samar, tapi Ibu yakin hatimu pasti sudah mulai nyaman menerima perlakuannya. Benar?"


"Hehehe, sedikit."


"Cassey, Ibu tak pernah mengira akan melahirkan anak seistimewa dirimu. Entah ini adalah berkah atau malah petaka, yang jelas detik ini Ibu merasa lega sekali. Bohong besar kalau Ibu tidak merasa takut melepaskanmu tinggal bersama pria bermasalah seperti Jove. Hal ini wajar ditakutkan oleh setiap orangtua. Akan tetapi di balik semua itu, Ibu akan merasa sangat tenang sekali jika seandainya di antara kau dan Jove sama-sama tumbuh perasaan saling sayang. Dengan begitu Ibu bisa meminta keseriusan Jove agar tidak menahanmu tanpa ada status yang jelas. Ibu tidak mau kau di anggap sebagai wanita murahan karena tinggal di rumah seorang pria tanpa ada ikatan yang pasti. Kau mengerti itu, bukan?"


Casandra tertegun. Dia tidak menyangka kalau sang ibu akan berbicara seperti ini. Karena posisinya yang duduk membelakangi, dengan cepat Casandra berbalik kemudian memeluk ibunya dengan sangat erat. Ada semacam rasa lega yang muncul dari dalam tubuhnya setelah wanita ini menyatakan keinginan agar hubungannya dengan Jove bisa segera diperjelas.


"Apa Ibu yakin rela membiarkan aku berhubungan lebih dengan pria seperti Jove?" tanya Casandra pelan. "Dia adalah penjahat kelas kakap, Bu. Aku pernah beberapa kali dipaksanya ikut menyaksikan bagaimana cara dia menghabisi para pengkhianat. Dia kejam bagaikan robot yang tak berhati nurani. Ibu yakin ingin membiarkan pria sebengis itu menjadi bagian di keluarga kita?"


"Lalu adakah cara lain yang bisa membuatmu pergi jauh darinya? Jangan membohongi hati, Cassey. Ibu tahu benar kalau yang keluar dari mulutmu tidaklah sama dengan yang ada di dalam hatimu. Jika di tanya benar-benar, sudah jelas Ibu akan menjawab tidak. Tapi kembali lagi pada fakta kalau kau adalah gadis istimewa. Secara logika, semakin menarik latar belakang seseorang, maka akan semakin besar pula beban yang di tanggungnya. Begitu juga dengan hidupmu. Mau tidak mau, rela tidak rela, Ayah dan Ibu hanya bisa mempercayai Jove untuk menjagamu. Dengan statusnya yang adalah seorang mafia kelas kakap, seharusnya dia bisa menjagamu melebihi apa yang pernah kami lakukan selama ini. Jadi Nak, jangan menahan perasaanmu lagi. Semoga adalah benar keputusan kami dengan mengizinkanmu menjalin rasa dengan dia, Jove Lorenzo!"


Tanpa di sadari oleh Elzavat dan Casandra, saat ini ada seseorang yang tengah tersenyum lebar sambil mendengarkan rekaman suara mereka. Ya, orang itu adalah Jove. Begitu tahu kalau orangtua Casandra ingin datang berkunjung, Jove langsung memasang alat penyadap dan meletakannya di bawah ranjang. Sengaja dia melakukan hal ini untuk mencari tahu seperti apa isi hati Nyonya Elzavat yang sesungguhnya. Karena dengan statusnya sekarang, mustahil ada orangtua yang rela melepas anak mereka begitu saja. Dan benar saja, yang Jove pikirkan sama sekali tak meleset. Nyonya Lin meragu. Tapi setelah melihat kedekatannya dengan Casandra, hati wanita itu berpaling arah. Wajarlah jika sekarang Jove merasa senang. Karena pada akhirnya dia berhasil meraih restu dengan usahanya sebagai pria sejati, bukan karena tekanan ataupun intimidasi.


"Jadi seperti ini rasanya di setujui untuk memiliki seorang wanita. Hmmm, rasanya lumayan aneh. Bagaimana menurutmu, Frank?" tanya Jove sambil memilin bibir.


"Kalau menurut saya pribadi akan jauh lebih baik jika anda langsung meresmikan hubungan dengan Nona Casandra. Dengan begitu musuh akan berpikir dua kali jika ingin terus memburunya!" jawab Franklin memberikan jalan pintas paling cepat pada bosnya.


"Begitukah?"


"Itu hanya menurut pandangan saya pribadi, Tuan. Jika anda mempunyai opsi lain, saya pasti akan menjadi orang pertama yang memberikan dukungan!"


Jove menoleh. Dia kemudian tersenyum. "Aku tahu kau pasti akan menjawab seperti ini. Tapi terima kasih, saranmu sangat membantu!"

__ADS_1


"Sama-sama, Tuan!"


***


__ADS_2