The Devil JOVE

The Devil JOVE
109. Menyusup


__ADS_3

Albert mendesis lirih saat luka tusuk di perutnya tak sengaja tersenggol. Sialan. Gara-gara serangan bajingan itu sekarang dia harus menderita seperti ini. Albert bahkan harus menelan kenyataan pahit lain dimana dia banyak kehilangan klien. Jove membuat banyak orang meragukan kemampuannya.


"Brengsek! Aku tidak terima penghinaan ini. Awas saja kau, Jove. Begitu aku sembuh, aku akan langsung membuat perhitungan denganmu. Dasar k*parat!" geram Albert sambil meringis menahan perih.


Bertepatan dengan itu seorang penjaga masuk ke dalam kamar. Dia datang sambil membawa sebuah kotak di tangannya. Albert yang melihat hal itupun nampak menaikkan satu alisnya ke atas. Tidak biasanya ada penjaga yang berani masuk ke kamar tanpa mengetuk pintu lebij dulu. Sepertinya ada sesuatu yang telah terjadi di luar.


"Ada apa?" Albert bertanya sambil memasang ekpresi was-was.


"Kepala anak buah kita di penggal, bos. Dan pelakunya adalah orang-orangnya Jove!" sahutnya. Setelah itu tutup kota di bukannya.


Aroma anyir darah yang bercampur dengan bau busuk langsung memenuhi ruangan. Hal itu membuat perut Albert sedikit mual. Dia lalu meminta bawahannya agar menutup kotak itu kembali kemudian membuangnya di luar.


Apalagi yang di inginkan oleh bajingan itu. Apa Jove masih belum puas juga setelah melukaiku hingga seperti ini? Lagipula orang suruhanku sudah tertangkap dari kemarin. Kenapa baru sekarang dia mengirim ancaman?.


Albert tidak tahu saja kalau yang mengirimkan kepala itu bukanlah Jove, tapi Pamela. Itu sengaja dilakukan karena kepala penjaga itu sudah tidak berguna lagi setelah otak dan kedua matanya di cungkil keluar.


Dengan amarah yang begitu memuncak, Albert mengambil ponsel di atas nakas. Dia lalu menghubungi seseorang, yang adalah si pembunuh bayaran.

__ADS_1


"Angkat teleponku, brengsek. Apapun yang terjadi kali ini kau harus membalaskan dendamku!" geram Albert resah saat panggilan tak kunjung di jawab. Tak kehabisan akal, dia terus mengulangi hal itu hingga suara seorang pria menyapa indra pendengarannya.


"Aku sungguh tidak menyangka kalau nyalimu begitu besar, Albert. Masihkah kau berani menghubungiku setelah apa yang Jove lakukan padamu?" tanya Awan dengan nada yang sangat dingin. Sangat amat dingin seolah mampu membekukan siapa saja yang mendengar. "Berapapun nominal yang kau tawarkan, aku tidak akan pernah mau membantumu. Kau terluka karena Jove, jadi itu sama sekali tidak ada hubungannya denganku. Mengerti?"


"Awan, jangan marah dulu. Dengarkan perkataanku!" sahut Albert berusaha menahan diri agar tidak terpancing emosi. Dia lalu menarik nafas dalam-dalam sebelum lanjut berbicara. "Jove mengirim potongan kepala anak buahku kemari. Itu artinya dia bukan hanya menggertakku saja, tapi juga mengibarkan bendera perang. Karena sekarang kau sedang memburu wanitanya Jove, aku bersedia membantumu mendapatkannya asal kau juga bersedia untuk membantuku. Oke aku akui kalau kelompokku juga mengincar darah langka itu. Akan tetapi jika di bandingkan dengan melihat Jove mati, seribu kali aku lebih memilih untuk tidak memburunya lagi. Dengan menggunakan nyawaku aku bersumpah akan membantumu mengejar Casandra sampai dapat. Sungguh!"


Hening. Sepertinya iming-iming yang Albert lontarkan sedikit mengena di hati pembunuh bayaran itu. Buktinya sekarang Awan diam. Yang artinya pria itu sedang menimang keberuntungan Tapi, Albert sebenarnya tidak sungguh-sungguh akan melepaskan Casandra. Jelas darah wanita itu jauh lebih berharga di banding nyawanya Jove. Akan tetapi demi bisa membalas penghinaan yang telah di dapatkannya, Albert nekad mempermainkan Awan. Biar saja. Keberuntungan tidak selalu memihak pada orang yang berjuang, tapi ada kalanya keberuntungan memilih untuk singgah di pihak lawan. Hahah.


"Pikirkanlah ucapanku dengan baik. Dengan kekuasaan yang kumiliki, bukan hal yang sulit untuk memancing wanita itu keluar dari kandang. Dan jika kau setuju dengan keinginanku, mari kita berbagi tugas. Kau menghabisi Jove demi aku, dan aku akan merebut wanita itu kemudian menyerahkannya padamu. Cukup setimpal, bukan?" ucap Albert kembali merayu Awan agar bersedia memenuhi apa yang dia mau.


"Kau yakin bisa membawa Casandra keluar dari mansion Jove?" tanya Awan memastikan. "Jangan menganggap remeh masalah ini, Albert. Jove mempunyai mata-mata yang tak terburu jumlah dan keberadaannya. Aku tidak mau ya mengambil resiko ketahuan jika kau sampai salah mengambil langkah. Sebagai sesama mafia, kau pasti tahu kalau menyinggung Jove sama artinya dengan mati!"


Terdengar helaan nafas berat dari dalam telepon, hingga membuat Albert menyeringai tipis. Beruntung Awan berada di lain tempat. Kalau ada di sana, pembunuh bayaran itu pasti akan langsung sadar kalau Albert hanya sedang mempermainkannya saja. Lagipula siapalah yang tidak tertarik memiliki wanita yang berasal dari keluarga Lin itu. Karena hanya dengan menjual satu liter darahnya, di pastikan orang tersebut akan kaya raya hingga ke sepuluh keturunan mereka. Jadi mana mungkinlah Albert sebodoh itu melepaskan tambang uang yang nominalnya tak bisa di sebutkan? Hahaha, mimpi.


"Bagaimana, Awan? Masihkah kau meragukanku? Ingat, kesempatan tidak datang dua kali. Ini aku katakan bukan sebagai bentuk ancaman ya, tapi ini adalah satu semangat agar apa yang kau mau bisa segera tercapai!" ucap Albert kembali mendesak Awan. Apapun yang terjadi pria ini harus mau melakukan apa keinginannya. Harus.


"Tidak ada jaminan kau akan benar-benar mengantarkan Casandra padaku. Bisa saja setelah aku berhasil membereskan Jove kau malah membawa lari wanita itu. Ayolah, Albert. Kita sama-sama bajingan. Jelas aku bisa membaca pasti niat apa yang terselip di dalam hatimu!" sahut Awan langsung menodong Albert dengan tuduhan menohok. "Tapi jika kau bisa memberikan sedikit bukti akan keseriusan ucapanmu, maka dengan senang hati aku akan mulai mengincar Jove. Dia bukan orang lemah, jadi kau perlu memberikan bukti kuat agar aku tidak berbalik untuk meledakkan kepalamu. Kabari aku jika kau sudah mendapatkan buktinya!"

__ADS_1


Klik. Panggilan terputus. Albert kemudian tertawa kencang saat menyadari kalau secara tidak langsung Awan telah termakan ucapannya. Karena luka di perutnya masih basah, mengakibatkan darah kembali keluar akibat Albert yang tertawa terlalu kencang. Dia lalu berteriak kesakitan.


"Arrrggghhhhh! Cepat panggil dokter itu kemari. Sepertinya luka di perutku kembali terbuka!"


"Baik, bos. Tunggu sebentar!"


Penjaga segera berlari keluar untuk mencari dokter. Namun, sesampainya dia di luar kamar, raut wajah si penjaga jadi berubah aneh. Seringai mengerikan muncul di bibirnya, yang membuat penjaga tersebut jadi terlihat seperti seorang psikopat.


Gara-gara ulah Albert, Jove menjadi marah bukan kepalang. Dia memang telah memberi sedikit pelajaran, tapi pada kenyataannya itu tak berhasil mengurangi kekesalan yang dia rasa. Setelah meminta Pamela mengirimkan kepala anak buahnya Albert, Jove memerintahkan anak buahnya untuk menyusup di rumah ini. Dia ingin menyelidiki apakah akan ada kerjasama yang akan terjalin antara Albert dengan Awan atau tidak. Dan jawabannya adalah iya.


"Franklin, Awan telah setuju untuk bekerjasama dengan Albert. Mereka berdua saling bertukar tugas. Albert mengejar Nona Casandra, sedangkan Awan mengejar Tuan Jove. Sepertinya mereka berdua sama-sama sudah gila!"


"Biarkan saja mereka ingin melakukan apa. Pastikan saja kau selalu tahu langkah apa yang akan mereka mainkan. Dan mengenai Awan, dia sebentar lagi akan di jumpai oleh Nona Pamela. Jangan terlalu risau!" ucap Franklin dari dalam sambungan Earpiece. "Kau kembalilah pada tugasmu. Jangan sampai mengundang kecurigaan Albert dan anak buahnya. Sekarang Tuan Jove sedang tidak bisa di ganggu dulu. Jangan membuat masalah. Mengerti?"


"Aku mengerti!"


Setelah menyampaikan laporan, penjaga itu bergegas pergi memanggil dokter. Dia bersikap layaknya penjaga yang khawatir akan keselamatan bosnya. Dan bodohnya semua orang mempercayainya begitu saja. Haha.

__ADS_1


Andai saja Albert tahu kalau dirinyalah yang sedang dipermainkan, mafia itu pasti akan marah sekali. Sayang sikap arogan Albert menutupi kecerdasan yang dimilikinya. Bertahun-tahun mengenal Jove, harusnya dia tahu kalau Jove adalah seseorang yang selalu matang dalam menentukan sikap dan keputusan. Dan kali ini Albert telah memantik kemarahannya. Hmmm.


***


__ADS_2