
Setelah melakukan ritual singkat di dalam kamar mandi, Jove mengajak Casandra keluar dari kamar. Tiba-tiba saja dia merasa lapar.
"Jove?"
"Hmmm," ....
"Aku ... tidak bisa memasak," ucap Casandra sambil meringis malu. Dia kemudian menoleh, menatap seksama pada pria tampan yang terus menggenggam tangannya. "Kalau kau sampai memintaku untuk membuat makanan, bisa di pastikan malam ini adalah malam terakhirmu hidup di dunia. Sungguh!"
Jove terkekeh. Dia melingkarkan tangan ke pinggang Casandra saat mereka akan keluar dari dalam lift. Sembari berjalan menuju dapur, Jove memberitahu calon istrinya ini kalau dia bisa membuat makanan sendiri tanpa bantuan orang lain.
"Aku bukan manusia manja sepertimu, Cassey. Adalah perkara yang sangat kecil untuk urusan perut. Jadi kau tidak perlu merasa risau," ucap Jove. "Lagipula aku juga tidak akan mungkin membiarkan kulitmu yang lembut terkena minyak panas. Kau cukup duduk menemaniku saja nanti."
"Ini ejekan atau bentuk kasih sayang pria pada calon istrinya, Jove? Kenapa kedengarannya sedikit aneh ya," protes Casandra agak kesal saat dirinya di sebut sebagai manusia manja. Ya meski pada kenyataannya Casandra memanglah anak manja, tapi itu tak serta-merta terjadi atas keinginannya sendiri. Selama ini pergerakan Casandra sangat di batasi, termasuk juga dalam hal kemandirian. Jadi jangan salahkan dirinya kalau tidak bisa melakukan apa-apa. Salahkan saja ayahnya yang selalu memperlakukannya dengan sangat posesif. Huh.
"Manja ataupun tidak, aku tetaplah mencintaimu. Tidak bisa memasak bukan tolak ukur untuk seorang wanita berhak di cintai. Itu hanya sebagai tambahan nilai plus saja kalau memang benar kau bisa memasak. Kalau tidak, masa bodo. Apa peduliku dalam hal itu. Uangku sangat banyak. Aku hanya tinggal mencari koki ternama, maka semua permasalahan ini selesai," sahut Jove tanggap kalau Casandra tersinggung akan ucapannya. Dia lalu berbisik. "Bukan keahlian memasakmu yang ku pedulikan, tapi goyangan tubuhmu saat bermain di atas ranjang. Dan kau adalah juaranya."
Bluuusssshhh
Wajah Casandra langsung memerah seperti buah tomat saat dia mendengar bisikan vulgar yang keluar dari mulutnya Jove. Malu, dengan kuat Casandra mencubit pinggangnya. Dia sampai tak berani menatap Jove saat pria ini tergelak girang.
"Kalau sedang malu-malu begini aku jadi ingin masuk ke dalam kamar mandi lagi. Mau menemani tidak?" goda Jove sesaat sebelum sampai di depan pintu dapur. Dia lalu mengibaskan tangan ketika ada beberapa pelayan yang ingin datang mendekat.
"Jangan gila kau, Jove. Lupa ya kalau kau baru saja memaksaku untuk ... untuk ....
"Untuk apa, hm?"
"Emm itu, aku ....
"Aku apa, Cassey?"
__ADS_1
Plaaakkk
"Ck, dasar omes. Bisa tidak kau jangan bicara aneh-aneh padaku? Tidak tahu malu sekali kau, Jove!" kesal Casandra ketika dirinya sudah tak tahan di goda terus-terusan. Segera dia menggeplak lengan Jove untuk menutupi rasa malu yang hampir menembus ubun-ubun. Sungguh kelewatan sekali pria ini. Huh.
Bukannya berhenti, Jove malah dengan sengaja menarik wajah Casandra agar menghadapnya kemudian mencium bibirnya lama. Kali ini tidak ada l*matan karena Jove ingat sudut bibir Casandra sedang luka.
"Katanya mau memasak?" bisik Casandra sambil menarik mundur kepalanya. Dia takut tak bisa mengontrol diri. Kan tidak lucu kalau Casandra tiba-tiba berubah agresif dengan memperk*sa Jove di dapur.
"Memakanmu sepertinya jauh lebih mengenyangkan," sahut Jove asal. Dia lalu membimbing Casandra untuk duduk di pantry dapur, tak membiarkannya menyentuh apapun. "Hanya duduk dan temani aku. Oke?"
"Baiklah tuan pemaksa." Casandra memutar bola matanya jengah. Dia lalu tersenyum samar saat Jove berjalan menuju kulkas. "Jove pasti akan terlihat semakin tampan jika sedang memasak. Hmmm, aku jadi tidak sabar melihat aksinya. Hehehe,"
Saat Jove sedang sibuk memilih sayuran di dalam kulkas, Franklin datang menghampiri sambil membawa ponsel. Casandra yang melihat hal itupun hanya diam memperhatikan. Posisinya cukup jauh, jadi dia memilih menunggu Jove yang memberitahukan apa yang terjadi.
"Tuan, Nyonya menelpon." Franklin berucap sembari menyodorkan ponsel pada bosnya.
"Malam-malam begini?" sahut Jove. Segera dia memasukkan kembali sayuran ke dalam kulkas kemudian mengambil ponsel dari tangan Franklin. Jove kemudian menarik nafas perlahan sebelum mulai berbicara. "Halo, Ibu. Ada apa? Semua baik-baik saja, bukan?"
Genggaman ponsel di tangan Jove menguat begitu dia mendengar penyebab sang ibu menelpon. Mungkin jika itu adalah orang lain, orang tersebut pasti akan melonjak kegirangan setelah menerima kabar sebaik ini. Akan tetapi Jove berbeda. Dia hanya diam saja seraya menampilkan ekpresi yang tak tertebak. Bahkan Franklin yang masih berdiri di sebelahnya sampai merasa penasaran ada apakah gerangan, tapi dia tak mempunyai keberanian untuk bertanya.
"Terima kasih banyak karena Ibu sudah memberitahu tentang kabar ini. Sekarang sudah malam, Ibu istirahatlah. Oke?" ucap Jove setelah terdiam beberapa lama.
"Baiklah sayang. Jika tidak ada halangan besok pagi setelah Ibu melatih Kiara, kami akan datang ke mansion. Selamat malam, sayang."
"Selamat malam kembali, Ibu."
Jove segera mematikan panggilan kemudian berjalan menghampiri Casandra. Begitu sampai, di tatapnya lekat-lekat wajah wanita cantik yang tengah menatapnya penuh penasaran.
"Ada apa, Jove? Apa yang di katakan oleh Bibi Rose?" tanya Casandra penasaran. Melihat reaksi dingin pria ini, sepertinya ada hal buruk yang telah terjadi. Mungkin.
__ADS_1
"Besok kita menikah!" sahut Jove tanpa basa-basi.
"Haihhh, nikah lagi nikah lagi. Kan aku sudah bilang tunggu setelah Pamela memberikan informasi kepada kita, baru kau boleh membahas tentang pernikahan. Jangan tidak sabaran beginilah, Jove. Pikirkan juga nasib anak-anak kita nanti. Memangnya kau mau punya anak dengan spek raksasa?" ucap Casandra sambil bersedekap tangan menanggapi keinginan Jove yang lagi-lagi sibuk mengajaknya menikah.
"Pamela bilang tidak ada yang perlu kita takutkan lagi jika ingin menikah. Darah kita cocok!"
"Oh, baguslah kalau begitu!"
Dan begitu Casandra selesai bicara, tubuhnya tiba-tiba menegang kaku. Dia lalu menatap tak percaya ke arah Jove begitu menyadari arti perkataannya.
"A-apa kau bilang barusan, Jove? D-d-darah kita cocok?"
Jove mengangguk. Melihat reaksi Casandra yang syok hingga membuat mulutnya ternganga lebar, membuat Jove tak tahan untuk tidak mencium bibirnya. Dia lalu menggerakkan tangan meminta agar Franklin tidak mengganggu aktivitas mereka dulu. Franklin yang tanggap akan hal itupun bergegas keluar dari dapur. Bibirnya nampak menyunggingkan senyum, ikut merasa lega setelah tahu kalau bosnya bisa menikah dengan wanita pemilik darah langka itu.
"Sekarang sudah tidak ada alasan untukmu menolak menikah denganku. Benar?" bisik Jove kemudian menjilat bekas luka di sudut bibir Casandra. Dia lalu menyatukan kening mereka. "Cassey, kau akan segera menjadi milikku seutuhnya. Apa kau senang?"
"Bukankah sejak kejadian malam itu aku memang sudah menjadi milikmu ya?" sahut Casandra sedikit tersipu saat menyinggung tentang kejadian di dalam mobil di mana dia kehilangan keperawanannya. "Tapi aku senang karena sebentar lagi aku akan mendapatkan status yang jelas. Jadi kalau kau memperkosaku, aku tidak akan merasa di permalukan lagi. Hehe,"
"Aku tidak pernah memperkosamu,"
"Lalu sebutan apa yang cocok atas semua tindakanmu selama ini?"
"Hanya sedikit khilaf." Jove tersenyum. "Khilaf yang membuatku kecanduan."
"Apa aku boleh memakimu? Mulutmu benar-benar tidak ada remnya, Jove. Heran!" sungut Casandra.
"Makilah. Kau bebas melakukannya mulai sekarang," sahut Jove.
Casandra berdecak. Dia kemudian tersenyum, merasa lega atas kabar baik yang baru saja di dengarnya. Ingat dengan tujuan mereka datang ke dapur, Casandra meminta Jove untuk segera menyelesaikan pekerjaannya. Ini sudah malam, sudah waktunya untuk mereka beristirahat.
__ADS_1
***