The Devil JOVE

The Devil JOVE
60. Tidak Boleh Takut


__ADS_3

Jove tersenyum. Dia memilin dagu bawahnya sambil menatap seorang wanita cantik yang tengah duduk di hadapannya dengan wajah masam. Sangat amat masam hingga mampu mengalahkan rasa asamnya jeruk nipis. Manis sekali bukan?


“Aku sudah ada di sini. Apalagi yang kau inginkan?” ucap Casandra cetus.


“Tidak ada,” sahut Jove santai. “Cassey, ramahlah sedikit padaku. Setidaknya tersenyumlah saat kau bertemu denganku. Aku sudah bahagia.”


Deg


Mulut Casandra terkatup rapat begitu dia mendengar perkataan Jove. Entah mengapa dia merasa ada ketulusan di balik perkataannya barusan. Semacam rasa kalau Jove tengah berharap sesuatu kepadanya.


“Apa Ayahmu menyampaikan pesanku?” tanya Jove tanpa mengalihkan pandangannya dari Cassey yang sedang melamun. Menggemaskan. Sayang sekali tubuh mereka terhalang meja. Jika tidak, Jove pasti akan langsung merengkuhnya ke dalam pelukan. Atau jika tidak dia akan mengajaknya berciuman. 😎


“Kalau Ayah tidak mengatakan apapun mungkinkah aku akan sampai di hadapanmu, Jove? Konyol!” jawab Cassey sedikit membentak. Dia benar-benar kesal sekali sekarang.


“Hmmm, baiklah,”


Prook prook


Dua orang pelayan datang sambil mendorong troli makanan yang di atasnya terhiaskan lilin putih melingkari setangkai mawar merah yang sangat indah. Oya, saat ini Jove dan Casandra tengah berada di sebuah restoran mewah tepi pantai. Bentuk restoran ini sangatlah unik karena mereka duduk di dalam satu tenda berbentuk bulat dengan di kelilingi kaca transparan. Di dalam ruangan ini setiap sudutnya di hiasi dengan lilin putih dan juga bunga-bunga cantik yang membuat suasana menjadi terasa hangat dan juga romantis. Seharusnya orang-orang yang memesan tempat ini akan merasa terpukau dan dicintai. Namun karena Casandra adalah pengecualian, Jove harus rela menerima reaksi dingin dari wanita yang kini tengah menatap penuh pesona ketika bunga mawar merah itu di berikan kepadanya.


“Kau suka?” tanya Jove iseng. Ekor matanya melirik ke arah Franklin yang tengah berjaga di luar. Insting mafia Jove langsung menyala saat dia merasakan ada yang salah dengan salah satu anak buahnya.


“Suka,” jawab Casandra tak sadar. Sedetik kemudian dia nampak terkesiap kaget atas jawabannya sendiri. Mencoba mengalihkan rasa gugupnya, Casandra menoleh ke arah lain. Dan keningnya langsung mengerut saat Casandra merasa ada yang aneh melihat gerak-gerik anak buahnya Jove yang sedang berjaga di luar ruangan. “Jove, apa kau membawa pengawal yang sedang sakit ke tempat ini? Lihat, dia terlihat gelisah di sana!” tanya Casandra sambil menunjuk salah satu penjaga.


“Oh, kau menyadarinya ternyata. Aku pikir kau hanya seorang wanita manja yang bisanya hanya kabur-kaburan dan merajuk saja. Rupanya matamu cukup jeli juga,” jawab Jove tanpa ragu memuji kepekaan Casandra terhadap keanehan dari salah satu anak buahnya.


“Ck, jangan banyak bicara kau. Dasar manusia kejam. Walaupun kau telah membayar mahal mereka semua, tapi tetap saja para penjaga itu adalah manusia yang butuh istirahat saat sedang sakit. Kau tidak mungkin tidak tahu itukan, Jove?”

__ADS_1


“Jika aku bilang kalau dia bukan bagian dari anak buahku, apa kau akan percaya?”


“Maksudnya?”


Casandra membeo. Dia menatap lekat ke arah Jove yang terlihat santai-santai saja sambil menikmati anggur di gelasnya.


“Mendekatlah. Kau akan tahu apa maksud di balik perkataanku barusan!”


Jove menggerakkan jari telunjuknya meminta agar Casandra segera datang mendekat. Dia yang kala itu duduk sambil bersilang kaki segera melebarkan kedua pahanya saat Casandra benar-benar datang mendekat tanpa ada perdebatan sama sekali. Girang, itu sudah pasti. Jove bahkan tak ragu untuk langsung mengecup belakang telinga Casandra begitu wanita cantik ini duduk di atas pangkuannya.


“Kau jangan tidak tahu diri ya, Jove. Cepat jelaskan apa maksud perkataanmu sebelum aku menancapkan tangkai mawar ini ke biji matamu. Tahu kau!” amuk Casandra jengkel melihat ulahnya Jove yang selalu saja sembarangan menyentuhnya. Sebenarnya Casandra bisa saja menempeleng kepala bajingan ini, tapi tidak dia lakukan karena lebih berat akan rasa penasarannya. Alhasil Casandra hanya diam saja saat dipaksa duduk di atas pangkuan Jove dan baru mengomel saat Jove mencium belakang telinganya. Sialan sekali bukan?


“Sebelumnya apa kau pernah melihat manusia saling membunuh karena sesuatu hal? Kira-kira kau takut tidak jika melihatnya secara langsung?” tanya Jove sambil memilin rambut milik Casandra. Gemas, dia lalu mencium rambut tersebut. “Wangi. Aku suka aroma shampoo yang kau pakai.”


Casandra dengan cepat menarik rambutnya dari tangan Jove. Setelah itu dia mendelikkan mata saat Jove malah terkekeh menertawakannya. “Di dunia ini aku hanya takut tidak di izinkan keluar untuk menikmati kebebasan. Selain itu aku tidak takut apapun!”


“Itu pengecualian, brengsek!” sahut Casandra sewot. “Dan kau adalah bajingan yang telah memperkosaku di saat aku sedang tidak sadarkan diri akibat dari phobia itu. Sampai detik ini aku masih belum memaafkan kesalahanmu ya, Jove. Jangan senang dulu. Suatu hari nanti aku pasti akan membuat perhitungan denganmu. Mengerti?”


Jove tersenyum. Merasa lucu saat Casandra melayangkan ancaman kepadanya. Jelas-jelas gerak tubuh Casandra tak bisa menolak sentuhannya, tapi berani sekali wanita ini menampakkan gigi taringnya yang baru tumbuh. Benar-benar sangat menggemaskan sekali.


“Cepat jelaskan apa maksud perkataanmu, Jove. Aku tidak sudi ya terus-terusan duduk di atas pangkuanmu begini. Nanti pantatku gatal!” desak Casandra mulai bosan.


Dengan satu tangan mengelus pinggang Casandra, Jove merogoh ponsel di saku bajunya kemudian menghubungi Franklin. Sedetikpun dia tak melepaskan tatapannya dari manik mata Casandra yang tengah menatapnya penuh rasa ingin tahu.


“Halo, Tuan. Apakah anda dan Nona Casandra membutuhkan sesuatu?” tanya Franklin dari dalam telepon.


“Habisi penjaga itu. Dia bukan bagian dari kita,” jawab Jove dengan santainya. “Pastikan kalian membunuhnya di hadapanku sekarang juga. Di sini ada seorang wanita yang barusaja mengaku kalau dia tidak takut pada apapun. Dan aku merasa penasaran sekali apakah wanita ini sungguh-sungguh dengan pengakuannya atau hanya bualan semata. Lakukan sesadis yang kau bisa, Frank. Karena semakin sadis caramu membunuh, itu akan sangat baik untuk kesehatan mentalku!”

__ADS_1


“Baik, Tuan. Akan segera saya lakukan sesuai dengan yang anda perintahkan!”


“Done, Cassey. Sekarang apa kau sudah siap melihat pembunuhan itu?” tanya Jove sambil meletakkan ponselnya ke atas meja.


“S-sekarang?” Casandra membeo dengan mata membulat lebar. “Jove, in-ini kau tidak sedang bercanda ‘kan? Membunuh adalah tindak kriminal. Kau dan anak buahmu bisa masuk penjara nanti!"


“Penjara ya?”


Jove menghela nafas panjang. Casandra terlalu naif, dia masih belum mengerti kalau sebagian besar aparat hukum adalah penjahat yang sebenarnya. Mengapa demikian? Karena orang-orang itu menyembunyikan kebusukan dan juga kejahatan di balik seragam yang mereka kenakan. Sebagai seseorang yang sudah sangat terbiasa melakukan hal-hal yang melanggar hukum, Jove jelas sangat tahu seperti apa kelakuan para sampah negara itu. Karena pada kenyataannya Jove juga memelihara beberapa anjing brengsek yang dia gunakan untuk memuluskan setiap bisnisnya. Jadi ketika Casandra menyinggung tentang penjara, rasanya Jove ingin sekali menertawakannya. Sungguh.


Doorrrrrrr


Tubuh Casandra menegang seketika begitu dia mendengar suara tembakan. Sambil menelan ludah, Casandra memberanikan diri untuk menoleh ke arah penjaga yang tadi sempat menarik perhatiannya. Dan begitu menoleh, nafas Casandra seakan berhenti. Di sana dia melihat si penjaga tengah meringis kesakitan sambil memegangi lengannya yang tertembak. Dan tidak hanya itu saja. Sebuah pistol tampak menempel di kepalanya, membuat tubuh Casandra merinding seketika.


“J-Jove, dia ….


“Aku akan sangat kecewa sekali kalau kau sampai merasa takut, Cassey. Dan jika kau sampai berani melakukannya, aku akan membuatmu mengantikan tugas Franklin untuk menghabisi k*parat itu. Mengerti?!” ancam Jove tak memberi kesempatan pada Casandra untuk merasa takut. Wanitanya harus kuat, tidak boleh lemah.


“Tapi Jove, aku ….


“Casandra?” ….


“B-baiklah. A-aku tidak akan mengedipkan mata. Aku tidak akan takut!” sahut Casandra lemas saat Jove memanggilnya dengan nada suara yang sangat datar dan juga dingin. Casandra tentu sadar kalau Jove sedang tidak bercanda dengan ucapannya.


Seulas senyum tipis tampak menghiasi bibir Jove saat Casandra patuh. Segera dia menatap Franklin lalu menganggukkan kepalanya. Tak lama kemudian …..


***

__ADS_1


__ADS_2